
Alhamdulillahi rabbil 'alamin khamdan katsira yuwafi ni'amahu wa yukafiu mazidahu. (Segala puji Allah Tuhan semesta alam, pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan menjamin tambahannya),ucapku di dalam hati.
Aku yang duduk terdiam mendengarkan beberapa langkah kaki yang berjalan ke arahku, Wirda dan Ustad Fariz.
" Nah itu dia Dek Rafa beserta keluarga saya yang lainnya .Dek Wirda dan Dek Rani ,"ucap Ustad Fariz memberitahukan kepada Wirda dan diriku.
Tidak lama setelah itu Kak Rafa terdengar berjalan semakin dekat dengan beberapa orang dengannya.
" Assalamualaikum," ucap seseorang laki-laki memberi salam kepada kami.
" Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawabku dengan Wirda dan ustad Fariz secara bersamaan.
Wirda lalu bangkit berdiri dan menyalami berapa orang yang ikut serta dengan Kak Rafa.
Sementara aku yang juga ingin melakukan hal yang sama dengan Wirda.Namun dicegah oleh semua orang yang ada di ruang tamu tersebut.
" Nak Rani,duduk saja tidak usah berdiri nak," ucap seseorang perempuan dengan suaranya yang lembut sambil memegang jemari tanganku.
" Oh ya Nak Rani pasti bingung ya.Kenalkan saya Ummunya Fariz dan Rafa.Fariz banyak bercerita tentang Nak Rani kepada kami," ucap Ummunya ustad Fariz kepadaku.
"Eh..iya tante," ucapku sambil meraba tangannya dan hendak mencium tangannya.
"Panggil Ummah saja ya nak,jangan tante," ucap Ummunya ustad Fariz sambil mengusap lembut kepalaku setelah aku mencium tangannya.
"Baik Ummah.Terima kasih banyak Ummah sudah bersedia menerima saya kemari dan mohon maaf sudah merepotkan dan menyusahkan ummi dan seluruh keluarga ustad Fariz," ucapkan pelan.
Jemari tangan Ummunya ustad Fariz membelai kepalaku lagi dengan lembut. Lalu mengajakku untuk duduk kembali disertai Ummunya ustad Fariz.
Semua mata yang hadir di ruang tamu menatap ke arah kami.
"Rani kenapa bicara seperti itu. Ummah senang dapat bertemu langsung dengan Rani. Apalagi mengetahui Rani akan berada sementara waktu disini beserta dengan Wirda, " ucap Ummunya ustad Fariz sambil memandang ke arah Wirda juga dan mengusap pipi Wirda.
Wirda pun tersenyum malu dan sedikit rasa sungkan terhadap perlakuan Ummunya ustad Fariz. Lalu Wirda juga menyalami Ummunya ustad Fariz dengan mencium tangannya. Ummah terlihat senang dan membelai lembut kepala Wirda juga.
"Alhamdulillah.MasyaAllah, hari ini Ummah mendapatkan dua orang putri yang sholehah dan cantik, " puji Ummah kepadaku dan Wirda.
"Hehehe, Ummah bisa saja memujinya, " sahut Wirda meringgis.
"MasyaAllah Tabarakallah, "sahut ku pelan.
Ummah yang duduk ditengah diapit oleh diriku dan Wirda terus memegang jemari tangan kananku dengan lembut.
" Rani dan Wirda, perkenalkan yang duduk di samping Fariz itu adalah abinya Fariz dan Rafa juga Zauji atau suami Ummah. Lalu yang duduk di samping Rafa adalah kakeknya Fariz dan Rafa juga mertua Ummah.Biasanya Fariz dan Rafa memanggil kakeknya dengan panggilan Enjid atau Njid, "ucap Ummunya ustad Fariz menjelaskan kepadaku dan Wirda.
" Selamat datang dan salam kenal Nak Wirda dan Nak Rani di kediaman kami, "ucap Abinya ustad Fariz kepadaku dan Wirda.
"Iya om terima kasih, " balas Wirda.
"Jangan panggil om Nak Wirda. Panggil Abi saja ya, " pinta Abinya ustad Fariz kepada Wirda.
"Oh iya Abi, terima kasih telah mengizinkan saya, Rani, Bik Siti dan Bik Inah sementara waktu untuk menetap di kediaman Abi, " ucap Wirda.
"Sama-sama Nak Wirda, tidak apa-apa, " balas Abi.
"Nak Rani bagaimana keadaannya?, " tanya Abi kepadaku.
"Alhamdulillah saya baik Abi, " jawabku pelan.
__ADS_1
"Rani jangan merasa sungkan dan malu disini ya. Nanti jika perlu sesuatu Rani bisa meminta tolong dengan Bik Inem ataupun dengan Ummunya Fariz dan Rafa, " ucap Abi kepadaku.
"Iya Abi. Terima kasih karena sudah bersedia untuk direpotkan oleh kehadiran saya disini, " kataku.
"Akh, Nak Rani jangan berkata seperti itu. Tidak ada yang direpotkan. Kami sekeluarga justru senang Fariz dan Rafa dapat membantu Nak Rani, " ucap Abi lagi.
"Enjid sungguh tidak menduga akan bertemu dengan Rani. Cucu dari sahabat karib Njid yaitu almarhum Widiyanto, " sahut kakeknya ustad Fariz.
"Berarti Njid sangat mengenal baik almarhum kakeknya Rani?, " tanya Kak Rafa.
"Tentulah Rafa. Siapa yang tidak mengenal almarhum Widiyanto. Beliau adalah orang terpandang dan sangat ternama yang memiliki aset begitu banyak. Namun beliau sosok sederhana dan dermawan kepada semua orang, " jawab Enjid.
"Tetapi setelah Njid mendengarkan semua kisah yang terjadi pada sahabat kakek almarhum Widiyanto beserta anak, menantu dan cucu keturunannya Rani. Enjid merasa sangat bersedih dan sungguh tidak membayangkan jika semua ini terjadi akibat dari ulah Suprapto.
"Ternyata Enjid adalah sahabat almarhum kakek saya, " ucapku pelan.
"Betul Nak Rani. Dan Alhamdulillah sekarang Enjid di pertemukan dengan cucu sahabat terbaik Enjid yaitu Nak Rani .Maka dari itu Nak Rani jangan merasa sungkan dan merasa bersalah atau merasa sangat merepotkan keluarga Enjid. Enjid tekankan kepada Nak Rani. Bahwa Enjid dan seluruh keluarga Enjid tidak memiliki pikiran merasa direpotkan apalagi disusahkan oleh kehadiran Nak Rani. Enjid justru malah senang dan bahagia bisa menolong Nak Rani karena Rani itu juga sudah Enjid anggap seperti cucu Enjid sendiri. Almarhum kakek Nak Rani adalah orang yang sangat baik dan banyak sekali membantu Enjid semasa hidup nya. Sebelum Enjid memulai dan merintis semua usaha -usaha yang berkembang pesat sekarang ini.Ada campur tangan dan bantuan besar dari almarhum kakek Nak Rani. Beliau tidak pernah pelit akan ilmu dan selalu ringan tangan terhadap sesama .Dan karena kebaikan dan ketulusan hatinya itu pula almarhum kakek Nak Rani itu dimanfaatkan oleh Suprapto .Dan setelah kepergian kakeknya Nak Rani . Enjid berusaha mencari keberadaan almarhum nenekmu tetapi tidak bisa ditemukan. Ya hingga akhirnya Fariz menceritakan semua kejadian saat dia bertemu dengan pak Budi dan Nak Rani .Dan Pak Budi juga telah menyampaikan semua hal tentang Nak Rani dan Enjid turut berduka cita atas meninggalnya almarhumah Bundamu ya nak. Enjid juga sangat sedih mendengar perlakuan buruk dari semua keluarga Suprapto terhadap Nak Rani .Dan memang mungkin ini adalah jalan yang Allah Subhanahu wa ta'ala berikan agar Nak Rani terbebas dari belenggu keluarga Suprapto dengan bantuan cucu Enjid yaitu Fariz dan Rafa .Oleh karena itu, Rani jangan merasa sungkan ya nak. Enjid dan seluruh keluarga akan berusaha mengoptimalkan dan membantu Rani agar dapat terbebas dari jeratan keluarga Suprapto. Dan kita akan berupaya mengambil semua aset kekayaan yang seharusnya menjadi milik dan hakmu juga Nak Rani, "ucap Enjid dengan panjang lebar.
Aku masih terdiam mendengar semua perkataan yang disampaikan oleh Enjid. Rasanya begitu telah lama perjalananku berjuang setelah kepergian almarhumah Bunda. Di saat aku benar-benar terpuruk dan merasa seolah-olah sendiri di dunia yang bahkan menurutku begitu sangat menyiksaku waktu itu. Tetapi sekali lagi karena karunia Allah Subhanahu Wa Ta'ala secara perlahan Allah mengirimkan bantuan kepadaku dengan menghadirkan orang-orang yang baik dan orang-orang yang tulus dan sayang kepadaku ,di tengah-tengah derasnya rasa sakit yang ditorehkan oleh keluarga Kak Reno terhadap kehidupanku.Tetapi setidaknya sekarang aku melihat sedikit titik cahaya peluang kebebasaan ku. Walaupun kecil di dalam pandanganku yang gelap. Namun, aku tidak merasa takut lagi ataupun merasa sendiri dan sepi.
Ucapku mencoba menuangkan perasaanku di dalam pikiranku.
Dan disaat diriku sedang benar-benar mensyukuri atas nikmat dan karunia yang Allah berikan kepadaku saat ini.Tiba-tiba Kak Rafa menyela pembicaraan Enjid.
" Oh ya Enjid.Apakah Enjid tahu sebelumnya siapa pengacara dari keluarganya Dek Rani sewaktu almarhum kakeknya Dek Rani masih hidup?,"tanya Kak Rafa kepada Enjid. "Mengapa kamu menanyakan pengacara almarhum kakeknya Rani?,"tanya Enjid. "Sebab dengan kita mengetahui pengacara yang ditunjuk langsung oleh almarhum sahabatnya Enjid. Kita dapat memindahkan seluruh aset kekayaan yang memang seharusnya menjadi hak dan miliknya Dek Rani .Karena sampai saat ini keluarga Suprapto itu memanipulasi data tentang semua aset yang seharusnya dimiliki Dek Rani .Dan pengacara yang telah ditunjuk oleh almarhum kakeknya Dek Rani itu tidak mengetahui jika masih ada keturunan yang sah dari almarhum bapak Widiyanto yang masih hidup sampai saat ini yaitu Dek Rani. Dan itulah Enjid yang membuat keluarga Suprapto tidak ingin melepaskan Rani dan memaksa Rani menjadi menantu mereka. Karena mereka tidak ingin kehilangan semua aset kekayaan yang mereka nikmati selama bertahun-tahun lamanya saat ini. Dan jika kita bisa menemukan keberadaan pengacara keluarga almarhum kakeknya Dek Rani .Tentu akan sangat membantu kita untuk mengatur atau membuat rencana dan membalikkan keadaan agar keluarga Suprapto tidak bisa berkutik lagi dan berbuat sewenang-wenang,"ucap Kak Rafa.
Enjid mendengarkan perkataan Kak Rafa dengan sungguh-sungguh. Seraya berpikir untuk mengulang memori di ingatannya dan mengingat-ingat kembali peristiwa di masa lalunya.
" Sebentar jika tidak salah pengacara dari keluarga almarhum kakeknya Nak Rani itu Enjid juga mengenalnya. Tetapi keberadaannya sekarang Enjid tidak tahu di mana? dan Apakah dia juga masih hidup, "ucap Enjid dengan pelan seraya berpikir.
" Iya Enjid. Semoga Enjid mengingat sesuatu yang bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk melakukan pencarian terhadap keberadaan pengacara almarhum kakeknya Dek Rani, "ucap Kak Rafa dengan penuh harap.
" Tetapi apakah Njid masih ingat siapa nama pengacara dari almarhum kakeknya Dek Rani itu?, "tanya Kak Rafa.
" Sebentar Njid mencoba mengingatnya dulu, "ucap Enjid seraya berusaha untuk memeras ingatannya.
Sementara semua orang yang berada di ruang tamu menatap harapan Enjid. Khususnya Kak Rafa, Kak Fariz dan Wirda yang menunggu jawaban dari Enjid dengan penuh harapan.
" Oh ya Enjid ingat kalau tidak salah namanya Pak Gon...Gon...Oh ya namanya..Bapak Gondrong Widodo, "kata Enjid dengan ekspresi wajah lega.
Mendengar jawaban dari Enjid, Wirda ,Kak Fariz dan Kak Rafa pun saling melitik satu sama lain dan terlihat tersenyum. Mereka merasa sedikit bahagia dan lega.Setidaknya ini adalah titik awal permulaan bagi mereka untuk memulai menelusuri keberadaan pengacara almarhum kakekku berada. Dan aku pun juga sedikit merasa lega dan puas. Setidaknya perlahan demi perlahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan jalan untuk membuka titik terang dari perjalananku yang telah suram begitu lamanya.
" Baiklah Njid kalau begitu Rafa boleh meminta alamat pengacara keluarga kita sekarang?,"tanya Kak Rafa kepada Enjid.
Namun sebelum Enjid menjawab pertanyaan dari Kak Rafa. Abi selaku ayah dari Ustad Fariz dan Kak Rafa menyela pembicaraan Kak Rafa dan Enjid.
"Begini saja Rafa, kamu segera bergegas saja ke mobil dan alamatnya nanti akan Abi kirim melalui pesan. Insya Allah akan Abi share location detail rumah pengacara kita.Bagaimana ?,"tanya Abi kepada Kak Rafa.
"Baik Abi ,begitu juga lebih baik, " balas Kak Rafa.
"Ya sudah Abi sebaiknya Rafa segera bergegas untuk menemui pengacara dari keluarga kita sekarang. Agar dapat mengorek informasi tentang keberadaan pengacara dari almarhum kakeknya Dek Rani berada, " ucap Kak Rafa sambil berdiri. "Loh kenapa kamu terburu-buru seperti itu Rafa?," tanya Enjid.
"Iya Enjid sebab kita tidak memiliki waktu yang banyak lagi. Sebelum kasus Reno itu disidangkan dan juga mumpung Rafa sedang tidak ditugaskan ke luar kota. Sehingga Rafa bisa membantu Dek Rani dan Kak Fariz. Tentunya juga semakin baik untuk kita mengetahui keberadaan pengacara dari almarhum kakeknya Dek Rani dengan cepat, maka akan semakin baik untuk kita menghentikan langkah dan pergerakan dari keluarga Suprapto. Bukankah begitu Njid?,"tanya Kak Rafa.
"Iya benar apa yang dikatakan olehmu Rafa, " ucap Enjid.
"Baiklah kalau menurutmu demikian. Ya sudah kamu bergegaslah nak. Oh ya Kamu pergi dengan siapa nak?,"tanya Abi kepada Kak Rafa.
__ADS_1
Kak Rafa lalu melirik ke arah Wirda dengan tersenyum dan Wirda pun membalas senyuman Kak Rafa lalu seraya bersiap berdiri dan berkata ,"Kak Rafa akan pergi dengan saya Abi, "ucap Wirda pelan.
" Dengan nak Wirda ?,"ucap Abi sedikit ragu. "Kenapa tidak dengan kakakmu Fariz dan Pak Budi saja agar lebih enak dan sama-sama lelaki ?,"tanya Abi lagi kepada Kak Rafa.
"Kak Fariz dan Pak Budi akan mengurusi perkembangan kasus masalah gugatan cerai Dek Rani dan juga kasus yang menimpa Reno. Sementara itu Rafa akan ditemani Wirda untuk mencari keberadaan pengacara almarhum kakeknya Dek Rani berada saat ini. Setidaknya kami berbagi tugas Abi. Supaya masalah demi masalah yang mengganggu Dek Rani dapat cepat teratasi. Dan sementara itu Dek Rani biar di rumah bersama Ummah juga dengan Bik Siti dan Bik Inah ,"ucap Kak Rafa.
Abi pun Seraya berpikir dan mengganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa begitu. Baiklah kalau begitu kalian bergegasalah dan hati-hati. InsyaAllah Nak Rani aman disini dan dalam penjagaan dan pengawasan kami semua, "ucap Abi.
" Baiklah kalau begitu Abi, Enjid, Ummah, Kak Fariz. Rafa dan Wirda segera pergi sekarang ya. Assalamualaikum, "ucap Kak Rafa sambil menyalami dan mencium satu persatu anggota keluarga lainnya.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, " jawab seluruh anggota keluarganya dan diriku secara bersamaan. "Kamu hati-hati ya nak, "ucap Ummah dengan suaranya yang lembut sambil mengusap kepala Kak Rafa ."Dan juga jaga Wirda baik-baik bersamamu, " sambung ummah lagi.
"InsyaAllah iya Ummah, " jawab Kak Rafa.
"Ran, aku dan Kak Rafa pergi dulu ya. Kamu baik-baik disini, " ucap Wirda kepadaku.
"Iya Wirda, kamu hati-hati ya, " balas ku.
"Iya Rani, " sahut Wirda sambil mencubit pipiku dengan lembut.
"Ummah saya titip Rani di sini ya, " pintar Wirda kepada Ummah.
"Iya Wirda tenang saja Rani akan baik-baik saja di sini dan Ummah akan menjaganya.Jadi kamu tenang saja ya. Oh ya kamu hati-hati juga ya bersama Rafa dan jangan lupa mengabari jika kalian sudah sampai dan berada di mana ,"ucap Ummah dengan lembut sambil mengusap kepala Wirda.
Tidak lama kemudian Kak Rafa dan Wirda pun telah pergi dan menuju ke dalam mobil. Lalu tidak lama setelah itu Pak Budi pun turun. Dan Ustad Fariz mengajak Pak Budi untuk bergegas pergi mengurusi kasus perkembangan gugatan cerai dan laporan kekerasan terhadapku di kantor kepolisian dan pengadilan agama.
Setelah Ustad Fariz berpamitan kepadaku dan seluruh anggota keluarganya Ia juga bergegas pergi bersama Pak Budi.
Maka tinggallah aku ditemani Umma, Enjid dan Abi Ustad Fariz.
Aku masih terdiam sambil berdoa semoga Wirda, Kak Rafa, Ustad Fariz maupun Pak Budi dalam keadaan baik-baik saja dan dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka begitu sangat memprioritaskan diriku dan rela berkorban begitu banyak hal baik tenaga, waktu, pikiran dan semuanya untuk membantuku. Aku begitu sangat terbantu dan tidak tahu harus mengatakan apa kepada mereka. Dengan niat tulus mereka yang tidak pernah letih dan lelah untuk membantuku.
" Apa yang Rani pikirkan?,"tanya Ummah mencoba meneliti diriku yang sedikit termenung.
" Tidak ada Ummah Rani hanya berpikir Kak Rafa dan Ustad Fariz begitu banyak membantu Rani. Dan Rani tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas kebaikan kedua putra Ummah yang sangat membantu Rani selama ini, "ucapku pelan.
Sekali lagi dengan lembut Ummah mengusap kepalaku dan menggenggam jemariku perlahan, "Rani tidak boleh berpikiran seperti itu. Kedua putra Ummah melakukan semua hal itu hanya untuk mengharap ridho Allah subhanahu wa ta'ala. Insya Allah akan menjadi amal dan tabungan untuk kedua putra Ummah. Jadi Rani tidak perlu merasa sungkan dan merasa terbebani akan semua hal itu.Bukankah Ummah sudah katakan semua ini sudah Allah takdirkan dan mungkin ini adalah jalan yang Allah berikan kepada Rani atas semua kesabaran yang Rani lakukan dan Rani terima terhadap ujian yang Allah berikan tiada henti-hentinya kepada Rani. Dan insya Allah inilah saatnya Allah mengangkat semua derita dan kesusahan Rani. Melalui bantuan dari kedua putra Ummah. Insya Allah setelah ini Rani dapat menjalani kehidupan dengan baik ,nyaman dan tidak terkekang dari keluarga Suprapto yang terus membuat kehidupan Rani menjadi sulit, " tutur Ummah dengan lembut dan menenangkan kata-katanya.
" Ya sudahlah Ummah. Sebaiknya Rani Ummah ajak ke kamar untuk beristirahat .Abi lihat wajahnya Rani terlihat pucat .Mungkin dia kelelahan ,"ucap Abi kepada Ummah sambil melihat layar telepon genggam miliknya.
"Iya Abi, " sahut Ummah.
"Rani, Ummah antar ke kamar untuk beristirahat ya, " ajak Ummah kepadaku.
"Maaf Ummah tetapi Rani belum merasa lelah. Apakah boleh jika Rani duduk di temani Ummah di halaman atau taman di kediaman rumah Ummah ini, " pintaku pada Ummah.
"Tentu saja boleh nak, ayo ikut Ummah kita duduk di taman belakang. Biasanya jam segini udaranya masih sejuk dan teduh. Oh ya Rani apakah mau minum dulu?, " tanya Ummah padaku.
Aku pun menggelengkan kepala ku pelan, "Tidak Ummah Rani belum haus, " jawabku.
"Ya sudah kalau begitu kita langsung ke taman belakang ya, " ucap Ummah sambil memegang jemari tanganku untuk berdiri.
"Enjid dan Abi. Saya menemani Rani berjalan-jalan ke taman belakang dulu ya, " ucap Ummah meminta izin kepada Enjid dan Abi.
"Iya silahkan Ummah, " jawab Abi.
lalu secara perlahan Uma menuntun tanganku dengan penuh kasih sayang dan kelembutannya menuju taman belakang Entah dari suara dan sentuhan tangannya Ummah.Aku merasakan kehadiran sosok Bunda di dalam diri Ummah.Dan seketika itu pula rasa kerinduanku terhadap Bunda timbul.
__ADS_1
Rabbighfir li, wa li waalidayya, warham huma kamaa rabbayaani shaghira. (Artinya:Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil, ucapku pelan di dalam hati sambil terus berjalan perlahan ditemani Ummah yang menghadirkan rasa rinduku kepada almarhumah Bunda.