Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Perpisahan.


__ADS_3

Langit mendung berselimut gelapnya awan hitam yang berarak membawa iringan mobil jenazah Mas Fariz dan Bik Siti untuk di makamkan di peristirahatan mereka yang terakhir.


Deretan karangan bunga berjajar rapi memenuhi jalan di sepanjang kediaman keluarga Imandar. Suasana yang tenang dan harus, dimana derai air mata terus mewarnai kedatangan setiap orang yang datang untuk bertakziah.


Angin pun berhembus semilir lalu melambai cepat, seakan-akan memberikan salam perpisahan akan raga yang telah ditinggal rohnya. Kerumunan orang-orang memenuhi pemakaman Mas Fariz dan Bik Siti, iringan do'a dan linangan air mata tiada putus-putusnya mengalir.


Kepergian Mas Fariz yang mendadak, sangat membuat semua orang tidak percaya, khususnya keluarga, teman dekat dan kerabat. Prosesi pemakaman Mas Fariz,dilakukan di pemakaman keluarga, yang berada di sebelah sungai kecil dengan pemandangan gunung dan pesawahan. Dimana suasana haru menyelimuti proses pemakaman Mas Fariz. Saat Iring-iringan jenazah tiba di lokasi pemakaman diiringi bacaan tahlil dari para pelayat yang sejak pagi memadati kawasan sekitar. Sebelum dimakamkan, jenazah Mas Fariz diadzani.Dimana Tampak tamu undangan ikut pula mendo'akan mendiang Mas Fariz. Sejumlah keluarga,kerabat dan sahabat tampak memadati area prosesi pemakaman.


Abi memasukkan pasir pertama kali ke liang lahat putra sulungnya tersebut.


Dimana sebelumnya peti jenazah Mas Fariz tampak digotong sejumlah orang menuju liang lahat dan lantunan shalawat tauhid mengiringi pemakaman Mas Fariz dan Bik Siti.


Lantunan kalimat tauhid terus mengiringi jenazah Mas Fariz sebelum dimasukkan ke liang lahat. Selain itu, kumandang adzan juga diperdengarkan di lokasi pemakaman Mas Fariz.


Abi,Pak Budi,Kak Rafa dan Wirda yang memegangi tubuh Ummah tampak duduk di depan liang lahat Mas Fariz, ditemani ayah kandung Abi yaitu Enjid. Ummah tampak memakai baju berwarna hitam yang seragam dengan Abi. Sedangkan Kak Rafa dengan setia memegang potret Mas Fariz sambil melihat prosesi pemakaman ditemani Wirda disampingnya.


Seusai azan dikumandangkan, Ummah membuka kain hijau penutup peti jenazah Mas Fariz.


Ketika prosesi peti jenazah Mas Fariz memasuki liang lahat, Ummah terlihat memeluk erat Kak Rafa. Dimana keduanya tampak saling memberikan kekuatan melihat orang yang mereka cintai harus pergi untuk selama-lamanya.


Setelah itu,Abi berdiri dan menyerok pasir beberapa kali untuk dimasukkan ke dalam liang lahat Mas Fariz.


Kemudian beberapa petugas mulai memasukkan pasir ke dalam liang lahat.


Abi lalu tampak menginisiasi penurunan tanah dan menutup liang lahat dengan tanah secara simbolis.


Pemakaman dilanjutkan dengan prosesi menabur bunga dan menyiramkan air di atas makam Mas Fariz yang diawali oleh Abi dan Ummah.


Abi,Ummah,Enjid,Kak Rafa dan Wirda tampak tegar melepas kepergian Mas Fariz untuk terakhir kalinya. Semuanya sudah tampak ikhlas dan ridho akan ketetapan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan.


Meskipun kesedihan masih menyelimuti raut wajah semua orang,tetapi hati mereka terus tegar dan berusaha kuat.


Tidak lama kemudian, semua anggota keluarga Imandar kembali ke rumah.


Bressss...


Guyuran hujan yang turun dengan lebatnya, menambahkan keheningan dan keharuan akan kepergian Mas Fariz untuk selama-lamanya.


"Apakah sudah ada informasi lagi terkait keberadaan Rani, nak?," tanya Abi pada Kak Rafa.

__ADS_1


"Belum Bi, " sahut Kak Rafa pelan.


Abi menghela napasnya sebentar.


"Abi tidak perlu cemas dan khawatir.Rafa juga terus memantau perkembangan akan pencarian Rani,"sahut Kak Rafa.


Abi masih terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu.Tidak lama kemudian Enjid datang bersama Pak Budi lalu duduk di dekat Abi dan Kak Rafa.


Enjid lalu juga menanyakan akan proses pencarian diriku kepada Kak Rafa.


Dan dengan jawaban yang sama seperti pada Abi.Kak Rafa pun mengatakan demikian.


Untuk beberapa saat mereka semua terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.Hingga Ummah datang dutuntun oleh Wirda berjalan mendekat ke arah Kak Rafa.


Kak Rafa lalu berdiri menyambut kedatangan Ummah,"Mengapa Ummah turun?bukankah dokter meminta Ummah untuk banyak beristirahat."


Ummah menatap wajah Kak Rafa dengan berkaca-kaca,sambil memegangi pipi Kak Rafa.


Tess..


Air mata Ummah mengalir perlahan dengan bibirnya yang bergetar.


Dengan suara terbata dan parau,Ummah berkata dalam bibirnya yang bergetar ,"Andai saja Ummah tidak meminta Fariz dan Rani pergi.Tentu semua ini tidak akan terjadi.Pasti saat ini Fariz,Rani dan Bik Siti masih bersama kita."


Huhuhuhuhuhu.....


Ummah terus menangisi akan semua hal yang telah terjadi.


"Jangan berkata seperti itu Ummah.Semua ini sudah takdir.Ummah harus ikhlas,"ucap Kak Rafa sambil menangis memeluk tubuh Ummah yang lemah.


Wirda,Pak Budi,Abi dan Enjid menatap penuh keharuan akan percakapan antara Kak Rafa dan Ummah.Air mata mereka juga mengalir menyaksikan kesedihan Ummah yang begitu menyayat hati.


Suasana penuh keharuan terus mewarnai kesedihan keluarga Imandar yang masih berduka atas kepergian Mas Fariz.Dimana pertemuan dan perpisahan adalah hal yang akan selalu ada dalam kehidupan.Jika sebuah pertemuan akan membuat seseorang bahagia, tapi perpisahan dengan orang tersayang akan membawa kepedihan akan derita hati yang terluka.


Namun, ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala menakdirkan sebuah perpisahan, saat seseorang pergi dari hidup, baik sementara atau bahkan selamanya, maka saat itulah seluruh keluarga Imandar dituntut untuk bisa menghadapinya dengan sikap sabar dan ikhlas.


Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa tidak mudah bagi seluruh keluarga Imandar menerima sebuah perpisahan dan mengikhlaskan kepergian Mas Fariz .Dimana itu tentu adalah hal yang sangat sulit,khususnya Ummah yang masih terus bertarung untuk melemahkan kegetiran hatinaya,terlebih Mas Fariz adalah sosok yang memang berarti dalam hidup Ummah dan keluarga Imandar.


Namun, sesusah apa pun itu, tak ada pilihan bagi Ummah dan seluruh keluarga Imandar kecuali berusaha menerimanya dengan penuh keikhlasan.

__ADS_1


Wirda mengusap lembut punggung Ummah untuk berusaha membuat Ummah tanah dan kuat.Meskipun Wirda tahu semua tentu sangat sulit untuk dilakukan, tetapi ia tidak ingin melihat ibu mertuanya terus terpuruk dalam kesedihan yang tak berujung.


"Sampai sekarang keberadaan Rani pun kita tidak tahu, hiks.. hiks.. hiks, " ucap Ummah sambil meletakkan kedua tangannya pada wajah.


Abi yang melihat keadaan Ummah semakin terlihat lesu dan lemah, dengan segera meminta Wirda dan Kak Rafa untuk membawa Ummah supaya beristirahat lagi di kamar. Awalnya Ummah menolak, tetapi setelah Kak Rafa membujuk Ummah dengan lembut. Ummah pun akhirnya menurut, langkah kaki Ummah yang terasa kosong terus berjalan mengikuti langkah kaki Kak Rafa dan Wirda yang menuntun nya menuju ke lantai atas. Tangisan Ummah terus pecah setiap mengarahkan pandangan matanya ke segala penjuru sudut rumahnya.


Dimana bayangan akan kenangan Mas Fariz dan diriku terus membawa setiap memori kenangan untuk terus kembali dalam benaknya.


Wirda dan Kak Rafa saling berpandangan melihat keadaan Ummah yang terus menerus teringat akan kenangan bersama Mas Fariz dan diriku. Kak Rafa mengangukkan kepalanya kepada Wirda, untuk segera membawa Ummah beristirahat di dalam kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Wirda segera bergegas menyiapkan obat Ummah. Sementara itu Kak Rafa membantu Ummah untuk berbaring sambil memijit-mijit kaki Ummah. Wirda menghampiri Ummah dan membantu Ummah untuk segera meminum obatnya. Tidak lama kemudian, pengaruh obat yang diminum Ummah membuat dirinya tertidur lelap dalam wajahnya yang begitu sembab dan bengkak.


Air mata Kak Rafa mengalir melihat kondisi Ummah yang seperti itu. Wirda yang melihat kesedihan Kak Rafa dengan segera mengusap air mata Kak Rafa.


Kak Rafa mengenggam jemari tangan Wirda, lalu memeluk Wirda erat.


Huhuhu.... Huhuhu.. huhuhu..


Kak Rafa menumpahkan segala rasa sesak dan kesedihannya di dalam pelukan Wirda.


Wirda pun membiarkan Kak Rafa melepaskan kesedihannya yang berusaha di pendam nya, air mata Wirda pun ikut mengalir membasahi pipinya. Hatinya juga berkecamuk dalam rasa tertekan akan keharuan yang membelenggu dirinya.


"Ya Allah, berilah penawar kebahagiaan akan kesedihan keluargaku ini, " pinta Wirda di dalam hatinya sambil memejamkan kedua matanya perlahan.


Tiba-tiba Wirda merasakan kepalanya terasa pusing, dan rasa mual yang menekan di perut hingga kerongkongan nya. Awalnya Wirda berusaha untuk menekan dan menahan akan rasa mual yang terus mengocok perutnya. Tetapi semakin lama rasa mual itu semakin menjalar ke tenggorokannya dan mendorong keinginan dirinya untuk memuntahkan sesuatu dari perutnya.


Dengan refleks, Wirda melepaskan tangannya dari memeluk tubuh Kak Rafa. Lalu, berjalan dengan cepat menuju kamar mandi.


Uwekkkk.... uwekkkkk... uwekkkk...


Wirda memuntahkan sesuatu yang membuat nya mual...


Kak Rafa khawatir dan segera menyusul Wirda, dan memastikan keadaan Wirda baik-baik saja.


Tetapi Wirda terlihat pucat dan lesu.


Kak Rafa cemas melihat kondisi Wirda dan segera mengangkat tubuh Wirda untuk berbaring di samping Ummah.


Dengan segera Kak Rafa langsung menelpon dokter keluarga mereka untuk memeriksa keadaan Wirda.

__ADS_1


Wirda masih berbaring sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


__ADS_2