Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Renungan.


__ADS_3

Aku terus berjalan dengan cepat, dimana air mataku terus mengalir. Terpaan dinginnya angin yang berhembus dengan turunnya hujan, seolah-olah menggambarkan suasana hatiku saat ini.


"Nak Rani!, " panggil Bik Inah berusaha menghentikan langkahku.


Aku seakan tidak peduli, dan melihat ke sekitarku. Dimana setiap sudut dan bagian masjid ini selalu membawa ingatan akan kenangan diriku bersama Mas Fariz.


Kakiku terasa bergetar, dan tak mampu lagi untuk melangkah.


Brukkkk..


Tubuhku lunglai, dan membuat ku terduduk seketika.


Bik Inah dengan cepat menghampiri diriku, dan memastikan jika keadaan diriku baik-baik saja.


"Ya Allah, Nak Rani!, " ucap Bik Inah dengan nada khawatir dan matanya yang berkaca-kaca.


Dengan perlahan di usapnya punggungku, seraya memegang wajahku dengan jemari tangannya.


Beberapa ibu-ibu mendekat ke arah ku dan Bik Inah, yang terduduk lesehan di lantai depan masjid.


"Ada apa bu?, " tanya beberapa ibu-ibu bersamaan.


Bik Inah menatap wajah ibu-ibu tersebut sambil memaksakan senyumnya agar terlihat mengembang, "Tidak apa -apa bu. "


Ibu-ibu tersebut melihat tajam ke arahku, seakan mereka tidak percaya dengan perkataan Bik Inah.


"Lalu kenapa adik ini menangis bu?, " tanya salah seorang ibu serius.


Bik Inah menjawab dengan santai dan tenang, "Hanya kelelahan dan capek bu. "


"Oh.. Kalau begitu mari saya bantu untuk adik ini untuk berdiri, dan duduk menepi di dekat pojokkan dinding masjid ini. Atau duduk di halaman masjid disana, ada beberapa kursi untuk duduk juga, " ucap Ibu yang menawarkan bantuan, sembari menunjuk kan tangannya ke arah halaman.


Bik Inah tampak berpikir sejenak, lalu memandang ke arah diriku. Lalu ia pun mengiyakan bantuan ibu tersebut, dan membawa diriku untuk duduk di halaman.

__ADS_1


Saat Bik Inah dan beberapa ibu-ibu ingin membantu diriku. Aku pun menolaknya dengan lembut, dan memutuskan untuk berjalan sendiri ke halaman masjid, tempat yang di maksud ibu tersebut.


Bik Inah tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada ibu-ibu tersebut, yang siap ingin membantu diriku. Lalu ia segera memegang tangan ku dan menggandeng nya, agar diriku tidak jatuh lagi.


Aku dan Bik Inah terus berjalan pergi, ditemani guyuran hujan yang terus menumpahkan air langit ke bumi, dengan tatapan ibu-ibu yang terus memandangi diriku dan Bik Inah yang berlalu menjauh dari hadapan mereka.


"Nak Rani baik-baik saja?, " tanya Bik Inah memastikan lagi kondisi ku.


Aku mengangguk pelan, seraya melihat ke wajah Bik Inah, "Iya Bik. Maafkan Rani, sebab sudah membuat Bik Inah cemas. "


"Tidak ap-apa Nak Rani, bibi mengerti apa yang Nak Rani rasakan."


Bik Inah tersenyum sambil mengusap lengan ku, seraya merangkul tubuhku.


Tidak lama kemudian, aku dan Bik Inah pun telah tiba, di tempat halaman masjid.


Aku dan Bik Inah lalu duduk, dengan beberapa orang yang juga turut duduk menunggu hujan reda, sambil berbincang-bincang , ada pula yang menatap layar telepon genggam miliknya sambil terus memainkan jemari tangannya.


Ku alihkan pandangan mata ku dari orang-orang di sekitar ku, dan menyaksikan turunnya hujan.


Aku merasa jauh lebih baik setelah melakukannya.


Bik Inah menatap diriku, dan berkata, "Apakah Nak Rani terkejut melihat Nak Reno di dalam?. "


Aku langsung melihat ke arah wajah Bik Inah, "Iya Bik. Tadinya Rani berpikir itu adalah Mas Fariz, meskipun Rani tahu hal itu tidak mungkin terjadi. Tetapi hati ini yang terlalu merindukannya, begitu sangat berharap jika ia benar-benar ada dan kembali. Namun, harapan yang besar dan memang tidak mungkin terjadi itu, sangat terlalu menyakitkan. Dengan mengetahui, jika Mas Fariz memang tidak kembali, dan hati ini menjadi lebih terpukul. Saat mengetahui jika seseorang yang memiliki suara serupa dan mirip dengan suara Mas Fariz saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, adalah Kak Reno.


Seseorang, yang sama sekali tidak Rani duga dan harapkan kehadirannya. "


Bik Inah mengusap punggung ku lembut, "Tetapi bibi lihat, Nak Reno sudah terlihat sangat banyak berubah sekali penampilannya. Dan memang suara nya saat mengaji hampir serupa dengan almarhum nak Fariz, bahkan cara berpakaian nya pun terlihat sama. Namun, hal ini tidak boleh membuat Nak Rani bersedih seperti ini, mungkin semua ini hanya kebetulan saja."


Aku memandangi wajah Bik Inah dan menatap nya, "Iya Bik, Rani tahu. Mungkin perasaan rindu yang terus memenuhi rongga dada Rani. Membuat Rani begitu syok dan sangat terkejut, melihat Kak Reno berpenampilan dan serupa dengan Mas Fariz."


"Tetapi mengapa Kak Reno kembali lagi dalam kehidupan Rani, setelah sekian lama kami tidak bertemu. Dan dirinya telah menghilang lama dari siklus peredaran pandangan Rani, " imbuhku seraya menghela napas.

__ADS_1


Bik Inah memegang jemari tangan ku dan menepuk-nepuk nya lembut, "Itu yang namanya takdir, seperti itu Nak Rani.


Tidak ada manusia di muka bumi ini yang dapat mengetahui rencana Allah, begitu pula Nak Rani. Mungkin Allah sedang merencanakan sesuatu terhadap kehidupan Nak Rani, dengan hadirnya Nak Reno.


Tidak ada pertemuan yang tiba-tiba, pasti ada sebab dan maksud akan semua hal itu.


Kadang, kita dipertemukan dengan seseorang karena suatu alasan, dan hanya waktu yang akan dapat menjawab alasan itu. "


DEG...


Jatungku berdegup sangat kencang seketika, saat mendengarkan perkataan Bik Inah.


Aku terus diam, bersama lantunan tarian hujan yang terus mengeluarkan gemercik melodinya.


Sesuatu perasaan yang bersemayam perlahan nan lembut, terasa menjamah relung jiwaku.


Tetap entah apa itu, aku tak tahu.


Diriku hanya bisa diam dalam ketenangan guyuran hujan, dimana lisan terus memujiNya,


Dalam lantunan dzikir yang tak terputus.


Karena aku sadar akan keterbatasan diriku, dan memasrahkan akan takdir yang telah Dia persiapkan bagiku.


Aku percaya Allah teradang mendatangkan kesedihan yang mendalam di dalam kehidupan ku, karena tak lain Dia telah mempersiapkan kebahagiaan yang begitu sempurna, untuk ku.


Bik Inah menatap wajahku dengan tersenyum, begitu pula diriku yang sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.


Aku akan terus tegar dan kuat, meskipun kenangan dan orang-orang dari masa lalu ku datang menghampiri kehidupan ku kembali.


Termasuk juga dengan kehadiran Kak Reno yang datang secara tiba-tiba.


"Entah, rencana apa lagi yang telah Engkau siapkan untukku Allah. Semoga aku kuat dan sabar untuk melampaui nya, meski sendiri, " gumamku di dalam hati.

__ADS_1


Bik Inah terus menatap diriku dan menguatkanku, ia seolah mengerti apa yang sedang ku pikirkan dan bergejolak di dalam hatiku. Meskipun dirinya hanya diam melihat ke arahku.


Aku pun tidak berkata apapun lagi pada Bik Inah, karena pikiran ku terus hanyut dalam nuansa melodi hujan yang terus menari.


__ADS_2