
Suasana subuh yang begitu sejuk dan tenang. Setelah diriku dan seluruh anggota keluarga Ustad Fariz serta Pak Budi, Bik Inah, Bik Siti dan asisten rumah tangga lainnya di kediaman Abi melaksanakan salat subuh secara berjamaah.Kami semua tidak diperbolehkan untuk tidur lagi.
Ustad Fariz pun mengatakan kepada kami semua jika tidur setelah subuh sangat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Dan di dalam Islam pun melarang hambanya untuk tidur kembali setelah subuh. Waktu subuh menjadi waktu turunnya sebuah keberkahan dan rezeki. Jadi sebaiknya setelah subuh menjadi awal kita untuk melakukan aktivitas dengan semangat untuk mendapatkan keberkahan dan berkah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Maka kami semua pun menyibukkan diri kami masing-masing dengan melakukan amalan setelah sholat subuh yaitu membaca doa, berdzikir, sholat dhuha, sedekah, dan memulai aktivitas yang bermanfaat.
Ustad Fariz, Kak Rafa ditemani Pak Budi dan Abi bersiap-siap untuk menuju ke mobil. Mereka akan membagikan makanan, uang dan pakaian serta sembako. Guna melakukan sedekah yang menjadi aktivitas rutin dari kebiasaan Ustad Fariz dan seluruh anggota keluarganya untuk memberikan sebagian rezeki yang mereka miliki pada waktu subuh. Keluarga Ustad Fariz mengikuti sesuai ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk gemar bersedekah dan berinfak.
Enjid juga mengatakan kepada kami, bahwa mereka memilih waktu setelah subuh untuk bersedekah. Karena setelah subuh merupakan waktu paling istimewa dalam melakukan sedekah. Hal ini karena terdapat banyak keutamaan didalamnya, seperti:ikut di do'akan oleh dua malaikat, dikabulkannya permintaan, harta menjadi berkah, jauh dari siksa apai neraka dan menghapus segala dosa.
"Dengan bersedekah tentu kita akan mendapatkan keberkahan hingga diberikan kesehatan dan umur panjang.
Sebab sedekah adalah membelanjakan harta atau mengeluarkan dana dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, " tutur Enjid kepada kami semua.
Namun, setelah itu Ustad Fariz ikut berkata sebelum pergi, "Sebenarnya sedekah dapat dilakukan kapan saja. Namun, bersedekah juga memiliki keutamaan dari sisi pemilihan waktunya. Jika seorang muslim menyengaja bersedekah di waktu-waktu yang terbaik dan dalam kondisi yang sangat genting seperti masa krisis bencana, dan pada bulan Ramadhan, maka amalan sedekahnya menjadi lebih berat dan bernilai,”tutur Ustad Fariz.
Dan setelah Ustad Fariz bersama Kak Rafa, Abi dan Pak Budi sudah pergi.
Enjid, Ummah dan Wirda memilih untuk membaca Al-Quran. Sementara Bik Inah, Bik Siti dan asisten rumah tangga lainnya segera melakukan aktivitas rumah tangga. Dan diriku memilih untuk mentasbihkan Allah dengan berdzkir sembari menunggu waktu untuk melaksanakan salat dhuha.
"Audzubillah himinas syaiton nirojim. Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk", ucapku lirih mengawali kalimat dzkirku dengan membaca ta'awudz.
Kemudian aku membaca ayat Kursi satu kali, dan membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas sebanyak tiga kali masing-masing setiap surat.
"Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.
Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di alam kubur, " kubaca sebanyak satu kali.
"Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.
Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk), " kubaca sebanyak satu kali juga.
Kemudian aku melanjutkan dengan membaca Sayyidul Istighfar sebanyak satu kali; "Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.
Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.
"Allahumma inni ash-bahtu usy-hiduka wa usy-hidu hamalata ‘arsyika wa malaa-ikatak wa jami’a kholqik, annaka antallahu laa ilaha illa anta wahdaka laa syariika lak, wa anna Muhammadan ‘abduka wa rosuuluk.
Ya Allah, sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul ‘Arys-Mu, malaikat-malaikat dan seluruh makhluk-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu, " kubaca sebanyak empat kali.
Lalu ku lanjutkan do'a untuk meminta perlindungan dan keselamatan pada agama, dunia, keluarga dan harta dari berbagai macam gangguan yang datang dari berbagai arah, dan kubaca sebanyak satu kali;
"Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh)".
"Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurrohu ilaa muslim.
Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya (godaan untuk berbuat syirik pada Allah), dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim, "kubaca sebanyak satu kali secara lirih dan pelan.
Kemudian aku melanjutkan membaca dzikir.
"Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.
Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, " kubaca sebanyak tiga kali.
Perlahan ku hela napas sebentar dan kembali melanjutkan membaca dzikir;
"Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.
Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi, " kuucapkan sebanyak tiga kali.
__ADS_1
"Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin Abadan.
Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu), " kuucapkan dzikir ini sebanyak satu kali.
"Ash-bahnaa ‘ala fithrotil islaam wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiina Ibraahiima haniifam muslimaaw wa maa kaana minal musyrikin.
Di waktu pagi kami memegang agama Islam, kalimat ikhlas (kalimat syahadat), agama Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan agama bapak kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik, " kuucapkan satu kali.
"Subhanallah wa bi-hamdih.
Maha suci Allah, aku memuji-Nya, " kuucapkan sebanyak seratus kali.
Untuk beberapa saat aku menjeda suaraku sebentar, dan mengatur tempo napasku untuk kembali melanjutkan dzikir.
"Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu, " sebanyak sepuluh kali kuucapkan dzikir ini.
"Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik Allah kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu, " kubaca sebanyak seratus kali supaya terhindar dari gangguan syaitan.
"Subhanallah wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.
Maha Suci Allah, aku memujiNya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya, " kuucapkan sebanyak tiga kali.
"Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.
Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik), " kubaca satu kali.
"Astagh-firullah wa atuubu ilaih.
Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya, " kuucapkan seratus kali dalam sekali duduk ku.
Al-lazina amanu wa taṭma'innu qulubuhum bizikrillah, ala bizikrillahi taṭma'innul-qulub.
Yang artinya:(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Matahari mulai naik dan terbit,pancaran cahayanya dapat kurasakan dari jendela mushalla di tempat kediaman rumah Ustad Fariz.Aku masih mendengar Wirda yang belajar memperbaiki bacaan Al-Qur'annya dengan Ummah.Terdengar beberapa kali Ummah dengan sabar membetulkan bacaan Wirda ,dan membuat Wirda mengulang kembali serta melancarkan bacaan tajwid dan makharijul huruf agar benar ketika melafalkannya.
Wirda pun terdengar tidak merasa keberatan atau pun berputus asa akan hal itu.Dia malah terdengar bersemangat sekali untuk belajar memperbaiki bacaan
Al- Qur'annya agar tartil(seksama).
Aku pun berusaha berdiri dan mendekat ke arah mereka.Dan Ummah yang melihatku sedang berusaha berdiri untuk mendekat kepada mereka dengan segera meminta Wirda untuk membantu menuntun jalanku.
Dengan bantuan Wirda aku pun telah duduk di dekat Ummah dan Winda.Sementara Enjid sedang mengambil air wudhu kembali untuk bersiap melaksanakan salat dhuha sambil menunggu cahaya matahari ketika sudah setinggi kurang lebih satu tombak yaitu dua meter menurut standar ukuran panjang sekarang.Dan jika diukur dengan waktu maka matahari pada posisi setinggi satu tombak kurang lebih 15 menit setelah terbit.
" Ternyata membaca Al- Qur' an dengan tartil dan sesuai ilmu tajwid juga sangat sulit ya Ummah?," ucap Wirda.
Ummah tersenyum kecil mendengar perkataan Wirda."Jika niat kita untuk belajar Al-Qur'an dengan lillah mengharap ridho dari Allah subhanahu wa ta'ala.InsyaAllah semua akan dipermudah oleh Allah.Asalkan kita bersungguh- sungguh untuk belajarnya."
"Iya Ummah,Wirda akan berusaha dengan giat untuk memperbaiki bacaan Al-Qur' an Wirda agar sesuai tajwid dan tartil," kata Wirda penuh semangat.
Ummah sangat senang mendengar ucapan Wirda dan mengusap kepala Wirda dengan lembut.
"Faedah atau manfaat mempelajari dan membaca
Al-Qur'an dengan tajwid secara
baik dan benar sangat dianjurkan kepada kita ummat muslim Wirda.
__ADS_1
Membaca Al-Qur'an merupakan sebaik-baiknya zikir kepada Allah subhanahu wa ta'ala, yang mempunyai
berbagai keistimewaan dan kelebihan dibandingkan dengan membaca
bacaan lainnya," tutur Ummah kepada Wirda.Aku pun juga ikut menyimak apa yang Ummah katakan kepada Wirda.
"Mengapa bisa demikian Ummah?," tanya Wirda.
Ummah pun kembali menjelaskan kepada Wirda dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Karena di dalam Al-Qur'an terdapat perintah dan hukum-hukum Allah subhanahu wa ta' ala, yang mengajak kita untuk beribadah kepadaNya. Sebab
membaca Al-Qur'an harus benar sesuai dengan kaidah yang ditetapkan
.Karena
melafalkan setiap huruf sesuai dengan haknya, baik sifat-sifat maupun
makhrajnya, supaya dapat mengetahui tata cara membaca Al-Qur'an
yang benar maka harus terlebih dahulu menguasai pokok-pokok
pembahasan hukum bacaan yang ada di dalam ilmu tajwid, seperti:
hukum nun mati atau tanwin, hukum mim mati, idgham, hukum mad,
dan lain sebagainya. Hukum membaca
Al-Qur'an adalah Fardhu'ain
yaitu apabila dilakukan akan berpahala dan apabila ditinggalkan maka
akan berdosa,"tutur Ummah menjelaskan kepada Wirda.
Wirda pun menganggukkan kepalanya seraya mengerti akan perkataan yang Ummah sampaikan kepada dirinya.
"Mempelajari ilmu tajwid sangat dianjurkan bagi semua umat
Islam supaya dapat membaca Al-Qur'an dengan lancar, baik dan
benar. Sebab membaca Al-Qur‟an bukan sekedar membaca saja,
melainkan membacanya harus benar sesuai dengan kaidah yang
ditetapkan. Oleh karena itu, supaya dapat mengetahui tata cara
membaca Al-Qur'an yang benar maka harus terlebih dahulu
menguasai pokok-pokok pembahasan hukum bacaan yang ada,"tutur Ummah kembali.
" Baiklah Ummah kalau begitu, Ummah mau kan mengajari Wirda untuk belajar ilmu tajwid. Supaya Wirda dapat membaca
Al-Qu'ran dengan baik dan benar," pinta Wirda kepada Ummah.
" Tentu saja Ummah sangat senang untuk mengajari Wirda dalam mempelajari ilmu tajwid sehingga Wirda dapat membaca
Al-Qu'ran dengan baik dan benar,serta dapat membacanya dengan tartil,"ucap Ummah sambil mengusap kembali kepala Wirda dengan penuh kasih sayang. "Alhamdulillah .Terima kasih ya Ummah," balas Wirda dengan ucapan yang senang. "Iya Wirda sama-sama,"sahut Ummah.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita sekarang melaksanakan salat dhuha ,"ajak Ummah kepadaku dan Wirda.
"Iya Ummah," jawabku dan Wirda secara bersamaan.
__ADS_1
Aku,Wirda dan Ummah pun langsung bergegas mengambil air wushu untuk segera melaksanakan salat dhuha.