Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Tersadar.


__ADS_3

Semua orang masih menungguku tersadar dari tidur panjang yang membuat kesadaranku belum kembali. Secara bergiliran anggota keluarga Imandar menjaga diriku yang masih berjuang melawan rasa sakit.


"Ran,cepat sembuh dan lekas sadar. Aku rindu mendengarkan perkataan darimu, tawamu bahkan sikap perhatian dan kasih sayangmu. hiks.. hiks.. hiks, " ucap Wirda penuh haru sembari mengengam jemariku.


Kak Rafa yang berada di sisi Wirda, hanya dapat mengusap lembut punggung Wirda yang sedang duduk di dekat diriku terbaring. Tidak lama kemudian, Wirda dan Kak Rafa keluar dari ruang IGD.


Ummah mendekati Wirda, "Bagaimana Wir,apakah Rani sudah sadar?. "


Wirda menggelengkan kepalanya dengan lesu, "Belum Ummah. "


Huftt,


Ummah menghela napas frustasi nya lalu duduk lagi di tempatnya semula. Wirda dan Kak Rafa lalu mengikuti Ummah duduk.


Wajah Ummah terlihat keruh dan murung, "Ini kesalahan Ummah, andai saja dari awal kita melaporkan Aisyah atas tindakan kasarnya kepada Rani. Tentu hal ini tidak akan menimpa Rani. "


Air mata Ummah jatuh berderai. Wirda dan Kak Rafa yang duduk mengapit Ummah di kedua sisi, secara bersamaan mengusap punggung Ummah.


"Qadarullah Ummah, semua yang terjadi atas kehendak dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita tidak bisa melawan ataupun menghindarinya. Sekarang yang dapat kita lakukan hanyalah berdo'a untuk kesembuhan Rani. Seraya memotivasi Kak Fariz untuk tetap tegar dan kuat dalam menerima kondisi Rani, " ujar Kak Rafa perlahan.


Ummah menatap wajah Kak Rafa dalam lalu mengangguk pelan, "Iya nak, apa yang kamu katakan memang benar. Tidak sepatutnya Ummah berkata demikian."


Kak Rafa dan Wirda tersenyum kecil menatap wajah Ummah.


"Apakah Fariz belum kembali nak?, " tanya Ummah sambil memegang tangan Kak Rafa.


"Belum Ummah. Kak Fariz masih bersama Abi dan Enjid mengurus banyak hal, " ucap Kak Rafa lalu merangkul Ummah.


"Jika Ummah lelah.Ummah pulang dulu saja. Biar Rafa dan Wirda yang menunggui Rani disini, " kata Kak Rafa lagi.


Ummah menggelengkan kepalanya, "Tidak nak.Ummah tidak tenang jika di rumah. Ummah jauh merasa lebih baik jika berada disini , karena dapat langsung memantau kondisi Rani. Sebaiknya kamu dan Wirda pulang dan beristirahat dulu. Bukankah besok kamu akan bertugas ke Libanon Rafa. "


Kak Rafa memandang wajah Ummah, "Iya Ummah. Tetapi bagaimana dengan Ummah, Kak Rafa dan yang lain, jika Rafa pergi bertugas besok dalam waktu yang lumayan lama? Apakah Rafa meminta untuk diundurkan atau dibatalkan saja dulu ya Ummah?. "


Kak Rafa terlihat bingung dan cemas.


"Nak, tetap penuhilah kewajibanmu bertugas besok. Jangan cemaskan kami disini. InsyaAllah kami semua akan baik-baik saja. Ada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang akan menjaga kita semua, selama hati kita saling terhubung dengan do'a. Maka Allah senantiasa melindungi kita semua, " tutur Ummah lembut.


Kak Rafa mengangguk sembari menghela nafas pendek. Tidak lama terdengar langkah kaki yang cepat menuju ke arah mereka. Kak Rafa, Ummah,dan Wirda saling menatap bersamaan ke arah sumber suara itu.


Ummah tersenyum, "Nah, itu Bik Siti dan Pak Budi datang. Sekarang kalian berdua lekaslah pulang untuk beristirahat, sekaligus supaya Wirda bisa mempersiapkan semua barang-barang keperluan Rafa selama bertugas. "


Ummah memandang wajah Kak Rafa, lalu menepuk pipinya lembut. Kak Rafa memeluk Ummah erat kemudian mencium tangan Ummah untuk pamit pulang ke rumah. Begitu juga yang di lakukan oleh Wirda.


"Bik Siti dan Pak Budi, saya titip Ummah dan Rani ya, " ucap Kak Rafa sambil memegang lengan Pak Budi.


"Iya Nak Rafa, tenang saja, " sahut Pak Budi sambil mengangguk bersamaan dengan Bik Siti.


Setelah berpamitan Kak Rafa dan Wirda pun langsung menuju ke parkiran mobil.


Sementara Bik Siti, menyiapkan makanan yang telah dirinya masak untuk di santap Ummah.


Ummah menikmati makanan yang dibawa oleh Bik Siti, sembari memikirkan banyak hal yang terlintas di dalam pikirannya.


Bik Siti yang melihat kegusaran dan ekspresi wajah berat dalam paras Ummah. Tidak dapat menahan lisannya untuk bertanya. "Bu Putri sedang memikirkan apa?."


Ummah langsung menoleh ke arah Bik Siti. Lalu meletakkan makanan yang ada di dalam box makanan di atas pangkuannya.


"Saya masih belum tenang Bik ,melihat keadaan Rani masih seperti ini. Saya berpikir mungkin akan jauh lebih baik jika Fariz dan Rani tinggal di luar negeri saja. Setelah kondisi Rani membaik tentunya."


Bik Siti dan Pak Budi mendengarkan apa yang Ummah katakan.


"Mengapa Bu Putri berpikir demikian?, " tanya Pak Budi yang duduk agak jauh dari Ummah.


Ummah membuka tutup botol air mineral lalu meneguknya pelan sebelum menjawab pertanyaan dari Pak Budi.


Bik Siti dan Pak Budi pun memandang wajah Ummah serius.


"Saya kira setelah Fariz dan Rani menikah, tidak ada lagi gangguan dari orang-orang jahat kepada mereka. Tetapi semua pemikiran saya itu salah. Apalagi melihat Aisyah sepertinya sangat terobsesi sekali kepada Fariz, sungguh membuat hati saya merinding ngeri dan takut, " ujar Ummah.


"Tetapi bukankah saat ini Aisyah sudah di tahan di penjara dan di jatuhi hukuman yang lama Bu, " ucap Pak Budi.


"Iya Pak Budi saya tahu. Tetapi nanti saat masa hukumannya berakhir. Bagaimana jika Aisyah terus berusaha menganggu hubungan Fariz dan Rani. Dimana di dalam hati Aisyah hanya ingin menyingkirkan Rani dari kehidupan Fariz. Astaghfirullah, sungguh tidak sanggup saya memikirkannya, " ucap Ummah lagi.


Bik Siti mengusap punggung Ummah pelan, "Sekarang Bu Putri habiskan dulu makanannya. Setelah Nak Rani sadar dan sembuh barulah nanti Bu Putri dapat membicarakan hal ini dengan Nak Fariz dan Bapak. Sekarang akan jauh lebih baik, jika Bu Putri tenang dan tidak berpikir yang macam-macam. Supaya kondisi tubuh Bu Putri tetap sehat, karena Nak Rani juga membutuhkan Bu Putri dan kita semua. "


Ummah mengangguk pelan dan menerima saran yang diberikan oleh Bik Siti.


"Terima kasih ya Bik, sudah mengingatkan saya, " sahut Ummah.

__ADS_1


Bik Siti tersenyum kecil dan meminta Ummah untuk menghabiskan makanannya.


Tidak lama kemudian, suster keluar dari ruang ICU dan memberitahukan kepada Ummah, Bik Siti dan Pak Budi jika diriku sudah mulai sadar.


Ummah yang sedang menikmati menyantap makanannya langsung cepat-cepat mengunyah makanan nya dan meletakkan box makanan tersebut di kursi.


"Alhamdulillah ya Allah, " ucap Pak Budi dan Bik Siti bersamaan.


Dengan segera Pak Budi langsung menghubungi Mas Fariz untuk memberitahukan kondisi ku saat ini. Sementara itu, Bik Siti dan Ummah langsung masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat kondisi ku.


Tit.. Tit.. Tit..


Terdengar monitor ICU masih berbunyi perlahan memantau detak jantungku. Di dalam ruangan yang dingin dan hening,Ummah dan Bik Siti menatap diriku yang masih terbaring lemah di atas ranjang pasien.Mata mereka menatap ragaku dengan keharuan air mata.


"Ya Allah.Putri Ummah benar-benar sudah sadar. Alhamdulillah ya Allah, " ucap Ummah dengan berderai air mata sembari memegang wajah ku yang menatapnya sayu.


"Nak Rani, huhuuu... huhuhu.., "Bik Siti berucap haru.


" Bagaimana kondisi Putri saya Sus?, "tanya Ummah.


"Setelah pasien segera di pindahkan di ruang ICU sudah ada sedikit nya perkembangan Bu. Tetapi kita tunggu keterangan dokter yang akan segera tiba memeriksa kondisi pasien, " jawab suster.


Aku menatap wajah Ummah dan Bik Siti dalam tatapan yang penuh kesayuan dan lemah. Dimana bibirku masih terasa keluh dan kering untuk berkata. Pandangan mataku hanya terus tertuju pada keharuan Ummah yang tidak berhenti mencium jemari tanganku dan mengusap wajahku dengan lembut. Rasanya seperti mimpi panjang membangunkan diriku dari sebuah ilusi yang mengikat ragaku untuk terbangun.


Tidak lama dokter pun datang bersama dua orang perawat lainnya. Dengan cepat dan hati-hati, dokter memeriksa keadaan diriku.


Ummah yang terlihat cemas dan khawatir, tidak dapat menahan rasa keingintahuan nya terhadap perkembangan kondisi ku.


"Bagaimana dok, keadaan Putri saya?, " tanya Ummah sambil menyeka air matanya.


Dokter melemparkan senyum kepada Ummah, setelah ia selesai memeriksa keadaan diriku, "Alhamdulillah Bu Putri, keadaan Putri Ibu menunjukkan perkembangan yang baik. InsyaAllah jika dalam beberapa jam kondisinya terus stabil dan baik. Putri ibu bisa di pindahkan ke ruang rawat inap untuk pemulihan.Sekarang kita keluar dulu, supaya pasien dapat benar-benar beristirahat mengoptimalkan kondisi tubuhnya. "


Ummah pun mengangguk senang, meski sebenarnya dirinya engan untuk meninggalkan diriku, tetapi karena permintaan dokter Ummah pun mematuhinya. Namun, sebelum keluar Ummah mengusap wajahku lembut dan mencium pipiku dengan penuh kasih sayang.


"Ran.Ummah dan Bik Siti keluar dulu ya sayang. Rani istirahat disini, supaya kondisi Rani segera pulih. As’alullahal azhima rabbal 'arsyil 'azhimi an yassfiyaka. Aku memohon kepada Allah yang agung, Tuhan 'arasy yang megah agar menyembuhkanmu."


Aku menatap wajah Ummah dalam dan memandangi dirinya berlalu pergi dari hadapanku bersama Bik Siti. Yang kemudian di ikuti oleh dokter dan dua orang perawat, juga berlalu pergi dari ruang ICU tempat ku berada.


Seorang suster yang menjaga diriku memberikan obat yang telah di resep kan oleh dokter sambil mengecek dan memantau kondisi ku.


Kepala ku masih merasa nyeri dan pusing, dimana sekujur tubuhku pun terasa lemas tidak bertenaga.


Dengan pelan suster berkata kepadaku, supaya aku beristirahat kembali agar kondisi ku benar-benar cepat pulih.


Lisan ku ingin memanggil dirinya untuk mendekat kepada ku, tetapi aku terlalu lemah dan tidak berdaya untuk berucap.


Hingga pengaruh obat begitu kuat membius diriku, untuk memejamkan mata dan tertidur.


***


"Apa yang Nak Reno pikirkan?, " tanya Pak Sipir memandang keharuan wajah Kak Reno yang mengenggam selembar kertas di tangannya.


Air mata Kak Reno menetes.


"Saya merasa haru dan seakan tidak percaya akan berita bahagia ini Pak, " ucap Kak Reno sambil menyeka air matanya.


Pak sipir tersenyum lebar sambil menepuk pundak Kak Reno, "Semua sudah diatur oleh Allah nak Reno. Kamu berhak mendapatkan ini semua, dan menjalani kehidupan mu yang baru dari awal."


Kak Reno mengangguk pelan, lalu memeluk Pak sipir, "Terima kasih banyak Pak. Karena selama ini bapak telah banyak membantu dan memberikan pengajaran hidup kepada saya. "


Pak sipir menepuk pundak Kak Reno dengan haru dan tangis bahagia.


"Satu minggu lagi Nak Reno akan bebas dari sini. Setelah mendapatkan remisi karena sudah membantu menyelamatkan nyawa Nak Rani ,serta memiliki kelakuan yang baik selama menjalani masa hukuman. Apa yang akan Nak Reno lakukan setelah bebas dari sini?, " tanya Pak sipir.


Kak Reno memandang wajah pak sipir sebentar, lalu memandang langit biru cerah, "Saya ingin memperdalam ilmu agama Pak. Saya ingin masuk ke pondok pesantren. Tetapi sebelum itu, saya ingin menemui kakek di tahanan dan berziarah ke makam papa, mama dan Mbak Riska. Apakah bapak tidak keberatan untuk mengantar saya Pak?."


Pak sipir tersenyum, "Saya tidak keberatan Nak Reno. Justru saya sangat senang dapat membantu Nak Reno. Oh.. ya bapak juga punya rekomendasi pondok pesantren yang bagus untuk Nak Reno. Jika Nak Reno berkenan dan mau, bapak bisa mengantar Nak Reno kesana. "


"Benarkah Pak? Tentu saja saya mau Pak, " sahut Kak Reno bahagia.


Pak sipir lalu menatap wajah Kak Reno serius.


"Mengapa bapak menatap saya seperti itu?, " tanya Kak Reno tidak nyaman.


"Boleh bapak bertanya sesuatu kepada Nak Reno?, " Pak sipir balik bertanya.


Kak Reno mengangguk, "Boleh Pak, tanyakan saja apa yang ingin bapak tanyakan. "


Kak Reno tersenyum simpul.

__ADS_1


"Apakah Nak Reno benar-benar sudah tidak mencintai lagi Nak Rani?, " tanya Pak sipir memandang dalam wajah Kak Reno.


"Saya kira bapak akan bertanya apa Pak?, " gumam Kak Reno sambil tertawa.


Pak sipir memandang heran wajah Kak Reno, dan semakin bingung dengan sikap Kak Reno. "Maaf Nak Reno. Bukannya bapak lancang. Tetapi bapak tahu bagaimana perasaan Nak Reno pada Nak Rani. Tapi apakah perasaan itu hilang dan menguap begitu saja. "


"Bapak ini bagaimana? Bukankah bapak yang mengajarkan saya untuk ikhlas. Lalu mengapa bapak bertanya lagi akan hal ini kepada saya?, " ucap Kak Reno tersenyum.


"Iya Nak Reno, bapak mengerti. Tetapi bapak merasa penasaran saja. Hehehe.. kisah cinta Nak Reno itu rumit menurut bapak. "


Kak Reno tertawa kecil, lalu menghela napas dalam-dalam dan panjang.


"Rani itu kehidupan saya pak. Dia adalah detak jantung nadi saya. Sampai kapan pun perasaan saya kepada dirinya akan tetap ada dan bahkan terus tumbuh semakin dalam pak. "


"Lalu bagaimana Nak Reno bisa mengikhlaskan Nak Rani untuk di miliki orang lain?."


Kak Reno menatap Pak sipir,"Rani tidak dimiliki siapapun pak. Allah lah yang memiliki dirinya baik raga dan jiwanya.Perasaan yang saya miliki kepada Rani, tidak menginginkan raganya tetapi melihat jiwanya bahagia. Sudah termasuk kebahagiaan saya dalam mencintai dirinya pak. "


"Saya tidak menyangka bahkan dapat menduga. Jika Nak Reno dapat memiliki keikhlasan dalam mencintai, " sahut pak sipir.


Kak Reno menatap langit yang jauh di hadapannya, "Saya sudah merasa jauh lebih tenang pak, karena perempuan yang sangat saya cintai berada dalam lingkaran keshalihan seorang laki-laki yang mencintai kekasih hati saya berlandaskan cintanya kepada Allah. "


Pak sipir mengangguk mengerti akan apa yang dipikirkan oleh Kak Reno.


"Saya percaya Allah akan memberikan kebahagiaan yang indah di waktu yang tepat untuk Nak Reno dan cinta yang Nak Reno simpan dalam diam. "


"Aamiin.Mudah-mudahan ya pak, " balas Kak Reno.


Kak Reno dan pak sipir pun lalu bangkit dari duduknya dan berjalan berpisah menuju tempat yang berbeda.


Setelah tiba di dalam selnya.Kak Reno mengambil buku catatan kecilnya, lalu ia duduk bersandar pada dinding tahanan dan mulai menggoreskan perasaannya.


Aku merelakan hatiku diam dan menjauh pergi.


Bukan menghilang atau membenamkan harapan akan asaku yang mati.


Tetapi aku mempersiapkan diri.


Hingga nanti saat hati telah pasti.


Semoga kelak dia akan dapat kembali.


Merengkuh indahnya cinta suci.


Bersama dengannya sang pujaan hati.


Entah sampai kapan hati ini akan menanti.


Tetapi asa akan tetap membumbung tinggi.


Dalam rengkuhan cinta dan bimbingan Ilahi.


Aku pergi...


Duhai kekasih hati.


Bukan karena lelah menanti.


Tetapi aku pergi mengasingkan diri.


Menempa diri agar dapat teruji.


Demi engkau kekasih hati...


Bahagialah menjalani hari.


Meski sulit dan penuh terjal duri.


Do'a-do'a ku akan selalu mengiringi.


Aku pergi...


Kekasih hatiku...


Membawa secerah cinta suci.


Yang akan ku pendam hingga mati.


Yang selalu mencintai Rani.

__ADS_1


Reno.


Kak Reno menutup buku catatannya seraya memejamkan kedua matanya. Untuk mengikhlaskan semua dan bersiap menjalani langkah hidup barunya yang telah menanti.


__ADS_2