Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kegaduhan


__ADS_3

"Kenapa kamu baru datang sekarang Re?," sahut Wirda sedikit ketus.


Rere menoleh ke arah Wirda dengan raut wajah sedihnya.


Sementara Tante Desi tidak bergumam dan bereaksi sedikit pun akan kehadiran Rere.


Mendengar ucapan dari Wirda,aku segera merampas pelan tangannya untuk mengontrol kata- katanya.


" Biarkan saja Ran,aku berkata seperti itu.Aku juga kesal kepada Rere.Ini semua karena keegoisan dirinya.Sehingga kita harus kehilangan Kak Roy,"bisik Wirda padaku.


Aku menghela nafas perlahan mendengar perkataan Wirda."Tidak baik berbicara seperti itu Wir.Qadarulah, semua ini sudah menjadi ketetapan dari Allah subhanahu wa ta'ala dan kita tidak sepatunya menyalahkan orang lain,Wirda.Satu hal lagi kasihan Tante Desi.Beliau masih dalam suasana berduka, jadi kumohon jangan memancing keributan dengan Rere,ya Wir,"pintaku kepada Wirda sambil berkata pelan.


"Iya Ran.Terima kasih sudah mengingatkanku. Tetapi jujur aku mengeluarkan kata- kata itu spontan karena kesal setelah melihat kedatangan Rere di hadapanku.Dan mengingat apa yang telah Tante Desi sampaikan tentang dirinya mengenai almarhum Kak Roy," sahut Wirda dengan nada suara yang sedih dan sedikit menyesal.Aku pun lalu menggenggam tangan Wirda ,"Tidak apa-apa Wir,aku mengerti apa yang kamu rasakan. Yang penting sekarang kamu sudah menyadari bahwa apa yang kamu katakan itu tidak baik. Sekarang kita harus memikirkan perasaan Tante Desi karena beliau baru saja kehilangan putra semata wayangnya yaitu Kak Roy. Tante Desi masih dalam syok yang sangat hebat dan memerlukan dukungan dari kita semua. Jadi aku berharap kamu dapat menahan diri.Namun, tidak hanya tentang Rere dan mengenai yang lain juga ya," ucapku pelan berusaha mengingatkan Wirda.


Rere memandang ke arah Wirda dengan tatapan yang dingin dan perasaan yang tidak suka. Wirda pun yang memandang balik ke arah Rere juga merasakan akan tatapan Rere yang terlihat aneh akan dirinya. Tetapi Wirda kali ini menanggapinya dengan santai dan tidak mengeluarkan kata-kata yang akan memancing pertikaian di antara mereka.


Dan setelah cukup lama Tante Desi terdiam akhirnya Tante Desi pun mulai bereaksi dan menatap Rere dengan tatapan yang dingin dan tidak suka akan kehadirannya, "Iya apa yang dikatakan Wirda benar. Mengapa sekarang kamu baru datang Re?, " ucap Tante Desi sedikit ketus.


Rere pun tersentak mendengar ucapan dari Tante Desi. Lalu ia menyeka air mata yang mengalir membasahi pipinya dan melepaskan genggaman tangannya dari jemari tangan Tante Desi. "Mengapa Tante berkata seperti itu? apakah tante tidak suka dengan kedatanganku?,"tanya Rere menatap wajah Tante Desi yang seolah tidak memperdulikan kedatangannya.


Namun Tante Desi tetap diam. Ia seperti enggan untuk menjawab pertanyaan yang Rere ajukan kepada dirinya.


Sekali lagi Rere pun merasa terabaikan akan sikap Tante Desi kepada dirinya.Lalu dengan nada suara yang sedikit kesal Ia pun menyampaikan keluh kesah yang ada di dalam hatinya, " Meskipun Tante tidak suka akan kehadiranku di sini.Tante tidak bisa mengingkari bahwa aku tetaplah menantu dari keluarga ini.Dan aku tetap menjadi istri sah dari almarhum Kak Roy. Meskipun saat ini dia sudah tidak ada di dunia ini".


Mendengar ucapan yang disampaikan oleh Rere Tante Desi pun seperti tersulut rasa kesal dan kemarahannya ."Apapun yang kamu katakan Tante tidak peduli. Bukankah kepergian Roy itu juga karena perbuatanmu. Jika saja kamu tidak memaksakan keegoisanmu kepada Roy. Dan Jika saja kamu tidak menghancurkan harga dirinya dengan merencanakan perbuatan yang sangat melukai hati Roy. Tentu saat ini Roy tidak akan pergi meninggalkan kami semua. Ray akan masih disini bersama Tante. Huhuhuhuhuhu......, " ucap Tante Desi sambil menangis kembali.


Rere yang mendengar ucapan Tante Desi pun tidak dapat menahan kekesalannya. Dan sifat aslinya pun kembali keluar.


" Aku sungguh menyesal Tante dengan apa yang telah tante katakan kepadaku.Padahal niatku kemari adalah untuk menghibur juga berbagi kesedihan dengan Tante. Tetapi tidak kusangka Tante bersikap demikian kepadaku dan menyalahkanku di hadapan semua orang. Bagaimana pun juga aku sudah meminta maaf Tante. Dan satu hal lagi apapun yang kulakukan itu juga bukan kesalahan .Karena yang kulakukan adalah meminta hakku sebagai istrinya Kak Roy. Dan aku tidak merasa bersalah akan hal itu. Lagi pula yang patut disalahkan akan semua ini adalah Rani, "ucap Rere yang terlihat kesal sambil menatap diriku.


Tante Desi yang terus menangis setelah mendengar perkataan Rere langsung menyeka air matanya dan juga menjadi sangat kesal ,"Mengapa kamu harus menyalahkan Rani sedangkan dia tidak berbuat apa-apa kepada Roy. Dan kamu jangan melemparkan kesalahan yang kamu lakukan kepada Rani, "bantah Tante Desi.


Rere meradang mendengarkan pembelaan Tante Desi kepada diriku. " Aku kira Tante itu mendukung diriku tetapi ternyata aku salah menduganya. Ternyata Tante itu sama saja dengan yang lainnya. Dan jika tante mengatakan Rani tidak bersalah akan meninggalnya Kak Roy itu salah besar. Kak Roy menjadi seperti itu dan merasa tertekan karena dia sangat memikirkan Rani. Coba saja Rani itu pergi dari kehidupan Kak Roy.

__ADS_1


Tentunya Kak Roy dan diriku akan dapat hidup bahagia selamanya tanpa ada gangguan dari Rani. Dan aku sangat membencimu Ran!, "ucap Rere kasar kepadaku.


Aku tersentak mendengarkan apa yang Rere katakan kepadaku. Dan Wirda pun tidak dapat menahan emosinya atas sikap kasar Rere padaku."Kamu itu memang perempuan yang tidak tahu diri ya , Re. Seharusnya kamu itu berkaca dan mengintropeksi dirimu sendiri untuk semua hal yang terjadi sekarang ini. Sungguh aku merasa aneh seharusnya jika kamu benar-benar mencintai Kak Roy .Kamu itu pasti tidak akan membuat dirinya terluka. Lalu cinta macam apa yang kamu miliki hingga dapat menyakiti orang yang kamu cintai. Oh ya dari tadi aku memperhatikanmu.Sepertinya kamu tidak bersedih akan kepergian Kak Roy. Apa jangan-jangan kamu memang sudah merencanakan sesuatu kepada Kak Roy, "ucap Wirda sambil mengerutkan dahi seraya berpikir.


Rere pun terlihat tegang dan canggung mendengar kata-kata yang dilontarkan Wirda untuknya . Dia seolah tidak dapat membantah apa yang Wirda katakan. Dan aku pun memang merasakan hal yang janggal dari sikap Rere. Tetapi entahlah aku tidak ingin bersikap su'udzon kepada dirinya. Apalagi melihat kondisi Tante Desi yang masih sangat terpukul akan kepergian Kak Roy. Lalu dengan segera aku pun melerai pertikaian kecil di antara Wirda dan juga Rere. "Sudahlah Wirda dan Rere hentikan perdebatan kalian. Kasihan Tante Desi .Beliau masih butuh ketenangan setelah kepergian Kak Roy, " ucapku.


Dan Rere menanggapi ucapanku dengan ketua sambil berjalan mendekatiku, "Kamu tidak perlu menjadi orang yang sok peduli dengan Tante Desi, Ran. Lebih baik kamu urusi saja hidupmu sendiri .Bukankah seharusnya kamu itu sadar diri jika dirimu itu menjadi beban bagi orang lain di sekitarmu. Apalagi semenjak kamu tidak bisa melihat itu juga menjadi beban pikiran terbesar bagi Kak Roy karena selalu memikirkanmu. Dan untuk itu kamu patut disalahkan atas semua yang terjadi kepada Kak Roy, " kata Rere kasar.


Wirda yang berada di sampingku pun seakan tidak terima dengan apa yang diucapkan Rere kepadaku, "Kamu tidak perlu menyalahkan Rani untuk kesalahan yang sudah kamu lakukan .Oh ya aku rasa hidupmu itu memang penuh dengan kamuflase dan sandiwara ya,Re.Terkadang kamu bersikap baik kepada Rani dan lalu sekarang menjadi jahat kembali. Aku rasa kamu harus memeriksakan dirimu ke psikiater. Aku rasa kemungkinan ada gangguan jiwa terhadap dirimu itu ,"ucap Wirda sambil sedikit meledek.


"Apa!, " pekik Rere keras.


"Apa katamu Wirda ?Kamu kira aku ini sudah gila apa! Jaga mulutmu itu ya! dan aku tidak menerima tuduhanmu seperti itu, "ucap Rere kesal sambil menunjuk jarinya ke arah Wirda.


Aku yang mendengar perdebatan mereka semakin menjadi-jadi segera melerai percakapan mereka."Sudahlah Rere dan Wirda. Tolong hentikan perdebatan kalian.Aku mohon jangan berbuat keributan disini. Sungguh tidak pantas jika kalian mengucapkan kata-kata seperti itu. Kasihan Tante Desi, "kataku pelan .


Namun, Rere yang sudah merasa sangat kesal dan marah lalu mendorong tubuhku. Dan membuatku terjatuh terlentang.


GUbRakkkk....


" Astagfirullah ya Allah, Auwww, "rintihku sedikit kesakitan.


"Rasakan itu! rasakan itu Ran! Hahahahaa....kamu jangan menjadi orang yang sok suci dan sok baik, " teriak Rere keras sambil menertawakan diriku.


"Rani!,"teriak Wirda sambil berusaha menolongku.


Ummah pun bangkit dari duduknya dan menghampiriku.


" Astaghfirullah Nak. Rani baik-baik saja kan? Apakah ada yang terluka atau sakit Nak?, "tanya Ummah mencemaskan keadaanku.


Wirda yang terdengar sangat marah melihat sikap Rere yang kasar kepadaku dengan segera ingin membalas mendorong Rere tetapi dengan segera ku hentikan dengan meraih jemari tangannya, " Wir,sudah hentikan. Jangan kamu balas perbuatan Rere. Tidak apa-apa aku ikhlas menerima nya dan aku baik-baik saja ,"ucapku pelan untuk menenangkan Wirda.


Dan dapat kurasakan desah napas Wirda yang masih terengah menahan rasa amarahnya."Tetapi Rere sudah bersihkap keterlaluan kepadamu Ran.Dan tidak pantas dia menyakitimu seperti ini!. Aku sungguh tidak menerima! , "ucap Wirda sedikit berteriak dengan kesal.

__ADS_1


"Sudah...sudah tidak apa-apa Wir. Kasihan Tante Desi .Biarkan...biarkan Rere bersikap seperti itu. Apa yang ia lakukan pasti akan mendapatkan balasan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Lagi pula aku baik-baik saja kamu tidak usah khawatir, "kataku berusaha meyakinkan Wirda.


Ummah yang berada di sampingmu pun meminta Wirda agar tidak meneruskan perdebatan dengan Rere.


" Sudah Nak Wirda ....sudah.Apa yang dikatakan Rani benar. Nak


Wirda tidak perlu membalasnya .Biarkan saja dia melakukan itu. Jika memang terjadi sesuatu kepada Nak Rani kita dapat melaporkan Nak Rere ke pihak yang berwajib untuk segera menangkapnya atas tindakan kekerasan karena menyakiti orang lain lagi yaitu Nak Rani. Lagi pula di sini juga banyak saksi mata yang melihat sikap kasar dan tidak pantasnya kepada Nak Rani, "ucap Ummah sedikit mengertak sambil melihat ke arah Rere.


Rere yang mendengar perkataan Ummah pun terdiam seketika dengan ekspresi wajahnya yang begitu takut dan sedikit menelan air ludah.


Tante Desi yang yang dari tadi terlihat kesal dan menahan kemarahannya kepada Rere dengan segera menyuruh Rere segera pergi dari rumahnya. "Kamu lebih baik pergi dari rumah ini sekarang juga. Karena kehadiranmu hanya membawa masalah dan semakin memperburuk keadaan. Sungguh Tante tidak ingin melihatmu lagi di sini.Pergi! dan jangan pernah kembali lagi kemari!,"ucap Tante Desi sedikit berteriak. Mendengar sikap kasar Tante Desi seperti itu .Mata Rere sedikit melotot dan seakan tidak terima. "Apa Tante mengusirku dari rumah ini ?," tanya Rere sambil melototkan matanya.


"Iya, " jawab Tante Desi tegas.


" Tante lebih membela Rani daripada diriku yang jelas-jelas adalah menantu Tante sendiri. Aku tidak menerima atas perlakuan yang tante lakukan kepadaku.Dan ingat Tante aku tidak akan pernah melupakan pengusiran yang Tante lakukan kepadaku hari ini!,"ancam Rere.


Tante Desi bersikap acuh tak acuh akan perkataan Rere kepadanya.


"Kamu tidak perlu banyak berbicara lagi dan segera tinggalkan rumah ini. Jika kamu sudah mengetahui keinginan Tante untuk mengusirmu dari rumah ini ,"ucap Tante Desi dengan tegas sambil memandang wajah Rere dengan begitu sangat kesal sekali.


Wajah Rere terlihat sangat marah menahan amarahnya yang begitu tertekan. Lalu sebelum ia pergi meninggalkan kediaman rumah Tante Desi Rere mengancam dan mengumpat kepadaku ,"Ingat ya Ran. Aku tidak akan pernah membiarkan hidupmu bahagia dan perhitunganku kepadamu belum berakhir. Camkan itu baik-baik !.Dan satu hal lagi sampai kapanpun aku akan selalu membencimu. Pengusiran Tante Desi kepadaku hari ini .Semua karena dirimu!.Dan kamulah penyebabnya. Aku begitu membencimu Ran!, " ucap Rere sambil berteriak keras.


" Astaghfirullahaladzim, " ucapku pelan setelah mendengar kata-kata Rere kepadaku.


Tidak lama setelah itu Rere pun pergi meninggalkan kediaman rumah Tante Desi dengan perasaannya yang dipenuhi dengan amarah dan kebencian.


Semua orang yang masih datang bertakziah ke rumah Tante Desi memandang ke arah Rere sambil berbisik-bisik mencela sikap Rere yang tidak pantas sebagai menantu di kediaman rumah Tante Desi.


" Mengapa kamu hanya diam saja Ran terhadap perlakuan Rere yang sudah semena-mena kepadamu?,"ucap Wirda kepadaku dengan lembut namun masih terdengar kesal.


"Sudahlah Wir, tidak perlu kamu memikirkan itu. Lagi pula untuk apa meladeni Rere. Mungkin dia juga masih tertekan karena kepergian Kak Roy. Jadi biarkan sajalah dia. Kita tidak usah memikirkan dan mempedulikannya. Sekarang kita fokus saja kepada Tante Desi.Karena niat kita datang kemari adalah untuk menghiburnya dan menemaninya agar tidak larut dalam kesedihan. Benar kan?,"ucapku kepada Wirda.


"Iya Ran. Aku tidak habis pikir saja. Mengapa Rere seperti itu?tetapi ya sudah benar apa katamu membuang-buang waktu saja memikirkan sikapnya yang semakin lama semakin arogant dan tidak jelas seperti itu, "kata Wirda.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Ustad Fariz, Pak Budi dan Kak Rafa sudah kembali dari melaksanakan salat Jum'at. Lalu dengan segera Ustad Fariz pun berdiskusi dengan Tante Desi, Ummah dan lainnya untuk mengagendakan persiapan pengajian guna mendo'akan Kak Roy yang telah berpulang ke rahmatullah untuk selamanya.


__ADS_2