
Setelah beberapa hari aku di rawat di rumah sakit.Kini saatnya aku pulang.
Pulang.....
Kata-kata klise yang sebagian orang menjadi bahagia mendengarnya.
Namun,terasa kontradiksi bagiku.
Kemana aku harus pulang?
Rumah pun aku tidak mempunyai bahkan sanak keluarga pun tidak kumiliki.
Ughhhhhhh......
Lagi dan lagi, aku harus benar-benar bersabar menjalani semua ini seorang diri.
Gumamku dalam hati.
Cekrekkkk.....
Pintu terbuka tetapi aku masih termangu menatap langit dari kaca jendela ruang rumah sakit tempatku di rawat.
"Nak Rani sudah siap?,"tanya Pak Budi.
Lamunanku terpecah mendengar suaranya.
"Apa yang nak Rani pikirkan?,"tanyanya padaku.
"Rasanya Rani lelah pak.Tetapi keadaan harus membuat Rani tegar dan kuat,"ucapku lemas.
"Pak Budi tahu dan paham apa yang nak Rani rasakan.Tetapi nak Rani harus tetap semangat dan memperjuangkan keadilan bagi almarhum kakek,ayah dan almarhumah bunda nak Rani.Bapak yakin nak Rani pasti bisa,"ucap Pak Budi menguatkanku.
"Iya pak,terima kasih untuk supportnya.Mungkin saat ini adalah titik lemah bagi Rani hingga merasa sangat terpuruk pak,"jawabku.
"Tidak apa-apa nak,semua itu wajar sebab nak Rani bukan seorang malaikat melainkan manusia biasa yang dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki.Maka dari itu kita sebagai mahluk Tuhan yang lemah harus banyak berdo'a dan bergantung padaNya.Sebab hanya Dialah yang dapat mengobati rasa sakit dan penolong dari segala kesusahan,"ucap Pak Budi menasehatiku.
Aku mengangguk dan Pak Budi mengusap kepalaku lembut.
"Ayo nak Rani semangat!,"ucapnya seraya berteriak menyemangati ku.
Wajahku yang sendu perlahan terlihat sumringah.
"Nah,kalau nak Rani tersenyum kan terlihat cantik,"puji Pak Budi.
Lalu ia meneruskan kalimatnya.
"Ayo nak kita turun ke bawah.Bu Sri dan yang lainnya menunggu nak Rani di rumah.Nak Rani harus kuat dan berani ya.Dan tasnya biar bapak yang bawakan,ayo nak,"ajak Pak Budi sambil menenteng tasku.
Aku pun mengangguk pada Pak Budi.
Kami berdua melangkah ke luar dari kamar pasien tempatku di rawat.
Bismillah ya Allah,bantu dan tuntunlah aku,ucapku dalam hati.
Mobil yang dikendarai Pak Budi melaju.
Cepat seperti deru detak jantungku.
Kehampaan menyelimuti relung hati terdalamku.
Tetapi aku percaya Allah akan memberikan senyum di balik kesedihan,dan Allah akan memberikan harapan di balik keputusasaan.
Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da idz hadaitanaa wahablanaa milladunka rohmah innaka antal wahhaab.
Yang artinya: Ya Tuhan kami,janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami,dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau,karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia).
(Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 8).
Ya Allah,semoga Engkau mengistiqamahkan hatiku dalam kebaikan.Menjaga dan menunjukkan jalan keluar terbaik dari setiap kesulitan yang kuhadapi,batinku.
"Apa yang nak Rani pikirkan?,"tanya Pak Budi sambil menyetir.
"Tidak ada pak hanya berdo'a saja pak,"jawabku.
Pak Budi tersenyum dan menoleh ke arahku sebentar.Lalu ia fokus menyetir kembali
"Mungkin saat nanti nak Rani kembali ke rumah kediaman Pak Suprapto semua akan sangat berbeda terutama sikap asli mereka.
Untuk itu nak Rani harus sabar dan kuat ya," ucap Pak Budi memberi saran padaku.
"Iya pak,"jawabku singkat
Mobil terus melaju menembus guyuran hujan lebat yang datang dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Allahumma shoyyiban nafi'an
[Ya Allah,turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat],"ucapku pelan.
"Aamiin,semoga kebaikan dan keberkahan semakin bertambah,begitu juga dengan banyak manfaat dari turunnya hujan ini,"sahut Pak Budi.
Kubalas ucapan Pak Budi dengan senyuman kecil lalu memandang ke arah depan melihat jalan.
Hujan semakin lebat disertai angin kencang .
Wussss ...wusssss .....
Pepohonan bergoyang kesana kemari.
Dingin udara menembus lapisan epidermis kulit perlahan.
Langit menjadi gelap pekat.
DEERrrrrrrr.....DErrrrrrr....DErrrrrrr.....
Suara petir menggelegar.
"Pak Budi,sebentar lagi sudah mau masuk waktu salat ashar.Bagaimana jika kita mencari masjid terdekat untuk menunggu masuknya waktu salat,sekaligus kita singgah menunggu hujan dan angin berhenti.Rani takut kalau-kalau ada pohon tumbang dan lain hal pak,"ucapku cemas.
"Iya nak,Pak Budi setuju.Bapak juga berpikir demikian.Nah,Alhamdulliah itu kebetulan ada masjid di depan sana.Kita kesana ya nak Rani,"sahut Pak Budi sambil menunjuk.
Tidak lama mobil melaju menuju masjid besar di pinggir jalan raya.
Pak Budi segera memarkirkan mobil yang ia kendarai di tempat parkir khusus di area halaman masjid.
"Sebentar nak Rani jangan langsung turun.Pak Budi ambilkan payung dulu,"ucap Pak Budi sambil mencari payung di belakang jok mobil yang ia duduki.
"Nah,ini dia payungnya.
Satu untuk nak Rani dan satunya untuk Pak Budi,"ucap Pak Budi sambil memberikan satu payung padaku.
Aku dan Pak Budi keluar dari mobil.
Plakkkk....
Pintu mobil tertutup.
Kami berjalan di bawah guyuran hujan yang deras.
"Nak Rani hati-hati jalannya licin,"kata Pak Budi mengingatkanku.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke dalam masjid.
Suasana masjid terlihat ramai oleh jama'ah tetapi tetap hening.
Terdengar suara lantang seorang pria memberikan ceramah.
Suaranya menggema dalam pantulan hujan yang turun.
Semua orang nampak khidmat mendengarkan ceramah.
Mataku memandang kedalam mencari tempat yang longgar dan kosong.
"Pakaian nak Rani agak basah terkena hujan nak.Nak Rani tidak apa-apa?,"tanya Pak Budi khawatir.
"Alhamdulillah,Rani nggak apa-apa pak.Oh ya pak, Pak Budi mau masuk atau duduk diluar?,"tanyaku.
"Pak Budi mah santai nak,dimana saja nggak apa-apa.Jika nak Rani mau masuk mendengarkan ceramah tidak apa-apa.Pak Budi mau mencari penjual kopi.Dingin mau minum yang hangat.Nak Rani mau teh atau apa?,"tanya Pak Budi menyilangkan tangannya kedada.
"Nggak usah pak,Pak Budi saja yang beli.Rani ke dalam ya pak.Nanti kita ketemu disini saja pak,"ucapku.
"Iya nak siap,Pak Budi pergi mencari minuman dulu ya,"pamit Pak Budi seraya berjalan pergi.
Aku mengangguk sambil melihat Pak Budi yang sudah pergi menjauh dariku.
Sementara itu,aku melihat mencari tempat yang kosong dan melangkahkan kaki kananku lalu sembari membaca do'a masuk masjid.
"BISMILLAH WASSALAAMU ‘ALA ROSULILLAH. ALLAHUMMAGHFIR LII DZUNUUBI WAFTAHLII ABWAABA ROHMATIK (Dengan menyebut nama Allah dan salam atas Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah padaku pintu rahmat-Mu),"ucapku pelan.
Namun,tiba-tiba seorang ibu yang sudah berumur menarik tanganku.
"Sini duduk di samping ibu masih muat kok,"ajaknya.
Aku mengangguk dam tersenyum padanya.Lalu duduk perlahan di sampingnya.
"Terima kasih bu,"ucapku pelan.
"Iya sama-sama.Telat ya datangnya?,"ucap ibu tersebut memandangku.
Aku mengkerutkan alis seraya berpikir apa maksud pertanyaannya.
__ADS_1
"Ibu suka dengan ustad ini.Masih muda,lulusan dari Mesir dan ganteng lagi,"ucapnya sambil tertawa.
Aku hanya meringgis mendengar ucapannya.
"Sayang ibu sudah tua dan menikah,kalau tidak pasti ibu pepet.Hehehehe.....adik masih muda siapa tahu berjodoh dengan ustad ini,"ucapnya sedikit melantur.
"Ssssttttt...diam berisik,kamu ngomong saja dari tadi.Sudah dengarkan ceramahnya,"ucap teman ibu itu yang duduk di sampingnya sedikit kesal.
Aku hanya tersenyum kecil melihat mereka.
Lalu aku membetulkan dudukku dan mulai menyimak ceramah tersebut.
"Qul ya 'ibadillazina amanuttaqu rabbakum, lillazina ahsanu fi hazihid-dun-ya hasanah, wa ardullahi wasi'ah, innama yuwaffas-sabiruna ajrahum bigairi hisab."
"Yang artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."
"Al-Qur'an Surat Az-Zumar Ayat 10,"suara ustad tersebut begitu syahdu terdengar.
"Nah,dari surat tersebut Allah Subhanahu wa ta'ala mengatakan yaitu :Jika mau sabar … Bagimu SURGA."
"Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta'ala … Ketahuilah … Allah Taala akan menguji setiap hamba-Nya dengan berbagai musibah, dengan berbagai hal yang tidak mereka sukai, juga Allah Subhanahu wa ta'ala akan menguji mereka dengan musuh mereka dari orang-orang kafir dan orang-orang munafiq. Tentunya ini semua membutuhkan kesabaran, tidak putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa ta'ala dan tetap konsisten dalam beragama serta istiqamah di jalanNya. Maka dari itu hendaknya setiap orang tidak tergoyahkan dengan berbagai cobaan yang ada, tidak pasrah begitu saja terhadap cobaan tersebut, bahkan setiap hamba hendaklah tetap komitmen dalam agamanya. Hendaknya setiap hamba bersabar terhadap rasa capek dan lelah yang mereka pikul ketika berjalan dalam agama ini.Meskipun cobaan yang datang terasa sulit sekalipun."
Perkataan ustad tersebut sungguh menyentuh di hatiku.
Mendengar ceramahnya aku merasa kuat dengan masalah yang kuhadapi sekarang.
Aku termenung mendengarkan setiap makna ucapannya.
"Sungguh ada sesuatu yang tidak kita ketahui di balik musibah yang Allah Subhanahu wa ta'ala berikan kepada kita."
"Maka bersabarlah dan berusahalah ridho dengan taqdir ilahi. Sesungguhnya para Nabi dan orang sholeh dahulu juga telah mendapatkan musibah sebagaimana yang kita peroleh bahkan lebih berat dan menyakitkan. Lalu kenapa kita harus bersedih, mengeluh dan marah? Bahkan orang sholeh dahulu sesuai dengan tingkatan keimanan mereka .Mereka malah memperoleh ujian lebih berat dari pada kita.
Oleh sebab itu,seharusnya kita tetap yakin dan bersabar.Karena setelah kesusahan akan ada kemudahan.Allah Subhanahu wa ta'ala tidak akan menguji hambanya di luar kemampuan yang dimiliki seorang hamba.Jika saat ini kita sedang mendapat ujian dari Allah yakinlah bahwa Allah sayang kepada kita.Allah tahu kita mampu untuk melaluinya."
"Semoga kita termasuk orang-orang yang
bersabar ketika menghadapi musibah, baik dengan hati lisan maupun anggota badan. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang selalu ridho dengan taqdir-Mu."
"Aamiin ya rabbal'alamiin,"ucapku pelan.
Hatiku terasa tenang dan tidak merasa berat setelah mendengar ceramah dari ustad tersebut.
Tak lama setelah itu ceramah berakhir karena waktu salat ashar telah tiba.
Maka aku pun bergegas mengambil air wudhu bersama jama'ah perempuan lainnya yang jumlahnya lumayan banyak.
Untung saja tempat wudhu di masjid ini tidak bercampur baur dengan laki-laki.
Sehingga bisa merasa aman sebab tempatnya terpisah dan tertutup.
Lalu dengan bergiliran dan antri aku dan para perempuan lainnya mengambil air wudhu.
Terdengar ibu-ibu,perempuan sebayaku,lansia sekalipum memuji ustad muda tersebut.
Mereka seperti mengeluh-eluhkannya.
Sembari memandang ke arah mereka sekilas.
Lalu tibalah giliranku untuk mengambil air wudhu.Kemudian aku membaca niat di dalam hati.
Nawaitul whuduua liraf'il hadatsil asghari fardal lillaahi ta'aala.(Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah Ta'ala).
Lalu aku membaca basmalah ‘bismillah’.
Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali.
Kemudian ,kuambil air dengan tangan kanan, lalu dimasukkan dalam mulut (berkumur-kumur atau madmadho) dan dimasukkan dalam hidung (istinsyaq) sekaligus (melalui satu cidukan).
Selanjutnya, air tersebut dikeluarkan (istintsar) dengan tangan kiri dan kulakukan hal ini sebanyak tiga kali.
Lalu kubasuh seluruh wajah sebanyak tiga kali.
Membasuh tangan kanan kemudian kiri- hingga siku dan sambil menyela-nyela jari-jemariku.
Selanjutnya,aku mengangkat kerudungku dengan tetap meletakkannya di kepala sehingga rambut dan area kepalaku tidak terlihat.
Perlahan aku membasahi kedua telapak tanganku dengan air. Kemudian kepala bagian depan kubasahi lalu aku menarik tangan hingga kepala bagian belakang, kemudian menarik tangan kembali hingga kepala bagian depan.
Setelah itu, langsung dilanjutkan dengan memasukkan jari telunjukku ke lubang telinga, sedangkan ibu jariku menggosok telinga bagian luar.
Aku membasuh kepala satu kali dan termasuk juga di dalamnya telinga(mengusap berbarengan setelah kepala).
Setelah itu,aku membasuh kaki tiga kali hingga ke mata kaki dengan mendahulukan kaki kanan sambil membersihkan sela-sela jemari kaki.
Kuangkat kedua tanganku seraya berdo'a setelah mengambil air wudhu.
__ADS_1
"ASY-HADU ALLA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA ROSULUH, ALLOHUMMAJ’ALNII MINATTAWWAABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHOHHIRIIN’ (artinya: Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku hamba yang bertaubat dan jadikanlah aku sebagai orang yang bersuci)."
Kemudian,tidak lama setelah itu aku beserta jama'ah lainnya menunaikan ibadah salat ashar secara berjama'ah.