
Perlahan aku mulai terbangun, sambil membuka kedua mataku sedikit demi sedikit dan melihat keadaan di sekitarku yang terlihat gelap dengan hanya ada sorotan dari cahaya lampu tidur. Kepalaku yang terasa pusing kini berangsur-angsur menghilang, hanya saja tubuhku terasa nyeri dan linu.
Huwah..
"Astaghfirullah hal adzim, " ucapku pelan sambil menutup mulutku yang menguap dengan tangan kanan.
Aku ingin bangun, tetapi rasanya tubuhku masih berat dan menginginkan untuk tetap berbaring di ranjang tempat tidur. Pikiranku masih teringat akan penglihatanku tentang Rere dan sosok laki-laki yang duduk di kursi roda berwajah mirip dengan Kak Roy.
Apakah mungkin itu Kak Roy? tetapi Kak Roy sudah meninggal dunia, lalu bagaimana ia bisa bersama Rere. Apakah aku hanya salah lihat saja, gumamku di dalam hati. Kegusaran akan hal yang kulihat itu sungguh membuatku begitu tidak tenang dan terus memikirkannya. Ku coba menghela nafas panjang seraya memejamkan kedua mataku, berharap hatiku merasa jauh lebih tenang. Namun, kegelisahan itu terus menyeruak hingga membuat dadaku bergetar. Dengan pelan diriku berusaha untuk duduk sambil menahan rasa nyeri dan linu yang menjalar di sekujur tubuhku. Lalu ku benahi bantal yang menyangga kepalaku dengan membuatnya vertikal supaya dapat menahan pundakku untuk bersandar, kemudian kuletakkan dua guling di bawah kedua betisku sehingga membuat posisi kedua kakiku yang lurus lebih tinggi dari badanku. Alhamdulillah, aku merasa sedikit lebih baik. Mataku menerawang melihat meja di samping ranjang tempat tidurku, berharap ada air minum yang dapat ku teguk untuk melepaskan dahaga pada tenggorokanku yang terasa kering. Bibirku tersungging dengan senyuman simpul, mendapati ada segelas air putih penuh pada gelas besar bening. Tanpa berlama-lama lagi aku pun meraihnya. Maka dengan mengucapkan Basmalah terlebih dahulu aku lalu meneguk 3 tegukan besar.
Gleekkk... Gleekkk... Gleekkk..
"Alhamdulillah ya Allah, " mataku sambil mengusap bibirku yang basah terkena air lalu meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja di samping ranjang tempat tidurku.
Dalam kebeningan ku di dalam kamar Wirda, indra pendengaranku menangkap gelak tawa dan suara perbincangan yang saling bergantian. Oh, rupanya aku telah melewatkan acara lamaran Wirda, batinku dengan perasaan kecewa.
Seharusnya hari ini aku menyaksikan acara lamaran yang sangat bersejarah bagi sahabat ku, tetapi Qadarullah wa maa syaa-a fa.Allah telah menakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat.
Cekrekkk...
Pintu kamar pun terbuka perlahan-lahan, dalam samar cahaya lampu tidur kulihat seseorang berjalan mendekat ke arahku, dari pakaiannya aku mengenalnya. Tubuhnya semakin mendekat ke arahku dengan langkah kakinya yang pelan.
Dan sorot matanya bertemu dengan pandanganku. "Alhamdulillah kamu sudah bangun nak?, " tanya Ummah langsung duduk di sampingku.
"Iya Ummah, " sahut ku.
Ummah mengusap kepalaku yang masih tertutup dengan khimar panjang dan mungkin sekarang terlihat berantakan. Setelah itu ,Ummah meminta izin kepadaku untuk menyalakan lampu agar cahaya di ruangan kamar Wirda menjadi terang dan tidak redup seperti sekarang ini. Kemudian Ummah berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah sisi kiriku untuk mematikan lampu tidur kamar maka ruangan pun langsung menjadi gelap dengan pantulan seberkas cahaya dari pintu kamar yang terbuka. Lalu Ummah berjalan ke arah pintu dan meraba dinding untuk menyalakan lampu utama di kamar tidur Wirda.
Cetekk...
Ruangan menjadi terang benderang.
Kedua mataku langsung bereaksi dan peka terhadap pantulan cahaya terang, dengan cepat aku memicingkan kedua mataku untuk beradaptasi menerima rangsangan cahaya terang masuk ke pupil mataku.
Ummah kembali duduk di sampingku dan menanyakan keadaanku sambil merapikan khimar ku. Saat aku dan Ummah sedang mengobrol mengenai kondisiku.Tiba-tiba Bik Siti masuk dengan membawa nampan berisi makanan untukku.
"Assalamu'alaikum, " ucap Bik Siti sambil meletakkan nampan berisi makanan di atas meja di samping tempat tidurku.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ,"jawabku dengan Ummah secara bersamaan.
" Nak Rani makan dulu ya, setelah ini minum obat. Oh ya Bibi sampai lupa Dokter tadi berpesan kepada Bibi untuk mengoleskan salep pada tubuh Nak Rani yang lebam supaya tidak nyeri, "kata Bik Siti sambil mencari obat salep yang ia maksud.
__ADS_1
"Bik Siti biar saya saja yang mengoleskannya, "pinta Ummah kepada Bik Siti.
"Baik Bu Putri sebentar ya, saya cari dulu salepnya, "sahut Bik Siti.
Sambil menunggu Bik Siti mencari salep dan menyiapkan obat untukku minum setelah makan. Ummah langsung berdiri menutup pintu kamar dan menguncinya, lalu Ummah berjalan kembali dan duduk di sampingku, dan menyuruhku melepaskan pakaian untuk mengoleskan salep pada bagian tubuhku yang lebam. Dengan perlahan Ummah mengangkat kain Khimar yang menutup kepalaku, dilihatnya dengan seksama keningku yang mulai menghitam karena terbentur saat terserempet mobil, lalu saat lengan kain gamisku aku angkat ke atas Ummah terlihat begitu sangat terkejut melihat tanganku begitu lebam berwarna hitam ungu kebiru-biruan.Dan Ummah pun berteriak histeris dengan matanya yang berkaca-kaca. "Ya Allah Nak. Kenapa bisa sampai seperti ini. "
Bik Siti yang mendengar teriakan Ummah langsung menolehkan mukanya ke arahku dan sama seperti Ummah Bik Siti pun juga terlihat sangat terkejut melihat lenganku begitu sangat lebam. Bik Siti lalu bergegas mendekat ke arahku. Aku pun menatap Ummah dan Bik Siti yang sangat mengkhawatirkan diriku .Mereka berdua secara bersamaan mengoleskan salep secara bergantian pada bagian tubuhku yang lebam.
Akh, pantas saja tubuhku terasa nyeri dan ngilu,rupanya bekas tabrakan mobil yang membentur tubuhku sudah mulai menghitam kebiruan, batinku di dalam hati. Bik Siti kemudian menyuruhku untuk segera makan, supaya aku dapat minum obat setelahnya.Sebenarnya aku tidak sedang berselera untuk makan ,tetapi aku harus memaksakan makan agar tubuhku memiliki tenaga dan dapat meminum obat setelah ini.
Setelah diriku selesai makan dan minum obat. Bik Siti dan Ummah izin untuk keluar kembali menyelesaikan musyawarah mengenai akad nikah dan resepsi Wirda dan Kak Rafa. Aku ingin ikut serta bersama Ummah dan Bik Siti supaya dapat membantu acara persiapan akad nikah dan resepsi Wirda juga Kak Rafa, tetapi Ummah dan Bik Siti melarangku. Mereka ingin agar aku tetap beristirahat karena melihat kondisiku yang masih tidak memungkinkan untuk ikut terlibat membantu acara pernikahan Kak Rafa dan Wirda.
"Nak kamu sebaiknya di sini dulu untuk tetap beristirahat ya. Ummah tahu kamu ingin sekali ikut serta membantu dalam acara ini ,tetapi kamu juga harus sadar akan kondisimu .Ummah dan yang lainnya sangat mengkhawatirkan dirimu, jadi Ummah minta Rani tetap diam di sini dan tidak berpikiran macam-macam .Insya Allah setelah Rani kembali sehat ,nanti Rani dapat bergabung dengan yang lainnya. Rani mengertikan apa yang Ummah katakan, "ucap Ummah pelan sambil mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. Aku pun menganggukkan kepala dengan perasaan yang sangat berat bercampur dengan rasa sedikit kecewa yang menghampiri hatiku ,sebab aku ingin sekali menjadi bagian penting dalam acara lamaran sahabatku Wirda. Tetapi semua berada di luar kendaliku. Jadi apalah dayaku yang harus tetap berada di ruangan ini, untuk membuat kondisi tubuhku menjadi lebih baik kembali.
Mataku memandang kepergian Ummah dan Bik Siti yang keluar dari kamar ini.
BRuk...
Pintu pun tertutup, dan aku berada seorang diri di kamar Wirda yang besar tanpa melakukan apa-apa. Karena kebosanan dan juga rasa kegelisahan yang memenuhi hatiku .Aku pun perlahan turun dari ranjang tempat tidurku dan melangkah untuk melihat keluar jendela yang ada di kamar Wirda .Dari balik jendela ternyata pandanganku dapat melihat kegiatan yang ada di halaman dan di teras rumah Wirda. Sesekali mataku melihat langit yang begitu cerah dan terang rupanya hari sudah beranjak siang hari,di mana sang surya sudah mulai beranjak naik dan memancarkan sinarnya untuk menebarkan kehangatan dan cahayanya menyinari alam semesta. Cuaca memang sedikit kering tetapi tetap teduh dengan semilir angin sepoi-sepoi yang bertiup secara berayun-ayun membelai diriku dan ingin membuatku terlelap kembali.
Saat aku melihat keluar jendela, pandanganku mengarah pada halaman rumah Wirda dan hatiku sedikit tersentak dalam rasa kaget yang membuatku diam diselimuti dengan perasaan aneh yang tidak dapat ku mengerti ,dari tempatku berdiri aku pun melihat Ustad Fariz dan Kak Aisyah saling berbincang-bincang. Kulihat wajah sumringah dan bahagia dari keduanya. Kak Aisyah menunjukkan kamera yang ia pegang kepada Ustad Fariz yang menerima kamera tersebut,lalu Ustad Fariz melihat foto-foto yang diambil oleh Kak Aisyah dengan teliti.Mataku terus memandang ke arah mereka berdua, hingga kulihat Kak Aisyah sesekali mencuri pandang ke arah Ustad Fariz yang tertunduk melihat foto-foto yang ada di dalam kamera tersebut. Dan Ustad Fariz tidak menyadarinya, jika Kak Aisyah banyak melirik dan diam-diam menatap dirinya. Dari pandangan Kak Aisyah dapat kulihat .Jika Kak Aisyah sepertinya menaruh perasaan kepada Ustad Fariz itu dugaanku, tetapi aku tidak tahu apakah Ustad Fariz juga memiliki perasaan yang sama kepada Kak Aisyah.Hal yang membuat diriku tidak nyaman untuk melihatnya dan memikirkannya.Tidak
berapa lama kemudian Ustad Fariz pun memberikan kembali kamera yang ia pegang kepada Kak Aisyah, lalu mereka bercakap-cakap dengan begitu sangat akrab dan terlihat sangat nyaman sekali, terkadang kulihat mereka berdua tertawa dan terkadang mereka berdua terlihat serius .Melihat mereka begitu sangat dekat dan tidak canggung membuatku merasa tidak nyaman untuk terus melihat kedekatan Ustad Fariz dan Kak Aisyah. Rasanya aku ingin berusaha memalingkan pandanganku dari Ustad Fariz dan Kak Aisyah .Tetapi entah mengapa mataku seakan tidak ingin untuk lepas memandang mereka berdua dari tatapanku ,maka dengan kebisuanku disertai sorot mata yang terus mengarah kepada Ustad Fariz dan Kak Aisyah aku terus menerka-nerka apa yang mereka katakan dengan berbagai macam spekulasi pikiranku terhadap mereka berdua .Dan tidak tahu entah bagaimana tiba-tiba Ustad Fariz memandang ke arah diriku.
DEG...
DEG... DeG... Serrrrrrr..
Perasaan aneh yang kembali menyergap di hatiku, perasaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, sebuah perasaan yang membuatku merasa gelisah dengan rasa berdebar -debar seperti jantung ingin lepas, yang tidak dapat ku jelaskan. Karena merasa tidak nyaman aku pun pergi dari balik jendela tersebut dan menuju ke beranda di tempat kamar Wirda. Setelah aku pergi dari balik jendela kamar Wirda. Ustad Fariz pun kembali menoleh ke tempatku tadi berdiri. Namun ekspresi wajahnya tampak begitu risau setelah tidak melihat keberadaanku di sana. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit keruh dan kecewa. Berulang-ulang kali Kak Aisyah memanggil Ustad Fariz,tetapi tidak juga Ustad Fariz meresponnya. Kemudian Ustad Fariz pun berdiri , lalu berjalan menuju ke arah tempat semula aku berdiri, untuk melihat apakah aku masih berada di balik jendela itu atau tidak. Tetapi Ustad Fariz tidak melihat diriku ada di sana ,dengan sedikit menundukkan kepalanya disertai raut wajah kesedihan Ustad Fariz terlihat termenung. Dan Kak Aisyah pun berdiri mendekat ke arah Ustad Fariz untuk menanyakan keadaannya. "Afwan apa yang terjadi kepada Ustad Fariz? Mengapa Tiba-tiba Ustad terlihat sedih dan memikirkan sesuatu ?,"tanya Kak Aisyah dengan wajah yang serius. Ustad Fariz Pun tersentak, "Ah, tidak...tidak apa-apa Ukhti Aisyah. Ayo kita membicarakan lagi tentang wedding organizer yang akan kita pilih dalam membantu acara akad dan pernikahannya Rafa dan Wirda,"ucap Ustad Fariz berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Kak Aisyah pun menatap Ustad Fariz dengan pandangan yang sedikit curiga dan merasakan keanehan dari sikap yang Ustad Fariz tunjukkan kepada dirinya.
Sepertinya ada sesuatu yang berusaha disembunyikan oleh Ustad Fariz,gumam Kka Aisyah di dalam hati sambil memandang Ustad Fariz yang berjalan di dahapannya untuk kembali duduk di tempat semula.
Aku yang duduk di beranda kamar Wirda, yang memiliki tempat duduk efisien ,cermat berfokus pada konsep space-saving yang dan tidak terlalu luas. Di sekeliling beranda, adanya tempat duduk yang dirancang dalam bentuk huruf L yang sedang ku duduki sekarang,dimana letaknya berdampingan dengan dinding kayu yang dipasangi rak gantung dengan terdapat beberapa buku dan sedikit hiasan .Lalu di depan kursi jati kayu berbentuk huruf L dengan bantalan sofa lembut berwarna dark orange terdapat sebuah meja teras kecil dari batang pohon yang menjadi pusat perhatian dari beranda yang hemat ruang milik Wirda. Meskipun kecil, tetapi desain beranda di kamar tidurnya tertata secara rapi dan teratur sehingga membuatku merasa nyaman duduk di sini sambil meluruskan kedua kakiku pada sofa yang lembut. Ku sandarkan kepala ku pada dinding dan menghadap pada pagar besi hitam yang membatasi sofa tempatku duduk dengan area luar.
Wuzzz...
Angin berhembus menyejukkan tubuhku untuk seraya sebentar memejamkan kedua mata menikmati belaian angin yang ingin membuat diriku terlelap kembali.
Bahkan saat mataku terpejam masih kudapati raut wajah Ustad Fariz yang menatapku tajam.
__ADS_1
"Astaghfirullah, " ucapku sambil membuka mata ku perlahan.
Dan berapa terkejutnya diriku mendapati bayangan Ustad Fariz yang telah berada di hadapanku.Aku tersentak dengan menarik kedua kakiku yang semulanya kuluruskan, sambil sedikit memastikan apa yang kulihat itu hanyalah sosok bayangan Ustad Fariz yang duduk di hadapanku .Aku sedikit mengusap mataku dengan cara perlahan tanpa menguceknya dan memegang kedua wajahku dengan tanganku, untuk berusaha meyakinkan diriku bahwa yang kulihat ini hanyalah angan dan hasil bayangan imajinasi dari pikiranku saja .Berulang kali aku melafalkan istighfar untuk membuatku tersadar dan tidak terus menghayalkan Ustad Fariz yang berada di hadapanku agar segera menghilang pergi.Tetapi semua itu gagal bahkan bayangan Ustad Fariz seakan begitu nyata di hadapanku ,dan aku pun sedikit melongo akan hal yang terlihat oleh kedua mataku.Karena tidak ingin terus menerus melihat bayangan Ustad Fariz, aku pun memutuskan untuk beranjak berdiri meninggalkan beranda di tempat kamarnya Wirda. Namun, tiba-tiba terdengar suara memanggil diriku."Dek Rani mau ke mana?,"tanya bayangan yang kukira Ustad Fariz itu ternyata adalah benar-benar Ustad Fariz.
Aku terpaku dalam diamnya bibirku yang terasa terkunci dengan debat detak jantung ku yang terasa semakin kencang dan cepat.
"Dek Rani kenapa diam saja? Apakah Dek Rani baik-baik saja?, " tanya Ustad Fariz melihat ku.
Tetapi aku masih diam seakan tidak dapat menjawab pertanyaan dari Ustad Fariz.
Hingga tiba-tiba Ummah dan Wirda memegang bahuku dari kedua sisi yang membuatku segera terbangun dari keterpakuanku yang membuatku seperti membatu seketika. Wirda mengajakku duduk kembali di beranda tempat semula aku duduk. Sementara Ummah duduk di depan Ustad Fariz yang sedikit menghalangi pandangan Ustaz Fariz ke arahku. Ummah tersenyum melihatku begitu juga Wirda yang langsung mengusap bahuku pelan, sambil memelukku dengan menyadarkan kepalanya dengan kepalaku secara beradu di sisinya.
" Alhamdulillah Rani acara lamaran hari ini berjalan dengan lancar .Insya Allah Rafa dan Wirda akan melangsungkan akad pernikahan dan juga resepsi setelah 3 hari dari acara lamaran ini ,"ujar Ummah memberitahukan informasi kepada diriku. Aku pun hanya diam mendengarkan perkataan Ummah tanpa berkata apa-apa. Lalu Wirda memandang ke arah Ummah dengan tatapan yang sedikit sungkan, tetapi ia tetap berusaha menyampaikan apa yang ada di hatinya. "Ummah,jika boleh Wirda ingin sampai hari pernikahan tiba. Rani menginap di rumah Wirda ya Ummah, karena Wirda ingin menghabiskan sedikit waktu yang tersisa bersama Rani secara optimal sebelum Wirda menikah, sambil bercerita banyak hal dengan Rani, "pinta Wirda kepada Ummah yang terdiam.
Ummah terus berpikir, sebenarnya hatinya sangat berat untuk membiarkan diriku menginap di rumah Wirda, karena Ummah tahu setelah pernikahan putranya Rafa dan Wirda ,maka aku akan keluar dari kediaman rumahnya, dan jika aku menginap di rumah Wirda maka kedekatan dan kebersamaanku bersama dengan Ummah akan berkurang, tetapi Ummah tidak ingin menjadi seorang yang egois .Walaupun sulit baginya untuk mengatakan iya ,tetapi akhirnya Ummah juga tetap membolehkan diriku menginap di rumah Wirda sesuai permintaan Wirda.
Mendengar Ummah memberikan Izin,Wirda pun sangat bahagia dan mengucapkan terima kasih kepada Ummah sambil memelukku erat.
" Auwwww, " ucapku sedikit berteriak karena pelukan Wirda yang sangat erat membuat rasa nyeri dan linu di tubuhku akibat tertabrak mobil menjadi terasa nyeri lagi.
"Astagfirullah maafkan aku ya Ran ,karena terlalu bahagianya aku tidak tahu jika badanmu masih sakit akibat tertabrak mobil, sekali lagi maafkan aku ya Ran, "ucap Wirda dengan wajah yang menyesal .
Aku pun mengangguk pelan dan mengerti akan rasa kebahagiaannya itu, "Iya Wirda tidak apa-apa aku baik-baik saja, " kataku pelan.
Dan saat aku melayangkan pandangan ke arah Ummah, tatapanku kembali beradu dengan pandangan Ustad Fariz yang menatapku dengan sorot mata penuh arti yang tidak kumengerti,dan dengan cepat aku pun memalingkan wajahku ke arah Ummah yang juga tersenyum kepadaku.
Suara adzan untuk melaksanakan salat zuhur pun berkumandang dengan keras, kami semua terdiam menikmati seruan untuk menyembah Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang begitu menyentuh hati dan pikiran kami khususnya diriku yang merasa jauh lebih tenang. Dalam keheningan dan ketenangan secara lirih kami semua menjawab setiap kalamat adzan dan menutup nya dengan di'a setelah adzan berkumandang. Kami semua pun beranjak turun untuk melaksanakan ibadah salat zuhur di mushola di kediaman rumah Wirda, dengan Ustad Fariz yang menjadi imam salat. Kami semua pun larut dalam kekhusyukan menunaikan ibadah kami untuk menyembah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Selesai melaksanakan salat zuhur secara berjama'ah Ustad Fariz membaca dzikir dan berdo'a diikuti oleh kami semua.
Gema merdu suara Ustad Fariz begitu menenangkan dan memukau hati, rasanya tenang dan damai dalam bacaannya yang fasih dan nikmat membuai indra pendengaran. Dan selesai melaksanakan salat zuhur semua orang pun beranjak keluar dari musholla, tetapi aku masih diam dan memanjatkan do'a kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.Untuk memenangkan hatiku yang berkecamuk dalam perasaan yang terus muncul saat berada di dekat Ustad Fariz.
" Bismillahirohmanirohim.
Allohumma inni as-aluka hubbaka, wa hubba man yu-hibbuka, wa hubba kulli ‘amalin yushi-luni ila qurbika, wa an taj ’alaka ahab-ba ilayya mima siwaka, wa an taj’ala hubbi iyyaka qaidan ila ridhwânika, wa syawqi ilayka dzaidzan ‘an ‘ishyânika, wamnun binna-zhari ilayka ‘alayya, wanzhur bi’aynil, wuddi wal ‘athfi ilayya, walaa tashrif ‘annii wajhaka, waj’al-nii min ahlil is’aadi wal khuzhwati ‘indaka yaa Mujiibu yaa Arhamar raa-himiin.
Ya Allah, hamba memohon cinta-Mu, cinta seorang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. Jadikan Engkau lebih aku cintai dari pada selain-Engkau. Jadikan cintaku pada-Mu dapat membimbingku pada ridho-Mu. Jadikanlah kerinduanku pada-Mu sehingga mencegahku dari maksiat. Anugrahkanlah padaku pandangan-Mu.Tataplah diriku dengan pandangan kasih sayang. Jangan palingkan wajah-Mu dariku. Jadikanlah aku di antara para penerima anugerah dan karunia-Mu. Wahai Dzat yang Maha Pemberi Ijabah. Ya Arhamar rahimin.
Aamiin ya robbal alamin, "ucapku pelan sambil mengusap kedua tanganku pada wajahku.
Kemudian aku melepaskan mukena dan melipatnya dengan rapi ,saat aku hendak berdiri dan melayangkan pandanganku ke depan. Ustad Fariz berdiri tidak jauh dari hadapanku dan sekali lagi pandangan mata kami kembali beradu, rasanya sesuatu getaran aneh menjalar ke seluruh tubuhku, yang membuatku seakan tidak berdaya dan kuasa untuk berada di dekat Ustad Fariz. a
Aku pun dengan segera menundukkan pandanganku, begitu juga yang dilakukan oleh Ustad Fariz. Dalam kebisuanku dan diamnya Ustad Fariz,kami pun berjalan berlawanan dan sesekali keinginan hati kami membuat indra penglihatan yang kami miliki untuk saling melirik melihat diri kami masing-masing secara berlawanan.
__ADS_1
"Oh ya Allah, perasaan apa ini yang bersemayam di hatiku. Semoga engkau menuntun hatiku kepada jalan kebenaran dan membawaku padahal yang baik, sehingga dapat terus mengistiqomahkan hati, pikiran dan kehidupanku untuk senantiasa mencintai-Mu secara utuh di dalam menjalani kehidupan yang fana ini ,"ucapku dalam hati berupaya menenangkan perasaanku yang terus bergetar saat berada di dekat Ustad Fariz.