
Mas Fariz terus memandu Pak Budi untuk melakukan pencarian akan keberadaan mobil yang membawa diriku. Dimana Mas Fariz pun terus berkomunikasi dengan Kak Rafa yang bekerja sama dengan pihak kepolisian melacak keberadaanku. Meskipun kontak Mas Fariz dan Kak Rafa sempat terputus.
Mas Fariz tidak berhenti terus memanggil nama diriku, dimana air matanya terus mengalir tanpa ia sadari. Pak Budi yang fokus menyetir dengan perasaan tegang sesekali melirik ke arah Mas Fariz untuk memastikan jika keadaan Mas Fariz baik-bajk saja. Tetapi Pak Budi tidak pernah melihat keadaan Mas Fariz begitu selemah ini, berbeda dari biasanya.
"Nak Fariz tenang ya. InsyaAllah Nak Rani akan baik -baik saja. Kita sedang berikhtiar dan sisanya kita serahkan kepada Allah Ta'ala, " ucap Pak Budi lembut berusaha untuk menenangkan Mas Fariz.
Mas Fariz mengangguk tanpa berkata apapun dan terus menyeka air matanya dengan tisu.
***
Di dalam kamar Ummah.
Wirda pun tidak berhenti untuk membuat Ummah tenang dan berhenti menangis. Apalagi saat Ummah melihat video yang direkam oleh Bik Siti saat penculikan diriku, dimana membuat air mata Ummah terus mengalir tanpa henti, dan sesekali bibir Ummah berteriak histeris memanggil namaku.
"Rani! Putri Ummah! Huhuhu...Huhuhuhuhu..."
"Dimana kamu Nak? Ya Allah lindungi putriku Ya Allah!. "
Wirda yang melihat kondisi Ummah pun turut menangis.Namun,dengan cepat Wirda pun langsung menyeka air matanya, karena dia harus kuat dan bertahan dalam kesedihan untuk menopang ibu mertuanya itu yang begitu larut dalam rasa kesedihan begitu dalam.Maka dengan sigap dan cepat .Tetapi penuh kelembutan Wirda lalu menarik tubuh Ummah dalam dekapannya dan memeluk tubuh Ummah erat, supaya dapat menenangkan Ummah seraya membisikan kalimat istighfar pada indra pendengaran Ummah.Dengan tujuan supaya Ummah dapat mengontrol sikap dan pikirannya agar tidak terlalu terpuruk dalam kecemasan yang melukai hatinya.
"Ummah... Istighfar.. Astagfirullahaladzim..
Astagfirullahaladzim..Astagfirullahaladzim.."
Wirda mengusap punggung Ummah lembut lalu menyeka air mata Ummah.
"Wirda!.., " panggil Ummah sambil menangis.
"Rani! Rani! Rani, Wir!, " ucap Ummah lagi.
Wirda mengangguk kepalanya pelan, "Iya Ummah. Wirda tahu Ummah sangat mencemaskan Rani. Tetapi Ummah juga tidak boleh seperti ini, " ucap Wirda pelan sambil menangis memandang wajah Ummah.
Tiba-tiba Abi masuk ke dalam kamar Ummah dan segera mengajak Wirda juga Ummah untuk melaksanakan salat ashar berjama'ah sambil mendo'akan keselamatan diriku.
Dengan perlahan Abi dan Wirda pun menuntun langkah kaki Ummah untuk menuju ke mushola.
***
Pak Sipir sudah selesai menelpon pihak berwajib dan mengirimkan lokasi dimana diriku disekap. Sambil menunggu pihak kepolisian datang, Pak Sipir terus melihat jam tangan miliknya dan menghitung waktu untuk memastikan sudah berapa lama Kak Reno berada di dalam. Hati Pak Sipir berdegup kencang sambil matanya memandang ke sekitar rumah itu dari kejauhan di balik pohon. Lisannya terus berucap memanjatkan do'a untuk mengiringi langkah Kak Reno dalam menyelamatkan diriku.
"Ya Allah lindungilah dan jagalah Nak Reno. Berikan dia kemudahan dalam melakukan niat baik dan mulianya. Semoga Nak Reno dalam keadaan baik-baik saja ya Allah, " ucap Pak Sipir sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas dengan penuh kecemasan.
Sementara itu, Kak Rafa yang mendapatkan informasi dari pihak kepolisian jika sudah menemukan keberadaan diriku dari laporan Pak Sipir yang bersama Kak Reno. Dengan segera pula Kak Rafa lalu menyalurkan lokasi dimana para penculik itu menyekap diriku. Wajah Mas Fariz langsung terlihat sumringah dan bersemangat, maka dengan cepat Mas Fariz langsung menyeka air matanya dan mengarahkan kepada Pak Budi untuk menuju ke lokasi keberadaan diriku. Dengan cepat pula Pak Budi melajukan mobil yang ia kemudikan menuju lokasi yang di arahkan oleh Mas Fariz.
"Dek Rani, tunggu Mas Dek! Mas akan segera datang menyelamatkan dirimu, " ucap Mas Fariz lirih sambil menatap lurus ke depan.
***
Setelah berjalan secara mengendap-endap Kak Reno akhirnya menemukan celah jendela yang dapat ia lalui untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Sambil terus menggerakkan obeng yang sengaja ia ambil dari jok dalam peralatan yang ada di sepeda motor Pak Sipir. Penuh kehati-hatian tanpa mengeluarkan suara. Kak Reno akhirnya bisa membuka jendela dengan mudah. Wajahnya terlihat senang sambil memasukkan kembali obeng ke dalam saku celananya, lalu Kak Reno pun melompat masuk ke dalam melewati jendela yang berhasil ia buka. Keadaan di sekitarnya gelap dan tidak terlihat apapun juga. Tetapi Kak Reno terus berjalan sambil meraba -raba melewati kegelapan dan hanya mengandalkan seberkas cahaya yang masuk dari jendela yang ia lalui.
Pandangan mata Kak Reno berusaha mencari pintu keluar dari ruangan ini, hingga senyum simpul mengembang di parasnya yang bermandikan peluh keringat , dan berhasil menemukan pintu keluar dari ruangan tempatnya berada sekarang. Maka dengan segera Kak Reno menuju pintu itu dan berusaha menggerakkan gagang pintu tersebut yang ternyata terkunci. Wajah Kak Reno terlihat kesal dan berusaha mencari jalan keluar lain dari ruangan tempatnya berada.
"Aku harus cepat keluar dari tempat ini dan segera menyelamatkan Rani. Sebelum hal- hal yang buruk terjadi kepada Rani, " ucap Kak Reno pelan sambil mengarahkan pandangannya ke segala penjuru ruangan untuk menemukan jalan keluar.
"Ya Allah bantulah aku, bantulah diriku menemukan jalan keluar dari ruangan ini, "pinta Kak Reno penuh harap.
Dan Saat jemari tangan Kak Reno terus meraba-raba dinding di ruangan itu, tidak sengaja tangannya memegang gagang pintu lain dan saat tangannya Kak Reno berusaha untuk menggerakkan gagang pintu tersebut.
Cekrekk..
Pintu tersebut terbuka dengan mudah karena tidak terkunci, dan tanpa memperlama waktu Kak Reno langsung keluar dari ruangan itu dengan cepat dan hati-hati untuk mencari keberadaan diriku.
Kak Reno terus berjalan mengendap-endap dengan penuh kehati-hatian tanpa menimbulkan suara dalam menyusuri ruangan demi ruangan untuk menemukan keberadaan diriku. Hingga pandangan matanya tertuju pada pria bertubuh besar yang sedang tertidur pada sofa panjang di depan sebuah kamar yang pintunya tertutup. " Aku rasa Dek Rani kemungkinan berada di ruangan itu, sebab hanya ruangan kamar itu yang dijaga sedangkan yang lainnya tidak. Aku harus segera masuk ke dalam sebelum pria itu bangun, " gumam Kak Reno.
Kak Reno yang melihat dari seberang balik dinding , lalu memandang ke sekitar untuk memastikan bahwa kondisi aman. Dengan perlahan-lahan langkah kaki Kak Reno mendekati ruangan yang ia perkirakan menjadi tempat dimana diriku di sekap. Jemari tangan kiri nya memegang gagang pintu dan pandangan matanya melihat ke arah pria bertubuh besar yang sedang tertidur di sofa dekat dengan Kak Reno berdiri.
__ADS_1
DAG... DIG.. DUG
Jantung Kak Reno terus berdegup kencang dalam kecemasan yang membuat dirinya harus mawas diri akan keadaan sekitar.
SReet... Krik...
Gagang pintu yang di dorong Kak Reno mengeluarkan suara. Napas Kak Reno terengah-engah dalam guyuran keringat dingin yang membuat tangannya gemetaran. Dengan cepat Kak Reno pun melihat ke arah pria besar di dekat nya.
Huh...
Kak Reno menghela napas lega, sebab pria bertubuh besar itu masih tertidur pulas di atas sofa dengan suara dengkurannya yang keras. Mengetahui keadaan aman, Kak Reno mendorong pintu perlahan-lahan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri melihat keadaan sekitarnya.
Matanya memandang ke dalam ruangan dengan pencahayaan yang sangat redup dan bau lembab yang begitu menusuk ke hidung disertai udara yang pengap. Kak Reno menutup hidungnya dan maju perlahan-lahan masuk ke dalam ruangan yang begitu kotor dan berantakan seperti gudang barang tidak terpakai. Hingga langkah kakinya terhenti dan membuat dirinya sempoyongan hampir terjatuh karena menabrak sesuatu. Sambil sedikit membungkuk mempertahankan posisinya,kedua matanya di kejutkan dengan sesuatu yang tergeletak di lantai dengan posisi meringkuk. Di amatilah oleh Kak Reno dengan seksama ,"Seperti sosok tubuh manusia,"ucapnya pelan.Karena penasaran akhirnya Kak Reno lalu jongkok dan mengeceknya sembari mendekat.
Dan betapa terkejutnya Kak Reno setelah membalikan tubuh yang lemas tak berdaya itu adalah diriku yang sudah tidak sadarkan diri. Jemari tangan Kak Reno bergetar dengan air matanya yang mengalir melihat kondisiku yang memprihatinkan, "Rani!, " panggilnya lirih.
Jantung nya berdetak kencang,dalam pertemuannya dengan diriku.
"Aku memang sangat merindukan dirimu Rani. Tetapi bukan pertemuan seperti ini yang ku inginkan, " ucap Kak Reno lirih sambil menangis.
Sadar jika kondisiku harus segera mendapatkan pertolongan, dengan cepat Kak Reno membuka ikatan yang membelenggu mulut, kaki dan tanganku. Pandangan matanya melihat ke sekitar untuk memastikan bahwa kondisi masih aman, setelah itu dengan kedua tangannya Kak Reno mengangkat tubuhku yang sudah terkulai tidak berdaya. Di dalam pikirannya hanya satu yaitu segera membawa diriku untuk keluar dari tempat ini.
Tangan Kak Reno terus gemetar tiada henti saat melihat wajahku lebam penuh bercak noda darah, dengan keningku yang masih ternganga luka robek. Hatinya teriris bagai tersayat sembilu, "Ya Allah, kenapa Engkau pertemukan diriku dengan jantung hidupku dalam kondisinya seperti ini, hiks.. hiks... Aku tidak mampu untuk melihatnya terluka dalam keadaan seperti ini, cukuplah hanya aku saja Ya Allah yang merasakan derita dan kesakitan bukan dirinya, " rintih Kak Reno sambil terus membawa diriku.
Kak Reno terus berjalan dan fokus terhadap kondisiku saja, sehingga ia tidak menyadari keadaan sekitar dimana laki-laki yang tadinya tertidur pulas sudah terbangun dari tidurnya.
Plakkkk...
Laki-laki bertubuh besar itu menghujani pukulan kepada Kak Reno dari belakang, yang membuat tubuh Kak Reno sempoyongan. Kepalanya terasa berputar-putar dan terasa pusing seketika. Kak Reno menoleh ke belakang sambil menahan rasa sakit yang menghujani kepalanya, dalam kepayahan nya Kak Reno tetap merengkuh tubuhku agar tidak terjatuh.Meskipun ia sendiri begitu terkejut melihat laki-laki bertubuh besar itu sudah tepat di hadapan dirinya.
"Hei penyusup! Mau kau bawa kemana dia!, " teriak laki-laki bertubuh besar itu kepada Kak Reno.
Teriakkan laki-laki bertubuh besar itu terdengar kuat dan menggelegar hingga membangunkan ketiga temannya yang segera datang berlari menghampiri Kak Reno.
"Ada apa ini Bro! Kenapa kamu berteriak-teriak?, " tanya teman laki-laki satunya sambil berjalan mendekat.
Ketiga temannya terkejut melihat Kak Reno sudah membawa diriku.
"Hah! Bagaimana laki-laki ini bisa masuk ke sini!, " ucap teman mereka yang perempuan dengan terkejut.
Kemudian laki-laki bertubuh besar yang memukul Kak Reno pun menjawab, "Tidak penting kita tahu bagaimana dia bisa masuk kemari, yang penting sekarang kita harus mengamankan nya dan membawa perempuan bernama Rani itu untuk segera kita pindahkan dari tempat ini. Kemungkinan keberadaan kita sudah diketahui oleh teman laki-laki ini, yang akan sangat membahayakan kita semua."
Ketiga temannya pun mengangguk.
"Segera tangkap laki-laki itu yang ingin membawa perempuan itu kabur!, " perintah laki-laki bertubuh besar yang melihat Kak Reno pertama kali.
Dengan cepat ketiga temannya dan laki-laki bertubuh besar itu menyergap Kak Reno dengan mengepungnya di segala penjuru.
Jantung Kak Reno berdegup kencang untuk dapat kabur dari jeratan orang-orang jahat ini. Untuk sesaat matanya menatap diriku yang sudah semakin lemah tidak berdaya, dan entah kekuatan dari mana Kak Reno menendang satu persatu komplotan penculik itu, meskipun tubuhnya terus dihujani dengan pukulan Kak Reno tetap bertahan menahan rasa sakit di tubuhnya, ia seakan tidak peduli akan luka dan darah yang mengalir di pelipisnya.
Ya Allah, bantulah diriku agar dapat membawa Rani keluar dari tempat ini, Bismillahirrahmanirrahim. Laa haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha adzim, "ucap Kak Reno lalu menendang satu persatu keempat orang tersebut dan berusaha mencari jalan keluar.
Dengan cepat dan napas terengah-engah sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kak Reno terus berlari menuju pintu utama, ia menoleh ke belakang melihat keempat orang penjahat itu semakin mendekati dirinya. Dan dengan cepat jemari tangan Kak Reno memutar kunci pintu sambil memegang tubuhku dengan erat. Tangannya terus gemetar karena begitu panik, tanpa menoleh lagi Kak Reno langsung saja fokus untuk membuka pintu dan membawaku keluar sambil berteriak meminta tolong dengan suaranya yang keras.
Tiba-tiba...
Plaakkkkk...
Laki-laki bertubuh besar yang memergoki Kak Reno pertama kali, langsung menghujani Kak Reno dengan stick kayu keras yang tepat pada kepala Kak Reno.
" Auwwwww!, "teriak Kak Reno menahan sakit.
Tubuhnya gemetar sempoyongan dan hendak terjatuh, tetapi ia tetap bertahan untuk tetap memaksakan dirinya agar tetap berdiri supaya dapat melindungi diriku dan segera keluar dari tempat ini.
Keempat orang itu semakin mendekati Kak Reno dengan tatapan buas dan kemarahan. Kak Reno terus bersandar di pintu sambil merengkuh tubuhku kuat, " Bertahanlah Dek Rani, aku pasti akan membawa dirimu keluar dari tempat ini. Meskipun nyawa ku menjadi taruhannya, "ucap Kak Reno lirih sambil menatap diriku yang sudah tidak sadar.
__ADS_1
" Mau lari kemana kamu!, "gertak laki-laki bertubuh besar sambil membawa stick.
Dalam posisi terjepit Kak Reno hanya bisa pasrah dan terus menguntungkan asanya kepada Allah, hingga dengan tiba-tiba tubuhnya terdorong jatuh ke lantai.
Cekrekkkk..... JeDuarrrrrrr....
Pintu terbuka lebar.
Pak sopir berada di belakang Kak Reno dan sudah membawa bantuan dengan banyak aparat kepolisian bersamanya.
Wajah Kak Reno tersenyum kecil sambil terus mendekap tubuhku, " Pak tolong segera panggil ambulans dan tolong Ran. "
Gedubrak....
Kak Reno terkulai lemas jatuh seketika.
"Nak Reno!, " teriak Pak sopir histeris sambil memegang tubuh Kak Reno.
Pak sipir segera menjerit meminta bantuan.
Keempat komplotan penjahat itu terlihat panik dan ketakutan melihat kedatangan aparat kepolisian di hadapan mereka.
Sambil melirik ke segala arah keempat komplotan penjahat itu ingin bersiap lari kebelakang. Tetapi belum sempat mereka berjalan, langkah mereka sudah di hadang oleh banyak aparat kepolisian yang sudah mengepung tempat persembunyiannya mereka menyekap diriku.
Dan dengan cepat aparat kepolisian meringkus keempat komplotan penjahat dan memborgolnya, setelah drama ingin kabur dan perlawanan dari mereka. Tetapi keempat komplotan penjahat tersebut sudah sangat kalah jumlah dengan personil kepolisian yang telah meendesak mereka untuk menyerah dan bertekuk lutut tak berdaya.
Tidak lama kemudian Kak Rafa yang ikut bersama dengan menaikki mobil kepolisian datang bersamaan dengan mobil yang dikendarai oleh Pak Budi bersama Mas Fariz.
Tanpa menunggu lagi Mas Fariz langsung keluar dari dalam mobil dan segera mencari keberadaan diriku.
"Rani! Dek Rani! , " teriak Mas Fariz panik dan begitu cemas.
Hingga pandangan mata Mas Fariz tertuju pada tubuhku yang tergeletak tidak berdaya dalam kondisi yang memilukan dirinya. Dengan segera Mas Fariz langsung berlari ke arah ku dan menarik tubuhku dari delapan Kak Reno.
Sambil terus menangis pandangan mata Mas Fariz melirik ke arah Kak Reno yang juga terluka parah.
"Nak, ayo segera kita bawa mereka ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan, kondisi mereka sangat memprihatinkan, " pinta Pak sipir kepada Mas Fariz sambil mengangkat tubuh Kak Reno.
Mas Fariz pun mengangguk dan segera mengangkat tubuhku menuju ke mobil, lalu Kak Rafa membantu Pak sipir membawa Kak Reno juga masuk ke dalam mobil milik Mas Fariz. Pak Budi lalu dengan sigap segera menuju ke mobil dan menyalakan mesin mobil.
Breeemmm....
Mobil lalu melaju cepat menembus lukisan sandikala yang telah menghiasi langit.
"Pak Budi tolong lebih cepat sedikit pak! Saya merasakan denyut nadi Dek Rani semakin melemah, " ucap Mas Fariz panik sambil menangis.
"Baik Nak Fariz, " sahut Pak Budi.
Sementara itu, Pak sipir yang berada di belakang jok kursi mobil tempat Mas Fariz mendekap diriku. Terdengar sayup-sayup dalam samar keadaan yang penuh ketegangan, suara parau nan lirih dari Mas Fariz terus memanggilku berulang kali, lalu menghilang dalam ketidaksadaran dirinya.
Semua orang yang berada di dalam mobil pun mendengar apa yang di ucapkan Kak Reno termasuk juga Mas Fariz yang terdiam sambil berpikir bagaimana Kak Reno bisa ada bersama diriku dan menolongku.
Tetapi pikiran itu disingkirkan oleh Mas Fariz dengan cepat, karena ia ingin fokus terhadap diriku saja.
Kak Rafa lalu menghubungi Abi dan memberitahukan keadaanku yang telah berhasil di temukan tetapi dalam kondisi yang kritis. Abi pun cemas dan segera meminta kepada Kak Rafa untuk segera memberitahukan rumah sakit mana yang akan di tuju, sebab Abi akan segera menyusul bersama Enjid, Ummah dan Wirda.
Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Pak Budi sudah tiba di rumah sakit. Kak Rafa segera menutup sambungan telepon nya bersama Abi dan langsung bergegas turun dari mobil membantu Mas Fariz.
Tampak beberapa perawat dengan sigap dan cepat membawa brankar dorong pasien.
Dengan bantuan perawat Mas Fariz meletakkan tubuhku di atas brankar sama halnya juga dengan Kak Reno.
Drett... Driittt...
Terdengar dorongan suara brankar yang membawa diriku dan Kak Reno masuk ke ruang IGD.
__ADS_1
Semua orang tampak cemas dan panik dalam ketegangan yang membelenggu perasaan dan pikiran dari setiap orang mengkhawatirkan diriku dan Kak Reno.