Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Sosok aneh.


__ADS_3

Aku masih memandangi Kak Reno yang juga belum tersadar dari pingsannya.


Entah kenapa aku sangat mengkhawatirkan dirinya. Dimana kepala nya masih tertunduk lemah, dengan kedua tangan yang masih terikat pada masing-masing pergelangan tangannya.


"Siapa?. Siapa yang tega melakukan hal ini pada ku dan Kak Reno?, " tanya ku di dalam hati sambil terus menatap pada wajah Kak Reno yang penuh dengan bercak darah.


Aku pun tiba-tiba menyadari sesuatu, tentang keberadaan putri Kak Roy yang tidak bersama kami dan juga Bik Inah, sopir serta bibi pengasuh putrinya Kak Roy.


Semua seperti menjadi misteri bagi ku dan membuat ku terus berpikir. Bagaimana caranya agar aku dapat membuat Kak Reno tersadar. Sehingga kami berdua dapat keluar dari sini.


Aku pun terus berusaha mengoyang-goyangkan tangan dan kaki ku, supaya tali yang mengikatnya dapat terlepas.


Namun, di saat aku sedang berusaha untuk melonggarkan tali yang mengikat diri ku.


Trek.. Trek.. Trek.. Druagh


Tiba-tiba pintu di ruangan tempat ku dan Kak Reno di sekap terbuka.


Aku terdiam seketika dan kembali berpura-pura tidak sadarkan diri.


Terdengar langkah kaki mendekat, tetapi bukan ke arah ku.


Aku pun berusaha untuk memicingkan mata ku, agar dapat melihat apa yang terjadi sebenarnya.


Namun, aku sungguh di buat terkejut melihat kehadiran sosok seseorang berjubah hitam dengan topengnya.


Dimana jemari tangannya dengan kasar menarik rambut Kak Reno ke atas, sehingga aku pun dapat melihat wajah Kak Reno dari tempat ku duduk terikat.


Ya Allah, hati ku sungguh bergetar dan tidak tega melihat luka lebam yang menghias wajah Kak Reno.


Sosok bertopeng dan berjubah hitam itu, terus menarik-narik kepala Kak Reno, untuk tetap membuatnya terangkat ke atas.


Lalu beberapa kali ia menepuk-nepuk pipi Kak Reno untuk membuatnya tersadar.


Sungguh aku benar-benar tidak kuasa dan tidak tega melihat keadaan Kak Reno seperti itu. Sesuatu perasaan yang secara tidak langsung juga membuat diri ku terluka.


Saat aku tengah fokus menatap ke arah Kak Reno.


Tiba-tiba pandangan mata ku pun terhenti pada tindakan sosok berjubah hitam.


Byuurrrr.


Aku terkejut dan terperangah akan tindakannya.


Dimana sosok berjubah hitam itu menyiramkan satu ember air, ke seluruh tubuh Kak Reno.

__ADS_1


Seketika pula tubuh Kak Reno basah kuyup.


Dan hati ku bergetar iba, melihat akan kondisi Kak Reno.


"Ya Allah lindungilah dan kuatkan Kak Reno, " pinta ku di dalam hati.


Tanpa ku sadari tubuh ku seperti terus merasakan rasa kesakitan yang di terima Kak Reno. Aku seakan tidak dapat menerima perlakuan buruk terhadapnya.


Dengan sekuat tenaga aku berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki ku. Tentunya dengan berusaha untuk berteriak, meskipun mulut ku tertutup dengan kain.


Tetapi setidaknya aku ingin berusaha, supaya sosok berjubah hitam itu tidak berbuat buruk terhadap Kak Reno.


Sosok berjubah hitam itu terus menerus menepuk-nepuk pipi dan menarik rambut Kak Reno dengan kasar. Dan pelan secara perlahan, aku dapat melihat Kak Reno dapat membuka matanya sedikit demi sedikit. Meskipun belum dalam keadaan


sadar sepenuhnya.


Tubuh Kak Reno terayun-ayun dalam kondisi berdiri dalam keadaan terikat.


Aku pun terus berusaha dengan keras untuk melepaskan ikatan ku.


Hingga tanpa aku sadari sosok berjubah hitam itu telah berjalan mendekati ku.


Dia kemudian duduk berjongkok dan menatap mata ku lekat.


Tidak ada rasa ketakutan yang ku rasakan, saat sosok berjubah hitam itu menatap mata ku lekat.


Sosok berjubah hitam itu terus menatap ku lekat dan tidak menunjukkan perlakuan apa pun.


Hingga perlahan jemari tangan nya membuka kain yang menutup mulut ku.


Maka aku pun tidak menyia-nyiakan lagi kesempatan, untuk menuturkan sesuatu dari lisan ku.


"Mengapa kamu melakukan hal ini pada kami berdua?. Apa kesalahan yang kami berdua lakukan pada mu?, " tanya ku dengan berapi-api.


Tetapi sosok berjubah hitam itu hanya diam, dalam pandangan matanya menatap diri ku. Dimana wajahnya tertutup oleh topeng.


Sehingga aku tidak dapat mengenalinya.


Aku pun lalu berusaha memanggil Kak Reno yang terlihat lemas dan memandang satu pada ku.


"Kak Reno!. Kak Reno!, " panggil ku dengan suara agak keras sambil terus menggerakkan tubuh ku.


Sosok berjubah hitam itu pun, menepuk kan kedua tangannya.


Dimana hal yang ia lakukan sempat mengalihkan perhatian ku.

__ADS_1


Tidak lama kemudian tampak seseorang perempuan bertubuh besar yang menggunakan hijab, dan menutup wajahnya.


Berjalan mendekati ku dengan membawa kotak obat.


Aku pun menatapnya dalam.


Lalu sosok berjubah hitam itu, memberi isyarat pada wanita yang menutup wajahnya itu, untuk mengobati luka pada wajah ku.


Aku menolaknya, tetapi sosok berjubah hitam itu terus meminta wanita yang menutup wajahnya itu. Untuk terus mengobati luka ku.


Hingga aku pun tidak dapat melawan dan menolaknya. Selama wanita itu mengobati ku . Sosok berjubah hitam itu terus duduk di dekat ku dan terus mengawasi diri ku.


Tetapi aku tidak memperdulikannya.


Dimana pandangan mata ku tertuju pada Kak Reno, yang dari jauh juga memandang ke arah ku, dengan wajahnya yang memar dan lesu.


Aku sungguh tidak tahan melihat keadaan dirinya, hingga tanpa ku sadari air mata ku mengalir. Dan lisan ku bertutur meminta kepada wanita yang sedang mengobati luka ku, agar dapat juga mengobati luka pada wajah Kak Reno.


Namun, wanita yang mengobati ku hanya memandang tidak suka ke arah ku.


Kemudian, ia memandang ke arah sosok berjubah hitam.


Mereka berdua terlihat seperti mengisyaratkan sesuatu komunikasi, yang tidak ku pahami.


Entah apa yang coba mereka katakan, aku tidak peduli.


Dimana pikiran ku hanya terus mencoba mencari solusi.


"Bagaimana aku dan Kak Reno dapat keluar dari tempat ini?, " pikir ku.


Dan di saat wanita yang menutupi wajahnya itu sedang berbicara dengan sosok orang yang menggunakan jubah hitam.


Aku segera menarik dan menyembunyikan gunting yang ia gunakan, untuk menggunting perban.


Dengan hati-hati tanpa sepengetahuan mereka tentunya.


Dimana secara perlahan dan pelan.


Aku menggunakan kaki ku yang terikat untuk menyembunyikan gunting tersebut di sisi kiri kaki ku. Lalu ku tutup dengan gamis ku ,sambil bersikap tenang dan seolah tidak terjadi sesuatu. Aku melakukannya dengan pelan.


Tidak lama kemudian, kedua orang tersebut keluar dari ruangan tempat diri ku dan Kak Reno berada.


Aku pun sedikit dapat bernapas lega.


Setelah melihat wanita yang menutup wajah nya dengan kain itu, juga tidak membawa kotak obat pergi bersamanya.

__ADS_1


Dan setelah memastikan mereka berdua benar-benar keluar dari ruangan ini.


Aku pun segera menarik gunting, dan mendekatkannya pada jemari tangan ku agar dapat meraihnya.


__ADS_2