Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Kepergian Bu Sri.


__ADS_3

Ditemani Ummah,Wirda dan Bik Siti.Sekarang aku berada di ruang rawat inap pasien untuk menunggu dokter melakukan pemeriksaan kembali kepada diriku sebelum menjalankan operasi pencangkokan kornea.


Rasanya hatiku berdebar-debar dan sedikit tegang.Namun,di dalam rasa kecemasan yang menyelimuti diriku.Aku terus berusaha untuk selalu berdo' a dan berdzikir kepada Allah.Tidak lama setelah itu beberapa perawat masuk ke dalam ruangan,untuk membawa diriku menuju ruang pemeriksaan mata sebelum menjalani operasi transplantasi kornea.Dengan perlahan perawat membantuku pindah untuk duduk di kursi roda menuju ruang pemeriksaan.


Sementara Ummah,Wirda dan Bik Siti mengikuti dari belakang.Sesampainya di ruang pemeriksaan Dokter mengecek kondisi kesehatan mataku.Dokter melihat dan memastikan apakah ada kondisi atau keadaan diriku yang mungkin menyebabkan komplikasi setelah operasi.Namun,setelah semua hasil pemeriksaan berjalan dengan baik dan lancar serta dokter tidak menemukan adanya indikasi infeksi atau peradangan pada mataku.Maka dokter memintaku untuk berpuasa dari sekarang dan menunggu sekitar 8-12 jam lagi untuk dapat melakukan operasi mata pada diriku.


Perawat pun membawaku kembali ke ruang rawat inap semula.Sementara Ummah masih berbincang dengan dokter mengenai prosedur operasi mata yang akan kujalankan.


Saat perawat mendorong kursi rodaku untuk kembali ke ruang rawat inap,diikuti oleh Wirda dan Bik Siti di sampingku.Terdengar teriakkan suara wanita yang begitu keras disertai tangisan dan tidak asing bagiku.


"Arrrghhhhhhhh.....Arghhhhhhhh...Huhuhuhuhuhuhu......Huhuhuhuhuhu.....," pekik wanita di dalam ruangan.


Entah kenapa aku seperti mengenal suara itu,yang menarik hatiku dan indra pendengaranku untuk berhenti.


"Sus,tolong berhenti sebentar," pintaku kepada perawat.


Dan perawat pun menuruti permintaanku tetapi Wirda bertanya akan diriku.


"Ada apa Ran?Mengapa kamu ingin meminta suster untuk berhenti? Apakah ada masalah atau terjadi sesuatu padamu?,"tanya Wirda cemas.


" Iya Nak Rani,ada apa?," sahut Bik Siti yang juga terdengar cemas.


" Alhamdulillah aku baik-baik saja Wirda dan Bik Siti.Kalian berdua jangan cemas ,"ucapku menjawab pertanyaan mereka berdua.


"Lalu kenapa tiba-tiba kamu menyuruh suster Untuk menghentikan kursi rodamu Ran.Tentu saja aku dan Bik Siti menjadi cemas. Hal apa yang mendorongmu untuk meminta suster melakukan itu?," tanya Wirda kembali kepadaku.


"Iya benar apa yang di katakan Nak Wirda,Nak Rani.Bibi juga ikut cemas.Bibi pikir ada sesuatu hal yang terjadi kepada Nak Rani," sahut Bik Siti.


Mendengar ucapan dari Wirda dan Bik Siti, maka aku langsung saja dengan segera menjawab pertanyaan mereka.Agar tidak membuat mereka semakin mengkhawatirkan keadaanku.


" Itu Wir,Bik Siti.Apakah kalian berdua mendengar suara lengkingan dan tangisan wanita yang ada dalam ruangan itu.Coba Bik Siti dan Wirda dengarkan secara seksama. Suara itu begitu tidak asing bagiku. Bagaimana menurut Bik Siti dan Wirda?,"tanyaku.


" Mengapa kamu tiba-tiba ingin mendengarkan suara wanita yang tidak kamu kenal itu,Ran ?,"tanya Wirda kepadaku.


" Entah Wir,aku tidak tahu.Tetapi perasaanku merasakan ada sesuatu antara lengkingan suara wanita itu, dan aku sepertinya mengenal dirinya. Coba kamu dengarkan. Siapa tahu suara itu juga tidak asing untukmu," pintaku kepada Wirda.


" Baiklah Ran,jika itu permintaanmu," sahut Wirda.


Namun di saat Wirda,Bik Siti dan diriku kembali mendengarkan pekikan dan tangisan dari suara itu. Perawat yang berada di dekatku pun berkata. "Oh wanita yang sedang berada di dalam ruangan itu tadinya jatuh pingsan karena melihat kakek dan ayahnya di bawah oleh Polisi. Lalu petugas yang bekerja di sini menolongnya d untuk membuatnya siuman. Tetapi tidak lama dia tersadar,dan wanita itu kembali menuju ke ruangan ibunya dirawat. Namun ketika dokter mengatakan kepadanya jika ibunya sudah meninggal dunia.Wanita itu pun langsung histeris dan jatuh pingsan kembali, hingga membuat dirinya tidak sadarkan diri. Kemudian setelah mendapat pertolongan dan kembali sadar. Wanita itu seperti orang yang kehilangan kendali atas dirinya dengan berusaha menyakiti dirinya dan orang-orang disekitarnya,karena mengalami tekanan psikis dan syok yang teramat dalam. Dan dokter mengatakan jika wanita itu pikiran dan jiwanya sedang mengalami gangguan atau depresi berat.Sehingga harus segera di bawa ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan karena jika dibiarkan akan membahayakan untuk dirinya dan orang lain," tutur perawat kepada kami.


Mendengar cerita dari perawat tersebut hatiku terenyuh. Begitu juga dengan Wirda dan Bik Siti.


"Ya Allah kasihan ya wanita itu," jawab Wirda setelah mendengar cerita dari perawat.

__ADS_1


"Oh ya Sus. Apakah tidak ada keluarganya yang dapat dihubungi untuk segera memindahkannya ke rumah sakit jiwa?," tanyaku.


"Sepertinya tidak ada Dek Rani. Kami sudah mencoba menghubungi semua nomor kontak keluarganya ,tetapi dari berita yang kami dengar memang keluarganya sedang terjerat dalam banyak kasus masalah yang berhubungan dengan pihak kepolisian.Dan kalau tidak salah wanita itu juga berasal dari salah satu keluarga yang sangat terpandang dan kaya raya di kota ini. Saya rasa Dek Rani kemungkinan juga mengenalnya ?,"kata perawat itu


Aku pun terdiam mendengar perkataan perawat itu.Lalu Wirda menyela pembicaraanku dan perawat.


" Apakah suster tahu akan nama wanita itu ataupun nama keluarganya?," tanya Wirda sambil memandang ke arah perawat. Mendengar pertanyaan Wirda perawat itu pun mengkerutkan dahinya, seraya berpikir untuk kembali mengingat nama wanita dan keluarganya.Tetapi nampaknya perawat itu tidak mengingatnya."Aduh saya lupa dek, padahal sebelumnya saya ingat," jawab perawat itu.


"Oh tidak apa- apa Sus. Lalu bagaimana dengan ibunya yang sudah meninggal? apakah belum juga dimakamkan sus?," tanyaku lagi kepada perawat.


" Belum.. belum juga Dek Rani. Kami masih menunggu dari pihak keluarga untuk mengambil jenazahnya,tetapi seperti yang saya katakan tadi keluarga mereka sedang berada di dalam banyak masalah dan tidak ada yang mengurusi jenazah tersebut.Sehingga jenazahnya masih berada di kamar mayat," kata perawat itu kembali kepadaku.


Lalu di saat perawat sedang berbicara kepadaku. Wirda berinisiatif untuk melihat wanita yang masih terus berteriak keras dan menangis dari jendela yang sedikit terbuka dari ruangan itu.


"Sebentar Ran,kamu tunggu dulu di sini bersama Bik Siti dan suster. Aku akan melihat wanita itu. Siapa tahu benar kita mengenalnya ,dari suaranya memang benar katamu sepertinya tidak asing di telingaku," ucap Wirda kepadaku.


" Iya Wir. Baiklah silahkan kamu coba melihat wanita itu," ucapku.


Kemudian Wirda berjalan dengan perlahan melihat ke jendela dan berusaha untuk mengamati wanita yang terus meronta-ronta dan berteriak tidak terkendali. Wirda pun begitu sangat terkejut ketika wanita yang semulanya tertunduk dengan rambutnya terurai berantakan, lalu dirapikan oleh beberapa perawat di sampingnya. Maka terlihatlah raut wajah wanita itu dengan jelas.


" Astaghfirullahaladzim Mbak Riska," ucap Wirda dengan sangat terkejut dan syok.


Wirda pun dengan cepat lalu berjalan menuju ke arahku dan memberitahukan apa yang ia lihat barusan kepadaku dan juga Bik Siti.


Aku pun menjadi sangat terkejut mendengar perkataan Wirda.


"Benarkah Wir.Lalu siapa wanita itu ?,"tanyaku dengan rasa ingin tahu. "Wanita yang terus berteriak di dalam itu adalah Mbak Riska,Ran," ucap Wirda dengan lantang.


DEG....


Jantungku terasa berdetak dengan kencang ketika Wirda menyebut nama Mbak Riska.Rasanya diriku begitu tidak percaya dan begitu membuatku sangat terkejut atas peristiwa yang menimpa Mbak Riska.


" Dek Rani rupanya mengenal wanita yang ada di dalam itu ya?," tanya perawat kepadaku.


Aku pun mengangguk."Iya sus saya mengenalnya,"jawabku pelan.


" Nah betul kan, sudah saya katakan pasti Dek Rani mengenalnya. Karena wanita itu juga berasal dari keluarga yang terkenal dan terpandang. Oh ya saya ingat kalau tidak salah nama keluarganya adalah Suprapto," begitu kata perawat itu menjelaskan kepadaku. Dan untuk beberapa saat aku.Bik Siti dan Wirda pun termenung seakan tidak percaya mendengar perkataan dari cerita perawat itu sebelumnya.Miris rasanya, tetapi aku tetap merasakan iba dan simpati terhadap apa yang telah menimpa Mbak Riska dan keluarganya. Apalagi mendengar jika Bu Sri sudah tiada.


Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, ucapku di dalam hati dengan lidah yang masih keluh dan tatapan yang masih kosong.Sementara itu terdengar Ummah yang sudah datang mendekati kami. Dan memecah kesunyian juga kebisuan yang menghampiriku,Wirda dan Bik Siti.


"Lho kok kalian masih berada di sini ?Kenapa tidak menuju ke ruang rawat inapnya Rani,"tanya Ummah kepada kami. Tetapi kami pun masih terdiam, lalu Ummah mengusap lembut bahu Wirda dan menatapnya.


"Wirda ada apa ini? Mengapa kalian bertiga terlihat begitu sangat syok?," tanya Ummah.

__ADS_1


Wirda pun menatap wajah Ummah dan seraya menghembuskan nafasnya perlahan. "Begini Ummah saat kami akan mau mengantar Rani kembali ke ruangannya. Tiba-tiba kami mendengar pekikan suara wanita yang menggoda pendengaran kami untuk berhenti dan memeriksanya. Dan begitu Wirda melihat wanita itu dari balik jendela. Wirda pun sangat terkejut mengetahuinya jika wanita yang berada di dalam itu adalah Mbak Riska," kata Wirda kepada Ummah.


" Lalu kenapa?," tanya Ummah dengan sedikit mengkerutkan dahinya.


"Suster tadi bilang jika Mbak Riska terkena gangguan jiwa setelah kakek dan ayahnya di bawa oleh pihak Kepolisian. Di tambah lagi jika Bu Sri juga sudah meninggal dunia.Apalagi saat ini jenazahnya belum ada yang mengurusinya untuk dimakamkan,"ucap Wirda.


Ummah pun sedikit terkejut mendengar perkataan Wirda. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun ,"ucap Ummah dengan pelan.


Lalu aku pun berusaha mencari tangan Ummah dengan merabanya. Lalu setelah menemukannya aku menggenggam tangan Ummah.


Ummah pun lalu melihat ke arahku dan membalas menggenggam jemari tanganku. "Ada apa Nak?," tanya Ummah pelan.


"Ummah,apakah Ummah mau mengabulkan permintaan Rani?," tanyaku kepada Ummah.


"Iya katakan ada apa Nak?," ucap Ummah "Ummah,apakah Ummah mau menghubungi Ustad Fariz,Pak Budi dan Kak Rafa untuk mengurusi jenazahnya almarhumah Bu Sri sebab sampai sekarang jenazah beliau belum juga dimakamkan.Sekaligus memindahkan Mbak Riska ke rumah sakit jiwa agar segera diobati dan mendapat penanganan medis yang tepat.Sebab saat ini Kak Reno ,Pak Sugeng dan kakek berada di sel tahanan sehingga tidak mungkin dapat mengurusi almarhumah Bu Sri dan Mbak Riska," pintaku kepada Ummah dengan raut wajah sedih.


Lalu Ummah mengusap kepalaku dengan lembut dan mencium tanganku.


" Hatimu itu begitu baik sayang.Dan setelah apa yang mereka lakukan padamu, tetapi kamu masih saja memikirkan kebaikan dan menolong mereka. Tentu saja Ummah akan membantumu dan meminta Fariz juga Rafa untuk menyiapkan perihal pengurusan jenazah almarhumah Bu Sri," kata Ummah.


"Iya Bu Putri,begitulah sifat Nak Rani.Saya terkadang berpikir mengapa Nak Rani bisa sangat sabar dan mudah memaafkan semua kesalahan yang telah di lakukan oleh keluarga Pak Suprapto kepada Nak Rani.Jika itu terjadi kepada saya,mungkin saya tidak akan bisa seperti sifat yang ditunjukkan oleh Nak Rani,"sela Bu Sri.


Dan Wirda pun juga ikut berbicara.


"Nah,Bik Siti itulah hal spesial yang ada dalam diri Rani.Bukankah begitu Ummah," tanya Wirda kepada Ummah.


Ummah mengangguk pelan sambil tersenyum,"Betul apa yang Wirda katakan.Rani memang spesial sebab memiliki hati yang mudah untuk memaafkan dan tidak menyimpan dendam.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa melindungimu, memberkahi hidupmu dan selalu menuntunmu ke jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang beriman dan bertakwa, "ucap Ummah sambil mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.


" Aamiin ya robbal alamin .Terima kasih banyak ya Ummah,sebab Ummah bersedia mengabulkan permintaan Rani," ucapku.


"Iya sama-sama Nak, " sahut Ummah.


Kemudian Ummah menyuruh Bik Siti dan Wirda untuk mengantarku masuk ke ruang rawat inap supaya beristirahat .


" Ya sudah kalau begitu Bik Siti dan Wirda segera bawa Rani untuk beristirahat ke ruang rawat inap ya.Karena tidak lama lagi Rani akan melaksanakan operasi transplantasi kornea mata, sehingga dia harus beristirahat dan tidak boleh memikirkan banyak hal yang dapat menghambat proses operasinya, " pinta Ummah kepada Bik Siti dan juga Wirda.


"Baik Bu Putri, " jawab Bik Siti.


"Iya Ummah, " sahut Wirda.


Dengan ditemani perawat yang mendorong kursi rodaku,dan Bik Siti juga Wirda yang berada di sampingku.Kami menuju ruang tempat rawat inapku meninggalkan Ummah yang sedang menelpon Ustad Fariz untuk memberitahu keadaan tentang keluarga Kak Reno dan juga mempersiapkan untuk pemakaman almarhumah Bu Sri.


Perasaanku seketika tidak menentu, sungguh bukan seperti ini yang kubayangkan.Akan takdir yang terjadi pada seluruh keluarga Kak Reno, tetapi qodarullah Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menetapkan ketetapannya yang jauh lebih baik dari hasil pemikiran diriku sebagai manusia biasa. Semoga apa yang telah terjadi di dalam keluarga Kak Reno dapat menjadi hikmah dan pelajaran yang sangat berharga untuk Kak Reno, kakek, Pak Sugeng dan juga Mbak Riska yang masih Allah berikan kesempatan untuk tetap hidup di dunia ini. Ughhhhh....aku menghela nafas pendek dan berusaha untuk menenangkan diriku sendiri atas peristiwa yang baru saja membuatku begitu sangat terkejut.

__ADS_1


__ADS_2