
Pagi itu langit cerah dengan udara sejuknya. Dimana hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Hari dimana Kak Reno mendapatkan kemerdekaannya kembali, dan dapat menghirup udara kebebasan dari hotel prodeo yang membelenggu dirinya selama ini. Langkah kakinya ringan penuh dengan sukacita. Kak Reno berdiri menatap bangunan tinggi nan kokoh di hadapannya. Dia begitu tidak percaya dapat keluar dari tempat itu. Air matanya tumpah seketika, mensyukuri akan karunia Allah yang tak terhingga untuk kebebasan dirinya. Pak sipir datang dan menepuk pundaknya pelan melihat kebahagiaan di mata Kak Reno dengan air mata berlinang. Mereka berpelukan sebentar, larut dalam tangis bahagia. "Selamat atas kebebasanmu Nak Reno. Kini engkau akan memulai kembali cerita perjalanan hidup mu yang baru, " kata pak sipir.
Kak Reno mengangguk dan menyeka air mata keharuannya. Pak sipir lalu segera mengajaknya bergegas ke tempat parkir dan mengantarkan Kak Reno menemui kakek di lapas lain.
Sebelum menemui kakek, Kak Reno mengunjungi makam keluarganya yang belum pernah sama sekali ia lakukan. Air matanya tumpah ruah seketika, dalam rasa sesak dan kegetiran yang menekan kerongkongan nya. Tak banyak kata yang terucap hanya panjatan do'a dalam kelirihan suaranya yang parau.Tak lama setelah itu, Pak sipir pun mengantarkan Kak Reno menemui kakek.
Perasaan senang, sedih, rindu, iba dan penuh dengan beragam emosi mewarnai pertemuan dirinya dengan kakek.
Sosok yang dulu terlihat besar dan gagah dalam balutan kemewahan, kini penampilan nya begitu sangat berubah. Tubuhnya lebih kurus dengan raut kulit menua yang mulai tampak jelas. Keduanya larut dalam keharuan dan saling memeluk erat melepaskan rindu akan asa yang telah terbenam.Pecah suara tangis kakek mengharu biru menatap wajah Kak Reno lekat.Dengan bibir bergetar pilu.Kakek hanya mampu menyebut nama Kak Reno saja. Kak Reno merasakan kesedihan mendalam yang di rasakan oleh kakek. Maka dengan perlahan, Kak Reno megenggam jemari tangan kakek yang mulai renta dan lemah. Lalu Kak Reno berpamitan menyampaikan keinginannya kepada kakek untuk memperdalam agama.
Kakek hanya terus menangis dan tak mampu berkata apapun. Hingga Kak Reno beranjak pergi meninggalkannya. Kakek terus menatap kepergian Kak Reno dengan air matanya yang terus mengalir.
"Apakah Nak Reno baik-baik saja?, " tanya Pak sipir.
Kak Reno mengangguk pelan dan mengusap air matanya. Selepas itu, Kak Reno yang dibonceng oleh Pak sipir menaikki sepeda motor, hanya terus diam di sepanjang perjalanan. Namun, sesekali tampak Kak Reno menarik napas dalam seraya memejamkan matanya sebentar. Kak Reno berusaha menghapus dukanya akan lara pertemuan dengan kakek.
Pak sipir pun terus melajukan sepeda motor miliknya,menyusuri setiap lika-liku jalan.
Sejauh mata memandang, Kak Reno masih terus teringat akan kondisi kakek. Hatinya begitu pilu melihat kakek.Dimana kakek merupakan satu-satunya keluarga yang dimiliki Kak Reno saat ini. Kedua matanya tampak mengambang penuh air mata, tetapi dengan cepat,ia seka butiran air mata itu sebelum jatuh membasahi pipi nya. Berat memang hatinya, melihat akan kepahitan dari seluruh anggota keluarganya yang hancur dalam penderitaan. Tetapi hatinya tidak serta merta hancur dalam nelangsa. Kak Reno berjuang untuk bangkit, meskipun tertatih sendirian. Namun, dia percaya ikhtiarnya menuju jalan kebaikan akan berbuah manis pada waktunya.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan.Sepeda motor yang dikemudikan pak sipir harus melewati jalanan yang terus menanjak dan berjarak sekitar 6 kilometer. Dimana jalanannya memiliki kontur permukaan tanah dengan kemiringan dan tanjakan yang cukup terjal ,disertai belokan berada pada jalur menuju pondok pesantren yang akan dituju Kak Reno dan Pak sipir. Pondok pesantren ini berada di daerah sangat terpencil,dengan suasana begitu sepi dan hanya ada satu akses jalan untuk bisa menjangkaunya. Tidak ada juga kendaraan umum,bahkan pondok pesantren ini tidak pula berada di kawasan permukiman warga yang padat penduduk.
Namun, suasana alami yang masih terjaga bisa dilihat dari banyaknya pepohonan ketika memasuki jalan menuju pondok pesantren. Di sepanjang jalan menuju pondok pesantren tumbuh beragam aneka sayuran, juga banyak tanaman keras dan pepohonan, seperti jati dan jabon di kanan atau di sisi kiri jalan.Kawasan yang masih sangat terjaga keasriannya.Dimana menjadi habitat bagi berbagai belalang, burung, jangkrik serta aneka serangga yang menempel dan terbang dari pohon ke pohon, dan mengeluarkan suara keras bersahut-sahutan.
Setelah bersusah payah, akhirnya pak sipir menghentikan sepeda motor miliknya tepat di halaman parkir pondok pesantren.
"Tempatnya cukup jauh dan sulit di jangkau ya pak, " ucap Kak Reno sambil memandang ke sekitar pondok pesantren.
Pak sipir membuka helmnya, "Iya Nak Reno. InsyaAllah tempat ini akan menjadi tempat terbaik bagi Nak Reno yang akan menuntut ilmu agama. Disini, suasananya masih sederhana dan alami, bahkan jauh dari ukuran mewah, juga jauh dari keramaian kota, jauh dari kepadatan penduduk dan arus lalu lintas.Tetapi untuk sistem pendidikannya , alhamdulillah sudah di rancang modern. "
Kak Reno menganggukkan kepala sambil terus memandangi kawasan pondok pesantren tersebut. Dari tempat Kak Reno berdiri,seolah-olah dirinya berada di atas awan, karena dapat melihat keseluruhan kota tempat dimana ia tinggal. Tidak hanya suguhan pemandangan kota, bahkan awan yang menyelimuti kota. Begitu tampak sangat jelas dan dekat. Topografinya yang berada di ketinggian dan alamnya yang masih terjaga menyebabkan suasana di pondok pesantren masih sangat terasa alami dengan udara yang begitu sejuk.
Pak sipir mengajak Kak Reno berjalan untuk memasuki bangunan pondok pesantren.
"Apa yang Nak Reno rasakan?Apakah Nak Reno suka akan tempat ini?, " tanya pak sipir.
Kak Reno mengangguk dan masih seolah terbius akan ketenangan dan juga suguhan keindahan pemandangan alam yang menyelimuti pondok pesantren tersebut.
"Saya suka tempat ini pak. InsyaAllah tempat ini akan membawa kedamaian dan ketenangan bagi saya untuk benar-benar berikhtiar menjadi seorang hamba yang lebih baik lagi, " ujar Kak Reno sambil tersenyum ke arah pak sipir.
__ADS_1
Pak sipir pun melemparkan senyumannya kepada Kak Reno ,sembari menuntun langkah kaki Kak Reno memasuki bangunan pondok pesantren yang amat sederhana,tetapi terlihat sangat rapi.
Paras Kak Reno bahagia dan menunjukkan ketenangan dalam langkah kakinya yang kian mantap tanpa ragu.
***
Satu hari satu malam,pak sipir bermalam di pondok pesantren yang masih dimiliki oleh kerabatnya itu. Lalu ia pun berpamitan pulang kepada Kak Reno , setelah Kak Reno diterima untuk menimba ilmu di pondok pesantren tersebut. Air mata perpisahan mengiringi keduanya.
"Terima kasih pak, untuk semua bantuan dan apapun yang telah bapak lakukan untuk saya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan membalas semua kebaikan yang telah bapak lakukan kepada saya, " ucap Kak Reno haru.
Pak sipir mengangguk sambil menepuk pundak Kak Reno, "Jaga diri baik-baik Nak Reno. Ingat apa yang menjadi tujuanmu kemari. Jangan menyerah dan berputus asa, tak ada ada kesuksesan tanpa perjuangan yang luar biasa, karena proses akan menentukan hasil dari perjuangan kita."
Kak Reno lalu memeluk pak sipir erat, sebelum melepaskan pak sipir pergi meninggalkan dirinya. Keduanya larut dalam keharuan. Hingga Kak Reno harus menatap langkah pak sipir menjauh pergi darinya.
Huft,
Kak Reno menarik napas dalam-dalam untuk membuat hatinya tidak larut dalam kesedihan.Pak kyai yang berdiri di samping dirinya, menepuk lembut pundak Kak Reno.
"Mari Nak Reno, kita masuk ke dalam. "
Kak Reno mengangguk dan melangkah kan kaki, mengikuti setiap langkah dari awal baru perjalanan kehidupannya.
***
Mas Fariz tampak terlihat sedikit sedih, sebab ia tidak dapat bertemu lagi dengan Kak Reno untuk mengucapkan terima kasih kembali. Hingga Mas Fariz dan diriku memutuskan untuk pulang. Namun, sebelum kami berdua masuk ke dalam mobil. Terdengar suara seseorang berteriak memanggil namaku dan Mas Fariz, yang sontak membuatku dan Mas Fariz menoleh untuk mencari tahu siapa yang memanggil kami.
Pandangan mataku tertuju pada seorang sipir laki-laki yang sudah berumur dan tidak asing bagiku. Dengan napasnya yang terengah-engah, ia pun terus berjalan mendekat ke arah kami. Hingga kulihat Mas Fariz tersenyum dan menyapa bapak sipir itu dengan akrab. Begitu pun sebaliknya pak sipir itu pun membalas sapaan Mas Fariz dengan hangat. Dan membuatku merasa heran juga terus memperhatikan Mas Fariz dan pak sipir itu.
"Oh, rupanya mereka berdua sudah saling mengenal, " batinku di dalam hati setelah mendengarkan perbincangan mereka berdua.
Mas Fariz pun menanyakan tentang keberadaan Kak Reno kepada pak sipir tersebut. Tetapi pak sipir itu tidak tahu dimana Kak Reno berada saat ini, ujarnya kepada mas Fariz.
"Setelah Nak Reno mendapatkan remisi kebebasan dirinya, setelah itu saya tidak tahu lagi dimana Nak Reno berada Ustad Fariz, " ucap pak sipir berbohong menutupi keberadaan Kak Reno.
Mas Fariz terlihat sedikit kecewa.
"Tetapi sebelum pergi, nak Reno menitipkan surat ini untuk Nak Rani, " ucap Pak sipir sambil memberikan amplop berisi surat kepada ku.
Aku terlihat bingung sambil melihat ke arah Mas Fariz. Namun, Mas Fariz menganggukkan kepalanya supaya aku menerima surat itu. Maka dengan perlahan aku pun mengambil surat tersebut.
__ADS_1
Setelah itu, Mas Fariz mengajak diriku untuk pulang dan berpamitan kepada pak sipir yang masih terus memandangi kepergian kami dari hadapannya.
Di dalam mobil, aku pun masih mengenggam surat dari Kak Reno. Lalu karena penasaran aku pun membuka amplop kertas sederhana itu, kubaca pelan supaya Mas Fariz juga dapat tahu apa isi surat tersebut. Meskipun sebelumnya Mas Fariz sempat menolak, saat diriku akan membacakan surat tersebut. Dengan alasan surat itu hanya di tunjukkan kepada diriku dan hanya aku saja yang harus membacanya. Tetapi aku tetap bersikeras, supaya Mas Fariz juga dapat mengetahui pesan apa yang Kak Reno ingin sampaikan dalam secarik surat itu. Mas Fariz pun akhirnya tidak menolak.
Mas Fariz yang sedang menyetir mobil juga turut mendengarkan isi surat Kak Reno.
Rani,
Saat surat ini berada di tanganmu.
Saat ini pula aku sudah berada jauh darimu.
Maaf jika aku lancang menuliskan surat ini untukmu.
Tetapi memang ada kata yang tidak mampu untuk kuucap saat bertemu denganmu.
Aku pergi menjauh darimu, bukan karena rasa frustasi diriku akan kehilangan mu.
Namun, saat ini jiwaku sedang mencari kedamaian dalam kasih sayang Tuhanku.
Aku rela dan ikhlas melepaskan dirimu.
Dan sungguh tak ada dendam ataupun amarah kebencian lagi di dalam hatiku.
Aku bahagia penuh suka cita atas pernikahanmu.
Maka berbahagialah menjalani kehidupanmu.
Berbaktilah di dalam pengabdian sebagai wujud seorang istri sholehah, untuk suami mu.
Dari tempat dimana diriku berada jauh darimu.
Lantunan do'a-do'aku.
Kan selalu kupanjatkan untuk kebahagiaanmu.
Yang selalu mencintai Rani.
Reno.
__ADS_1
Aku pun lalu melipat surat tersebut dan memandang dalam ke wajah Mas Fariz yang juga menatap ku. Lampu lalu lintas menyala merah. Mas Fariz mengusap lembut jemariku dan menciumnya. Senyumku terukir indah menatap paras wajah imamku.