Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kepergian yang tiba-tiba.


__ADS_3

Pak Sugeng terduduk lemas bersandar pada dinding sel penjara tempatnya di tahan sekarang.Tatapan matanya kosong dengan wajahnya yang terlihat suram dan penuh keputusasaan.Hatinya hancur selanjutnya mengetahui jika istri yang sangat ia cintai sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selama- lamanya.Air matanya mengalir dalam pandangan matanya yang hampa,ia benar- benar rapuh untuk menjalani kehidupannya sekarang.Nelangsa dalam kegetiran hatinya,membuat dirinya merasa ingin segera menyusul almarhumah Bu Sri meninggalkan dunia ini.


"Mah...mengapa mama meninggalkan papa secepat ini mah? Mengapa mah?bahkan di saat kepergianmu papa tidak bisa melihat dirimu untuk terakhir kalinya. Huhuhuhuhu... Huhuhuhuhu. "


Tangis Pak Sugeng pecah memenuhi seluruh ruangan tempatnya ditahan sekarang. Kakek yang duduk tidak jauh dari Pak Sugeng bersandar, hanya dapat menatap putranya dengan wajah sendunya dan penuh kegetiran. Hatinya juga sangat terluka melihat putra semata wayangnya begitu hancur akan kepergian menantunya.


Pandangan mata kakek nanar dan sayu, ia bahkan tidak berani untuk mendekati Pak Sugeng. Bahkan untuk sekedar menenangkan tangis putranya itu. Batin dan jiwanya menjerit-jerit menyaksikan keluarganya hancur dan tercerai-berai dalam kenestapaan. Keluarga yang ia jaga dan rawat selama ini dengan penuh banyak perjuangan untuk membuatnya tetap utuh dengan mendapatkan kehidupan yang layak. Nyatanya karam menjadi puing-puing pecahan yang tajam dan melukai.


Mata kakek terpejam menahan air matanya yang ingin tumpah membasahi wajah tuanya yang mulai keriput.


Kenangan dan memori perjalanan kehidupannya tergambar jelas dalam pejaman matanya. Semua tindakan dan perbuatan akan masa lalunya berotasi ulang di dalam pikirannya.


"Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan membiarkan seluruh anggota keluargaku menderita dan hancur begini, hiks.. Hiks.. Hiks... , " ucapnya lirih dengan menyesal.


Dadanya terasa sesak dan nyeri memikirkan semua kepahitan yang terjadi pada seluruh anggota keluarganya. Penyesalan yang terlambat dan tidak ada gunanya, gumamnya dalam hati. Sekarang ia harus menghabiskan sisa hidupnya di dalam sel penjara dan menyaksikan satu persatu keluarganya tumbang.


Huhuhuhuhu.... Huhuhuhuhu...


Kakek tidak dapat lagi menahan air matanya yang tumpah tidak dapat ia bendung.


Argghhhhhhhhhhh..... Buk.. Buk.. Buk..


Suara jeritan dari Pak Sugeng menghentak kakek. Dengan cepat pula kakek membuka matanya dan melihat apa yang terjadi.


Dan berapa terkejutnya kakek melihat Pak Sugeng yang membenturkan kepalanya ke dinding sel tahanan dan memukul-mukulkan kedua tangannya yang terkepal seraya meninju ke dinding sel tahanan.


Darah segar mengalir dari kening ke pelipis Pak Sugeng.


"Sugeng apa yang kamu lakukan Nak?, " teriak kakek beranjak berdiri dengan cepat mendekati putranya itu.


Namun, Pak Sugeng tidak menghiraukan ucapan dari kakek. Dia terus memukul dan meninjukan tangannya ke dinding tanpa henti, hingga tanggannya menjadi lebam dan terluka. Kakek sungguh tidak kuasa melihat tindakan putranya itu, dan berusaha untuk menghentikannya. Tetapi sia-sia saja. Pak Sugeng malah justru mendorong tubuh kakek keras, sehingga membuat kakek tersungkur jatuh ke lantai.


"Auwww,"teriak kakek kesakitan karena kepalanya terbentur ke lantai.


Tetapi Pak Sugeng tidak peduli.


Kakek pun bangkit berdiri untuk menghentikan tindakan Pak Sugeng yang terus menerus menyakiti dirinya sendiri.


Buk.. Buk.. Buk..


Duk.. Duk.. Duk...


Pak Sugeng terus membenturkan kepalanya dan memukul-mukulkan tangannya ke dinding sembari berteriak kencang.


" Arghhhhhhhh...... Arghhhhhh..... Sri.... Jangan tinggalkan aku Sri..... Arghhhhhhh.... Huhuhuhuhuhu...... "


Air mata kakek tidak tertahankan melihat derita putranya itu. Namun, sebelum kakek dapat meraih Pak Sugeng untuk berhenti menyakiti dirinya.


BRUUKKK.....


Tubuh Pak Sugeng langsung tumbang seketika dengan telapak tangan kirinya memegang dadanya.


Mata kakek terbelalak besar , tubuh dan jemari tangannya bergetar.


"Sugeng!, " teriak kakek dengan sangat kencang.


Petugas kepolisian yang berjaga pun langsung menuju sel tahanan tempat kakek dan Pak Sugeng di tahan.


"Ada apa ini?, " tanya petugas kepolisian sambil melihat sekitar.


"Tolong Pak.. Tolong anak saya, " pinta Kakek sambil menangis.


"Astaghfirullah, kenapa bisa begini, " ucap petugas kepolisian kaget.


Dengan cepat bapak petugas kepolisian yang sedang berjaga lalu memanggil temannya yang lain untuk membantu Pak Sugeng agar segera mendapatkan pertolongan.

__ADS_1


Beberapa petugas langsung masuk ke dalam sek penjara untuk menolong Pak Sugeng yang terluka parah dan terbaring kaku tidak sadarkan diri.


Salah seorang petugas medis memeriksa keadaan Pak Sugeng dan memastikan denyut nadinya sebelum dibawa ke rumah sakit.


"Saya periksa nadinya sudah tidak teraba dan pupil matanya sudah melebar. Dan ini adalah tanda beliau sudah tidak ada. Kalau meninggal mendadak seperti ini kemungkinan serangan jantung," ucap petugas medis.


"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Allahummaghfirlaha warhamha wa afiha wa'fuanha. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengampuni dosa almarhum, " ucap petugas kepolisian yang lainnya.


"Tidak mungkin, " teriak Kakek keras.


Lalu memeluk tubuh Pak Sugeng yang terlihat kaku dan sedikit biru.


Huhuhuhuhu.... Huhuhuhuhuhu....


"Sugeng.... Sugeng.. Sugeng... Kamu tidak boleh meninggalkan papa dengan cara secepat ini Nak. Sugeng... Buka matamu Nak... Buka nak.. Ini papa... Huhuhuhuhu.... Huhuhuhuhu, " teriak kakek sambil menggoyang-goyangkan tubuh Pak Sugeng.


"Yang sabar dan ikhlas Pak, " ucap petugas kepolisian yang lainnya berusaha menenangkan kakek.


"Tidak... Tidak.... Tidak... Putra saya belum meninggal dunia... Tolong... Tolong bawa putra saya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan. Sugeng!, " pekik kakek dengan keras.


Kemudian petugas kepolisian memisahkan kakek dengan Pak Sugeng ,supaya Pak Sugeng segera dimakamkan. Tetapi kakek terus menerus menangis secara histeris dan meronta-ronta seperti orang yang kehilangan akalnya. Kakek begitu sangat terpukul dan tidak kuasa untuk menahan derita kepergian putranya. Dan saat jasad Pak Sugeng di bawa pergi dari hadapannya kakek berteriak sangat kencang.


"Sugeng... Anakku!. "


Kakek lemah tidak berdaya menghadap i kenyataan jika putranya sudah tidak ada lagi.


BRUUKkkk....


Tubuh kakek jatuh tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri.


Kemudian petugas kepolisian segera menghubungi Pak Gondrong dan Pak Hadi selaku pengacara keluarga Ustad Fariz.


------------------


Pak Gondrong dan Pak Hadi yang mendapatkan kabar duka dari pihak kepolisian segera menghubungi Enjid dan Abi mengenai berita kematian Pak Sugeng yang secara mendadak tersebut.


Setelah Ustad Fariz mendapatkan telepon dari Enjid dan Abi. Ia pun bergegas mengajak Ummah untuk kembali ke ruang rawat inap tempatku dirawat dan memberitahukan perihal berita duka ini kepadaku.


Cekrekkk...


Pintu terbuka.


"Assalamu'alaikum, " ucap Ustad Fariz dan Ummah bersamaan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, "jawabku bersamaan dengan Bik Siti dan Kak Rafa.


Kak Rafa menatap wajah Ustad Fariz .


" Apa yang terjadi kepada Kak Fariz ? mengapa wajah Kakak terlihat tegang dan cemas seperti itu?,"tanya Kak Rafa sedikit heran .


Ustad Fariz pun langsung melirik ke arah Ummah yang melihatnya, setelah itu memandang lagi ke arah Kak Rafa sembari mengatur tempo nafasnya untuk menjawab pertanyaan Kak Rafa.Lalu berjalan mendekati Kak Rafa dan duduk di kursi di samping adiknya. Begitu juga dengan Ummah yang duduk menghampiri Bik Siti.


"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.Kak Fariz mendapatkan kabar duka dari Enjid dan Abi. Dimana Enjid dan Abi mendapatkan kabar duka ini dari Pak Gondrong. Beliau mendapatkan kabar dari petugas kepolisian tempat dimana kakek dan Pak Sugeng ditahan. Dan mengabarkan jika Pak Sugeng yaitu ayahnya Dek Reno sudah meninggal dunia secara mendadak karena serangan jantung. " kata Ustad Fariz.


"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un, " ucapku, Bik Siti dan Kak Rafa bersamaan.


Aku begitu tersentak hebat mendengar kabar duka dari Ustad Fariz.


"Ya Allah kenapa keluarga Kak Reno ditimpa kemalangan secara beruntun seperti ini, " ucapku pelan dan syok.


"Qodarullah Dek Rani. Semua ini sudah menjadi ketentuan dan ketetapan dari Sang Maha Kuasa. Kita do'akan saja.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengampuni dosa almarhum Pak Sugeng.Dengan menerima segala amal ibadahnya, iman dan islamnya, serta memberikan surga sebagai tempat peristirahatan terakhirnya " sahut Ustad Fariz.


"Aamiin ya robbal'alamiin, " balas kami semua.


" Ya sudah kalau begitu Kak Fariz dan Rafa akan segera lama mengurus Pemakaman almarhum Pak Sugeng, sebab jenazah beliau saat ini tidak ada yang mengurusinya. Oleh karena itu, Ummah dan Bik Siti tetap di sini menemani Rani ya. Sedangkan Enjid dan Abi tidak bisa datang untuk membantu karena sedang mengurus kepentingan perusahaan dan ada meeting yang tidak dapat ditinggalkan, "ujar Ustad Fariz.

__ADS_1


" Iya Nak Fariz. Bibi sampai tidak tahu harus berkata apa lagi karena Bibi sangat terkejut sekali mendengar berita ini. Sungguh jika Allah sudah berkehendak maka tidak ada kekuatan manapun yang dapat menghalangi keinginan Allah. Rasanya miris sekali melihat akhir dari keluarga Pak Suprapto menjadi seperti ini. Oh ya Nak Fariz. Apakah Nak Fariz tahu bagaimana keadaan Pak Suprapto sekarang?,"tanya Bik Siti sambil memandang wajah Ustad Fariz. "Kalau tidak salah Pak Gondrong tadi mengatakan ,berdasarkan info dari petugas kepolisian yang mengabarinya. Jika saat ini Pak Suprapto sedang dirawat di rumah sakit karena tidak sadarkan diri mengetahui jika putranya meninggal dunia."


Bik Siti memegang dadanya seraya berkata, "Ya Allah sungguh miris dan kasihan sebenarnya, tetapi jika melihat perangrai dan tingkah laku mereka semasa hidupnya. Rasanya balasan dan ganjaran yang mereka terima ini belum ada apa-apanya, tetapi walau bagaimana pun bibi bersimpati dan berempati terhadap meninggalnya almarhum Pak Sugeng. "


"Iya Bik Siti, semoga semua yang terjadi dapat menjadi pembelajaran untuk kita yang masih hidup. Supaya mengisi sisa -sisa hidup kita ini dengan amal dan perbuatan yang mulia, " sahut Ustad Fariz.


"Iya Nak Fariz betul sekali, " kata Bik Siti.


" Ya sudah kalau begitu saya dan Rafa permisi dulu untuk segera mengatur dan mengurusi pemakaman almarhum Pak Sugeng ya Bik Siti, Ummah dan Dek Rani. "


"Iya Nak kamu dan Rafa hati-hati ya. Semoga apa yang kalian lakukan akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, " ucap Ummah sambil mengusap kepala Ustad Fariz yang mencium tangan Ummah untuk pamit.


"Aamiin iya Ummah, " sahut Ustad Fariz dan Kak Rafa.


Namun sebelum pergi Ustad Fariz melihat sebentar keadaan diriku. "Dek Rani jangan terlalu banyak berpikir ya dan fokus saja pada kesembuhan Dek Rani, karena itu yang lebih penting ,"pinta Ustad Fariz kepada diriku.


Aku pun menggangguk." Iya Ustad Fariz."


Ustad Fariz tersenyum lalu memandang ke arah Ummah dan Bik Siti.


"Ummah,Bik Siti.Fariz titip Dek Rani ya. "


"Iya sayang tentu tanpa kamu minta.Ummah dan Bik Siti pasti menjaga Rani. Kamu dan Rafa hati-hati ya Nak. Insya Allah Rani aman dalam pengawasan Ummah dan Bik Siti, " kata Ummah kepada Ustad Fariz.


"Benar kan Bik Siti?," ucap Ummah lagi kepada Bik Siti.


"Iya bu Putri, "jawab Bik Siti dengan senyum.


Ustad Fariz pun terlihat tenang dan senang mendengar jawaban dari Ummah dan Bik Siti. Kemudian ia bersama Kak Rafa berpamitan kepada Ummah, dengan mencium tangan kanan Ummah dan bergegas pergi untuk mengurus jenazah Pak Sugeng yang akan segera di makamkan.


Aku terdiam dalam keheninganku setelah mendengar berita meninggalnya Pak Sugeng. Rasanya begitu cepat dan tidak terbayangkan. Satu persatu orang yang kukenal dan terlibat dalam perjalanan kehidupanku pergi meninggalkan dunia ini.


Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, wa inna ila rabbina lamunqalibun, allahummaktubhu 'indaka fil muhsinin, waj'al kitabahu fi 'illiyyiin, wakhlufhu fi ahlihi fil ghabirin, wa la tahrimnaa ajrahu wala taftinna ba'dahu.


Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kamilah kami kembali. Ya Allah, tuliskanlah ia di sisi-Mu termasuk golongan orang-orang yang baik. Jadikanlah catatannya di 'illiyyin. Gantilah ia di keluarganya dari orang-orang yang menginggalkan. Janganlah Engkau haramkan bagi kami pahalanya dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya, ucapku lirih di dalam hati.


Bik Siti mengusap pundakku perlahan-lahan, ia seakan tahu dan paham akan rasa gelisah yang menyelimuti hatiku.


"Sudah Nak Rani tidak perlu banyak memikirkan berita yang Nak Rani terima.Seperti apa yang dikatakan oleh Nak Fariz yaitu Nak Rani harus fokus untuk kesembuhan Nak Rani dahulu. Lagi pula apa yang terjadi pada Pak Sugeng sudah menjadi ketetapan Allah. Bibi juga tidak ingin Nak Rani banyak berpikir. Apalagi kan sekarang Nak Rani juga tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga Suprapto. Sekarang Nak Rani berpikir ke depan dan menata kehidupan Nak Rani yang baru ya, " tutur Bik Siti.


"Nah betul sekali Nak, apa yang dikatakan Bik Siti. Kami semua sayang dan peduli kepada Rani, dan menginginkan Rani agar cepat sembuh kembali. Sehingga Rani tidak perlu memikirkan masa lalu atau pun tentang keluarga Suprapto lagi ya nak, " sahut Ummah.


Aku menganggukkan kepalaku.


Tiba-tiba hatiku terbesit menghentakkan pikiranku mengingat Kak Reno.


Bagaimana keadaannya jika ia mengetahui jika sekarang Pak Sugeng juga sudah tidak ada, tentunya Kak Reno akan sangat terpukul sekali, batinku di dalam hati.


"Lho Rani kok diam?, " tanya Ummah memecah lamunanku.


"Akh tidak Ummah, Rani hanya bingung mau berkata apa, " jawabku.


"Ya sudah sekarang waktunya Rani makan dan minum obat ya. Ummah yang akan menyuapi Rani. "


"Tidak udah Ummah, Rani bisa makan sendiri nanti malah merepotkan Ummah, " ucapku merasa tidak enak.


"Hmmm, Ummah tidak repot sayang. Justru Ummah senang bisa merawat putri Ummah, " sahut Ummah sambil mengusap pelan pipiku.


"Kalau begitu makan dan obatnya Bik Siti siapkan dulu, nanti Bu Putri tinggal menyuapi Nak Rani. "


"Iya Bik Siti. Terima kasih ya Bik, " kata Ummah.


"Sama-sama Bu Putri, " balas Bik Siti.


Aku terdiam mendengar percakapan Ummah dan Bik Siti, sembari pikiranku melayang memikirkan Kak Reno.

__ADS_1


Semoga kamu baik-baik saja Kak Reno, setelah mendengar berita akan meninggalnya Pak Sugeng, ucapku di dalam hati.


__ADS_2