Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Dua hati.


__ADS_3

"Ran, kenapa kamu diam saja. Apakah Kak Fariz mengatakan sesuatu kepadamu?, " tanya Wirda memandang ke arahku.


Pandanganku pun lurus menatap Wirda.


"Tidak apa-apa Wirda. Aku hanya bingung saja untuk berkata apa pada dirimu Wir. "


"Bingung? Memang kenapa Ran? Apa yang membuat dirimu bingung?. " Wirda menatap ku dengan wajah penuh keheranan.


"Hmmmm, 'suaraku terdengar berpikir. Wirda memegang bahuku pelan, " Sudah Ran, kamu jangan memaksakan dirimu untuk berusaha menjelaskan apa yang ada di hatimu, untuk apa yang sekarang engkau rasakan sekarang. Wirda tersenyum kepadaku.


"Mengapa kamu tersenyum Wir? apakah ada sesuatu yang aneh atau membuatmu merasa lucu?, " tanyaku heran.


Wirda menggelengkan kepalanya pelan, dan tersenyum lagi kepadaku.


"Tidak ada yang lucu Ran. Aku tersenyum karena aku tahu, ada sesuatu yang terjadi di dalam hatimu itu. "


DEG...


Jantungku berdebar saat Wirda berkata dan lidahku terasa keluh yang membuatku diam memandangnya.


"Diammu menunjukkan semuanya Ran, " ucap Wirda seakan tahu apa yang ada di dalam hatiku.


Mataku memandang wajah Wirda lekat, dengan menumpukan ujung kedua alisku, sehingga bertemu membentuk kerutan di dahiku. "Apa maksud dari ucapan mu Wirda, jangan berucap kiasan padaku, sebab konotasi dari perkataan mu tidak dapat kumengerti. "


Wirda langsung menjawab pertanyaan ku. "Jika aku berkata langsung tanpa bermain makna, apakah engkau tidak akan marah atau tersinggung akan ucapanku, Ran. "


Wirda kembali menatapku sembari menunggu respon diriku kepadanya.


"Untuk apa aku marah dan tersinggung Wirda, jika memang yang engkau tanyakan kepadaku sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya dan directly to the main question. "


Wirda tersenyum senang mendengar perkataan dariku, perlahan ia memegang tangan ku dan melihat wajahku yang sangat serius kepadanya. Dan tanpa ragu, kali ini Wirda langsung saja bertanya kepadaku.


"Apakah saat tadi kamu berbicara dengan Kak Fariz,ia menyatakan perasaannya kepadamu Ran?. " Wirda menaikkan kedua alisnya dan tersenyum dengan bibir tertutup.


"Tidak Wirda, mengapa kamu bisa berpikir seperti itu Wirda, " ucapku.


"Hehehe, mungkin saja Ran. Lalu apa yang kalian bicarakan sampai ku lihat dari kejauhan bersama Ummah kalian tampak serius sekali. " Kali ini Wirda meringgis.


Aku menggelengkan kepala ku, "Ckckckck, ternyata kamu dan Ummah memata-mataiku dan Ustad Fariz ya. Hemmm. "


Wirda mencubit pipiku, "Tidak mematai Ran, hanya penasaran saja. Tiba-tiba Kak Fariz ingin berbicara denganmu. "


Dahiku mengkerut, "Hmm, dari mana engkau tahu jika Ustad Fariz ingin berbicara kepadaku Wirda. "


Bibir Wirda tersenyum lebar sambil menunjukkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi. "Sebab saat keluar dari Musholla aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian berdua, hehehe. "


"Sudah kuduga pasti kamu mengguping kan?, " ucapku sambil menunjuk jari telunjuk ke arah Wirda.


Wirda meringgis lagi, "Hehehe, iya Ran, sedikit. "


Aku menggelengkan kepala sambil menarik nafas pendek untuk berusaha menjelaskan kepada Wirda tentang apa yang ingin dia coba terkai dan gali di dalam hatiku, yang tidak semuanya bersesuaian degan hipotesanya. Maka dari itu aku mencoba meluruskan praduga nya agar tidak menimbulkan salah tafsir dari sikap Ustad Fariz kepadaku, maupun dari sikap diamku.


"Wirda, kumohon dengarkan ucapanku baik-baik. Ustad Fariz tidak pernah mengatakan apapun kepadaku seperti maksudmu, beliau hanya mengajakku berbicara sembari melantunkan beberapa potongan ayat-ayat suci di dalam Al-Qur'an sambil menerjemahkannya. Dan aku pun menikmati mendengarkan Ustad Fariz yang memberikan petuah kepadaku, karena setiap ucapan yang ia tuturkan kepada diriku selalu membawaku untuk mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala . Aku menghormatinya Wirda dan kagum akan sikap, karakter dan ilmu agama yang ia miliki. Tetapi kekaguman yang kurasakan bukan serta merta menjadi tanda jika aku tertarik kepadanya, pun sebaliknya tindakan Ustad Fariz yang ingin mengajak berbicara denganku tidak dapat juga sepenuhnya menunjukkan jika ia memiliki perasaan untukku. "

__ADS_1


Aku menatap Wirda yang serius menatapku juga, dan lisanku terus bertutur kepada dirinya.


"Ustad Fariz dan diriku sama-sama menginsyafi akan lemahnya hati yang kami miliki, dan tahu bagaimana menyikapi hati agar tetap steril sampai dapat bertemu dengan pemilik sah akan hati kami masing-masing. "


"Maksudnya Ran, aku tidak mengerti. "


"Maksudnya aku maupun Ustad Fariz sama-sama menjaga hati kami yang sangat berharga untuk tetap bersih dari semua rasa cinta terhadap ketertarikan dengan lawan jenis, sampai terlaksananya akad nikah. Sebab akad bai'at cinta dengan memberikan seluruh hati kita kepada orang yang sudah layak dan halal untuk kita. "


Wirda mengangguk, "Oh, aku paham sekarang Ran. Berarti kamu menunggu sampai Ustad Fariz datang melamarmu dan menghalalkan hubungan kalian sampai mengucapkan akad pernikahan, begitu kan maksudmu. Kenapa tidak bilang langsung saja seperti itu Ran, dari pada berbelit-belit seperti ular yang meliuk-liuk kan tubuhnya saja, hahahahaha." Wirda tertawa.


"Hadewh, " ucapku sambi menepuk keningku dengan telapak tangan kananku setelah Wirda berkata yang tidak sesuai dengan penjelasanku kepadanya.


"Kenapa Ran?. "


"Tidak apa-apa Wirda, aku bingung harus menjelaskan bagaimana lagi kepadamu, supaya kamu paham, " kataku dengan ekspresi wajah bingung.


Huwahhh... Wirda menguap lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya dan beristighfar.


"Ran, aku mengantuk. Kita tidur yuk. Oh ya jangan lupa untuk meminum obat mu ya Ran. Dan jangan bingung Ran, aku sudah paham segalanya akan arah pembicaraanmu. Allahumma Bismika ahya wa bismika amut.Ya Allah,dengan Nama-Mu, aku hidup dan dengan nama-Mu pula aku mati."


"Wirda," panggil ku pelan.


Dan kulihat Wirda sudah terlelap dalam tidurnya,dengan perlahan aku menarik bed cover menutupi tubuhnya.Lalu aku bangun dari duduk ku untuk meminum obat.


Mataku belum mengantuk sama sekali, dan dengan langkah yang pelan agar tidak membangunkan Wirda yang sudah tertidur pulas. Aku berjalan menghidupkan lampu tidur dan mematikan lampu utama di kamar Wirda. Setelah itu, aku menuju beranda di kamar Wirda untuk menghirup segarnya udara malam yang dingin sambil menatap indahnya hamparan bintang-bintang yang berkelap-kelip menghiasi langit malam gelap, seakan menggodaku untuk terus menatapnya memuji kilauan cahaya kecilnya yang mampu menerangi gelapnya malam.


"MasyaAllah, sungguh indahnya ciptaan-Mu Ya Allah. Rabbana ma khalaqta haza batila sub-hanaka fa qina 'azaban-nar.


Aku duduk terdiam sambil menikmati keindahan malam, sesekali ingatanku terngiang akan ucapan Ustad Fariz kepadaku. Bacaan ayat-ayat suci yang ia lantunkan terus menggema di dalam pikiranku. Aku tidak ingin larut dalam hal yang membuatku merasa risau, maka jemari tanganku pun meraih telepon genggam dari saku baju tidurku, dan dengan perlahan aku pun memutar murrotal Al-Qur'an.


***


Ustad Fariz duduk di beranda kamarnya sembari mendengarkan murrotal Qur'an sama seperti hal yang kulakukan, saking khusyuk nya Ustad Fariz tidak menyadari akan kedatangan Ummah yang beberapa kali mengucapkan salam dan mengetuk kamar tidur Ustad Fariz. Hingga Ummah mendapati pintu kamar Ustad Fariz tidak terkunci, Ummah pun perlahan masuk sambil memanggil nama Ustad Fariz yang masih belum juga Ummah mendengar sahutan nya.


Kemudian, indra pendengaran Ummah dikejutkan dengan suara murrotal yang sedikit keras dan membuat Ummah mencari sumber suara murrotal tersebut, hingga Ummah mendapati Ustad Fariz sedang duduk di beranda mendengarkan murrotal Qur'an sembari memandangi taburan bintang-bintang yang menghiasi langit malam yang gelap, seraya mengikuti lantunan murrotal surat An Nur ayat 21,


"Ya ayyuhal-lazina amanu la tattabi‘u khutuwatisy-syaiton, wa may yattabi‘ khutuwatisy-syaitoni fa innahu ya'muru bil-fahsya'i wal-munkar, wa lau la fadlullohi ‘alaikum wa raḥmatuhu ma zaka minkum min ahadin abada, wa lakinnallaha yuzakki may yasya, wallahu sami'un 'alim."


Ummah tersenyum sudah dapat menemukan keberadaan Ustad Fariz, yang rupanya sedang duduk di beranda kamarnya. Perlahan Ummah mendekat dan duduk di samping Ustad Fariz, lalu mengusap kepala Ustad Fariz pelan.


"Nak, " ucap Ummah.


Ustad Fariz pun kaget melihat kedatangan Ummah yang sudah berada di sampingnya.


"Astaghfirullah, sejak kapan Ummah berada disini. Fariz sampai tidak tahu jika Ummah sudah duduk di samping Fariz." Ustad Fariz lalu mematikan murrotal Qur'an dari telepon genggam miliknya.


"Itu karena anak Ummah begitu khusyuk mendengarkan murrotal. Oh ya apa Ummah menganggu Fariz?, " tanya Ummah memandang Ustad Fariz yang meletakkan telepon genggam di meja persegi di dekat ia duduk bersama Ummah.


"Tidak Ummah. Ummah tidak menganggu Fariz, " jawab Ustad Fariz tersenyum.


"Alhamdulillah jika begitu. Boleh Ummah bertanya sesuatu kepada Fariz?. "


Ummah memandang wajah Ustad Fariz.

__ADS_1


Ustad Fariz pun menoleh ke arah Ummah, "Tentu saja boleh Ummah. Ummah boleh menanyakan hal apapun juga kepada Fariz."


" Benarkah itu? Hal apapun boleh Ummah tanyakan?, "tanya Ummah memandang serius putranya.


Ustad Fariz pun menganggukkan kepalanya untuk menunjukkan kepada Ummah, bahwa Ummah dapat menanyakan apapun juga kepadanya.


Ummah tersenyum dengan tawa kecil dan mata sedikit menyipit, " Termasuk tentang Rani. "


Ustad Fariz tersentak dengan kelopak mata terangkat ke atas dan bola mata membesar.


"Lho kok kaget, tadi Fariz bilang Ummah bisa menanyakan apapun juga kepada Fariz. Lalu kenapa sekarang Fariz seperti terkejut? Apakah ada sesuatu dengan Rani yang menyangkut atau berkaitan dengan Fariz?, " tanya Ummah dengan senyuman menggoda Ustad Fariz.


Ustad Fariz tampak salah tingkah dan mengaruk kepalanya. Pertanyaan Ummah sungguh membuat Ustad Fariz merasakan perasaan canggung dan gusar.


"Apa yang ingin Ummah tanyakan tentang Dek Rani kepada Fariz, Ummah?, " tanya Ustad Fariz dengan berusaha membawa dirinya terlihat tenang di hadapan Ummah.


Ummah mengusap kepala Ustad Fariz dengan lembut, "Apa putra Ummah memiliki niat kesungguhan untuk meminang Rani menjadi menantu Ummah. "


Ustad Fariz semakin tegang dan jantung nya berdebar kencang, kelopak matanya tidak berkedip, hatinya seakan terenyuh dan bergetar saat ucapan Ummah begitu mengulik perasaan hatinya yang ingin ia bawa diam selama ini.


Ummah mengusap kembali kepala Ustad Fariz dan berusaha membuat putranya terbuka akan perasaannya itu.


"Kenapa diam Nak? Ummah ingin tahu apa yang sebenarnya putra Ummah rasakan dan yang menjadi keinginannya. Karena Ummah tahu putra Ummah memiliki perasaan khusus kepada Rani kan?, " tanya Ummah sambil memegang pipi Ustad Fariz.


Pipi Ustad Fariz memerah,ia seakan tidak mampu untuk menyembunyikan apapun dari Ummah.


"Apa yang harus Fariz katakan Ummah, jika tanpa Fariz berucap . Ummah sudah mampu mengetahui isi hati Fariz, " kata Ustad Fariz sambil menunduk.


Ummah tersenyum dan mengangkat kepala Ustad Fariz yang tertunduk karena malu.


"Ummah tahu nak. Lalu mengapa putra Ummah harus malu. Dan kapan Fariz akan mengikat hati Rani dalam akad, sebelum Rani mendapatkan pinangan dari orang lain Nak. Gadis seperti Rani itu seperti intan berlian yang begitu berharga dan sangat sulit untuk ditemukan, jika tidak segera diikat maka akan banyak orang-orang yang berusaha untuk mengikat dirinya. Ummah akan sangat senang sekali jika kamu benar-benar dapat merealisasikan perasaanmu dalam wujud tindakan yang nyata nak. Masak kamu kalah dengan adikmu Rafa, yang langsung bergerak cepat meminang Wirda untuk segera menjadi istrinya, " ucap Ummah menggoda Ustad Fariz yang masih tersipu malu.


"Fariz takut jika Dek Rani akan menolak keinginan Fariz, Ummah, " ucap Ustad Fariz tidak percaya diri.


"Lalu sampai kapan kamu akan diam saja, dan bagaimana Rani akan tahu niat dan perasaan mu Nak, jika kamu tidak pernah menunjukkan kesungguhan dirimu. Saran Ummah setelah Rafa menikah akan lebih baik jika Fariz langsung mengajukan lamaran kepada Rani, atau Fariz bisa segera melamar Rani dan dapat melangsungkan pernikahan secara bersamaan dengan adikmu Rafa."


Ummah berkata dengan penuh semangat, sementara Ustad Fariz masih terlihar berpikir.


"Ummah ingin kamu tidak menyesal dan terlambat untuk mewujudkan niat baikmu itu Nak. Karena semakin kamu menunda hal yang baik tentunya akan tidak baik juga nak untuk kehidupanmu. Lagi pula Ummah dan seluruh keluarga kita sangat merestui dan setuju sekali,jika kamu benar-benar dapat mempersunting Rani menjadi istrimu. Terlebih lagi jika semua itu benar-benar dapat terwujud.Ummah akan merasa sangat senang sekali mendapatkan dua putri sekaligus dan tidak akan berjauhan dengan Rani tentunya. "


Ustad Fariz masih terdiam memikirkan kata-kata Ummah.


" Ya sudah kalau begitu,Ummahpermisi dulu ya Nak. Kamu salat istikharah dan banyak-banyak berdo'a meminta petunjuk kepada Allah Subhanahu wa ta'ala , supaya mempermudah semua yang menjadi niat baikmu . Semoga Allah menguatkan tekadmu agar dapat menunaikan hal baik yang akan menjadi mimpimu dan segera dapat melamar Rani, dan tidak perlu untuk menundanya lagi. Ingat pesan Ummah ya Nak, "tutur Ummah sambil mengusap kepala Ustad Fariz dan mencium kepalanya.


Ummah lalu pergi meninggalkan Ustad Fariz yang masih duduk di beranda di depan kamarnya sambil memandang taburan bintang-bintang di langit malam.


“Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir. Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku, " tutur Ustad Fariz pelan.


Dalam pandangan di pelupuk matanya terlintas bayang diriku yang tersenyum kepada Ustad Fariz, yang membuat hatinya bergetar dan berdegup kencang. Kedua matanya pun terpejam, berusaha mengadu agar Allah menghijabah permintaannya.


"Rabbi habli milladunka zauhatah thayyibah shaahibatan lii fiddini waddunnya wal akhirah. Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisimu, istri yang aku lamar dan nikahi, dan istri yang menjadi seorang sahabat dalam urusan agama, urusan dunia maupun urusan akhirat, " pinta Ustad Fariz khusyuk.


Kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamarnya menuju kamar mandi,untuk membasahi tubuhnya dengan air wudhu supaya membuat hati dan pikirannya tenang. Ustad Fariz melaksanakan salat istikharah memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala memohon pilihan yang terbaik bagi kehidupannya untuk segera ia lakukan tanpa keraguan dalam tekadnya.

__ADS_1


__ADS_2