
Dalam satu hari Tuhan memberikan waktu selama 24 jam. Dimana hitungan waktu itu akan terus berputar setiap detik dan menit.
Waktu secara substansial yang tidak akan pernah mengulang suatu periode yang telah kulalui, di dalam kehidupan ini.
Ia akan terus berjalan linier menjelajahi suatu masa, periode, dan peradaban. Dimana ia akan selalu menyaksikan perjalanan sejarah kehidupan ku yang terus bergerak maju, meskipun tidak sedikit pun ia mampu memberikan penjelasan atas deskripsi semua peristiwa kehidupan ku.Baik itu bahagia, duka atau kesedihan sebagai pewarnanya.
Dua tahun sudah berlalu begitu cepatnya, tanpa ku sadari Rani kecil semakin dekat dengan diriku, begitu pula diriku dengannya. Hadirnya adalah warna kebahagiaan, di dalam kehidupan ku dan juga di kehidupan keluarga Imandar serta keluarga Kak Roy.
Begitu cepat perputaran sang waktu,
yang tidak akan mau menunggu, maupun berhenti, dan mengulang cerita atau peristiwa bahagia yang sama.
Keluarga Kak Roy semakin dekat dengan keluarga Imandar. Begitu pula dengan diriku dan Kak Roy. Alasan utama yang membuatku dan Kak Roy semakin intens bertemu adalah karena putri kecilnya, yang kini tumbuh semakin pintar dan tak dapat jauh dari diriku.
Melihatnya seperti menyaksikan potret diriku semasa kecil, yang lincah penuh kebahagiaan meskipun tidak memiliki orang tua yang lengkap.
Rani kecil begitu menyayangiku, begitu pula diriku dan semua orang yang dengan sepenuh hati senantiasa selalu mencurahkan kasih sayang untuk dirinya, tanpa henti.
Hari ini kedua keluarga yaitu keluarga Imandar dan keluarga Kak Roy. Bersatu menikmati liburan bersama. Dan termasuk dengan diriku yang ikut serta.
Deretan pohon cemara berjajar ,berselimut hangat dihamparan guguran daun yang terlihat kering, menebarkan wangi aromanya yang menggugah lamunan di kala keheningan tiba-tiba menyita diriku.
Tepian hatiku, berkelip memancarkan kenangan tentang dirinya yang telah pergi.
Dengan tumpukkan rindu, laksana getah yang menjerat hati dan pikiranku, yang tak mau lekang.
Dahan dan ranting-ranting cemara pun terdengar mengenai,suaranya lirih lalu kuat menggema sampai jauh.
Beberapa dahan tertangkap, lalu merapuh saat dipukul angin yang kuat memeluk rindu.
Akh, dadaku terasa terhimpit dan sesak.
Mengenang rindu yang begitu mendera akan Mas Fariz.
Pandanganku menatap nanar pada pantai di hadapan ku, dengan ombaknya yang besar bergulung-gulung sebesar gunung,kemudian terdengar bergemuruh mewarnai suasana pantai.
Burrrr....
Aku tersentak dari lamunanku.
Rani dan Kak Roy berjalan menghampiri diriku.
"Mama! Ayo kita jalan-jalan dipasir pantai, " ajaknya padaku sambil menarik jemari tangan ku kencang, seraya memaksa diriku untuk segera berdiri.
Aku pun tidak dapat menolak keinginannya, dan segera bangun dari duduk ku. Kemudian, mengikuti langkah kaki kecilnya.
Kak Roy pun melemparkan senyumnya padaku, dan turut berjalan perlahan mengiringi langkah kakiku dan Rani.
Dalam beberapa langkah, Rani berhenti mendadak.
"Kenapa sayang?, " tanyaku memastikan jika keadaan nya baik-baik saja.
Rani tersenyum padaku, dengan menunjukkan deretan giginya yang kecil tersusun rapi.
"Rani, mau menunggu papa sebentar mah, " jawabnya padaku.
Aku mengangguk, lalu ia berteriak memanggil Kak Roy untuk cepat mendekat ke arah kami.
Tak lama kemudian, Kak Roy yang sudah berjalan bergegas. Telah tiba di dekat diriku dan Rani.
Rani tersenyum lebar, lalu mengenggam jemari tangan Kak Roy dan diriku.
Aku dan Kak Roy saling melihat satu sama lain.
"Rani, ingin jalan-jalan di sepanjang pasir pantai. Dengan terus ditemani mama dan papa, " ucapnya sambil tersenyum.
Aku pun langsung mengusap kepalanya dan membalas senyum indahnya.
__ADS_1
Begitu pula Kak Roy yang menatap putri kecilnya dengan penuh cinta.
Aku dan Kak Roy berjalan bersama-sama, dimana Rani berada di antara kami berdua. Dengan terus mengenggam jemari tangan ku dan Kak Roy. Ia begitu bahagia dan terkadang meloncat-loncat kegirangan.
Kami terus berjalan menikmati keindahan pantai ,dengan cara menyusuri pantai lalu menuju kebun pohon cemara. Tempat ini memberikan keagungan alam yang menakjubkan. Dengan keindahan panorama pantai yang masih alami dengan ciri khas pohon cemara udang yang tumbuh menyatu membentuk dan menyerupai lorong seperti goa.
Dimana keindahan pohon cemaranya yang menyuguhkan kesejukan di pinggir pantai yang tak bisa didapatkan di tempat wisata lain.
Tidak jauh dari tempat ku berada, tampak seluruh anggota keluarga Imandar, baik Pak Budi Bik Inah, Tante Desi dan Om Surya sedang menikmati kuliner laut . Sedangkan Wirda bersama Kak Rafa mengajak putra mereka Fariz bermain di Embag, yaitu sebuah kolam yang diatasnya tumbuh padang rumput yang bisa dilewati seperti berjalan dikasur busa.
Semua orang terlihat bahagia dan menikmati liburannya.
Aku tersenyum kecil menatap raut wajah penuh kebahagiaan, dalam ekspresi semua orang yang ku sayang.
Bumi terus berevolusi pada matahari, yang terus membawa putaran nasib dalam kehidupan. Dimana setiap waktu yang bergulir,begitu berharga menentukan kesempatan.
Akan takdir kelahiran, kematian, kebahagiaan dan kesedihan.
Aku menghela napas panjang dan menikmati udara segar nan sejuk, yang membelai diriku. Segala sesuatu yang ada di masa depan tidak pernah kan dapat ku terka, terkecuali satu yang pasti terus bisa dipastikan di masa depan, yaitu waktu yang akan terus berjalan. Tanpa pernah memperdulikan keadaan diriku.
Rani tiba-tiba meminta di gendong olehku. Meskipun Kak Roy sudah menawarkan diri untuk menggendongnya, tetapi Rani tetap menolak dan ingin digendong oleh diriku.
Mendengarkan suaranya yang terus merenggek, membuat diriku langsung mengangkat tubuh mungilnya dan mendekap nya erat.
Ia tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundakku, tanpa mengeluarkan suara rengekkannya lagi.
Aku rasa ia sudah lelah, karena telah lama bermain istana pasir dan berkejar-kejaran dengan Kak Roy.
Dalam beberapa menit aku dan Kak Roy berjalan, Rani telah tertidur dalam gendongan ku.
Ku dekap tubuh mungilnya seraya memegang kepalanya.
"Apakah kamu tidak apa-apa dengan menggendong Rani?, " tanya Kak Roy padaku.
"Tidak apa-apa, kak, " jawabku.
Kak Roy terlihat khawatir padaku, lalu memandang ke sekitar mencari tempat, supaya kami dapat duduk.
Tempat yang teduh dengan beberapa pohon cemara rindang, yang berjajar rapi.
Aku dan Kak Roy segera melangkah ke sana, dimana angin terus berhembus menggoyangkan dedaunan di sekitar.
Sejuk dan menyegarkan, menebarkan bau air pantai dan pepohonan cemara.
Tidak lama berjalan, aku dan Kak Roy telah tiba pada kursi batu yang akan kami duduki, untuk beristirahat.
Aku pun duduk, begitu pula Kak Roy.
Dan beberapa orang juga turut duduk di dekatku juga Kak Roy, untuk melepaskan kepenatan setelah berjalan kaki.
Jemari mengusap kepala Rani perlahan yang masih tertidur sangat pulas dalam dekapan ku, dimana semilir angin juga semakin membuat tidurnya semakin lelap.
Dari tempatku duduk, pandangan mataku memandang ke arah pantai. Dimana ombak terus bergulung, lalu pecah menjadi hamparan air yang beriak perlahan dan tenang.
Kak Roy menatap ku, dengan wajahnya yang terlihat semakin gelisah dan tidak tenang.
"Ada apa Kak Roy?, " tanyaku.
Kak Roy salah tingkah, dan tersenyum kecil.
Dengan beberapa kali, kulihat air keringat membasahi keningnya. Padahal udara sedang sejuk dan tidak panas.
Aku semakin penasaran dengan sikapnya, hingga diriku pun bertanya lagi padanya, "Apa yang membuat Kak Roy terlihat gelisah? Apakah Kak Roy baik-baik saja?. "
Kali ini Kak Roy terdiam sesaat, lalu menoleh ke arahku beberapa kali dalam pandangan nya yang masih tegang.
Aku pun diam dengan terus mengamati perangai nya, dan tidak memaksa dirinya untuk mengatakan alasan di balik sikapnya yang aneh.
__ADS_1
Ku alihkan pandanganku darinya, dan melihat deretan pohon cemara di sekeliling ku. Sambil terus mendekap Rani dalam pelukan ku.
Tiba-tiba, suara Kak Roy memanggilku lirih dan pelan.
"Ran,!. "
Aku pun langsung menoleh ke arahnya.
"Ada apa Kak?, " tanya ku dengan melihat wajahnya yang masih tegang.
Kak Roy menghela napasnya beberapa kali, seolah-olah ada sesuatu yang menekan pada dadanya. Hingga membuat lidahhya terlihat sulit berkata kepada diriku.
Aku diam melihat ke arahnya, hingga suara yang bergetar sedikit terbata mulai berkata padaku.
"Ada sesuatu yang ingin kakak katakan kepadamu Ran, tetapi kakak mohon engkau jangan salah paham dan menjauh dari kakak, setelah apa yang ingin kakak katakan kepadamu, " ucapnya.
"Katakan saja Kak Roy, jika hal itu sangat penting dan begitu mendesak untuk Kak Roy, " kataku.
Kak Roy terlihat ragu, tetapi ia pun berusaha untuk mengatakan nya padaku. Meskipun ketegangan semakin tergambar jelas pada raut wajahnya.
Matanya terlihat berkaca-kaca, dan pandangan dalam melihat ke arahku.
"Menjadi seseorang yang mampu untuk selalu berada di dekatmu , dalam setiap keadaan dirimu merupakan suatu hal yang istimewa buatku, Ran," tutur Kak Roy lalu terdiam sesaat.
Aku melihat ke arahnya, lalu ia melanjutkan perkataannya lagi.
"Kamu tahu kenapa Ran?," tanyanya padaku.
Aku menggeleng kan kepalaku.
Sementara Kak Roy tersenyum kecil padaku.
"Karena dirimu itu adalah anugerah terindah yang pernah Allah hadirkan dalam kehidupan kakak. "
Aku terdiam mendengarkan perkataan Kak Roy, dengan memalingkan pandangan ku ke arah pantai.
"Ran, " panggil Kak Roy lagi lirih.
Aku pun hanya menoleh sekilas.
"Walaupun kakak bukan seseorang yang kau tunggu dan engkau harapkan, tetapi aku akan siap menemani hari-harimu Ran, dan mengisi kehidupan mu dengan penuh kebahagiaan. "
Kali ini aku melihat ke arah Kak Roy.
"Apa maksud dari perkataan Kak Roy?, " tanyaku.
Kak terdiam sesaat dan kembali memandangi diriku lekat, "Ran, perasaan kakak terhadap dirimu. Masih sama dan tidak berubah seperti dulu, bahkan semakin besar kakak mencintai dirimu hingga tanpa durasi dan tentang waktu. Kita sama-sama sendiri Ran... "
Kak Roy terdiam sesaat, dan menarik napasnya lagi.
"Kakak ingin mempersunting dirimu menjadi istri kakak Ran. Jika tidak untuk kakak, tolong pertimbangkan hal ini untuk Rani. Sebelum dirimu memutuskan nya. Karena kakak tahu hanya dirimu seorang, yang dapat menjadi ibu terbaik untuk putri kakak.
Tidak perlu engkau menjawabnya sekarang Ran. Kakak akan menunggu, tetapi tolong ingatlah Rani sebelum dirimu mengambil keputusan. Kakak berani mengatakan hal ini, sebab Rani begitu tidak bisa jauh darimu. "
Aku terdiam sesaat.mengatakan apapun, dan memikirkan ucapan Kak Roy. Sembari menatap wajah Rani yang tertidur pulas di dalam dekapan ku.
"Akan kupikir kan perkataan Kak Roy.Namun, itu bukan berarti diriku memberi harapan pada Kak Roy.
Karena jujur sampai saat ini, aku masih mencintai almarhum Mas Fariz dan tidak mampu untuk melupakan nya, " kataku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apakah engkau sangat mencintai nya Ran? Hingga dirimu tak mampu untuk melupakan nya. "
Aku mengganggukkan kepala ku.
"Mas Fariz memiliki tempat yang sangat spesial di hatiku Kak, dan tidak akan mampu di gantikan oleh siapapun juga, " ucapku.
"Bahkan diriku sekali pun Ran?, " tanya Kak Roy.
__ADS_1
"Iya, " jawabku singkat.
Dan Kak Roy langsung terdiam, seraya berpikir, dalam wajahnya yang tampak lesu tidak bergairah, setelah mendengar perkataan dariku.