Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Perasaan Ustad Fariz.


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Pak Budi sudah tiba di kediaman keluarga Imandar. Deru suara mesin mobil terhenti, dan Ustad Fariz segera beranjak keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Ummah yang akan membantu menuntunku keluar dari mobil. "Terima kasih Kak, " kata Ummah tersenyum. Ustad Fariz pun mengangguk dan membalas senyuman Ummah seraya berkata, "Sama-sama Ummah."


Ummah keluar dari mobil terlebih dahulu, lalu disusul dengan diriku dan Bik Siti yang keluar dari pintu mobil di sampingnya.


Setelah aku keluar Ummah segera memegang jemariku dan bersiap menuntunku masuk kedalam rumah. Sementara itu, Bik Siti, Ustad Fariz dan Pak Budi membawa barang-barangku dan Ummah yang ada di dalam koper selama berada di rumah sakit. Perlahan aku melangkahkan kakiku dengan perasaan campur aduk memasuki istana keluarga Enjid.Dalam diamku, Ummah terus memperhatikan diriku dengan pengamatan matanya untuk memastikan bahwa keadaanku baik-baik saja.


"Ran,jika kamu merasa lelah duduk dulu di ruang tamu sebentar, lalu baru diteruskan kembali menuju kamar tidurmu nak, " ujar Ummah. Aku pun segera membalas perkataan Ummah dengan cepat. "Tidak Ummah, jika boleh Rani ingin segera tiba di kamar. Setelah meminum obat tadi di rumah sakit Rani merasa sangat mengantuk sekali Ummah, " kataku pelan sambil menahan rasa kantuk yang menyergap diriku. Ummah segera merespon ucapanku dan segera bergegas menuntun diriku segera menuju kamar agar aku dapat beristirahat dengan tidur.


Perlahan-lahan dalam langkah kakiku yang dituntun oleh Ummah, akhirnya membawa diriku juga di depan kamar tidur yang disediakan oleh Ummah untuk diriku.


Cekrek...


Ummah membukakan pintu kamar dan kembali menuntunku berjalan mendekati ranjang tempat tidur.


"Alhamdulillah sudah sampai, sekarang Rani dapat segera beristirahat nak, "ucap Ummah kepadaku sambil mengusap kepalaku.


Aku merasa lelah dan begitu sangat mengantuk hingga diriku hanya menganggukkan kepala saja saat Ummah berbicara kepadaku. Dengan bantuan Ummah, aku pun lalu berbaring di atas ranjang tempat tidur. Kemudian Ummah membetulkan posisi bantal dan juga selimut ku. Rasa kantuk yang teramat sangat begitu menguasai diriku, maka dengan cepat aku pun berusaha berkata kepada Ummah sebelum aku tertidur.


" Terima kasih Ummah, maaf ya Ummah Rani langsung tidur. Rani mengantuk sekali Ummah, "kataku.


" Iya kak, "sahut Ummah sambil mengusap keningku.


Dan aku pun terlelap dalam tidurku. Lalu Ummah menutup tubuhku dengan selimut sembari mengusap keningku dengan lembut.


Tidak lama kemudian Bik Siti, Ustad Fariz dan Pak Budi tiba dengan membawa koper berisi barang-barangku dan Ummah.


" Sssttt... Pelan-pelan, Rani baru saja tertidur, "ucap Ummah seraya bebicara pelan.


Bik Siti, Ustad Fariz dan Pak Budi pun mengangguk. Ummah berdiri perlahan supaya tidak membangunkan diriku lalu mengajak semua orang keluar agar tidak menggangu tidurku.


Cetek...


Ummah mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur dengan pencahayaan yang sangat redup lalu mengatur suhu AC dengan suhu normal. Barulah setelah itu Ummah keluar dari kamar tempatku tidur bersama Ustad Fariz dan Pak Budi, sementara Bik Siti tetap di dalam kamarku menemaniku dengan beristirahat juga di sampingku.


Ummah pergi untuk membersihkan dirinya, sementara Pak Budi dan Ustad Fariz duduk di beranda atas sambil menikmati susu kambing hangat. Pak Budi menatap wajah Ustad Fariz yang terlihat berbeda dari biasanya. Rasa ingin tahu di hati Pak Budi mengelitik lisannya untuk bertanya perihal keadaan Ustad Fariz. " Mengapa Nak Fariz terlihat seperti memikirkan sesuatu?, "tanya Pak Budi sambil menyeruput susu kambing hangat.


Ustad Fariz melihat ke arah Pak Budi.

__ADS_1


" Apakah dari raut wajah saya terlihat memikirkan sesuatu Pak?, "Ustad Fariz balik bertanya. Pak Budi mengkerutkan dahinya.


" Tentu saja Nak Fariz, apakah ini berhubungan dengan ucapan dari Bik Siti saat di mobil tadi, "terka Pak Budi.


Ustad Fariz sedikit terkejut dengan ucapan Pak Budi, hatinya tersentak dan ekspresi wajahnya berubah seketika. Pak Budi yang melihat Ustad Fariz merasakan perubahan mimik wajah Ustad Fariz, sembari menunggu Ustad Fariz mengatakan sesuatu. Namun, untuk beberapa saat Ustad Fariz hanya diam tanpa mengatakan apapun. Pak Budi merasa semakin penasaran akan sikap Ustad Fariz.


" Apakah benar Nak Fariz memikirkan perkataan dari Bik Siti?, "tanya Pak Budi lagi menatap Ustad Fariz lekat.


Ustad Fariz tampak bingung untuk mengatakan yang ia rasakan di dalam hatinya. Pandangannya menatap lurus ke langit yang biru cerah keputihan dan membasahi lisannya dengan kalimat dzikir pendek untuk membuat hatinya tenang. Tidak lama setelah itu Ustad Fariz mengambil cangkir yang berisi susu kambing hangat dan hendak meminumnya.


Dengan mengucap basmalah secara perlahan ia meneguk susu hangat tersebut dan membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Pak Budi tetap setia menunggu konfirmasi dari sikap diam Ustad Fariz sambil meneguk susu dari cangkir hingga habis.


" Saya bingung Pak Budi untuk mengatakannya, karena saya bukan tipe orang yang dapat dengan mudah menuturkan perasaan hati saya. Tetapi memang benar saya memikirkan ucapan Bik Siti dan itu membuat hati saya gelisah untuk terus memikirkannya, meskipun saya berusaha untuk mengabaikannya tetapi pikiran itu terus muncul tiada henti, "ucap Ustad Fariz serius.


Pak Budi yang mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Ustad Fariz tersenyum lebar, ia seakan tahu apa yang membuat hati Ustad Fariz menjadi gelisah.


Ustad Fariz yang melihat Pak Budi tersenyum menjadi bingung. " Mengapa Pak Budi tersenyum senang seperti itu, apakah ada hal yang membuat Pak Budi bahagia?, "tanya Ustad Fariz.


" Apakah Nak Fariz memiliki perasaan khusus terhadap Nak Rani?." Pak Budi balik bertanya dengan senyuman kecilnya memandang Ustad Fariz yang tersentak penuh ekspresi terkejut.


Pertanyaan dari Pak Budi sungguh membuat Ustad Fariz tidak mampu untuk berkata-kata. Padahal semua orang tahu jika dirinya mahir dalam bertutur, namun kali ini ada kebungkaman yang membuat bibirnya terkunci untuk menjabarkan suasana hatinya. Matanya terus memandang angkasa untuk menghindari Pak Budi yang ingin mencoba menerka isi hatinya. Baginya ini adalah privasi akan rahasia hatinya yang tidak ingin dijamah oleh siapapun juga, sebelum ia benar-benar yakin akan rasa yang tumbuh di hatinya. Pak Budi terdiam tanpa berusaha untuk mengejar kebenaran akan isi hati Ustad Fariz.


"Maafkan saya Pak Budi, karena saya tidak dapat menjawab pertanyaan dari Pak Budi. Dan saya harap Pak Budi tidak tersinggung akan hal itu, " tutur Ustad Fariz lembut.


Pak Budi tersenyum, "Saya tidak merasa tersinggung Nak Fariz, itu adalah hak Nak Fariz untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan yang saya ajukan."


Kemudian Pak Budi meneruskan kata-katanya kembali, "Hanya saya berpesan kepada Nak Fariz untuk tidak terlalu menutup diri. Karena kita tidak tahu kapan kesempatan akan pergi di waktu yang baik dan tepat telah menghampiri kita, apalagi jika itu masalah hati, Nak. "


Ustad Fariz terdiam mencerna makna dari perkataan Pak Budi yang disampaikan kepadanya. Tidak lama setelah itu Pak Budi permisi untuk membersihkan mobil. Dan Ustad Fariz masih duduk terdiam sambil menghabiskan susu kambing yang sudah tidak lagi hangat. Setelah itu, ia berdiri perlahan membawa cangkir kosong tersebut untuk meletakkannya di dapur.


Setelah dari dapur Ustad Fariz berjalan menuju Mushola di kediamannya, dengan terlebih dahulu ia mengambil wudhu untuk mensucikan dirinya. Langkahnya perlahan memasuki Mushola, kemudian ia menunaikan salat dhuha 12 raka'at dengan khusyuk.


Selepas ia menunaikan salat dhuha Ustad Fariz tidak beranjak pergi. Dia tetap berada di Musholla membasahi lisannya dengan kalimat dzikir. Pikiran dan hatinya terintegrasi dengan dzikir yang membuat hati dan jiwanya senantiasa nyaman dan tenang. Suara gemercik kolam ikan dan semburan air mancur yang terletak tidak jauh dari Mushola bersahutan dengan kalimat dzikir yang diucapkan oleh Ustad Fariz. "Subhanallahi wa bi hamdihi, 'adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata arsyihi, wa midada kalimatihi .Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah; sesuai dengan jumlah makhluk-Nya, dengan keridhaan diri-Nya, seberat Arasy milik-Nya, dan sebanyak firman-firman-Nya, " ucapnya lirih berulang.


Begitu sangat khusyuknya Ustad Fariz berdzikir ia tidak menyadari jika Ummah sudah berada di Musholla untuk mengerjakan salat dhuha juga. Sebelum mengenakan mukenahnya dari tempat Ummah berdiri, ia terus memandangi putra sulungnya itu. Ummah seakan tahu ada perkara sulit yang tengah membuat hati putranya itu bimbang. Dengan perasaan itu pula lah, Ummah segera bergegas melaksanakan salat dan akan menghampiri putranya untuk berbicara.


Ummah dan Ustad Fariz beribadah dengan keikhlasan akan refleksi keimanan dan cinta mereka kepada Sang Pencipta yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

__ADS_1


Waktu bergulir perlahan dan menyudahi ibadah yang dikerjakan oleh Ummah dan Ustad Fariz. Ummah yang hendak melepaskan mukenahnya, dikagetkan dengan kehadiran Ustad Fariz di hadapannya. " Astagfirullah Fariz, kamu membuat Ummah terkejut saja, "ucap Ummah sambil menepuk lengan Ustad Fariz dengan lembut.


" Hehehe,maaf Ummah, "ucap Ustad Fariz meringgis sambil membetulkan songkoknya.


Ummah tersenyum memandang wajah teduh putranya itu, sambil mencium kening sang putra dengan penuh kasih sayang.


" Ada apa Nak? Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu, coba katakan kepada Ummah Nak, "pinta Ummah.


Ustad Fariz kaget akan ucapan Ummahnya, naluri seorang ibu yang begitu kuat sehingga dapat mampu menelisik hati dan pikirannya batin Ustad Fariz takjub.


" Sungguh Ummah selalu saja tahu akan kegelisahan yang Fariz rasakan. MasyaAllah, sungguh Allah memberkahi hubungan ikatan seorang ibu dan anak dengan pertalian yang khusus. "


Ummah memandangi wajah sulung putranya dengan tatapan nan teduh.


"Sekarang apa yang membuat putra Ummah merasa bimbang. Apakah ini ada hubungannya dengan ucapan yang di sampaikan oleh Bik Siti, Nak?. "


Ustad Fariz mengangguk dengan kepalanya sedikit tertunduk. Ummah meletakkan kedua jemari tangannya pada pipi Ustad Fariz. "Ummah tidak akan memaksamu untuk bercerita Nak. Putra Ummah tahu apa yang harus dilakukan bukan, sebab putra Ummah memiliki pemahaman ilmu agama yang jauh lebih baik dari Ummah. Dan Ummah hanya akan membantu doa serta memberikan masukan kepadamu disaat dirimu membutuhkan akan nasehat atau opini dari Ummah. "


"Iya Ummah, di saat Fariz telah merasa yakin dan mantap. Insya Allah Fariz akan menuturkan semuanya kepada Ummah. Memang sekarang Fariz masih berusaha berikhtiar dan mengelola perasaan Fariz Ummah untuk benar-benar memutuskan menjalin ikatan penting yang Ummah harapkan, " jelas Ustad Fariz serius.


Ummah mengangguk, " Maka jangan pernah lupa untuk selalu melibatkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam setiap keputusan, langkah ,pemikiran, pilihan dan semua masalah hidupmu Nak, supaya Allah senantiasa untuk mengintegrasikan akal, pikiran dan hatimu dalam keistiqomahan di jalan yang diberkahi olehNya, "pesan Ummah.


" Iya Ummah, "balas Ustad Fariz pelan. Hati Ustad Fariz terasa semakin nyaman jika sudah berbincang berbagi keluh kesah kepada Ummah. Tatapan Ummah yang meneduhkan selalu menjadi penawar rasa bimbang akan keputusan yang ingin Ustad Fariz ambil, dan sentuhan Ummah yang hangat adalah tempat ternyaman membagi lara atau beban hidupnya. Ustad Fariz memeluk Ummah, ia seolah kembali menjadi anak kecil yang selalu ingin dekat dengan ibunya. Baginya Ummah adalah segala-galanya yang menyerupai pelita bagi kehidupannya. Ummah mengusap kepala Ustad Fariz yang memeluk nya.


" Tetapi kamu harus ingat nak, jangan terlalu lama untuk memikirkan hatimu. Takutnya intan berlian yang memikat hatimu itu akan pergi dan dilirik oleh orang lain ,"bisik Ummah pada telinga Ustad Fariz.


Ustad Fariz mengangkat kepalanya dan mengangguk dengan pipinya yang merona kemerahan dalam rasa malunya.


Sementara Ummah tersenyum dengan perasaan senang dan sungguh berharap keinginan putranya sama dengan yang ada dalam pikirannya. Membayangkannya saja sudah membuat Ummah bahagia, apalagi jika hal itu benar-benar terjadi.


"Fariz dan Rani, " ucap Ummah lirih.


Ustad Fariz yang mendengar ucapan samar dari Ummah langsung menundukkan kepalanya, ia takut jika Ummah akan menggodanya. Dan akan membuat hatinya mendesir tidak menentu. Ustad Fariz memejamkan matanya sebentar seraya berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir.Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku, ucap Ustad Fariz di dalam hati.


"Ummah senang jika kamu mau membagi keluh kesahmu Nak. Dan untuk intan berlian yang telah memikat hatimu, semoga kalian benar-benar berjodoh. Sebab Ummah sangat berharap dan menginginkannya. Namun, semua kita pasrahkan saja kepada Allah untuk semua rencana yang akan Dia berikan kepadamu Nak, tetapi dirimu tidak boleh berhenti berikhtiar untuk mendapatkan intan berlian tersebut. InsyaAllah dalam pandangan Ummah ia akan menjadi pendamping terbaik yang akan berada di sisimu dalam mengarungi pahit, manis dan getirnya kehidupan ini, " tutur Ummah.

__ADS_1


Ustad Fariz hanya terus mengangguk menerima petuah dari Ummah. Hatinya semakin mantap dan yakin untuk menunggu waktu bergulir dan menyediakan momentum yang tepat dan baik, sebelum ia benar-benar diberi kekuatan lisan dan hati untuk menyampaikan rasa dan keinginan hatinya kepada Intan berlian yang memikat hatinya sejak awal pertemuan dengannya.


Senyum Ustad Fariz mengembang, setelah restu dari Ummah telah mengalir dan mendukung niatnya. Debar di dalam hatinya semakin cepat dan kencang, sungguh ia benar-benar merasakan sensasi perasaan yang aneh untuk pertama kalinya, kepada sang intan berlian pemikat hatinya.


__ADS_2