
Aku memandang kedua matanya yang mulai menua.Dengan berkaca-kaca ia terpaku menatapku.Tersayat rasanya atmaku.Lalu kugengam perlahan jari-jemarinya yang rapuh.Bibirku keluh seketika,dalam kegetiran rasa pilu.Kelabu dalam mendung membuat hatiku tidak mampu menyembunyikan rasa sedih yang bergejolak menyergap kolbu.aku tidak mampu membendung derai air mataku yang tumpah tiada henti dalam kerapuhnku.
Hiks...Hiks...Hiks....
"Bun,jangan sakit lagi ya bun.Rani nggak akan mampu kehilangan bunda.Hanya bunda yang Rani punya bun.Bunda harus sembuh ya bun.Bunda harus janji dengan Rani kalau bukan nggak akan sakit lagi ya Bun.Bunda harus sehat."
Aku terus menangis memeluk bunda.Dan aku pun tidak peduli jika semua orang memandang diriku.
Perlahan bunda mulai meresponku.Dengan raganya yang masih lemah dan tidak berdaya.Tangan rapuhnya mulai membalas pelukanku.Jari-jemarinya membelai kepalaku dengan lembut.Tenang dan damai hatiku dapat memeluk bunda seperti ini.Bu Sri perlahan mendekatiku,ia pun mengelus lembut pundakku.
"Ran,yang kuat ya nak.Rani nggak boleh nangis.Kasihan bunda nanti malah tambah sedih kalau lihat Rani menangis seperti ini."
Mbak Riska pun juga mengengam tanganku,
"Iya dek,jangan nangis lagi ya.Bener kata mama,nanti bunda jadi sedih lihat Rani menangis."
Kata-kata Bu Sri dan Mbak Riska melentingkan Isak tangisku.Benar ucapan mereka batinku dalam hati.Ku tatap wajah bunda yang satu dan sendu,bibirnya masih diam terkunci.Akh,begitu masih lemah fisiknya.Lalu dengan cepat kuseka air mataku dan kucium kening bunda.
"Maafin Rani ya bun,karena sudah membuat bunda sedih.Rani janji Bun.Rani nggak akan menangis lagi,"ucapku sambil tersenyum kecil.
Bunda yang menatapku membalas senyumku dengan menangkupkan kedua matanya perlahan.Tidak lama kemudian dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa keadaan bunda.Aku dan yang lainnya harus keluar dari ruangan selama bunda di periksa.Akhirnya dengan berat hati aku pun melangkah keluar di iringi Bu Sri dan Mbak Riska yang berada di samping kiri dan kananku.Aku dan yang lain duduk di kursi tunggu di depan kamar bunda.Batinku bergulat dengan asaku.Semoga bunda baik-baik saja pintaku dalam hati.
Tik...Tik...Tik..
Rintik hujan mulai turun membasahi bumi.Udara perlahan menjadi dingin.Hujan yang mewakili mendung di hatiku batinku.Kemudian aku izin kepada Bu Sri dan yang lainnya untuk keluar.Aku menyukai hujan.Suara gemerciknya membuat hatiku menjadi damai dan tenang.Perasaanku yang kelabu terwakilkan oleh air hujan yang turun.Dengan perlahan kususuri koridor rumah sakit.Aku berjalan menuju tempat yang sedikit terbuka.Kutarik napasku perlahan,menikmati aroma khas hujan.Lalu tibalah aku pada sudut koridor rumah sakit yang terhubung pada taman.Kutengadahkan kedua tanganku menikmati tetesan air hujan yang jatuh di telapak tanganku.Kedua mataku terpejam sesaat menikmati gemercik tarian hujan yang bermain di telapak tanganku.
BYURRR......
Tiba-tiba wajahku terguyur oleh air hujan yang dingin.Seketika aku terkejut dan langsung membuka mataku.Tubuh jangkung dan sorot mata tajam yang kukenal berdiri tepat di hadapanku.
"Kak Reno?,"ucapku terkejut.
"Kenapa kaget?,"tanyanya sinis.
Lalu dengan cepatnya ia menarik lengan tanganku dan menghempaskan tubuhku ke dinding.Dengan cepat kedua tangannya mengunci lenganku.Air mukaku dan wajahnya bertemu begitu dekat hingga membuatku dan dirinya membisu seketika.
__ADS_1
Kurasakan kemarahan di dalam sorot matanya.Kebencian dalam hembusan napasnya.
"Apa yang menjadi tujuanmu sebenarnya?apakah uang?kekayaan ?ketenaran?atau kah kamu hanya ingin memanfaatkan kebaikan keluargaku saja?jawab!cepat jawab!,"dengan suaranya yang meninggi.
Aku hanya terdiam berusaha melepaskan cengkraman tangannya dari lenganku yang begitu kuat.
"Kenapa kamu diam?apakah kebisuanmu mengartikan bahwa semua ucapanku benar?,"bentaknya.
Lalu aku mencoba memalingkan wajahku dari wajahnya.Namun dengan cepat ia memegang wajahku untuk menatapnya,
"Kenapa kamu berpaling?pandang wajahku jika ingin bicara.Ayo katakan apa tujuanmu yang sebenarnya!.Sungguh aku sangat membenci dirimu sangat membencimu,"ucapnya kesal.
Dengan sedikit menghela napas kucoba untuk menjawab pertanyaannya,
"Terserah apa pemikiranmu.Jika yang engkau katakan sudah selesai maka lepaskan aku dan biarkan aku pergi,"pintaku padanya.
Mendengar ucapanku ia semakin marah dan menambah kuat mencengkram tubuhku,
"Apa katamu!membiarkanmu pergi.Jangan bermimpi.Awal mula kehancuran dirimu baru akan dimulai sekarang.Dan aku tidak akan pernah Melepaskanmu pergi setelah semua permainan kotormu itu terhadap keluargaku dan telah menghancurkan kehidupanku".
Aku pun terus berusaha melepaskan diri dari cengkramannya yang membuat tubuhku mulai terasa sakit,
Ia pun terlihat senang melihatku merintih kesakitan dan semakin menekan tubuhku dengan kuat,
"Sakit?ini sakit,"ucapnya.
"Lepaskan aku,"pintaku padanya.
"Tidak akan.Aku senang jika melihatmu menderita seperti ini,"sambil tertawa sinis.
"Kamu pria yang jahat dan kejam,"ucapku.
"Apa kamu bilang aku kejam dan jahat?bukankah dirimu yang sebenarnya adalah sosok wanita jahat yang berkedok topeng keluguan untuk menipu semua orang."
Hujan pun turun semakin deras menyelimuti udara dingin yang tidak mampu memadamkan api kebenciannya padaku.
__ADS_1
Dengan kesal ia menarik tanganku dengan kuat.Rintihanku yang kesakitan pun diabaikan olehnya.Langkahnya yang tegap dan cepat membuat tubuhku terhuyung mengikuti langkahnya.
"Kamu bilang aku pria yang jahat dan kejam bukan.Baiklah akan aku tunjukkan arti jahat dan kejam padamu yang sesungguhnya."
Kemudian dengan cepat ia menarikku dan melemparkan tubuhku dengan keras di bawah guyuran air hujan.
BUKKkkk...
Aku terjatuh,tubuhku tersungkur dan bibirku mencium jalan bebatuan di area taman rumah sakit.Aughhhh...aku merintih kesakitan.Dan dia membatu dalam senyuman bahagianya.
Ia berjalan mendekat tanpa terkena tetes air hujan,
"Hey,penipu.Ini baru awal arti penderitaanmu,"teriaknya sambil tertawa.
Aku menoleh ke arahnya perlahan sambil berusaha bangkit.Dalam derasnya guyuran hujan terdengar samar seseorang memanggil namaku,
"Ran,Raniiii,"ucapnya sambil berlari tergopoh-gopoh ke arahku.
Kak Reno pun melihat ke arah pemuda tersebut,
"Roy?hey kamu ngapain kesana,jangan sok jadi pahlawan Roy,"ucap Kak Reno ketus sambil berjalan pergi meninggalkanku dan Kak Roy dengan wajah bahagianya.
Kak Roy berlari menembus hujan.Ia lalu membantuku untuk berdiri.Kulihat sorot matanya yang begitu khawatir dalam pandangannya.
"Kamu nggak apa-apa Ran?,"tanyanya memastikan.
Aku pun berusaha menolehkan sepenuh wajahku kepadanya.Tetapi ekspresi wajahnya seketika berubah terkejut melihatku,
"Ya Allah Dan,bibir dan dahimu berdarah".
Maka dengan cepat ia langsung membantuku berdiri dan menjauh dari guyuran hujan yang membuatku dan dirinya menjadi basah kuyup.
"Apakah Reno yang melakukan semua ini?",tanyanya.
Akan tetapi aku hanya diam.Kulihat raut wajahnya yang menahan kesal dan sedih melihat kondisiku.
__ADS_1
Sekilas pandangan mataku dan Kak Roy beradu.Di bawah guyuran hujan.Dalam misteri tatapan matanya yang syarat akan makna.
Ia menuntunku berjalan.