Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Bersama dirinya.


__ADS_3

Pancaran cahaya putih kemerah-merahan menyala terang di ufuk timur, yang menyebar secara horizontal terhadap ufuk. Yang mana nyalanya dapat tertangkap oleh pandangan mata. Dan dengan perlahan mataku mulai terbuka melawan rasa kantuk yang mendera diriku. Sembari sedikit memicingkan mataku melihat keadaan sekitar, dalam samar-samar keadaan setengah sadar. Kurasakan sesuatu mengenggam jemari tanganku dengan sangat erat. Mataku pun terbuka, namun menatap lurus ke depan untuk sesaat dalam redup pandanganku. Lalu pandanganku mengarah pada Mas Fariz yang berada di sampingku.


Aku sedikit terkejut, dan membuat diriku tersadar penuh.


"Dek Rani sudah bangun, " ucap Mas Fariz yang tersenyum lebar sembari menggenggam jemari tanganku.


Aku melihat lekat ke arah Mas Fariz, sambil menelisik keadaan. Dengan raut wajah bingung selepas bangun dari tidur. Aku terus menerka apa yang terjadi, hingga aku ketiduran.


Dengan lembut dan pelan Mas Fariz mengusap kepalaku yang masih tertutup dengan hijab, "Karena terlalu asyik mengobrol, sehingga membuat Dek Rani dan Mas tertidur disini. "


"Maksudnya Mas Fariz, " tanya ku.


"Dek Rani sudah sangat mengantuk saat kita mengobrol. Dan tiba-tiba Dek Rani sudah terlelap dalam sandaran pundak Mas, " jelas Mas Fariz.


"Mengapa Mas Fariz tidak membangun Rani saja. Pasti Mas lelah harus menopang kepala Rani di pundak Mas, dan harus tidur sambil duduk bersandar pada ranjang tempat tidur seperti ini, " ucapku merasa tidak enak.


Mas Fariz tersenyum, "Tidak Dek,Mas tidak tega membangunkan Dek Rani yang sudah terlelap tidurnya.InsyaAllah Mas tidak keberatan sama sekali menjadi sandaran Dek Rani. Jangankan memberikan pundak untuk bersandar Dek Rani tidur. Bahkan hati, jiwa dan raga Mas pun sudah Mas berikan untuk Dek Rani. "


Aku merasa tersanjung akan ucapan dan perlakuan dari Mas Fariz, yang secara tidak kusadari dengan perlahan hatiku mulai terpaut kepadanya.


"Terima kasih banyak Mas karena sudah mencintai Rani, " kataku.


Mas Fariz pun menatap wajahku lekat, "Terima kasih pula karena Dek Rani bersedia menjadi pendamping hidup Mas dan melengkapi kebahagiaan Mas. "


Aku tersenyum dan mengangguk pelan.


Mas Fariz memandang wajah ku dalam lagi, "Setiap pandangan mata Mas memandang wajah Dek Rani. Sungguh membuat indra penglihatan Mas tidak ingin berpaling dan menjauh dari terus menatap Dek Rani. Perasaan yang selalu ingin dekat dan senantiasa bersama Dek Rani, membuat cinta yang bergejolak di dalam sanubari Mas semakin membara dalam nyala api asmara kepadamu Dek, " tutur Mas Fariz.


Perasaan aneh, bagai getaran aliran listrik yang menyambar. Begitu semakin kencang dan kuat setiap jemari tangan Mas Fariz menjamah wajahku ataupun menggenggam jemari tanganku. Aku begitu tersihir akan setiap kelembutan sentuhannya.


Dengan penuh kasih sayang Mas Fariz mendaratkan kecupan lembutnya pada keningku seraya berkata, "Dek Rani, ayo kita lekas bersiap-siap untuk salat subuh berjamaah dengan anggota keluarga lainnya."


Aku mengangguk, "Iya Mas. "


Mas Fariz tersenyum, dan sambil mengenggam jemari tanganku ia pun menarik tubuhku perlahan untuk berdiri.


Tanpa disengaja karena baru saja terbangun dari tidur, sehingga membuat tubuhku pun terdorong begitu dekat dengan Mas Fariz.


DAG... DIG.. DUG


Jantung ku kembali berdetak kencang dalam hembusan napas naik turun ku.


Wajah kami berdua begitu sangat dekat, hingga membuat mataku dan Mas Fariz kembali bertemu. Yang mana membuatku semakin merasa sesak dan tenggelam dalam tatapan matanya yang mengikat pandangan ku. Dengan lembut tangan Mas Fariz menarik tubuhku untuk semakin dekat dan masuk ke dalam dekapannya. Aku pun tidak menghindarinya dan menikmati usapan lembut jemari tangannya pada punggung ku.


***


Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di musholla sembari menunggu kedatangan Mas Fariz dan diriku yang sedikit terlambat. Tampak Bik Siti dan Ummah tersenyum lebar melihat kedatangan kami berdua. Mas Fariz dan diriku pun terlihat tersipu malu sambil berjalan tertunduk. Lalu Ummah memanggil diriku untuk mendekatinya, sementara Mas Fariz sudah berjalan kedepan untuk menjadi imam salat subuh pada hari Jum'at ini.Mas Fariz membaca Alif Iaam miim tanziil yaitu Al-Qur'an surat As-Sajdah yang terdiri dari 30 ayat pada raka’at pertama. Sedangkan pada raka’at kedua beliau membaca Hal ataa ‘alal insaan yaitu Al-Qur'an surat Al-lnsan yang terdiri dari 31 ayat. Mas Fariz memperpanjang bacaan pada raka'at pertama dan memerpendek bacaan pada raka'at kedua dengan mengeraskan suaranya.


Dan kami semua yang menjadi makmumnya saat salat subuh bersamanya, mendengarkan dan menyimak bacaan Al-Quran yang begitu sangat merdu dan nikmat hingga membuat kekhusyukan ibadah kami kepada Sang Pencipta.


Pada raka'at pertama saat Mas Fariz membaca surat As -Sajdah pada ayat ke-15 yang terdapat ayat Sajdah. Kami semua pun melakukan sujud tilawah sebanyak satu kali saja, karena mendengar ayat Sajdah dalam salat. Kemudian, kami semua langsung sujud mengikuti Mas Fariz sebagai imam salat kami dengan membaca "Sajada wajhii lil-ladzii khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam‘ahu wa basharahu wa bi haulihi wa quwwatihi".


Tidak berapa lama kemudian, setelah kami semua selesai melaksanakan salat subuh secara berjamaah.Kami semua meneruskannya dengan berzikir dan melanjutkannya dengan membaca Al-Qu'ran sambil menunggu waktu dhuha tiba. Tetapi setelah berdzikir seusai salat. Mas Fariz mengajak diriku untuk membagikan makanan, pakaian, uang dan sembako secara berkeliling dengan menaikki mobil.


Sebuah kebiasaan yang biasa di lakukan oleh keluarga Mas Fariz secara rutin.


Dan saat ia mengajak diriku, aku pun tidak menolak dan dengan senang hati menerima ajakannya. Setelah berpamitan dengan Enjid, Abi dan Ummah tentunya. Pak Budi, Bik Siti dan ditemani oleh beberapa asisten rumah tangga lainnya membantu memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Dan setelah semua barang-barang yang akan kami shodaqoh kan sudah siap. Mas Fariz segera mengajak diriku untuk masuk ke dalam mobil yang mana Pak Budi dan Bik Siti juga ikut serta.


Mas Fariz hendak duduk di jok mobil bagian depan di sebelah Pak Budi yang akan bersiap mengendarai mobil. Namun, dengan cepat Bik Siti melarang Mas Fariz untuk duduk di depan.


" Nak Fariz jangan duduk di depan, sebaiknya Nak Fariz duduk bersama dengan Nak Rani di belakang, biarkan Bibi saja yang duduk di sini, "ucap Bik Siti sambil tersenyum. Kemudian Mas Fariz pun menatap Bik Siti dengan heran, "Tidak apa-apa Bi, kan sama saja duduk di depan atau di belakang.Saya biar di depan menemani pak Budi ,"balas Mas Fariz dengan pelan.


Lalu Pak Budi pun ikut menyela pembicaraan antara Mas Fariz dan Bik Siti, " Tidak sama Nak Fariz. Jika di depan hanya diam sambil memandang jalan dan saya. Namun, jika di belakang akan bahagia dan senang karena di temani istri tercinta yaitu Nak Rani. "


Mas Fariz pun tersenyum mendengar ucapan Pak Budi,sambil menggelengkan kepalanya perlahan, "Aduh, Pak Budi bisa saja menggoda saya. "

__ADS_1


Bik Siti lalu berkata lagi, "Pak Budi tidak sedang menggoda Nak Fariz. Apa yang Pak Budi katakan itu memang benar adanya Nak Fariz. Nak Fariz dan Nak Ranj kan pengantin baru jadi masih anget-angetnya, yang bawa'annya mau nempel dan berdekatan terus. Iya kan Nak Fariz, hehehehe. "


Aku dan Mas Fariz hanya tersenyum saja mendengarkan candaan dari Bik Siti.


Lalu Mas Fariz pun duduk di kursi belakang mobil dengan diriku, sedangkan Bik Siti duduk di depan di sebelah Pak Budi yang mengemudikan mobil.


Saat Mas Fariz duduk di samping ku matanya memandangi diriku lekat, dan aku pun juga menatapnya.


"Ehem... Ehemm, " suara Bik Siti menggoda kami berdua.


"Ada Bik Siti? Apakah Bik Siti ingin minum? Ini ada botol air mineral, " ucap Mas Fariz.


Bik Siti menggelengkan kepalanya, "Tidak Nak Fariz. Bibi tidak harus. Bibi senang melihat kalian berdua akhirnya dapat menjadi pasangan suami istri yang so sweet."


Mas Fariz tersenyum bersamaan dengan diriku dan Pak Budi.


"Bik Siti sekarang banyak menggunakan kosa kata gaul ya. "


"Hehehehe, " suara Bik Siti tersenyum meringgis.


Pak Budi kemudian melanjukan mobil dan Bik Siti langsung menghadap ke depan.


Mobil pun melaju menembus dinginnya pagi.


Pandangan mataku dan Mas Fariz bertemu, ia dengan lembut terus mengenggam jemari tanganku dan tidak melepaskannya.


Hatiku semakin berdebar tidak menentu, setiap ia menyentuh diriku dengan kelembutan yang ia berikan.


***


Setelah membagikan barang-barang untuk di shodaqoh kan kepada yang membutuhkan. Kami semua pun segera bergegas untuk pulang. Momen kebersamaan dengan Mas Fariz yang pertama kalinya bagi kami berdua keluar di tempat umum. Banyak hal dan sisi lain yang selama ini tidak pernah kulihat sebelumnya dari dirinya. Yah, Mas Fariz begitu sederhana dalam kesahajaannya. Baik tutur kata dan perilakunya sungguh membuat diriku menjadi takjub karenanya. Aku semakin dekat dengannya, hingga perlahan dirinya terus menjamah relung hatiku dan menyemai benuh-benih perasaan khusus untuk dirinya. "Apa yang Dek Rani pikiran dengan memandang keluar kaca jendela mobil?, " tanya Mas Fariz.


Aku langsung menoleh ke arahnya sambil tersenyum, "Tidak Mas, aku hanya..., " ucapku terpotong oleh selaan ucapan Bik Siti.


"MasyaAllah, sekarang Nak Rani memanggil Nak Fariz dengan panggilan Mas tho, rupanya sekarang kalian berdua sudah sangat dekat dengan memiliki panggilan istimewa, " ucap Bik Siti dengan tersenyum sambil menoleh ke arahku dan Mas Fariz.


Aku pun bertambah malu mendengar perkataan Mas Fariz. Yang mana kedua pipiku menjadi memerah karena tersipu malu.


"Iya Nak Fariz.Bibi mengerti,tetapi kali ini ucapan Nak Fariz yang semakin membuat Nak Rani menjadi memerah, " sahut Bik Siti dengan tersenyum.


Pak Budi yang menyetir mobil pun ikut menyela," Bik Siti juga jangan sering menggoda Nak Rani, kan kasihan Nak Rani. Kalau Nak Rani harus merasa malu karena mendengar ucapan Bik Siti yang mungkin membuat Nak Rani menjadi tidak nyaman. "


"Hehehe, iya Pak Budi. Saya hanya bercanda saja dan tidak bermaksud membuat Nak Rani merasa tidak nyaman. Saya justru sangat senang sekali dapat melihat Nak Rani dan Nak Fariz semakin dekat dan dapat saling mencintai satu sama lain, " ujar Bik Siti.


Mendengar ucapan Bik Siti,aku pun langsung bertutur kepadanya, "Tidak apa-apa Bik. Tetapi jangan sering-sering menggoda Rani seperti itu ya Bik. "


Bik Siti tertawa,"Iya Nak Rani. InsyaAllah ya Nak jika bibi tidak lupa, hehehe."


Aku dan Mas Fariz saling berpandangan dan tersenyum kecil mendengar perkataan Bik Siti.Sementara Pak Budi hanya menggelengkan kepalanya saja.


Mobil terus melaju dalam kemudi Pak Budi. Dan Mas Fariz mengenggam jemari tangan ku dengan lembut dimana pandangan mata kami pun saling bertemu kembali.


Namun, tiba-tiba ucapan Pak Budi membuyarkan kedekatan kami berdua.


"Nak Fariz apakah kita langsung pulang ke rumah atau mau pergi kemana dulu Nak?, " tanya Pak Budi.


Mas Fariz pun lalu menoleh ke arah Pak Budi sambil berpikir, "Kita mampir dulu ke taman kota Pak, sepertinya udaranya sangat sejuk dan nyaman untuk berjalan-jalan sambil kita semua mencari sarapan disana. "


Lalu Mas Fariz melihat ke arahku, "Bagaimana Dek Rani? Apakah Dek Rani tidak keberatan ?, "


"Rani, terserah Mas Fariz saja, " jawabku.


Lalu Mas Fariz bertanya kepada Pak Budi dan Bik Siti, "Kalau Pak Budi dan Bik Siti bagaimana?. "


"Kalau saya terserah Nak Fariz dan Nak Ranj saja, " sahut Pak Budi cepat.

__ADS_1


"Bik Siti bagaimana Bik?, " tanya Mas Fariz.


Bik Siti menoleh ke belakang menghadap diriku dan Mas Fariz sambil tersenyum meringgis, "Yah, tentu bibi maulah Nak Fariz.Orang mau diajak jalan-jalan dan ditraktir sarapan. Masak Bibi menolak rezeki akan niat baik Nak Fariz, hehehehe. "


Kami semua pun hanya tersenyum sambil mengeleng-gelengkan kepala melihat sikap konyol Bik Siti yang terkadang memancing tawa.


"Baiklah kalau begitu saya akan memberi tahu Ummah dahulu, supaya beliau dan yang laotidak mencemaskan kita, " kata Mas Fariz sambil mengambil telepon genggam dari tas kecilnya.


Mas Fariz lalu bersiap untuk menelpon Ummah, tetapi sebuah pesan dari Tante Desi lalu mengalihkan pandangan matanya. Dengan cepat ia pun memeriksa beberapa panggilan tidak terjawab dari Tante Desi dan membuka pesan darinya.


Mas Fariz lalu berkata kepadaku, "Dek Rani, ada pesan dari Tante Desi yang meminta Mas mengajak Dek Rani ke rumah sakit untuk membesuk Dek Roy yang terus memanggil nama Dek Rani. "


Ucapan Mas Fariz membuat diriku dan Mas Fariz menjadi tidak nyaman. Lalu Bik Siti kembali menyela pembicaraanku dan Mas Fariz.


" Maaf sebelumnya Nak faris dan Nak Rani. Bukannya Bibi bermaksud untuk ikut campur ,tetapi jika Bibi boleh menyarankan apakah sebaiknya Nak Faris dan Nak Ranitidak usah membesuk Nak Roy di rumah sakit. Bibi taku jika nanti kedatangan Nak Fariz dan Nak Rani kesana akan menimbulkan masalah yang dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga kalian yang baru saja diresmikan. Apalagi mengingat, emm...maaf jika Bibi harus mengatakan ini ,"ucap Bik Siti sambil menatap serius wajahku dan Mas Fariz.


"Yah, dimana kita sama-sama tahu betul jika Nak Roy juga memiliki perasaan khusus terhadap Nak Rani. Jika Bibi sarankan akan lebih baik kalian berdua menghindari saja ya nak ,demi kebaikan kalian bersama. Tetapi semuanya bibi kembalikan lagi keputusannya kepada Nak Fariz dan Nak Rani. Mungkin kalian mempunyai pemikiran sendiri, itu hanya usul dari Bibi saja dan Bibi tidak mempunyai maksud apa-apa .Jadi Bibi berharap Nak Fariz dan Nak Rani jangan salah paham ya. "


"Iya Bik Siti tidak apa-apa, saya mengerti akan maksud perkataan Bik Siti, " balas Mas Fariz sambil tersenyum.


Kemudian Pak Budi pun ikut memberikan sarannya, "Kalau menurut Pak Budi malah kebalikan dari Bik Siti. Justru akan lebih baik jika Nak Rani dan Nak Fariz membesuk Nak Roy sekaligus memenuhi permintaan Bu Desi supaya tidak tersinggung. Sekaligus memberitahukan kepada beliau dan Nak Roy akan status hubungan Nak Rani dan Nak Fariz yang saat ini sudah resmi menjadi pasangan suami istri. "


Mas Fariz lalu menengahi perbedaan pendapat antara Bik Siti dan Pak Budi.


"Tidak usah di pikir kan Bik Siti dan Pak Budi. Biar nanti saya dan Dek Rani yang akan memutuskan baiknya bagaimana. Sebaiknya sekarang kita langsung menuju ke taman saja ya Pak, " ucap Mas Fariz.


Pak Budi dan Bik Siti pun mengangguk, "Iya Nak Fariz, " ucap mereka berdua bersamaan.


Kemudian, Mas Fariz menatap diriku sambil mengusap bahuku pelan.


Tidak lama kemudian, Mas Fariz segera menghubungi Ummah akan keberadaan kami sekarang yang sudah tiba di taman.


Kami semua turun dari mobil.


Mas Fariz lalu menghampiri diriku dan mengenggam jemari tanganku sambil menyusuri keindahan taman. Sementara, Bik Siti dan Pak Budi sedang memesan makanan.


Cahaya matahari pagi mulai bersinar menghangatkan udara pagi yang dingin.


Perasaan berdebar yang sama dan masih ku rasakan dengan semakin kuat dan hebatnya, setiap kali Mas Fariz mengenggam jemari tanganku.


Tatapan matanya yang teduh terus membuat hatiku semakin merasakan sesuatu aliran akan getaran kejut yang begitu terus menjalar di sekujur tubuhku.


"Apa yang sedang Dek Rani pikirkan?, " tanya Mas Fariz memandangi ku lekat.


Dalam langkah kakiku dan Mas Fariz yang pelan. Pandangan mataku pun bertemu lagi dengannya. Bibirku tersenyum kecil memandang Mas Fariz.


Hal ini semakin membuat Mas Fariz akan penasaran mengenai sikapku.


"Mengapa Dek Rani tersenyum saja dan tidak menjawab pertanyaan Mas?, " tanya Mas Fariz.


Sambil menatap mata Mas Fariz, aku pun berkata, "Apakah Rani perlu mengatakan kepada Mas Fariz juga, jika Mas Fariz sendiri tahu apa yang sedang Rani pikirkan. "


Raut wajah Mas Fariz berubah seketika, dan terlihat tegang, "Apakah Dek Rani memikirkan Dek Roy?. "


Aku begitu terkejut mendengar perkataan Mas Fariz yang membuat langkah kakiku terhenti seketika. Yang mana Mas Fariz pun juga ikut terhenti langkahnya.


"Ada apa Dek? apakah perkataan mas salah?, " tanya Mas Fariz.


Aku mengangguk,"Iya Mas Fariz salah. Rani tidak menyangka jika Mas bisa berkata dan berpikiran demikian. Padahal..., "


Perkataan ku terhenti.


Mas Fariz penasaran, "Padahal apa Dek?. "


Aku memberanikan diri untuk mengatakan kepada Mas Fariz sambil menatap wajahnya, "Padahal Rani sedang memikirkan Mas Fariz."

__ADS_1


Mas Fariz seperti tersentak mendengar ucapanku, lalu senyumnya merekah dan kembali mengenggam jemari tangan ku erat dan semakin erat dari sebelumnya.


__ADS_2