
Tante Desi berjalan mendekati ke arah ranjang pasien tempat Kak Roy terbaring. Dimana dalam pandangan mata Tante Desi, ia melihat Kak Roy yang sudah membuka matanya.Tetapi Kak Roy termenung memandang langit-langit ruangan tempat ia dirawat ,dan dengan perlahan Tante Desi pun mendekati ke arah Kak Roy seraya mengusap kepala putra kesayangannya itu dengan lembut. "Kamu sudah bangun sayang?,"tanya Tante Desi memandang wajah Kak Roy dalam. Kak Roy pun menoleh melihat tatapan lembut dari mamanya itu kepada dirinya. Dengan bibirnya yang tetap diam dan terkunci tanpa mengatakan sepatah kata apapun .Kak Roy hanya membatu dalam pandangan sorot matanya yang penuh dengan berkas-berkas titik-titik air yang mengambang memenuhi kedua matanya.
"Apakah kamu memikirkan Rani, nak?,"tanya Tante Desi lagi mencoba menerka lamunan putranya sambil memandang wajah Kak Roy dengan penuh keibaan.
Bibir Kak Roy bergetar dalam pandangan matanya yang sayu dan wajahnya yang pucat .Ia pun menggelengkan kepalanya seraya mengiyakan apa yang diucapkan oleh Tante Desi kepadanya. Tiba-tiba hati Tante Desi terasa pilu melihat kesedihan akan air mata putranya itu,yang begitu sangat mengharapkan akan perjumpaan dan kedatangan diriku untuk menemuinya.
Berulang kali Tante Desi terus mengusap kepala Kak Roy, " Nak, Mama sudah mengirim pesan kepada Rani,
Nak Faris dan juga ibunya Nak Fariz supaya mengajak Rani kemari untuk menemuimu. Maka dari itu mama berharap sekali ,jika kamu jangan begitu larut dalam kesedihan seperti ini .Apakah kamu tidak kasihan melihat mama yang tiada henti terus mengkhawatirkan dirimu nak?. "
Kak Roy pun menatap lekat wajah Tante Desi dengan perasaan bersalah. Sementara Tante Desi mencium tangan Kak Roy dengan penuh kasih sayang.
***
Setelah menikmati udara pagi yang sejuk di taman bersama Mas Fariz, lalu kami berdua sarapan bersama dengan Pak Budi dan Bik Siti menikmati bubur ayam yang telah di pesan. Setelah itu kami semua pun pulang, tentunya dengan memesan beberapa bubur ayam yang juga akan dibawa sebagai oleh-oleh untuk pulang ke rumah. Selama di mobil kami semua banyak diam, khususnya diriku dan Mas Fariz yang sudah kelelahan memutari area taman sampai beberapa kali dengan berjalan santai sembari menikmati pemandangan yang indah dan sejuk di taman.
Tidak Berapa lama kemudian mobil yang dikemudikan oleh Pak Budi sudah tiba di halaman rumah. Kami semua pun lalu langsung turun dari mobil. Mas Fariz turun terlebih dahulu dengan membukakan pintu untukku, kemudian disusul Bik Siti yang membawa beberapa bungkusan makanan seperti bubur ayam dan lain-lain yang sudah dipesan oleh Mas Fariz, dan terakhir barulah Pak Budi yang turun.Setelah itu kami semua bergegas masuk ke dalam rumah. Dimana Ummah, Abi dan Enjid sudah menunggu kedatangan kami semua.
Aku langsung menyalimi Ummah begitu juga dengan Mas Fariz. Sementara itu, Bik Siti segera ke dapur menyiapkan bungkusan makanan untuk di hidangkan di meja makan. Dan Pak Budi mengambil ember dan lap untuk membersihkan mobil.
Ummah menarik tangaku perlahan untuk duduk di dekatnya yang tengah bersantai bersama Abi dan Enjid di taman depan rumah. Dan Mas Fariz pun ikut bergabung juga bersama kami dengan duduk di antara
Ummah dan Abi.
Ummah menatapku dan Mas Fariz secara bergantian dengan serius, tentunya hal ini memantik rasa penasaran di hatiku dan Mas Fariz akan tatapan yang Ummah berikan kepada kami berdua. Tetapi sebelum lisanku berucap kepada Ummah .Mas Fariz sudah terlebih dahulu bertutur menanyakan perihal gerangan apa yang membuat Ummah terlihat sangat serius seperti itu. "Ada apa Ummah? apa yang Ummah pikirkan? Mengapa Fariz lihat Ummah seperti sangat memikirkan sesuatu ?."
Ummah lalu terdiam sambil menghela nafas pendeknya dan menggenggam jemari tanganku juga tangan Mas Fariz. Sontak saja aku dan Mas Fariz pun langsung melihat Ummah secara bersamaan dengan tatapan yang penuh tanya. Namun, diriku dan Mas Fariz tidak berkata kepada Ummah. Kami berdua hanya menunggu sampai Ummah mengucapkan sesuatu.
" Selepas Ummah mengerjakan salat Dhuha, lalu Ummah menerima telepon dari Bu Desi yang rupanya sudah sejak dari tadi malam beliau menghubungi Ummah, tetapi mungkin karena Ummah kelelahan dan sangat mengantuk. Sehingga Ummah tidak mendengar panggilan telepon dari Bu Desi. Tetapi ada beberapa pesan yang ia kirimkan kepada Ummah juga. "
Ummah terdiam sejenak sambil berpikir dalam sebelum meneruskan perkataannya lagi. Namun, diriku dan Mas Fariz tersenyum kecil juga saling menatap satu sama lain. Dimana kami berdua telah mengerti akan arah pembicaraan yang sedang ingin Ummah terangkan kepada diriku dan Mas Fariz.
Ummah terlihat gelisah dan gusar.
"Bu Desi ingin kita mengajak Rani menemui putranya Roy, " ucap Ummah.
Kemudian, Abi yang mendengar akan kegelisahan hati Istrinya pun ikut memberikan pendapatnya, "Mengapa Ummah terlihat risau seperti itu? Bukankah hal ini dapat menjadi ajang silaturahmi bagi kita dengan keluarga Bu Desi. Sekaligus memberikan kabar bahagia kepada keluarga Bu Desi juga Nak Roy akan status pernikahan Fariz dan Rani yang telah selesai di langsungkan. "
Ummah seperti tidak sependapat dengan pemikiran Abi, "Tetapi Bi, bagaimana dengan Roy? Jika ia mengetahui Fariz dan Rani sudah resmi menikah."
Abi tersenyum bersamaan dengan Enjid.
"Lalu kenapa Ummah, bukankah Roy juga sudah menikah dan mempunyai istri. Mereka pasti juga turut bahagia tentunya dengan kebahagiaan kita yang telah menikahkan Fariz dan Rani, " ucap Abi memandang Ummah dalam.
Ummah tetap terlihat gelisah dan tidak tenang.
"Sudahlah put, kamu tidak usah cemas. Penuhi saja permintaan Bu Desi dengan mengajak Rani sekaligus Fariz. Bukankah sebelumnya dirimu yang mendesak supaya Fariz dan Rani untuk segera menikah. Lalu setelah menikah pun engkau tetap gelisah juga. Njid,jadi bingung dengan dirimu Putri, " tutur Enjid yang juga turut berkomentar.
Ummah menghela nafasnya dalam, berupaya membuat dirinya agar jauh lebih tenang, "Iya Njid, saya paham akan hal itu. Tetapi yang memberatkan saya adalah perasaan Nak Roy terhadap Rani. "
__ADS_1
Enjid menggeleng kan kepalanya, "Putri.. Putri.. Ketakutan mu itu tidak berdasar. Apa lagi yang engkau takutkan. Rani sudah sah menjadi menantu keluarga Imandar dan menjadi istri Fariz. Dan tidak ada yang lebih berhak atas Rani di dunia ini selain Fariz sebagai suaminya. Meskipun yang engkau katakan Nak Roy memiliki perasaan untuk Rani. Tetap tidak akan bisa menggoyahkan ikatan suci antara Rani dan Fariz. Dimana mereka berdua sama-sama menghendaki atas pertautan pernikahan mereka untuk menjadi sepasang suami istri. Maka sudahlah jangan terus engkau merisaukan
hal seperti ini yang akan menguras energi dan pikiranmu sendiri, " jelas Enjid sambil menyeruput wedang jahe hangat dari cangkirnya.
Ummah terdiam dalam ekspresi wajah nya yang terlihat masih sangat berat untuk membolehkan diriku menemui Kak Roy.
Abi lalu berdiri dan hendak duduk di samping Ummah, dimana membuat Mas Fariz harus berdiri dan berpindah duduk di sebelahku.
Abi terlihat tenang sambil mengusap punggung Ummah dengan lembut, "Coba Ummah tanyakan langsung kepada putra Ummah. Apakah ia keberatan jika Rani harus membesuk Nak Roy?. "
Ummah memandang wajah Abi, lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah Mas Fariz. Bibir Ummah tetap terkunci rapat, namun sorot matanya seakan berbicara sesuai pertanyaan yang seperti Abi katakan.
Mas Fariz pun tersenyum ke arah Ummah, lalu bangun dari duduknya dan berjongkok di hadapan Ummah, "Fariz tidak keberatan Ummah jika Rani membesuk Dek Roy. "
Ummah sangat terkejut mendengar penuturan Mas Fariz.
"Nak, apakah kamu tidak cemburu jika Rani membesuk Roy. Dimana kamu sendiri tahu bagaimana perasaannya Roy terhadap Rani?, " tanya Ummah memandang wajah Mas Fariz serius.
Mas Fariz mengenggam tangan Ummah, lalu menekuk kedua lututnya hingga menyentuh lantai, "Ummah, rasa cinta dan sayang yang Fariz miliki untuk Dek Rani jauh lebih besar dan sangat besar dari pada rasa cemburu yang tidak berdasar. Fariz memang sangat mencintai Dek Rani, tetapi rasa cinta Fariz terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala jauh lebih besar terhadap Fariz mencintai Dek Rani. Sehingga biarkan Allah Ta'ala pula yang menjaga hati dan perasaan Dek Rani supaya tetap murni dan terikat kepada Fariz. "
Hatiku bergetar saat Mas Fariz mengatakan hal itu di hadapan semua orang, dimana rasa cinta yang mulai tersemai di dalam hatiku perlahan semakin memunculkan tunas-tunas kecil kehidupan.
Indra penglihatan ku menatap wajah Mas Roy yang bersahaja dan menatap balik diriku dengan pandangan kasihnya.
Dimana tatapan matanya begitu mengenai relung hatiku terdalam. Sebuah rasa yang belum pernah lahir dari dasar hatiku.
Perlahan demi perlahan seakan menggetarkan ragaku untuk terus memandang parasnya yang elok serupa dengan keindahan hatinya.
Aku menganggukkan kepala ku pelan.
Dan tiba-tiba Ummah pun berkata, "Baiklah Fariz, kalau begitu Ummah juga akan bersiap-siap dan ikut dengan kalian je rumah sakit. "
Mas Fariz tersenyum begitu pula dengan Abi dan Enjid.
"Abi dan Enjid juga akan ikut bersama kalian ke rumah sakit. Iya kan Njid?, " ucap Abi.
Enjid mengangguk pelan.
Kemudian Ummah, Abi dan Enjid bergegas untuk sarapan. Sementara diriku bergegas untuk membersihkan badan terlebih dahulu sebelum menunaikan salat dhuha. Sambil berjalan menyusuri anak tangga Mas Fariz yang ikut bergabung di meja makan dan duduk di samping Ummah terus memandang ke arah diriku dan tidak melepaskan tatapannya. Mas Fariz menemani Ummah sebentar, untuk membuat Ummah merasa jauh lebih tenang sebelum membersihkan dirinya dengan mandi lalu mengerjakan salat dhuha.
Aku terus berjalan menuju kamar, hingga tidak berapa lama langkah kakiku pun terhenti di depan kamar, lalu membuka pintu. Setelah berada di dalam kamar, aku langsung mengunci pintu kamar sebelum hendak mandi. Tetapi pandangan mataku tertuju pada kotak besar berwarna merah maroon di atas ranjang tempat tidur. Dengan rasa penasaran aku pun mendekat ke arah kotak tersebut, yang sebelumnya tidak ada di atas kasur. Pandangan mataku pun fokus pada tulisan di atas kertas pada kotak tersebut. Lalu aku maraihnya dan duduk di atas kasur sambil membaca tulisan tangan yang tersemat pada secarik kertas.
Untuk kekasih hatiku,
Yaitu Istriku tersayang Rani
Hadiah sederhana dari Mas untukmu, berupa setelan gamis syar'i.
Jika berkenan Dek Rani memakainya, maka akan merasa bahagia lah hati Mas karenanya.
__ADS_1
Mas Fariz, suamimu
Yang mencintaimu karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Aku tersenyum sambil mengenggam kertas kecil darinya. Lalu perlahan tanganku membuka kotak tersebut dan mengeluarkan pakaian gamis pemberian dari Mas Fariz yang akan ku kenakan setelah selesai membersihkan diriku.
***
Tidak berapa lama kemudian setelah diriku sudah selesai membersihkan diri dan salat dhuha. Begitu pula dengan Mas Fariz yang telah selesai melakukan hal sama seperti yang ku lakukan. Dan juga Abi, Enjid dan Ummah yang sudah bersiap.
Sambil menuruni tangga dengan memakai gamis yang diberikan oleh Mas Fariz untukku.
Pandangan mata Mas Fariz terus tertuju kepada diriku dengan senyuman indahnya yang merekah. Aku pun juga tersenyum kepada dirinya, yang ternyata telah menyiapkan pakaian couple dengan warna soft green pastel senada dengan kemeja koko lengan panjang yang dikenakan oleh Mas Fariz.
"Ehemmm... kembaran yah bajunya, " celetuk Bik Siti yang menggoda kami berdua lagi.
Aku pun tersipu malu sambil sedikit menundukkan kepala ku , yang sudah berdiri di samping Mas Fariz.
"Bik Siti, hayo jangan mulai lagi bercandaan nya yah, " ucap Mas Fariz sambil tersenyum kepada Bik Siti.
Bik Siti pun meringgis sambil menutup mulutnya, lalu berucap dengan kekonyolan nya, "Hehehe, Maaf Nak Fariz. Spontanitas akan efek yang bibi lihat. Tetapi Nak Rani dan Nak Fariz terlihat so sweat. Kalau dalam pewayangan itu seperti raden janaka dan srikandi. Pemudanya gagah dan tampan lalu gadisnya cantik rupawan. Ckckck.... pokoknya Nak Fariz dan Nak Rani terlihat serasi. "
Aku dan Mas Fariz pun tersenyum mendengar ucapan dari Bik Siti begitu pula dengan Abi, Enjid dan Ummah.
"Hmmm... Bik Siti ada maunya nih!, " goda Abi.
Bik Siti kembali meringgis dan tersipu malu, "Hehehe... tahu saja Pak Iwan.Karena saya tidak ikut serta bolehlah pulangnya saya dibelikan buah tangan semacam kue basah. "
Abi mengeleng-gelengkan kepalanya, "Tuh kan benar kata Abi. "
Bik Siti lalu berkata kembali, "Hanya bercanda saja kok Pak Iwan."
"Tetapi jika benar dibelikan kue basah tetap tidak mau ya Bik?, " timpal Mas Fariz.
Dengan cepat Bik Siti pun menjawab, "Ya tentu mau dong Nak Fariz masak rezeki kok di tolak. "
Bik Siti yang sambil tersenyum lalu melihat ke arah ku, "Betul tidak Nak Rani. "
Aku pun mengangguk pelan, "Iya Bik Siti. Bibi tenang saja InsyaAllah nanti selepas pulang dari membesuk Kak Roy akan kita belikan kur basahnya. Tetapi kalau tidak lupa ya Bik, " jawabku sambil menggoda Bik Siti.
"Duh, Nak Rani, yah jangan lupa dong Nak Rani, " sahut Bik Siti dengan tingkah lucunya.
"Iya... iya Bik, Rani hanya bercanda saja kok. Ya sudah Rani dan semuanya berangkat dulu ya Bik. Assalamu'alaikum, " kataku seraya pamit dengan Bik Siti.
"Wa'alaikumussalam warohmatulohi wabarakatuh. Iya nak Rani, Hati-hati semuanya, " balas Bik Siti.
Kami semua pun segera bergegas ke mobil, dimana Mas Fariz dengan tiba -tiba mengenggam jemari tanganku dan berbisik di telingaku, "Masya Allah Ta barakallah, istri Mas sangat cantik hingga mata Mas tidak mampu untuk berpaling menatap dirimu
Dek. "
__ADS_1
DEG...
Jantung ku kembali berdebar-debar , dimana kedua pipiku memerah mendengar pujian dari Mas Fariz.