
Setelah kepergian Tante Desi.
Om Surya bersama Kak Roy dan putrinya sangat terpukul. Mereka terus larut dalam kesedihan yang teramat sangat. Khususnya Om Surya, yang begitu sangat merasa kehilangan akan meninggalnya Tante Desi. Sepanjang hari, Om Surya hanya terus berdiam diri di kamar. Dan terus menangis tersedu-sedu selama beberapa hari ,setelah kepergian Tante Desi.
Sementara itu, Bude Ayu berusaha untuk mempengaruhi pikiran dan hati kak Roy. Dan memenuhi pikiran pemikiran yang negatif dan buruk terhadap hubungan pernikahan ku dengan Kak Reno.
Awal mulanya Kak Roy hanya diam dan tidak menggubris apa yang Bude Ayu katakan. Tetapi, semakin sering Bude Ayu mengatakan semua pemikiran secara berulang kali kepada Kak Roy.
Secara pelan dan tanpa Kak Roy sadari, ucapan Bude Ayu mulai terlintas dan mempengaruhi dirinya.
"Kamu itu laki-laki Roy, masak kamu diam dan menerima saja. Jika Rani lebih memilih menikah dengan mantan suaminya Reno dari pada dirimu. Dimana kita sama-sama tahu kan, jika Reno itu bukan laki-laki yang baik. Dan selalu membuat Rani terluka dan menderita. Pasti ada yang tidak beres sedang terjadi, hingga Rani mau menikah dengan Reno. Coba kamu pikirkan baik-baik, Roy!, " hasut Bude Ayu.
Kak Roy terdiam dan mulai terus memikirkan apa yang di sampaikan oleh Bude Ayu kepada dirinya.
Pandangan Kak Roy tertuju pada langit mendung dari ruang keluarga ia duduk menatap angkasa. Hatinya bergemuruh bersamaan dengan bunyi guntur yang datang. Ia begitu nelangsa dan hancur, untuk menerima kenyataan jika Tante Desi telah tiada dan perempuan yang sangat ia cintai harus pula meninggalkan dirinya, dan memilih menikah dengan dengan sahabatnya.
"Ran, mengapa kamu melakukan ini? Mengapa kamu harus kembali lagi dengan Reno? Mengapa kamu tidak memilih diri ku? Hingga sedikit saja ruang di hatimu tidak bersisa untuk ku, Ran."
Kak berkata pelan seorang diri dengan air matanya yang mengalir.
Kak Roy bingung dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang, ia benar-benar merasa hancur dan sangat terluka.
DUARrrrrr..... DUARrrrrr... DUARrrrrr...
Suara guntur bersahut-sahutan bersamaan dengan turun nya hujan yang deras.
BREssssss..... BREssss..
Alam pun seakan ikut turut berduka akan rasa kesedihan dan kekecewaan yang melanda hati Kak Roy.
Tiba-tiba, Kak Roy di kejutkan dengan kedatangan bibi pengasuh putrinya, yang datang ter gopoh-gopoh dan terlihat panik.
__ADS_1
"Nak Roy.. Nak Roy.. Tolong!, " ucap Bibi pengasuh sambil sedikit berteriak dan mendekati Kak Roy.
"Ada apa Bik?, " tanya Kak Roy panik.
"Nak Rani..! Nak Rani demam tinggi Nak, " jawab bibi pengasuh.
Kak Roy langsung tersentak dan bangun dari duduknya. Lalu segera berlari menuju kamar putrinya.
Sesampainya di kamar putrinya sudah ada Bude Ayu yang sedang mengompres kening Rani.
"Apa yang terjadi dengan Rani, Bude?, " tanya Kak Roy panik.
"Putri mu sepertinya demam tinggi, Roy. Jika panas tubuhnya tidak kunjung turun, kita harus segera membawa nya ke rumah sakit, nak."
Bude Ayu memandang wajah Kak Roy yang menangis, sambil memgusap putrinya dengan penuh kasih sayang.
Hingga secara tanpa sadar, putri Kak Roy terus memanggil ku berulang kali.
Melihat keadaan Rani semakin tidak baik, dengan cepat Kak Roy bersama bibi pengasuh dan Bude Ayu segera membawa putri Kak Roy ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan.
Dan benar ,untung saja Kak Roy mengambil keputusan yang tepat dengan membawa putrinya ke rumah sakit. Karena ternyata Rani mengalami kejang.
Kak Roy terduduk lemas melihat putri kesayangan nya berbaring lemah di atas ranjang pasien pada ruang ICU.
Melihat keadaan Kak Roy yang begitu terpuruk, sungguh membuat perasaan Bude Ayu menjadi sangat sedih.
"Roy,kamu yang tegar ya nak, " ucap Bude Ayu lirih sambil mengusap kepala Kak Roy yang terus menatap putrinya.
Bude Ayu menghela napas panjang dan dalam, lalu mengajak Kak Roy untuk keluar sebentar dari Ruang ICU. Kemudian, Bude Ayu meminta bibi pengasuh Rani untuk menjaga putri Kak Roy di ruang ICU.
Kak Roy tidak menolak, saat Bude Ayu meminta dirinya untuk keluar dan berbicara dengan nya.
__ADS_1
Mereka berdua lalu duduk, wajah gusar dan penuh dengan kesedihan begitu sangat jelas tergambar pada paras Kak Roy.
"Roy!, " panggil Bude Ayu pelan sambil mengusap kepala keponakan kesayangannya itu.
Kak Roy menoleh dan menatap wajah Bude Ayu dalam.
"Bude ingin melihat mu hidup bahagia. Dan Bude tahu, letak kebahagiaan mu itu ada pada Rani dan putri mu. Maka, bawalah Rani kemari dan masuk ke dalam kehidupan mu secara utuh. Jika engkau menolak, setidaknya demi putri mu. Bawa Rani dengan cara apa pun juga, meskipun harus membuat dirinya jauh dan berpisah dengan Reno, " ucap Bude Ayu.
Kak Roy menatap ragu pada wajah Bude Ayu, "Tetapi bagaimana mungkin bisa, Bude? Rani sudah menjadi istri Reno. Dan kita tidak tahu keberadaan mereka saat ini."
Bude Ayu tersenyum, "Maka cari cara untuk menemukan keberadaan nya. Bude tahu, pasti seluruh anggota keluarga Imandar sengaja untuk menyembunyikan Rani dan Reno, supaya jauh dari kota ini dan keluarga kita. Keluarga Imandar pasti berperan..dan sangat berperan dalam pernikahan Rani dan Reno."
"Bagaimana jika Rani menolak, Bude?, " tanya Kak Roy pasrah.
Bude Ayu mengusap kepala Kak Roy lembut, "Maka lakukan semua cara apa pun juga untuk mendapatkan Rani. Meskipun itu harus membuat dirinya terluka. "
"Tapi, bagaimana mungkin bisa Roy menyakiti Rani, Bude? Bude kamu tahu jika Roy sangat mencintai Rani!. "
Bude Ayu mengangguk, "Iya Bude mengerti Nak. Tetapi apakah kamu akan membiarkan putrimu dalam kondisi seperti ini, Roy?. "
Kak Roy menggelengkan kepalanya, "Tidak Bude. "
Bude Ayu menatap Kak Roy serius sambil menepuk pundaknya beberapa kali.
"Maka dari itu, kamu harus kuat dan melakukan nya Roy, setidaknya kamu memperjuangkan untuk kelangsungan hidup putri mu, dan tidak memikirkan semua dampak yang akan terjadi. Bukankah Rani, juga tidak peduli pada mu, dan memilih menikah dengan Reno. Yang nyata-nyatanya pemuda itu telah banyak membuat hidupnya sengsara, tetapi tetap saja Rani masih mau menikah dengan nya. Hal yang tidak Bude habis pikir, akan keputusan nya itu. "
Kak Roy terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Bude, ingin kamu benar-benar memikirkan perkataan Bude kali ini dan pikirkan dengan serius, nak, " ucap Bude Ayu sambil menepuk pundak Kak Roy dan mengusap kepala nya beberapa kali.
Kak Roy terdiam dan terus berpikir keras, untuk benar-benar dapat merealisasikan keinginan hatinya, untuk mendapatkan diri ku.
__ADS_1