Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kedatangan Mbak Riska.


__ADS_3

Cahaya sang surya perlahan menyinari bumi. Pancaran sinarnya membuat indra peraba merasakan kehangatan dalam dinginnya udara pagi setelah hujan lebat sepanjang malam. Masih terasa uap air dari bekas guyuran hujan. Dan aroma petrichor yang merangsang indra penciuman.


Aku masih duduk di dalam taman perumahan tempat kediaman Wirda tinggal.


Ditemani Wirda, aku duduk dengan dirinya pada sebuah kursi yang ada di taman tesebut.


"Bagaimana keadaanmu sekarang Ran?,"tanya Wirda kepadaku.


" Aku merasa lebih baik Wir, "jawabku.


" Benarkah?, "tanya Wirda.


" Iya Wirda, "sahut ku.


" Tetapi aku seperti melihat rasa kecemasan dan kekhawatiranmu di wajah Ran, "ucap Wirda.


" Mungkin hanya perasaanmu saja Wir, "kataku.


" Tidak Ran ,aku benar-benar melihat kegundahan di dalam raut wajahmu, "bantah Wirda.


" Mungkin karena aku lelah barangkali Wir, "kataku lagi.


" Sebenarnya apa yang sedang mengganggu pikiranmu Ran. Katakan Saja jangan engkau memendam semuanya sendiri.Setidaknya bagilah denganku agar kecemasan dan rasa gundah yang menyelimuti hati dan pikiranmu itu berkurang "tutur Wirda kepadaku.


"Aku tidak sedang memikirkan apapun Wir. Tetapi aku hanya merasakan sesuatu yang tidak enak dan membuatku sedikit gusar. Namun entah aku tidak tahu apakah itu? dari semalam pikiranku hanya tertuju kepada Kak Roy bukan karena aku memikirkannya. Tetapi aku merasakan ada sesuatu hal yang terjadi kepadanya dan aku tidak tahu apakah itu. Meskipun aku sudah berusaha untuk membuat hatiku tenang dengan berzikir dan berdoa. Tetapi tetap saja bayang- bayang Kak Roy itu selalu berada di dalam pikiranku, "ucapku dengan pelan.


" Apakah itu artinya dirimu menyukai Kak Roy, Ran?, " tanya Wirda pelan.


"Tidak Wir. Aku memikirkan Kak Roy bukan karena aku menyukainya atau karena aku merindukannya ,bukan seperti itu maksudku. Tetapi entah mengapa aku merasakan seperti ada sesuatu hal yang terjadi kepadanya .Dan aku merasakan bahwa saat ini Kak Roy sedang berada dalam kesedihan dan dalam situasi yang tidak ia inginkan .Tetapi aku tidak tahu apakah itu, "ucapku lagi menjelaskan kepada Wirda pelan.


" Hmm,bagaimana jika aku sekarang aku mengirim pesan atau menelpon Kak Roy saja untuk memastikan keadaannya. Apakah ia dalam keadaan baik-baik saja atau sedang terjadi sesuatu kepadanya sehingga hatimu juga merasa tenang Ran. Bagaimana menurutmu?,"tanya Wirda kepadaku.


Aku pun terdiam sejenak memikirkan saran dari Wirda.


"Iya Wirda, tidak apa-apa .Tidak ada salahnya untuk mencoba menghubungi Kak Roy setidaknya aku juga dapat memastikan bahwa Kak Roy dalam keadaan yang baik-baik saja ,"ucapku menyetujui saran dari Wirda .


"Baiklah kalau begitu sekarang aku coba langsung menelpon Kak Roy saja ya ,"ucap Wirda sambil mengambil telepon genggam dari tas kecil yang ia gantungkan di pundaknya.


" Iya Wir silahkan ,"sahut ku.


Kemudian Wirda pun mencoba untuk menghubungi nomor telepon Kak Roy.


"Tidak diangkat Ran, sepertinya sibuk ,"ucap Wirda kepadaku.


" Ya sudah tidak usah Wir. Lebih baik kamu kirim pesan saja dan tanya di mana keberadaan Kak Roy sekarang seperti itu saja ,"ucapku kepada Wirda.


"Iya Ran, sebentar ya aku aku akan mencoba mengirim pesan kepada Kak Roy sekarang, " kata Wirda.


Aku pun diam sambil menunggu Wirda yang mengetik pesan untuk Kak Roy.


"Sudah terkirim Ran, " ucap Wirda.


"Ya sudah kalau begitu kita tunggu saja Wir sampai Kak Roy membalasnya, "ucapku pelan.


"Iya Ran, "sahut Wirda.


" Semoga kak Roy baik-baik saja dan tidak terjadi hal-hal yang buruk kepadanya, "kataku pelan.


" Ran, aku masih sedikit meragukan kata-katamu. Jika memang dirimu tidak tidak menyukai Kak Roy tetapi mengapa engkau sangat mengkhawatirkan keadaannya seperti sekarang ini .Bukankah rasa pedulimu ini menunjukkan bahwa sebenarnya engkau menyukai Kak Roy, "ucap Wirda dengan sedikit ragu.


Aku tersenyum kecil mendengar perkataan Wirda kepadaku.


" Wir, apakah saat kita peduli dan menghawatirkan seseorang itu berarti kita menyukai dan mencintainya ,tidak seperti itu kan. Banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita tafsirkan lewat penglihatan mata. Namun, hanya bisa dirasakan oleh hati dan naluri kita saja. Hubunganku dengan Kak Roy itu sangat dekat Wir. Dan engkau pun juga tahu Kak Roy selalu ada disampingku menemaniku ,mendampingiku di saat-saat aku terpuruk sama halnya juga dengan dirimu yang selalu berada di dekatku. Jadi tidak ada salahnya kan jika aku mengkhawatirkan kondisinya .Karena ia sudah seperti kakak bagiku.Sebab melihatnya bahagia dan baik-baik saja akan membuatku juga ikut senang Wir. Apalagi jika Kak Roy dapat menjalani kehidupannya seperti orang lain pada umumnya ,"ucapku kepada Wirda. Apa maksudmu Ran?,"tanya Wirda padaku.


" Maksudku Kak Roy dapat menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Rere. Dengan harmonis dan penuh kebahagiaan, "ucapku pelan.


Namun saat Wirda memperhatikanku berbicara tiba-tiba ia dikejutkan dengan dering bunyi telepon genggam miliknya. "Sebentar Ran,sepertinya ada yang menghubungiku ,"ucap Wirda kepadaku.


"Iya Wir, " sahutku.


Wirda lalu mengambil telepon genggam dari dalam tasnya dan melihat pada layar siapa yang sedang menghubunginya.


"Oh rupanya kak Roy Ran yang menelpon,"ucap Wirda.


"Ya sudah kamu angkat saja Wir, "ucapku kepada Wirda.

__ADS_1


"Iya Ran, sebentar ya aku berbicara dulu dengan Kak Roy, "ucap Wirda kepadaku. " "Baik Wirda, "sahut ku.


Kemudian Wirda meloudspeaker suara dari telepon genggam miliknya. Saat dirinya dan Kak Roy berbicara dari telepon sehingga aku pun dapat mendengar percakapan mereka berdua.


"Assalamualaikum ya Kak Roy, "ucap Wirda. "Waalaikumsalam," balas Kak Roy dari balik telepon.


" Mengapa tiba-tiba Wirda mengirim pesan menanyakan Kakak berada di mana ?, "tanya Kak Roy kepada Wirda.


" Hmmm, "jawab Wirda bingung.


" Apakah Rani yang meminta Wirda untuk mengirim pesan dan menelepon kakak?, " tanya Kak Roy kepada Wirda.


Glekkkk...


Aku terkejut mendengar ucapan Kak Roy dari pengeras suara telepon genggam milik Wirda.


"Bagaimana Ran?, " tanya Wirda sambil berbisik kepadaku.


Mendengar wirda yang kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari Kak Roy. Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara langsung dengan Kak Roy .


"Baiklah Wirda. Biar aku saja yang langsung berbicara dengan Kak Roy, "ucapku pelan.


" Iya Ran, silahkan, kamu langsung bicara saja. Teleponnya biar aku yang pegang, "sahut Wirda


" Halo? Halo Wirda?, "panggil Kak Roy dari balik sambungan telepon karena tidak mendengar jawaban Wirda.


" Halo Kak Roy, "ucapku pelan.


" Rani!, "ucap Kak Roy dengan nada suara terkejut mendengarkan suaraku.


" Apa kabar Kak Roy? Bagaimana keadaan Kak Roy sekarang ?,"tanyaku kepada Kak Roy.


Kak Roy tidak menjawab pertanyaanku dan bahkan lama aku tidak mendengar sahutan suara Kak Roy dari balik telepon.


"Halo! halo...halo..!Apakah Kak Roy mendengar suara Rani? halo..halo, "ucapku berulang kali memanggil Kak Roy.


Namun, tetap saja aku tidak dapat mendengar suara Kak Roy.


" Halo Kak Roy!, "panggil ku lagi.


" Iya Wirda, "sahut ku.


" Halo Kak Roy!, "panggil Wirda.


" Kak Roy, "panggilku.


Dan tetap tidak ada jawabannya.


Dan Tut... Tut... Tut.... Sambungan telepon pun terputus lalu mati.


Aku dan Wirda pun terkejut.


" Kok mati ya Ran, "ucap Wirda.


" Apa mungkin ada gangguan dan tidak ada sinyal ya Wirda, "ucapku.


" Mungkin saja Ran, "balas Wirda.


" Yah semoga Kak Roy baik-baik saja, "ucapku penuh harap.


" Iya semoga Ran, "sahut Wirda sambil memegang telepon genggam miliknya.


"Tetapi seperti ada yang aneh dari sikap Kak Roy ya Ran? Apakah engkau juga merasakannya Ran?, " tanya Wirda padaku.


"Iya Wirda, itulah yang mengganjal pikiran dan hatiku. Entah apa yang membuat Kak Roy seperti itu. Tetapi dari kemarin malam aku merasakan seperti ada sesuatu hal yang terjadi kepadanya. Dan itulah yang membuatku menjadi gusar dan khawatir kepada Kak Roy. Namun ,semoga Kak Roy baik-baik saja dan tidak terjadi hal-hal yang tidak kita harapkan yang dapat melukai ataupun membuat dirinya menjadi terpuruk dan merasa sedih, " ucapku pelan.


"Iya Ran, "balas Wirda.


Setelah itu Wirda pun memasukkan telepon genggam miliknya kembali ke dalam tas. Sementara aku masih terdiam di dalam pikiranku terhadap Kak Roy.


Dan disaat aku dan Wirda sedang asyik dan fokus dengan pikiran kami masing-masing. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang suaranya mengejutkan kami.


" Oh rupanya adik ipar kesayanganku ada di sini, "teriak seseorang dengan suaranya yang lumayan besar.


Aku yang dari tadi terdiam berusaha mengenali suara tersebut dan mencari keberadaan orang tersebut. Sedangkan Wirda langsung menoleh ke arah kedatangan suara itu.

__ADS_1


" Mbak Riska!, " ucap Wirda dengan nada yang suara terkejut.


"Apa yang mbak Riska lakukan di sini ?,"tanya Wirda.


"Apakah ini pertanyaan yang sopan untuk seseorang yang sudah agak lama tidak bertemu?,"ucap mbak Riska kepada Wirda.


Mbak Riska pun berjalan mendekat ke arahku. Dia melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki .Sementara aku yang tidak tahu di mana keberadaannya mencoba mencari tahu keberadaan mbak Riska melalui Indra pendengaranku dan meraba melalui instingku.


"Oh adik ipar kesayanganku lama kita tidak jumpa. Apakah kamu tidak merindukan mbak Riska ?,"ucap mbak Riska seperti nada meledek ke arahku.


"Lebih baik mbak Riska pergi dari sini dan jangan ganggu Rani ,"ucap Wirda dengan sedikit kasar kepada mbak Riska mencegahnya mendekatiku.


Lalu mbak Riska menoleh ke arah Wirda.


"Aku tidak memiliki urusan denganmu Wirda. Jadi kamu jangan ikut campur jika tidak mau berurusan denganku. Kamu paham!," gertak mbak Riska kepada Wirda. Wirda pun lalu berjalan menghalangi mbak Riska yang akan menuju ke arahku.


"Apapun yang menjadi urusan Rani dan berkaitan dengannya .Maka semua itu akan berurusan juga denganku ,"ucap Wirda dengan berani.


"Oh ya .Benarkah sejak kapan kamu menjadi malaikat pelindung untuk Rani ?,"tanya Mbak Riska kasar.


"Apakah semenjak Rani menjadi buta ?,"ucap mbak Riska lagi dengan ketus.


"Dari mana Mbak Riska tahu jika Rani kehilangan penglihatannya?,"tanya Wirda. "Itu bukan urusanmu, "jawab Mbak Riska.


Mbak Riska dengan cepat mendorong tubuh Wirda agar tidak menghalangi langkahnya mendekatiku dan sontak saja Wirda hampir jatuh tersungkur karena dorongan dari tangannya mbak Riska yang kuat.


" Auwww, "teriak Wirda.


" Wirda ada apa?, "ucapku panik mendengarkan suara teriakan dari Wirda.


"Mbak Riska hentikan!," teriakku kepada Mbak Riska.


"Aku mohon jangan sakiti Wirda. Jika memang mbak Riska memiliki urusan denganku maka jangan bawa-bawa Wirda dalam urusan mbak Riska denganku, " sambung ku.


"Ran aku baik-baik saja, " sahut Wirda sambil berjalan mendekat lalu memegang tanganku.


" Alhamdulillah Wirda, " ucapku dengan ada sedikit tenang.


Wirda pun lalu berdiri di hadapanku menghalangi mbak Riska untuk mendekat ke arahku dengan beraninya Wirda pun mengusir mbak Riska untuk menjauh dari tempat kami berada .


"Sebaiknya mbak Riska pergi dari sini dan jauhi Rani. Jika mbak Riska masih terus berada di sini dan semakin mendekat .Maka aku tidak akan segan-segan berteriak dan meminta tolong kepada semua orang jika mbak Riska ingin menyakiti Rani ,"ucap Wirda mengertak mbak Riska.


" Hahahaha...,"Mbak Riska pun tertawa.


"Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu Wirda. Kamu itu bukan apa-apa bagiku. Jadi lebih baik kamu menyingkir dari sini ,"ucap mbak Riska sambil berusaha untuk mendorong tubuh Wirda sekali lagi .Namun, dengan cepat Wirda pun dapat mempertahankan posisi tubuhnya dan tidak dapat terjatuh seperti semula.


Dan dengan cepat pula Wirda berganti mendorong tubuh mbak Riska dan membuat tubuh mbak Riska jatuh terduduk di hadapannya.


" Arghhhhhh... aduh, "teriak mbak Riska meraung kesakitan.


"Ada apa Wir? Apa yang terjadi?,"ucapku bertanya kepada Wirda dengan ekspresi sangat cemas sambil meraba-raba untuk mencari keberadaan Wirda.


Wirda pun mendekat ke arahku dan menggenggam tanganku. " Tidak apa-apa Ran,aku baik-baik saja. Sudah kamu tenang saja ,"ucap Wirda berusaha menenangkanku.


Mbak Riska yang jatuh terduduk pun terlihat sangat marah dan kesal memandang ke arah Wirda. Dia lalu bangkit dan berdiri serta berusaha untuk membalas perbuatan Wirda. "Kurang ajar kamu ya !,"ucap mbak Riska berusaha ingin menampar wajah Wirda.


Namun, sebelum sempat mbak Riska ingin menampar wajah Wirda dengan cepat tiba-tiba tangan Mbak Riska telah dihalangi dan dipegang oleh Bi Inah dan Bik Siti.


Melihat kedatangan Bik Ina dan Bik Siti. Mbak Riska pun sontak terkejut.


"Lepaskan! apa yang Bik Siti lakukan? dan jangan ikut campur urusanku, "teriak mbak Riska dengan kasar dan sangat marah. "Apapun yang berkaitan dengan nak Rani dan nak Wirda akan menjadi urusan kami berdua, "jawab Bik Siti dengan lantang.


"Oh rupanya Bik sekarang sudah berani dengan saya ya, "ucap Mbak Riska kesal.


"Sebaiknya mbak Riska segera pergi dari sini dan menjauhi Rani. Dan ya jangan coba-coba untuk kembali lagi ke sini .Jika mbak Riska tidak segera pergi dari sini saya tidak akan segan-segan berteriak meminta para warga untuk melaporkan mbak Riska, " gertak Wirda.


" Iya sebaiknya non Riska segera pergi dari sini sebelum kami berteriak dan meminta tolong kepada warga, "ucap Bik Siti.


"Silakan saja aku tidak takut akan gertakan kalian ,"ucap mbak Riska tidak percaya. "Baiklah jika itu adalah keputusan mbak Riska jadi jangan salahkan kami jika mbak Riska akan mendapatkan amukan warga karena telah ingin menyakiti Rani ," tutur Wirda.


Lalu Wirda pun berteriak


"Tolong....tolong....tolong, "teriak Wirda.


mbak Riska yang mendengar Wirda berteriak minta tolong tiba-tiba merasa takut dan panik. Dia tidak ingin sampai jika hal buruk terjadi pada dirinya. Maka dengan segera tanpa berpikir panjang Ia pun memilih untuk segera meninggalkan tempatku berada sekarang. "Ingat ya urusan kita belum selesai dan aku pasti akan kembali untuk membawa Rani, " ucap Mbak Riska mengancam sambil berjalan menjauhi tempatku berada.

__ADS_1


Maka setelah mbak Riska pergi menjauh dan menghilang dari tempat kami berada.Bik Siti Bik Inah dan Wirda pun dengan cepat langsung membawaku pulang ke rumah kediaman Wirda untuk menghindari hal-hal yang tidak inginkan terjadi pada diriku.


__ADS_2