Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Pilihan Kak Roy.


__ADS_3

Om Surya berjalan dengan dengan cepat sambil membawa berkas lembaran file penting di dalam sebuah amplop. Setelah ia membaca keterangan yang terlampir dari lembaran kertas tersebut, dengan cepat pula ia segera menuju ke ruangan tempat Kak Roy di rawat.


Cekrek...


Om Surya dengan cepat masuk ke dalam, dimana Tante Desi bersama bude Ayu yang sedang duduk di sofa tunggu pasien langsung terkejut melihat kedatangan Om Surya yang begitu gusar dan tegang.


"Ada apa pah? Mengapa papa terlihat begitu sangat tegang tetapi juga bahagia?, "tanya Tante Desi memandang lekat suaminya yang sedang beranjak duduk di hadapannya sambil menyerahkan amplop berisi lembaran kertas.


Tante Desi dan Bude Ayu memandangi wajah Om Surya dengan guratan heran di kening keduanya.


" Apa ini pah?, "tanya Tante Desi lagi sambil meraih amplop berisi lembaran kertas di dalamnya.


Bude Ayu yang penasaran pun juga semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Tante Desi.


" Mama baca saja sendiri, "pinta Om Surya.


Tante Desi pun membuka lipatan kertas tersebut dan membacanya bersama dengan Bude Ayu. Dimana wajah keduanya pun sama-sama terkejutnya setelah mengetahui isi dari lembaran kertas tersebut. Tante Desi memandang bergantian ke arah Om Surya pun begitu juga dengan Bude Ayu.


" Ja.. Ja.. Jadi benar bayi yang di kandung Rere adalah anak nya Roy pah?, "ucap Tante Desi dengan bibirnya yang bergetar haru.


Om Surya mengangguk pelan.


Lalu dengan segera Tante Desi berdiri dari duduknya dan menghampiri Kak Roy yang berbaring di ranjang pasien sambil menatap langit-langit ruangan tempatnya di rawat.


Tante Desi lalu mengenggam jemari tangan Kak Roy sembari mengusap kepala Kak Roy.


Kak Roy pun menoleh ke arah Tante Desi dengan tatapan sayunya.


" Nak, tolong dengarkan mama!, "pinta Tante Desi.


Kak Roy pun mengangguk menatap Tante Desi.


Dengan mata yang berkaca-kaca dan bibirnya yang bergetar. Tante Desi membacakan hasil tes DNA kepada Kak Roy yang menyebutkan jika bayi yang ada di dalam kandungan Rere memiliki hasil tes DNA dengan menunjukkan probabilitas 99,9 persen yang berarti bahwa Kak Roy merupakan ayah biologis dari bayi yang sedang di kandung Rere.


Kak Roy terdiam dengan ekspresi wajahnya yang datar, dimana ingatannya kembali pada peristiwa dimana Rere telah menghancurkan dirinya. Air matanya tidak lagi menetes, Kak Roy benar-benar menunjukkan keheningan dirinya.


Tante Desi dan Om Surya pun saling berpandangan mendapati akan ekspresi wajah putra mereka yang datar. Sementara itu, Bude Ayu tampak tidak begitu senang setelah mendengar jika bayi yang di kandung Rere adalah darah daging Kak Roy. Ia pun berusaha untuk menciptakan kegaduhan, " Kamu lihat Desi, putramu Roy hanya diam tanpa ekspresi apapun. Mungkin dia sendiri masih meragukan akan hasil tes DNA itu. "


"Tidak mungkin Mbak, hasil tes DNA ini akurat Mbak. Mbak tidak bisa berkata seperti itu, " ucap Tante Desi.


"Itu menurutmu Des, tetapi mungkin berbeda dengan apa yang di rasakan oleh putramu. Bisa saja hasil tesnya salah atau Rere dan keluarga nya memanipulasi hasilnya, tidak ada yang tahu akan hal itu bukan. Yah, tetapi semua itu terserah kalian sebagai orang tuanya Roy. Apakah bersedia menerima bayi itu juga menerima Rere kembali masuk dalam keluarga kalian, " tutur Bude Ayu.

__ADS_1


Tante Desi dan Om Surya terdiam.


Bude Ayu berjalan mendekat ke arah Tante Desi sambil memegang bahunya, "Sebelum bertindak tolong kalian pikirkan juga perasaan Roy. Dia juga berhak bahagia dan memilih kehidupannya sendiri. Dan satu lagi menurut Mbak pribadi tidak semua kesalahan seseorang harus kita maafkan, sebab kita hanyalah manusia biasa bukan malaikat. "


Tante Desi terdiam mendengarkan perkataan dari Bude Ayu yang sedikit mempengaruhi pikirannya. Om Surya yang melihat kebimbangan pada raut wajah istrinya segera mendekati Tante Desi seraya berbisik,"Papa harap perkataan Mbak Ayu tidak akan mempengaruhi keputusan yang telah kita buat sebelumnya mah. "


Tante Desi menatap lekat ke wajah Om Surya tanpa berkata apapun. Bude Ayu seakan tidak peduli akan perasaan Om Surya dan Tante Desi, lalu ia berjalan mendekat Kak Roy yang juga memandangi dirinya. "Roy, jangan diam saja. Berusahalah untuk mengatakan sesuatu yang menjadi keinginanmu. Bude, tahu kamu tidak menginginkan kembali pada Rere kan?. "


Kak Roy menatap wajah Bude Ayu dengan mata yang berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan. Bude Ayu tersenyum sembari mengusap kepala Kak Roy, lalu menoleh ke arah Om Surya dan Tante Desi yang memandang dirinya dan Kak Roy bersamaan.


"Lihatlah sendiri Desi dan Surya, bahwa putra kalian sendiri tidak ingin Rere kembali dalam kehidupannya, lalu mengapa kalian bersikeras menginginkan Roy tetap dalam hubungan pernikahan dengan Rere, hanya karena Rere mengandung anak Roy. Tetapi tanpa kalian sadari belum tentu Roy menginginkan bayi di dalam kandungan Rere. Mbak mohon jangan korbankan lagi kehidupan, perasaan dan masa depan Roy, " tutur Bude Ayu.


Tante Desi terlihat bingung dan bimbang, "Tetapi nanti bagaimana nasib bayi di dalam kandungan Rere mbak? Bagaimana masa depannya jika Rere dan Roy berpisah?. "


Bude Ayu tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya, "Hmmm, kamu itu bagaimana Des? Mengapa bisa berpikiran seperti itu? Justru jika demi alasan kehamilan Rere, Roy harus tetap menjadi suaminya Rere. Itu adalah persepsi yang konyol."


"Kenapa Mbak bisa berbicara seperti itu Mbak?, " tanya Tante Desi heran.


"Pernikahan itu adalah hubungan ikatan yang sakral dan suci Des, dimana ikatan itu menjadikan dua insan yang berbeda memiliki satu kesamaan visi dan misi yang di dalam ikatan itu di kuatkan dengan namanya cinta dan kasih sayang, yang mana hal itu tidak di miliki oleh Roy dan Rere. Jika kamu dan Surya memaksakan Roy kembali pada Rere. Maka sama saja kalian berdua akan menghancurkan tiga kehidupan sekaligus yaitu Rere, Roy dan anak mereka kelak.Pernikahan yang tidak memiliki pondasi yang kuat tentu tidak akan dapat bertahan dan Mbak rasa kalian berdua paham akan hal itu."


"Lalu apa yang sebaiknya kami lakukan Mbak?, " tanya Om Surya yang juga mulai terpengaruh akan perkataan dari Bude Ayu.


"Lalu bagaimana dengan bayi yang ada di dalam kandungan Rere Mbak, jika Rere harus mendekap di dalam jeruji besi saat ia sedang mengandung. Tentu hal ini akan berpengaruh terhadap psikis nya juga perkembangan bayinya Mbak, " ucap Tante Desi gelisah.


"Iya Mbak, benar apa yang di katakan Desi, " sahut Om Surya.


"Kalian kenapa risau akan hal itu, sekarang zaman sudah canggih. Banyak dokter hebat dan kompeten yang tentunya dapat terus memantau perkembangan kesehatan Rere dan bayinya. Disini justru dapat kita lihat bagaimana nantinya sikap Rere, apakah bisa menjadi seorang ibu dalam menjaga kandungan nya di situasi yang telah ia ramu sendiri? Sekarang Mbak minta kalian fokus saja pada kesembuhan keponakan Mbak. Dan biarkan kasus yang menjerat Rere tetap berjalan. Karena sampai kapan kalian akan terus memaafkan kesalahan Rere yang sudah sangat fatal menurut Mbak dengan membuat sandiwara kematian Roy dan membuat Roy menjadi boneka mainan nya selama ini. "


Tante Desi dan Om Surya sekali lagi terdiam. Tetapi Bude Ayu lalu memegang jemari Kak Roy sambil mengusap kepalanya lembut, "Roy, apakah kamu setuju dengan apa yang Bude katakan barusan?. "


Semua orang memandang ke arah Kak Roy.


Kak Roy menatap wajah Bude Ayu lalu menganggukkan kepalanya. Bude Ayu tersenyum melihat Kak Roy pun setuju dengan pemikirannya.


"Nah, kalian bisa lihat sendiri kan! Roy saja sepemikiran dengan Mbak, " ujar Bude Ayu.


Om Surya dan Tante Desi pun tidak dapat berkata lagi, setelah mengetahui akan keinginan Kak Roy. Setelah berdiskusi kembali akhirnya Tante Desi dan Om Surya tidak mencabut tuntutan kasus terhadap Rere yang mereka laporkan kepada pihak berwajib dan juga meneruskan gugatan cerai Kak Roy ke pengadilan agama. Hal ini sungguh membuat Tante Sinta dan Om Nugroho selaku sebagai kedua orang tua Rere merasa sangat terkejut dan syok atas keputusan dari pihak keluarga Kak Roy, meskipun mereka sudah mengetahui jika bayi yang berada di dalam kandungan Rere adalah darah dagingnya Roy. Tetapi hal itu tidak mengubah akan keputusan dari pihak keluarga Kak Roy.


Tante Sinta dan Om Nugroho begitu hancur dan terluka, saat putri mereka harus kembali lagi masuk ke dalam sel tahanan menunggu kasus Rere di sidangkan.


Sementara itu, atas saran dari Bude Ayu.

__ADS_1


Om Surya dan tante Desi mengajak Kak Roy sementara waktu menjauh dan menepi dari keramaian semua orang yang mereka kenal. Dimana mereka memilih tinggal sementara di kota lain yang jauh dari semua kenangan-kenangan Kak Roy yang terhubung dengan Rere atau pun diriku, sebab akan semakin membuat Kak Roy terluka sekaligus menjauhi keluarga Rere sampai kasus dan perceraian selesai.


Kak Roy duduk di kursi rodanya sambil memandangi rimbunnya pepohonan pinus nan hijau di hadapan nya. Tatapannya lurus ke depan menikmati setiap panorama alam yang ada di matanya. Sesekali ia tampak menarik napas panjang dan dalam untuk menghirup sejuknya udara pagi ini.


Tante Desi dan Bude Ayu yang berada di dekat Kak Roy tersenyum bahagia melihat perkembangan kesehatan Kak Roy yang mulai berangsur-angsur membaik.


"Sayang, minum susu hangat dulu ya, " pinta Tante Desi kepada Kak Roy.


Kak Roy menggangguk pelan, "Iy.. Iy... Iya Mah. "


Suara Kak Roy terdengar terbata dan membuat Tante Desi juga Bude Ayu terkejut.


"Mbak... Mbak.. Mbak.. Apakah mbak dengar Roy berbicara!, " teriak Tante Desi dengan senang dan histeris.


"Iya Des, Mbak dengar, " sahut Bude Ayu.


Wajah Tante Desi merekah bahagia sambil memeluk Bude Ayu, lalu menghampiri Kak Roy.


Kedua mata Tante Desi berkaca-kaca penuh keharuan, dengan bibirnya yang bergetar. Tante Desi memeluk erat putra kesayangan nya itu.


"Alhamdulillah ya Allah, " ucap Tante Desi dengan air mata keharuan penuh rasa syukur.


Sementara itu, Bude Ayu menatap kebahagiaan adik dan keponakannya itu dalam suasana yang begitu mengetarkan hatinya. Dengan perlahan Bude Ayu pun mendekati Kak Roy dan Tante Desi lalu mengusap pundak mereka berdua dengan penuh kasih sayang.


Wuzzzz....


Semilir angin bertiup lembut, dari pucuk-pucuk muda dedaunan pinus yang menebarkan aroma unik pinus dengan bau harum yang cenderung tajam, manis, namun menyegarkan.Kenyamanan ini menimbulkan efek relaksasi yang bisa mengurangi kecemasan terhadap tubuh, khususnya bagi Kak Roy.


"Terima kasih Mbak untuk saran yang telah mbak berikan, " ucap Tante Desi menatap wajah Bude Ayu.


Bude Ayu tersenyum sambil mengusap kepala Kak Roy, "Apa yang kamu katakan Des? Roy juga seperti anak Mbak sendiri. Sengaja Mbak mengajak dan menyarankan kalian membawa Roy kemari supaya ia dapat menjadi seperti resin kecil di pohon pinus itu, " ucap Bude Ayu sambil menunjukkan telunjuknya.


Kak Roy dan tante Desi menatap pada pohon pinus yang ditunjuk oleh Bude Ayu, yaitu sebuah cedera kecil pada pohon yang membentuk lubang.


"Lubang-lubang kecil itu terbentuk karena dibor oleh kumbang kulit kayu yang sibuk,ada juga sayatan pada batang pohon pinus dan membentuk luka kecil yang dibuat oleh burung pelatuk yang gelisah dan gusar, Terkadang juga cabang-cabang yang patah karena angin juga membuat goresan pada pohon pinus.Semua itu adalah kesulitan yang tak terhindarkan bagi pohon pinus,yang menyebabkan resin keluar dari pohonnya.Resin itu disini seperti luka akan kesakitan dari pohon pinus terhadap apa yang ia terima dan dapatkan dari sekitarnya. Tetapi ia mampu mengubah resin luka itu menjadi liontin resin kecil yang tergantung indah di pohon, lalu membiaskannya dengan kemilau sinar matahari, dimana Sang Surya pun memecahnya menjadi pelangi warna nan indah memukau mata, dan mengeluarkan aroma harum yang dapat kita nikmati sekarang. Dimana aroma itu membawa kenyamanan dan keteduhan bagi yang menghirupnya, " tutur Bude Ayu.


Kak Roy memandang lekat Bude Ayu, dan Bude Ayu mengusap lembut kepala Kak Roy, "Roy, sayang. Belajar lah seperti pohon pinus. Dalam kemisteriusan hidupnya, terdapat kekuatan yang dimilikinya untuk dapat melembutkan kekerasan hidupnya. Meskipun berada di dalam tekanan, pohon pinus tetap memberikan kesenangan dan ketenangan dari lukanya. Maka seperti itulah Bude berharap, dirimu juga harus dapat menemukan kedamaian dan kebahagiaan mu sendiri, setelah semua yang terjadi. Bude percaya kamu bisa bangkit dan melalui ini semua. "


Air mata Kak Roy mengalir perlahan menatap wajah Bude Ayu yang teduh memandang dirinya, "Te.. RI.. Ma.. Kasih. Bude, " ucap Kak Roy lagi dengan terbata dan haru.


Tante Desi, Bude Ayu dan Kak Roy larut dalam lingkaran perasaan keharuan kasih sayang mereka.

__ADS_1


__ADS_2