
"Apa yang kamu lakukan di sini ?,"tanya Kak Reno dengan pasar kepadaku.
Tetapi aku masih diam belum menjawab pertanyaan darinya.
" Kamu kemari untuk menertawakan keadaan diriku sekarang, bukan!, "ucap Kak Reno lagi sedikit berteriak.
"Kenapa kamu hanya diam seperti orang bisu saja. Jika kamu datang kemari hanya untuk diam tanpa mengatakan apapun lebih baik kamu segera pergi dari sini .Karena kedatanganmu hanya membuang-buang waktuku saja dan membuatku semakin kesal, marah dan muak melihat wajahmu, " tutur Kak Reno dengan nada suara yang kesal dan marah.
Melihat kelakuan dan sikapnya yang semakin emosional .Maka aku tidak ingin berlama-lama dekat dengan dirinya.Lalu dengan perlahan aku mengangkat map yang berisi dokumen surat gugatan cerai yang sejak dari tadi berada diatas pangkuanku dan kupegang. Kuletakkan map yang berisi dokumen gugatan cerai tersebut lurus dari meja yang ada di depanku dan mendorongnya sedikit maju kedepan supaya Kak Reno dapat melihat dokumen tersebut.
"Apa itu?, " kata Kak Reno kasar.
"Kak Reno lihat dan baca saja. Setelah itu segera tandatangani dokumen tersebut untuk mempermudah prosesnya, " ucapku pelan.
Kak Reno mengambil map yang berisi dokumen gugatan cerai tersebut dan membacanya. Lalu terdengar oleh diriku ia membolak-balikkan kertas di dalam map tersebut.
"Apa ini surat gugatan cerai!, " teriak nya kasar kepadaku.
"Iya, " jawabku singkat.
"Kamu sudah berani mengajukan gugatan cerai kepadaku. Dan kamu pikir dengan semudah itu aku akan membubuhkan tanda tanganku pada surat gugatan ceraimu ini. Supaya kamu segera terbebas dariku dan dapat bersama dengan Roy atau memikat pemuda sok alim yang ada di masjid saat itu ketika bersamamu," ucap Kak Reno menuduhku.
"Terserah apa katamu Kak Reno dan aku tidak peduli akan pemikiranmu. Lagi pula kenapa kamu bersikukuh untuk tidak mau menandatangani surat gugatan cerai tersebut. Bukankah kamu sudah merasa jijik dan muakberada di dekatku. Lalu untuk apa kamu membelenggu diriku dalam sebuah ikatan yang sama-sama tidak kita inginkan? dan bukankah itu juga akan merugikan dan menyakitkan dirimu, "ucapku pelan.
"Itu bukan menjadi urusanmu, " ucap Kak Reno berkelit.
"Menurutmu mungkin bukan menjadi urusanku. Tetapi aku sudah tidak ingin lagi berurusan denganmu ataupun keluargamu. Dan aku ingin menjalani kehidupanku sendiri dari awal dan menata kembali ulang jalan hidupku yang telah engkau rusak dan engkau hancurkan olehmu dan keluargamu. Maka dari itu Kak Reno tidak usah bersikeras dengan tidak mau menandatangani surat tersebut. Ini semua demi kebaikan kita bersama. Setidaknya setelah kita berpisah kita dapat menjalani kehidupan kita masing-masing dan menjauh untuk selama-lamanya, " ucapku.
" Apa katamu segera menandatangani surat ini! Jangan bermimpi, "teriak Kak Reno sambil melempar map berisi dokumen surat gugatan cerai ke wajahku.
BRuaghhhhhh....
" Astaghfirullahaladzim ya Allah, "ucapku begitu terkejut dan kaget menerima perlakuan kasar Kak Reno.
Kertas dokumen yang berada di dalam map berhamburan.
"Jangan Kamu kira aku ini bodoh. Aku tidak akan pernah menandatangani surat gugatan perceraian itu sampai kapanpun juga," bentak Kak Reno padaku.
"Kamu tidak akan pernah bisa berpisah dariku untuk selamanya. Dan kamu akan selalu terikat denganku, "gertak Kak Reno lagi kepadaku.
"Baiklah jika itu memang sudah menjadi keputusanmu .Aku tidak akan memaksa dirimu untuk membubuhkan tanda tanganmu di dalam surat gugatan perceraian itu. Lagi pula aku kemari datang menemuimu secara baik-baik untuk menyampaikan niatanku berpisah dengan memberikan surat gugatan cerai ini sendiri secara baik-baik. Tetapi melihat sikapmu yang emosional dan selalu arogan sepertinya aku salah menilai dirimu yang belum bisa mengintropeksi keadaanmu sekarang. Lagi pula aku tidak memerlukan tanda tanganmu agar gugatan ceraiku bisa dikabulkan oleh hakim sebab aku sudah memiliki alasan kuat untuk berpisah denganmu," ucapku.
"Oh, jadi rupanya dirimu sudah semakin berani kepadaku. Apakah kau sudah tidak tahan lagi untuk segera bersama dengan Roy? Hah!, " teriak Kak Reno dengan sangat keras sambil memukulkan tangannya ke meja.
"Jangan bawa-bawa nama Kak Roy dalam masalah kita. Karena semua ini tidak ada kaitannya dengan Kak Roy. Dan berhentilah untuk menyalahkan dan menyakiti Kak Roy, " ucapku seraya hendak berdiri perlahan sambil memegang meja di hadapanku.
"Mengapa kamu marah jika aku menyebut dan memakai nama Roy? Apakah karena kau terlalu mencintai Roy dan ingin segera lekas bersamanya? HAH!, " tanya Kak Roy sambil berteriak.
Sreettt....
Terdengar olehku suara kursi yang di dorong ke belakang.
TAP... TAP... TAP...
Suara langkah kaki Kak Reno melangkah berjalan dengan sedikit cepat ke arahku. Lalu dia menarik tubuhku dan sedikit menyeretnya mendekat pada tubuhnya.
"Auwww...., " ucapku sedikit merintih.
"Sebenarnya apa yang menjadi tujuanmu Rani?,"ucap Kak Reno sambil mendorong tubuhku begitu dekat dengan tubuhnya.
Aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang begitu dekat dengan wajahku. Rasa gusar dan irama debar jantung yang tidak menentu seolah dapat terjamah oleh indra perabaku.
"Lepaskan aku Kak Reno, "punyaku kepadanya.
"Mengapa kamu ingin buru-buru menjauh dari dekapan suamimu sendiri?Apakah engkau tidak merindukan suamimu ini Rani?, " ucap Kak Reno seraya berbisik ke arah telingaku dengan suaranya yang sedikit melembut.
Aku menggeliatkan tubuhku dan merasa sangay tidak nyaman dengan sikapnya yang seperti itu.
"Lepaskan aku Kak Reno! Jika tidak.., " ucapku terputus.
__ADS_1
"Jika tidak apa, katakan, " ucap Kak Reno sambil menarik tubuhku semakin masuk ke dalam dekapannya.
"Aku akan berteriak, " gertak ku.
"Silahkan kamu berteriak saja. Aku tidak peduli. Lagi pula siapa yang akan peduli akan hal itu. Aku adalah suamimu yang sedang dekat dengan istrinya, " ucap Kak Reno dengan semakin mendorong wajahnya mendekati wajahku.
"Mengapa kamu tidak mau menatap diriku dan memalingkan wajahmu? Tetapi tidak saat Roy berada di dekatmu. Kau menatapnya dengan rasa bahagia, " ucap Kak Reno lagi dan semakin mendekap tubuhku erat.
"Hentikan Kak Reno! Lepaskan aku!, " ucapku sedikit berteriak.
Tetapi Kak Reno semakin tidak memperdulikan ucapanku.
"Mengapa dirimu tidak merasa nyaman berada di dekatku? Berbeda saat dirimu di dekat Roy. Apakah dirimu sangat mencintai Roy?, " tanya Kak Reno yang semakin mendekat ke arah wajahku.
"Jika benar Iya. Lalu kenapa?, " jawabku ketus agar Kak Reno segera menjauh dariku.
Tetapi dugaanku salah ia semakin menarik tubuhku masuk kedalam dekapannya.
" Bukankah kamu mengatakan jika kamu sudah muak dan jijik berada di dekatku. Lalu apa yang kamu lakukan sekarang ini, "ucapku mengolok Kak Reno.
Kak Reno diam dan tidak kudengar lagi suaranya.Namun, aku dapat merasakan ******* nafasnya yang hangat dan irama debar jantungnya yang terasa cepat dan berdetak semakin kuat. Aku terus meronta berusaha untuk melepaskan diri dari dekapannya. Tetapi Kak Reno terus menghalangi usahaku.
"Lepaskan aku Kak Reno!,"ucapku.
Kemudian aku berusaha memukul-mukul dadanya dengan kekuatanku. Tetapi sekali lagi usaha yang kulakuan sia-sia.
Dia dengan cepat menggenggam tanganku erat dan semakin menarik tubuhku masuk ke dalam dekapannya. Kurasakan nafasnya begitu dekat dengan wajahku dan aroma tubuhnya dapat terendus oleh indra penciumanku.
Tanpa kusadari dan begitu cepat ia telah mengecup bibirku dengan begitu lembut. Seketika pula aku terdiam dan begitu terkejut.Saat aku tersadar dengan cepat pula tanganku mendorong tubuh Kak Reno menjauh dari tubuhku. "Apa yang kamu lakukan Kak Reno?,"ucapku sedikit berteriak kepada Kak Reno.
Sungguh aku merasa kesal dan marah. Lalu Kak Reno berusaha mendekatiku lagi seraya berkata, "Mengapa kamu tidak ingin menatap wajahku Ran?,"ucapnya dengan nada sedikit melunak.
Aku berteriak sambil menunjukkan jariku, "Stop! hentikan! Jangan dekati aku lagi!,"ucapku tanpa tahu di mana keberadaan Kak Reno. Sementara itu, Kak Reno terus menatapku tanpa banyak berkata, "Pergi! pergi menjauh dariku!,"teriakku dengan keras sambil menangis.
Cekrekkkk...
Melihat keadaanku seperti tertekan. Santai saja Wirda dengan segera menumpahkan rasa kesal dan amarahnya kepada Kak Reno yang ada di hadapannya.
"Apakah Kak Reno sudah tidak cukup puas untuk menyakiti Rani?Apakah penderitaan yang Kak Reno berikan kepadanya masih belum cukup juga ?," ucap Wirda berteriak kesal.
"Sampai kapan Kak Reno akan terus membuat hidup Rani menderita seperti di dalam neraka? dan apakah Kak Reno itu tidak memiliki rasa iba atau simpati .Dimana hati nuranimu Kak Reno?,"ucap Wirda dengan sangat kesal sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah wajah Kak Reno.
Mendengar Wirda yang tersulut emosi.Aki mengkhawatirkan keadaannya.Takut jikalau Kak Reno lepas kontrol dan menyakiti Wirda. Lalu aku berjalan sambil sedikit meraba untuk mencari keberadaan Wirda. Tetapi karena pikiranku yang kalut.Seketika pula aku jatuh.
BRuuukkk...
"Ran !,"teriak Wirda dengan sangat cemas. Kemudian dengan cepat Wirda membantuku untuk berdiri, "Kamu tidak apa-apa Ran?,"tanya Wirda memastikan kondisiku.
"Iya Wirda. Sudahlah Wirda, ayo kita segera pergi dari sini, " pintaku pada Wirda.
Kak Reno terus menatap diriku.
"Mengapa Kak Reno sekarang hanya diam saja?,"tanya Wirda kepada Kak Reno.
Kak Reno lalu berjalan mendekat ke arahku. Wirda berusaha menghentikannya. Namun tidak bisa. Dengan cepat Kak Reno menarik tanganku dan menggenggamnya erat.
"Apa yang terjadi kepada Rani ?Kenapa dia tidak tahu dimana keberadaanmu dan keberadaanku? dan kenapa dia tidak melihat ke arahku saat berbicara ?,"tanya Kak Reno kepada Wirda dengan rasa ingin tahu. Mendengar pertanyaan Kak Reno Wirda pun tersenyum sinis sambil mendekat ke arah Kak Reno dan melepaskan genggaman tangan Kak Reno dari tanganku.
"Kenapa sekarang Kak Reno peduli tentang Rani dan ingin tahu keadaannya ?Apakah itu penting untuk Kak Reno?,"tanya Wirda dengan sangat ketus.
"Aku bertanya padamu! dan jawablah!,"pinta Kak Reno kesal sambil berteriak kepada Wirda.
"Baiklah jika Kak Reno memang benar-benar ingin tahu, "ucap Wirda dengan wajahnya yang datar.
Kak Reno menunggu jawaban dari pertanyaannya kepada Wirda sambil sesekali melirik ke arahku.
" Sudahlah Wirda, ayo kita pergi saja dari sini, "pintaku dengan raut wajah sedih.
" Tidak Ran, sebelum Kak Reno tahu apa yang telah ia lakukan terhadap dirimu. Aku tidak akan pergi. Sebab dialah yang bertanggung jawab terhadap kondisi mu sekarang, "ucap Wirda terbawa emosi.
__ADS_1
" Apa maksud perkataan mu?, "tanya Kak Reno semakin penasaran.
"Kak Reno ingin tahub bukan.Apa yang terjadi kepada Rani. HAH!," teriak Wirda.
"Wirda, " ucapku menghentikan Wirda.
"Tidak Ran. Jangan mencegahku kali ini, " bantah Wirda.
Wirda lalu mendekat ke arah Kak Reno sambil memegang tanganku.
"Rani telah kehilangan penglihatannya dan menjadi buta secara permanen dan itu semua karena tindakan Kak Reno, " ucap F
Wirda sambil menunjukkan jari telunjuknya kepada Kak Reno.
Kak Reno tersentak, "Kamu berbohong."
"Untuk apa aku membohongi Kak Reno. Oh ya dan kenapa Kak Reno berpura-pura berekspresi dengan menunjukkan raut wajah sedih. Bukankah hal ini membuatmu bahagia dengan melihat kondisi Rani seperti ini. Dan ini kan yang Kak Reno harapkan dengan melihat Rani semakin menderita.Kenapa tidak sekalian saja kak Reno melenyapkan Rani daripada membuat hidupnya menjadi sengsara dan menjadi cacat seperti ini !,"ucap Wirda dengan sangat kasar kepada Kak Reno.
Kak Reno terdiam mendengar kata-kata Wirda.
Lalu ustad Fariz, Kak Rafa dan pengacara masuk untuk menghentikan Wirda dan mengambil dokumen gugatan ceraiku yang berceceran di lantai.
" Dek Wirda sudah, istighfar, "tutur ustad Fariz.
" Iya Wirda. Ayo kita pergi dari sini. Percuma bicara dengan Kak Reno tidak akan ada hasilnya, "bujuk ku pada Wirda.
Dengan raut wajah yang masih sangat kesal Wirda pun akhirnya menerima ajakanku untuk segera meninggalkan ruangan itu. Aku Wirda, Ustad Fariz, Kak Rafa dan pengacara akhirnya keluar dari ruangan tempatku bertemu dengan Kak Reno. Tidak lama kemudian aparat kepolisian menghampiri Kak Reno dan membawanya untuk masuk kembali ke sel tahanan.Tetapi kak Reno tetap diam terpaku dan terus melihat ke arahku. Kak Reno menatapku dalam seperti membatu. Dia terus tidak melepaskan pandangannya hingga aku pergi menjauh dan hilang dari penglihatannya."Ran, Apakah kamu baik-baik saja?,"tanya Wirda sambil berjalan menuntunku menuju ke tempat Pak Budi dan Bik Siti berada menunggu kami.
"Iya Wir, "ucapku pelan sambil menganggukkan kepala.
"Wir .Apakah kamu merasakan ada sikap yang aneh dari Kak Reno tadi ?,"tanyaku kepada Wirda.
"Sikap aneh seperti apa maksudnya Ran?,"tanya Wirda balik kepadaku.
"Sikap yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Tetapi entahlah mungkin hanya perasaanku saja, "ucapku kepada Wirda untuk mengganti topik pembicaraan.
Wirda menatapku seraya berpikir sesuatu yang tidak ia ungkapkan kepadaku.
Tidak lama kemudian kami semua sudah tiba di tempat Pak Budi dan Bik Siti menunggu kedatangan kami .
"Bagaimana tidak terjadi sesuatu hal kan kepada nak Rani?,"tanya Bik Siti cemas sambil mengusap bahuku pelan. "Alhamdulillah Rani baik-baik saja Bik Siti, " jawab Wirda.
Bik Siti tersenyum lega mendengar jawaban Wirda.
"Ya sudah kalau begitu. Mari Kita sekarang menuju ke rumah kediaman Nak Wirda. Supaya Nak Rani segera dapat beristirahat, "ucap Pak Budi mengajak kepada semua orang.
Semua orang pun setuju dengan ajakan Pak Budi dan segera bergegas menuju mobil dan meninggalkan kantor kepolisian yang menahan Kak Reno.
Bremmmmm....
Mobil melaju perlahan semakin lama semakin cepat dan pergi menjauh dari tempat Kak Reno ditahan. Sementara aku yang berada di dalam mobil terdiam dan tanpa banyak mengatakan kata-kata.
Entah aku merasakan kegelisahan dalam pikiranku seperti ada sesuatu yang menganjal di hatiku dan terasa berat.
" Apa yang sedang kamu pikirkan Ran? Sejak keluar dari ruangan bertemu Kak Reno kulihat dirimu terne nung dan banyak memikirkan sesuatu. Ada apa Ran?, "tanya Wirda yang mengamatiku sejak tadi.
" Aku, tidak ada apa-apa Wirda, "jawabku menutupi kegelisahan hatiku.
" Benarkah itu Ran?, "tanya Wirda tidak percaya.
" Iya Wirda, "jawabku berusaha meyakinkan dirinya.
" Baiklah jika kamu mengatakan seperti itu Ran. Aku hanya ingin mengharapkan hal yang terbaik darimu dan keadaanmu dalam keadaan baik-baik saja ,"ucap Wirda kepadaku sambil mengusap bahuku pelan. "Iya Wir ,terima kasih. Kamu memang sahabat terbaikku, "jawabku sambil memegang tangan Wirda.
Mobil yang dikendarai Pak Budi terus melaju. Dalam deru suara mesin mobil yang terdengar. Aku merasakan kekosongan yang menyelimuti hatiku seketika. Entah apa yang bergelayut di dalam hati dan pikiranku yang ingin aku gali dan kutemukan akan rasa gusar ini .Tetapi semakin aku berusaha untuk mengetahuinya aku semakin tidak yakin dan menambah kegalauan hatiku.
Ku tarik napas dalam dan panjang perlahan untuk melapangkan hatiku seraya membaca do'a di dalam hati.Supaya kesusahan di dalam hatiku menghilang dan pergi. "Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu'minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna'u bi 'atho-ika.( Artinya: Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu) ".
Hatiku menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
__ADS_1