
Ibunda Kak Aisyah berjalan dengan lesu menuju ke ruang dimana putrinya sedang di rawat. Di satu sisi hatinya ia menyadari jika apa yang diinginkan oleh putrinya memang salah dengan melakukan hal-hal yang penuh dengan keegoisan, tetapi di sisi lain hatinya tersimpan naluri seorang ibu yang tidak ingin membiarkan jika putri kesayangannya itu terluka dan menderita. Dalam tatapan matanya yang sayu, ia begitu pelan membuka pintu ruangan kamar Aisyah. Di dapati dalam pandangan matanya tampak suaminya sedang duduk menemani Aisyah yang sedang duduk setengah berbaring. Terlihat dalam wajahnya yang sembab dan lemah, sorot matanya memandang lekat sang ibunda.
Begitu pula ayahnya yang ikut memandang kedatangan ibunda Kak Aisyah.
Dengan perlahan ibunda Kak Aisyah memberikan bungkusan makanan dan minumanyang ia berikan kepada suaminya untuk disantap,"Ayah, silahkan makan dulu. Ini bunda berikan nasi bungkus dan beberapa cemilan, biar Aisyah bunda yang jaga. "
Ayahnya Kak Aisyah pun mengangguk, lalu ia berdiri sambil membawa bungkusan plastik berisi makanan menuju sofa tunggu pasien di ruangan Kak Aisyah di rawat.
Sementara ibunda Kak Aisyah, duduk di tempat suaminya duduk sebelumya.
Kak Aisyah tidak bergeming dan hanya terus melihat ibunda dan ayahnya.
Setelah ibunda Kak Aisyah duduk, ia mengenggam jemari tangan Kak Aisyah, "Bagaimana keadaan mu sekarang Nak?. "
Namun, Kak Aisyah tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh ibundanya, ia terus membisu dengan mengunci mulutnya rapat-rapat.
Ibunda Kak Aisyah seakan tidak kuasa melihat kebisuan putrinya tersebut, sudah berulang kali ia mencoba mengajak Kak Aisyah untuk berkomunikasi tetapi tetap saja Kak Aisyah tidak mau meresponnya, meskipun ia mendengar dan memahami apa yang diucapkan atau pun di katakan oleh ibundanya, tetapi niatnya sudah tidak lagi ia biarkan untuk menanggapi apapun yang ia dengar maupun ia lihat.
Melihat keadaan Kak Aisyah yang terus menyakiti dan mengisolasi dirinya sendiri sungguh membuat hati Ibunda Kak Aisyah hancur dan sedih, " Sampai kapan kamu akan tetap diam seperti ini nak? Apakah dirimu tidak kasihan dan peduli lagi dengan bunda juga ayahmu? Hanya karena lelaki kamu memilih suatu perbuatan yang dilaknat oleh Allah dengan menyakiti dirimu sendiri.Dimana nilai-nilai agama yang sudah Ayah dan bundamu ajarkan selama ini? Dan dimana semua ilmu agama yang sudah engkau dapatkan selama bertahun -tahun engkau berjuang dengan susah payah menimba ilmunya selama di pondok pesantren.Ingatlah RabbMu nak, Dia lebih mengetahui segala sesuatu yang terbaik bagi dirimu, bunda mohon jangan engkau terus memaksakan keegoisan dan hawa nafsumu menggerogoti keimanan dan ketakwaan mu. Hikss...Hikksss.."
Kali ini Kak Aisyah memandang ke arah ibundanya, "Bunda tidak tahu bagaimana rasa sakitnya akan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Rasanya sakit sekali bunda... Sakit... Huhuhuhuhuhu..... "
Kak Aisyah menangis menumpahkan rasa sakit akan patah hatinya.
Dan Ibunda Kak Aisyah terdiam mendengarkan apa yang Kak Aisyah katakan, setelah cukup lama Kak Aisyah tidak ingin bicara apapun juga. Maka kali ini sang ibundanya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik tanpa ingin menyela atau memotong pembicaraan Kak Aisyah, ia benar-benar memberikan Kak Aisyah ruang penuh untuk menyalurkan semua perasaannya yang tertumpuk hingga menjadi racun bagi hati Kak Aisyah selama ini.
Setelah terdiam sebentar Kak Aisyah melanjutkan Kata-katanya kembali, "Bunda dan ayah tidak pernah tahu jika selama ini Aisyah benar-benar merasakan kesedihan, frustasi, sakit hati, dan depresi melihat kedekatan dan perhatian yang dilakukan oleh Ustad Fariz kepada Dek Rani. Awalnya Aisyah kira sikap baik dari Ustad Fariz yang beliau tunjukkan kepada Dek Rani hanyalah rasa iba akan simpati terhadap penderitaan yang selama ini di alami oleh Dek Rani. Tetapi rupanya penilaian yang Aisyah terapkan dalam pemikiran Aisyah itu salah besar. Ustad Fariz memang menyimpan perasaan khusus dan spesial untuk Dek Rani di dalam diamnya, tanpa pernah ia menunjukkan perasaannya itu kepada siapa pun termasuk Dek Rani sekali pun. "
Kak Aisyah terus menangis tersedu-sedu merasakan pahit dan sakitnya akan perasaannya yang terluka.
"Selama ini pula Aisyah berusaha untuk menutupi semuanya hanya dengan menyakinkan pada diri Aisyah sendiri ,bahwa aku baik-baik saja. Tetapi tanpa Aisyah sadari doktrin Aisyah yang menganggap jika diri Aisyah baik-baik saja adalah hal yang salah dan keliru. Dan tanpa Aisyah sadari perasaan yang menganggap jika diri Aisyah baik-baik saja telah berkembang biak menjadi tunas racun yang menyebar ke seluruh hati dan pikiran Aisyah, lambat laun hal ini justru membuat kondisi hati menjadi lebih buruk. Seperti sungai yang kotor dengan banyak tumpukkan sampah. Yah, seperti itulah perasaan Aisyah, karena tidak bisa menyalurkan perasaan dengan benar. Apakah salah bunda jika Aisyah sangat mencintai Ustad Fariz dan menginginkan untuk menjadi istrinya? Apakah salah jika Aisyah meminta Dek Rani untuk pergi dan menjauh dari kehidupan Ustad Fariz dan keluarganya? Huhuhuhuhu.... Cinta ini begitu sakit bunda... Sakit sekali... Mencintai seseorang yang nyatanya sama sekali tidak memiliki sedikit pun perasaan terhadap kita. Huhuhu.... Huhuhuhuhu..... "
__ADS_1
Kak Aisyah lalu menangis dengan histeris dan berteriak berulang kali memanggil nama Ustad Fariz.
Ibunda Kak Aisyah semakin panik melihat keadaan putrinya dan segera meminta suaminya untuk segera memanggil dokter.
"Ustad Fariz aku sangat mencintaimu... Aku ingin menjadi istrimu... Kamu tidak bisa menikah dengan orang lain termasuk juga dengan Dek Rani. Hanya aku... Hanya aku seorang yang pantas dan satu-satunya berhak menjadi istrimu. USTAD FARIZ!. "
Kak Aisyah terus berteriak -teriak dan meronta sembari menangis, begitu pula dengan ibundanya yang tidak dapat menahan derai air matanya, dimana sekuat tenaganya ia berusaha untuk menenangkan Kak Aisyah tetapi upayanya sia-sia belaka. Hingga ayah Kak Aisyah datang bersama dokter dan dua orang perawat memberikan obat penenang kepada Kak Aisyah, barulah setelah itu Kak Aisyah terdiam tidak sadarkan diri.
Ibunda Kak Aisyah terus menangis di dalam pelukan suaminya.
Setelah dokter memberikan obat penenang dan melihat keadaan Kak Aisyah. Dokter meminta perawat untuk membetulkan selang infus yang terlepas dari pergelnagn tangan Kak Aisyah. Setelah itu, dokter pun berjalan menghampiri ke kedua orang tua Kak Aisyah, "Setelah saya lihat dan mengobservasi pada diri putri bapak dan ibu mengalami gangguan kejiwaan sehingga perlu bertemu dengan psikolog atau psikiater supaya dapat membantu proses pemulihan putri bapak dan ibu dengan memberikan perawatan biologis seperti pengobatan dan perawatan psikologis seperti terapi yang dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan mental putri bapak dan ibu dan membantu menurunkan risiko akan upayanya menyakiti dirinya sendiri dengan melakukan upaya bundir. Jika dibiarkan hal ini akan sangat fatal. "
Mendengar penuturan dari dokter tangis kedua orang tua Kak Aisyah menjadi pecah dan histeris.
***
Sementara itu, setelah Kak Roy diperiksa secara keseluruhan oleh dokter. Akhirnya Dokter mengharuskan Kak Roy untuk di rawat di rumah sakit sambil melakukan fisioterapi. Tante Desi mendengarkan semua yang di sampaikan oleh dokter dengan perasaannya yang begitu hancur dan terluka. Tante Desi sungguh tidak menyangka, jika Rere begitu tega memberikan obat dalam jumlah dosis yang sangat besar untuk menbuat putranya menjadi lumpuh dalam kondisi yang sangat memilukan seperti sekarang ini. Air mata Tante Desi tidak berhenti mengalir, saat sorot matanya menatap raga Kak Roy yang sedang terbaring lemas di atas ranjang pasien dengan mata terpejam. Di usapnya perlahan demi perlahan kepala Kak Roy sambil sesekali ia mendaratkan kecupan kerinduanya pada kening Kak Roy.
Tidak lama kemudian, pengacara keluarga nya yang Tante Desi minta untuk dengan cepat mengurus surat perceraian Kak Roy dan Rere telah tiba di ruangan tempat Kak Roy di rawat. Tante Desi lalu mengajak bapak pengacara keluar ruangan supaya tidak menganggu Kak Roy yang sedang tertidur pulas. Setelah berada diluar bapak pengacara menerangkan jika semua berkas dokumen sudah siap. Tante Desi pun terlihat senang dan sedikit tersenyum lega karena sebentar lagi putranya akan terbebas dari Rere untuk selamanya.
Tetapi sebelum Tante Desi bersiap untuk pergi ke rumah tahanan sementara dimana Rere ditahan. Tante Desi mendapatkan telepon dari pihak kepolisian yang mengabarkan jika Rere saat ini sedang dibawa di rumah sakit karena berulang kali jatuh pingsan. Awalnya Tante Desi seakan tidak peduli dengan keadaan Rere, tetapi pihak kepolisian mengatakan jika Tante Desi atau suaminya harus datang untuk menemui dokter yang sedang merawat Rere. Maka dengan terpaksa Tante Desi pun menyanggupinya, lagi pula Rere dirawat di rumah sakit yang sama di tempat Kak Roy di rawat sekarang.
Setelah Tante Desi meminta kerabatnya untuk menjaga Kak Roy. Tante Desi pun bergegas menemui Rere di ruangan kamarnya. Tampaknya di dalam ruangan sudah ada kedua orang tua Rere yang menangis melihat Rere yang terbaring di atas ranjang pasien. Tante Desi pun seakan tidak menghiraukan akan keberadaan kedua besannya yang menyapa dirinya.
Dengan segera Tante Desi menghampiri dokter dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Rere. Tetapi sebelum dokter menjelaskan keadaan Rere kepada Tante Desi.
Tante Desi dengan segera memberikan surat gugatan perceraian yang sudah di siapkan pengacaranya dengan meneruskan niat Kak Roy sejak dulu, lalu memberikannya kepada mamanya Rere.
"Apa ini bu?, " tanya mamanya Rere sambil menangis.
Tante Desi terlihat sinis dan jutek, "Silahkan baca sendiri, anda bisa membaca kan!. "
__ADS_1
Dengan perlahan mamanya Rere membuka map yang berisi surat gugatan cerai kepada Rere. Dengan seketika mamanya Rere pun bersimpuh di kaki Tante Desi untuk tidak melakukan hal itu kepada Rere.
"Huhuhuhuhu... Saya mohon Bu Desi tolong jangan ceraikan Rere menjadi istrinya Roy. "
Tante Desi semakin terlihat kesal dan marah, "Anda tahu apa yang telah dilakukan putri anda terhadap putra saya Roy, hal itu tidak dapat dimaafkan sama sekali. "
Mamanya Rere pun menangis tersedu-sedu, "Iya Bu Desi saya tahu, jika yang dilakukan Rere itu sangat salah dan tidak benar, tetapi saya mohon berilah kesempatan bagi Rere untuk memperbaiki kesalahannya. Huhuhuhuhu. "
"Enak saja anda berbicara seperti itu, setelah semua sandiwara besar dengan kebohongan yang telah putri anda buat, hal itu sangat melukai perasaan saya , putra saya dan keluarga saya. Saya tidak akan membiarkan lagi Roy memiliki hubungan dengan putri ibu. Atau keberadaan Rere di rumah sakit ini juga bagian dari rencana dan kebohongan baru putri ibu supaya ia lolos dari jeratan hukum. "
Mamanya Rere menggelengkan kepalanya, "Tidak bu... Tidak... Kali ini Rere benar-benar sakit dan tidak ada kebohongan disini. Percayalah bu. "
Mamanya Rere memegang tangan Tante Desi untuk mengiba, tetapi Tante Desi dengan kasar melepaskan pegangan tangan mamanya Rere.
Kemudian Tante Desi menatap ke arah dokter dan bertanya kembali tentang hal yang terjadi kepada Rere.
Dokter pun meminta supaya Tante Desi dan mamanya Rere tidak membuat gaduh dan keributan yang akan dapat menganggu Rere. Akhirnya mereka semua duduk di sofa tunggu pasien.
Tante Desi sudah terlihat tidak sabar untuk segera keluar meninggalkan ruangan dimana Rere di rawat, tetapi ia harus mendengarkan apa yang di sampai kan dokter mengenai kondisi Rere.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada putri saya Rere, dok?, " tanya mamanya Rere sambil menangis.
Dokter pun menatap ke arah wajah semua orang satu persatu, "Baiklah saya akan menyampaikan terkait dengan kondisi pasien yang saat ini sedang mengandung dan sangat membutuhkan banyak istirahat, juga harus menghindarkan dirinya dari stress dan hal negatif yang akan berpengaruh kepada janinnya yang masih sangat muda memasuki usia 3 bulan. "
Semua orang tercengang mendengar penjelasan dari dokter.
"Maksud dokter saat ini putri saya sedang hamil?, " tanya mamanya Rere dengan wajah tidak percaya.
Dokter pun mengangguk, "Iya benar ibu. Untuk itu sangat penting bagi pasien untuk bed rest dan terhindar dari tekanan juga beban pikiran, karena usia kandungannya masih sangat muda dan rawan akan keguguran, sehingga diperlukan support system dari pihak keluarga untuk menjaga janin di dalam kandungan pasien dapat berkembang dengan baik. "
Tante Desi begitu syok dan terkejut akan berita yang ia dengar.
__ADS_1
Kali ini Tante Desi tidak bergeming sedikit pun. Dia masih tidak percaya dengan berita yang baru saja di dengarnya, bagi Tante Desi sangat sulit bagi dirinya untuk mempercayai semua hal tentang Rere setelah semua kebohongan yang Rere ciptakan selama ini dan begitu menyakiti dan melukai perasaan dan hatinya.
Dengan tiba-tiba Tante Desi langsung berdiri dan meninggalkan ruangan tempat Rere di rawat. Berulang kali kedua orang tua Rere memanggil untuk menghentikan Tante Desi tetapi usaha mereka sia-sia belaka. Tante Desi sama sekali tidak menggubris perkataan dan ucapan dari kedua orang tua Rere, dengan langkahnya yang perlahan dan gontai Tante Desi berjalan kembali menuju kamar di ruangan tempat Kak Roy dirawat .Tatapan Tante Desi terlihat kosong saat ia berada di dalam ruangan Kak Roy, dan hal ini membuat kerabat serta suaminya menanyakan tentang keadaan Tante Desi, tetapi tetap saja Tante Desi terdiam dan membisu. Dia hanya tertuju dan fokus kepada Kak Roy saja yang masih tertidur di atas ranjang pasien, sambil menatap raga Kak Roy air mata Tante Desi berderai ,hatinya benar-benar menyangsikan akan kebenaran yang Dokter katakan. Tetapi di sisi lain ia tidak dapat menutupi sekelumit kecil akan rasa bahagia perihal berita kehamilan Rere. Perlahan kedua mata Tante Desi terpejam, ia benar-benar ingin membedakan antara kebohongan dan kebenaran yang sedang terjadi di hadapannya.