
Setelah mendengar berita yang di sampaikan oleh Ustad Fariz kepada kami semua. Ummah pun semakin gelisah meras tidak tenang. Dengan cepat Ummah pun mengambil tasnya lalu berpamitan kepadaku dan Bik Siti untuk mengajak Ustad Fariz pulang, supaya dapat segera berbicara langsung dengan Enjid dan Abi akan keinginan Ummah yang dapat segera juga menikahkan Ustad Fariz dengan diriku.
"Bik Siti, saya pulang dulu sebentar dengan Fariz, maka saya titip Rani ya Bik. Saya mohon bibi menjaga Rani dengan baik. Ada hal penting yang harus saya lakukan dengan segera, " ujar Ummah.
Bik Siti pun menjawab sambil menganggukkan kepalanya, "Baik Bu Putri, insya Allah saya akan menjaga Nak Rani dengan baik, meskipun Bu Putri tidak memintanya saya pasti akan tetap melakukannya. "
Ummah tersenyum mendengar ucapan dari Bik Siti, "Terima kasih banyak ya Bik. "
"Sama-sama Bu Putri, " sahut Bik Siti.
Ummah lalu memalingkan wajahnya menatap diriku seraya memegang daguku dengan jemari tangan lembut dan halus Ummah.
"Sayang, Ummah pulang dulu sebentar ya. Kamu disini bersama Bik Siti dulu.InsyaAllah setelah urusan Ummah selesai, Ummah akan kembali kemari secepatnya. "
"Baik Ummah. Ummah tidak perlu mencemaskan Rani, kan ada Bik Siti menemani Rani disini. Ummah fokus saja pada urusan penting yang akan Ummah kerjakan, dan jangan terburu-buru ya Ummah. Ummah harus Hati-hati, " ucapku kepada Ummah.
Air mata Ummah berkaca-kaca memandangi wajahku, "Iya sayang tentu. "
Kemudian Ummah mencium kepalaku dengan penuh kasih sayang, "Ummah pergi dulu ya nak. Rani baik -baik disini. Assalamu'alaikum. "
Aku tersenyum kecil memandangi wajah Ummah, "Iya Ummah. Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. "
Tidak lama setelah berpamitan Ummah mengajak Ustad Fariz keluar dari ruangan tempatku dirawat. Pandangan mataku terus tertuju kepada langkah kepergian mereka yang kemudian pergi menghilang dari pandanganku.
Bik Siti melihat ke arahku.
"Nak Rani tidur ya, supaya kondisinya lekas membaik dan tidak usah memikirkan hal -hal yang lain, " pinta Bik Siti.
Aku memandang balik wajah Bik Siti , "Rani belum mengantuk Bik. "
"Baiklah Nak Rani, tetapi Nak Rani istirahat saja ya dan tidak perlu memikirkan apapun baik itu tentang Nak Reno ataupun Nak Aisyah. "
DeG...
Aku sedikit terhentak mendengar Bik Siti berkata demikian. Bagaimana Bik Siti tahu akan hal yang menganggu pikiranku, batinku di dalam hati.
Bik Siti kemudian berjalan sedikit berputar untuk pindah posisi duduk di kursi sebelah kiri tempat ranjang pasien, dimana saat ini aku sedang duduk setengah berbaring.
"Bik Siti istirahat saja ya Bik. Bibi pasti sangat capek dan letih, " kataku.
"Tidak Nak Rani. Bibi tidak capek, bibi hanya memikirkan Nak Rani saja, semoga Nak Rani dan Nak Fariz dapat benar-benar menikah. Jika dapat segera mungkin, " ucap Bik Siti serius.
Aku memandangi wajah Bik Siti, "Mengapa Bik Siti berkata demikian? Bibi tidak perlu cenas, bukankah jodoh itu sudah menjadi ketetapan dari Allah Ta'ala. Sekuat apapun kita memaksakan sesuatu untuk besama kita, jika bukan menjadi haknya kita maka dia juga akan pergi meninggalkan kita dan kembali keadaan yang telah Allah takdir kan untuk berhak mendapatkannya. "
Bik Siti mengkerut kan dahinya sambil berpikir, setelah ia mendengar ucapan dariku.
"Apakah Nak Rani belum benar-benar yakin untuk menikah dengan Nak Fariz?, " tanya Bik Siti menerka diriku.
Aku menghela napas pendek ku,"InsyaAllah Rani yakin Bik, tetapi selebihnya Rani memasrahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena sekeras apapun keyakinan dan keinginan kita, jika tidak diridhoi oleh Allah maka semuanya tidak akan terlaksana Bik. "
Bik Siti terlihat setuju akan pendapat yang telah kusampaikan. Ia diam tanpa mengeluarkan kata-katanya lagi. Begitu pula dengan diriku yang kembali teringat akan keadaan Kak Reno dan Kak Aisyah.
***
__ADS_1
Sesampainya Ummah dan Ustad Fariz di kediaman mereka. Ummah dengan segera mencari keberadaan Enjid dan Abi yang tengah mempersiapkan berkas-berkas dokumen untuk syarat pernikahan Ustad Fariz dan diriku dibantu oleh Pak Hadi dan beberapa orang lain.Setelah menemukan keberadaan Enjid dan Abi. Ummah pun ikut bergabung dan duduk di samping Abi, diikuti oleh Ustad Fariz yang ikut serta berjalan di belakang Ummah.
Abi dan Enjid sedikit terkejut dengan kedatangan Ummah dan Ustad Fariz.
"Lho kok Ummah dan Fariz kemari, lalu Rani hanya ditemani oleh Bik Siti saja di rumah sakit."
"Iya Bi, " sahut Ummah.
"Ada apa Ummah?, " tanya Abi.
Ummah sedikit berpikir dan terdiam untuk beberapa saat.
"Lho kok Ummah diam saja saat Abi sedang bertanya. "
"Hmmm, Begini Bi. Apa tidak bisa jika sekarang juga Fariz dan Rani menikah. Menikah sirih dulu pun tidak apa-apa Bu, Ummah mohon, " pinta Ummah dengan penuh harapan.
Semua orang yang berada di ruangan tersebut, tersentak kaget mendengar permintaan Ummah yang secara tiba-tiba itu.
Abi memegang bahu Ummah perlahan, "Mengapa Ummah menginginkan Fariz dan Rani segera menikah saat ini juga? Kan Abi dan Enjid juga sedang mempersiapkan semua berkas dokumen kelengkapan untuk pernikahan Fariz dan Rani Ummah. "
Ummah terlihat sangat gusar dan Enjid pun menimpali perkataan Abi.
"Iya putri, Ada apa denganmu? Mengapa kamu menginginkan Fariz dan Rani untuk segera menikah sekarang? Apakah ada sesuatu hal yang begitu mengganjal di pikiran dan hatimu?. "
Ummah pun mengangguk, "Iya Njid, keluarga Aisyah memberikan kabar melalui sambungan telepon dengan Faruz, jika saat ini Aisyah di rawat di rumah sakit karena dengan sengaja melukai dirinya sendiri. "
"Astaghfirullah, " ucap Abi dan Enjid secara bersama-sama.
"Mengapa Aisyah dapat bertindak nekat seperti itu?, " ungkap Enjid heran.
Abi dan Enjid seraya memikirkan perkataan Ummah, sementara Ustad Fariz berusaha menenangkan Ummah.
"Ummah tidak baik berkata demikian. "
Ustad Fariz memandangi wajah Ummah serius.
"Ummah tahu nak, tetapi itulah kebenarannya. "
Enjid kemudian menyela pembicaraan Ummah dan Ustad Fariz.
"Enjid setuju sekali dengan saran dan juga permintaan Putri. Tetapi jika Fariz dan Rani menikah secara sirih Enjid tidak setuju, karena akan lebih baik jika pernikahan mereka resmi dan legal dihadapan hukum dan negara. Namun, semuanya kita kembalikan lagi kepada Fariz dan juga Rani. Sebab mereka berdualah yang nantinya akan menjalani kehidupan berumah tangga bukan kita, " ujar Enjid.
Ummah langsung tersenyum mendengar ucapan Enjid, dan berbalik kembali menatap Ustad Fariz.
Dengan lembut Ummah pun mengenggam jemari tangan Ustad Fariz.
"Kamu bersedia kan Nak jika hari ini juga dirimu menikah dengan Rani?, " tanya Ummah.
Tatapan mata Ummah begitu sangat menusuk kalbu Ustad Fariz yang membuat dirinya seakan tidak mampu untuk menolak permintaan dari Ummah. Meskipun Ustad Fariz sendiri pun tidak masalah terhadap keinginan Ummah, tetapi hanya waktu yang begitu terburu-buru membuat Ustad Fariz merasa sedikit terganggu. Tetapi apa daya Ustad Fariz yang tidak akan mampu menjelaskan kepada Ummah akan konsep pemikiran dirinya, sebab Ummah sudah terlalu gusar memikirkan gangguan yang akan ditimbulkan oleh Kak Aisyah.
Ustad Fariz menganggukkan kepalanya , "Fariz, mematuhi apa yang menjadi keinginan dan permintaan dari Ummah saja."
"Alhamdulillah.Terima kasih nak. "
__ADS_1
Ummah mengusap lembut pipi Ustad Fariz.
Tidak lama saat Ustad Fariz dan keluarganya sedang berbicara mengenai pernikahan Ustad Fariz dan diriku. Asisten rumah tangga di kediaman Ustad Fariz dengan segera datang memberitahukan akan kedatangan kedua orang tua Kak Aisyah yang bertamu ke kediaman rumah mereka.
Ummah menjadi gelisah dan seakan tidak suka akan kehadiran kedua orangtua Kak Aisyah yang berkunjung ke kediaman rumahnya.
"Mau apalagi kedua orang tua Aisyah kemari? Sepertinya ada sesuatu yang mereka inginkan akan kedatangan mereka kemari, " gerutu Ummah.
Lalu asisten rumah tangga di kediaman keluarga Imandar menunggu jawaban dari Ummah, Abi atau Enjid untuk memperbolehkan kedua orang tua Kak Aisyah untuk masuk atau tidak.
"Bagaimana Pak dan Ibu, apakah tamunya diperbolehkan masuk atau Bapak dan Ibu ingin menemui tamu tersebut di halaman luar?, " tanya sang asisten rumah tangga.
Ummah dengan segera menjawab, "Bilang saja jika kami semua tidak ada di rumah. "
Namun, dengan tiba-tiba Ustad Fariz pun berkata kepada Ummah , "Tidak baik meminta Bibi untuk berbohong Ummah. Lebih baik kita temui kedua orang tua Ukhti Aisyah Ummah. Setidaknya kita menghargai niat mereka untuk bertamu di kediaman rumah kita. Bukankah di dalam agama Islam, kita diajarkan untuk menjaga silaturahmi dengan saudara terutama dengan saudara sesama muslim. Dimana salah satu menjaga silaturahmi adalah dengan cara kita memuliakan tamu. Karena
sebagai seorang Muslim, sudah sepatutnya kita memperlakukan tamu dengan sebaik-baiknya dengan menyambut tamu secara ramah, menjamu dengan makanan dan minuman terbaik, melayani keperluannya, serta memenuhi maksut dan tujuannya.Seperti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
Waman kaana yu'minu billaahi wal yaumil aakhiri,falyukrim dhoifahu. Yang artinya: Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. "
"Apa yang dikatakan Fariz ada benarnya Ummah. Mari kita temui kedua orang tua Aisyah dan mendengarkan apa yang menjadi maksud dan tujuan mereka kemari, " ucap Abi membujuk Ummah.
Namun, Ummah merasa berat untuk menemui kedua orang tua Kak Aisyah dan setelah Ustad Fariz dan Abi membujuk berulang kali barulah dengan terpaksa Ummah ikut serta bersama Abi dan Ustad Fariz menemui kedua orang tua Kak Aisyah.
Abi lalu dengan segera meminta asisten rumah tangga yang memberitahu kan kedatangan akan kedatangan kedua orang tua Kak Aisyah untuk segera mempersilahkan mereka masuk dan menunggu di ruang tamu umum milik keluarga mereka, sekaligus Abi meminta sang asisten rumah tangga untuk menyiapkan minuman dan makanan untuk menjamu kedua orang tua Kak Aisyah yang datang bertamu. Sang asisten rumah tangga pun langsung mengiyakan dan melaksanakan apa yang diminta oleh Abi.
Sementara Abi dan Ustad Fariz masih menunggu Ummah untuk bangkit dari duduknya dan benar-benar siap untuk menemui kedua orang tua Kak Aisyah.
Enjid yang melihat menantunya begitu terlihat sangat gusar juga turut memberikan wejangannya.
"Kamu tidak perlu takut dan cemas Putri. Serahkan segala sesuatunya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak ada yang akan dapat memisahkan Fariz untuk bersama dengan Rani jika mereka berdua memang ditakdirkan oleh Allah untuk bersama dalam jodoh yang mengikat mereka. Termasuk usaha atau cara apapun yang dilakukan oleh Aisyah, percayalah Putri jodoh itu tidak akan kemana, ia akan kembali dan berlabuh pada takdir jodoh yang sudah Allah tetapkan. "
Ummah terdiam mendengar kata-kata dari Enjid. Ummah memahami akan hal itu, tetapi tetap saja hati dan pikirannya terasa berat untuk berusaha tetap tenang. Karena di dalam hatinya Ummah hanya menginginkan diriku saja yang menjadi istri Ustad Fariz dan juga menantunya.
"Bagaimana Ummah apakah Ummah sudah siap menemui kedua orang tua Ukhti Aisyah?, " tanya Ustad Fariz memandangi wajah Ummah.
Tetapi Ummah masih terdiam dan tidak bergeming untuk menjawab pertanyaan Ustad Fariz.
Ustad Fariz dan Abi pun dengan sabar menunggu Ummah dan memberi ruang bagi Ummah untuk benar-benar siap menemui kedua orang tua Kak Aisyah yang sedang menunggu.
Ummah masih diam dan larut dalam pikirannya yang dipenuhi akan rasa kegusaran dan kekhawatiran yang sangat berlebihan.
"Jika Ummah belum siap, bagaimana jika Abi dan Fariz yang menemui kedua orang tua Nak Aisyah. Barulah setelah Ummah merasa siap dan jauh lebih baik. Ummah dapat menyusul Abi dan Fariz di ruang tamu.Kasihan dan tidak enak jika mereka terlalu lama menunggu kedatangan kita untuk menemui mereka Ummah. Bagaimana Ummah apakah U. mah setuju akan usul yang telah Abi sampaikan barusan?, " tanya Abi sambil memandang wajah istrinya.
Ummah lalu memandang balik wajah Abi.
"Sebentar lagi Abi. Tolong berikan sedikit lagi waktu untuk Ummah untuk merileksasikan pikiran dan hati Ummah, supaya benar-benar siap bertemu dengan kedua orang tua Aisyah. Karena jujur Bi, saat ini hati Ummah masih sangat berat untuk menemui mereka. Dan jika hanya Abi dan Fariz yang menemui mereka tanpa ada Ummah yang ikut serta. Ummah takut kedua orang tua Aisyah dapat dengan lancang mendesak Fariz untuk menikahi putrinya itu, " tutur Ummah semakin gelisah.
Ustad Fariz terkejut mendengar perkataan Ummah, "Bagaimana bisa Ummah berpikiran jika kedatangan kedua orang tua ukhti Aisyah untuk meminta Fariz menikahi putri mereka, Ummah, " tanya Ustad Fariz polos.
Ummah memandang Ustad Fariz.
"Sebab Ummah adalah seorang ibu nak. Dan seorang Ibu itu paham akan sesuatu hal yang tidak baik mengintai anak-anaknya, sebab Allah memberi naluri insting suatu ikatan yang sangat istimewa menghubungkan dirinya dan anak-anaknya, supaya dapat menjaga dan memperingatkan anak-anaknya dari hal -hal yang kurang baik dan mengancam kehidupan juga keselamatan anak-anaknya, " ungkap Ummah menuturkan rasa kecemasannya.
__ADS_1
Ustad Fariz mengenggam jemari tangan Ummah dan menciumnya.
"InsyaAllah kita percayakan segala sesuatunya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala ya Ummah, sebab hanya Dialah sebaik-baiknya pelindung dan penjaga bagi setiap keselamatan dan keberkahan setiap mahluk-Nya. Mari Ummah kita segera menemui kedua orang tua ukhti Aisyah, " ajak Ustad Fariz mengenggam jemari Ummah.