Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Tanda Tanya


__ADS_3

Sang malam bergelayut sepi.Udara dingin membayang dalam kehampaan.Pikiranku melayang.Gemuruh jeritan hati meraung dalam bisu.Aku terdiam,memandang dalam pekat kelabunya hatiku.


Kak Roy yang menyetir mobil,tiba-tiba berbicara,"Bun,kita sudah nyampe nih."Suaranya memecah lamunan bunda yang dari tadi hanya diam menatap ke luar kaca jendela mobil,"Hmmm..iya nak,apa,"bunda seperti orang yang kebingungan.Perlahan Kak Roy mematikan mesin mobilnya,lalu menoleh ke arahku dan bunda,"Kita udah nyampe Bun,"ucapnya dengan senyum."Oh iya nak,Alhamdulillah".Bunda kemudian mengajakku turun.


Ketika turun aku berpapasan dengan Kak Reno.Mataku dan matanya tidak sengaja saling bertemu.Lalu dengan cepat kualihkan pandanganku darinya.Sudah malas aku berurusan dengannya.Lagipula kenapa dia juga turun dari mobil,batinku.Aku berjalan melaluinya dan dia terus menatapku dengan sorot matanya yang tajam.Bunda dan Kak Roy menungguku.


"Terima kasih ya nak Roy,"ucap bunda lirih.


"Sama-sama Bun.Bunda dan Rani langsung masuk aja Bun.Roy langsung pulang.Sudah malam soalnya."


Bunda mengangguk.Kak Roy melangkah menuju mobil,namun kuhentikan,"Kak,tunggu."


Sontak mereka memandang kearahku.Kak Roy membalikkan badannya dan menoleh kearahku,"Ada apa Ran".Aku berjalan mendekatinya.Kak Roy tampak salah tingkah.Sementara Kak Reno berdiri di depan mobil dan menatap tajam kearahku.


"Sebentar kak,"ucapku kepada Kak Roy sambil melepaskan jaket miliknya dan mengembalikannya lagi padanya.Aku tersenyum,"Terima kasih ya kak,untuk semua bantuannya,terutama jaketnya." Kak Roy tersipu malu,"Iya Ran sama-sama.Kakak pulang dulu ya Ran."


"Iya kak,hati-hati di jalan.Fii Amanillah,semoga engkau dalam lindungan Allah."


"Aamiin.Terima kasih Ran untuk do'anya.Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam,"ucapku dan bunda berbarengan.


Kak Roy masuk ke dalam mobilnya.Sementara Kak Reno masih berdiri di depan mobil menatapku.Aku memalingkan wajahku darinya dan berjalan mendekati bunda mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Suara mesin mobil pun menderu.Cahaya lampu mobil menerangi sekitar,perlahan memudar lalu bias menghilang.

__ADS_1


Sesampainya di dalam rumah.Bunda hanya diam.Ingin kuceritakan apa yang kakek Sukiman katakan.Tetapi melihat ekspresi bunda seperti itu aku menahannya.Lalu kudekati bunda,"Bunda kenapa?"sambil kupegang lengan bunda dan memeluknya.Namun bunda hanya diam.


"Ya udah bunda langsung tidur ya Bun,nanti biar Rani yang beresin semuanya."Bunda mengangguk perlahan,kemudian melangkah masuk kedalam kamar.


Aku khawatir tidak biasanya bunda seperti ini.Aku kemudian kedapur berinisiatif membuatkan bunda teh hangat sekalian untukku juga.Beberapa menit kemudian,teh hangat sudah selesai kubuat.Aku minum sebentar teh milikku.Lalu aku menghantarkan teh hangat ke kamar.


CEKREK


Kubuka pintu kamar perlahan,terlihat bunda sedang berbaring dan tidak tidur.Bun,ini Rani bawakan tehnya.Sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja dekat ranjang.Bunda menoleh kearahku,"terima kasih ya nak."


"Iya bun,"jawabku sambil duduk di samping bunda yang sedang berbaring.Aku memijit kaki bunda,"Bunda kenapa?apa bunda sakit?".Bunda tersenyum kecil dan mulai bangkit untuk duduk,"Bunda nggak kenapa-napa Ran,bunda hanya sedikit terkejut."Tanganku terhenti dari memijat bunda,"Apa yang membuat bunda terkejut?apa bunda menyembunyikan sesuatu dari Rani Bun?,"aku menggenggam tangannya dan memandang bunda dengan serius."Entah Bun,tapi Rani merasa bunda menyembunyikan sesuatu dari Rani.Tadi di rumah sakit Rani melihat bunda menangis,begitu juga dengan Bu Sri.Apa yang sebenarnya terjadi Bun?Apakah ada yang menyakiti bunda?,"tanyaku yang terus menyelidiki bunda.Bunda mengelus pipiku dengan lembut,"Ran,jika bunda merasa siap dan waktunya juga tepat.In sya Allah bunda akan menceritakan semuanya kepada Rani.Untuk saat ini biarkan bunda sendiri dulu ya nak.Bunda lelah.Bunda ingin istirahat."Aku pun mengangguk tanda mengerti akan ucapan bunda.Kucium kening dan tangan bunda dengan lembut,"Rani,sayang bunda".Bunda tersenyum membalas senyumanku,"Bunda juga sayang Rani nak."Aku kemudian meninggalkan kamar.Lalu meneruskan menyetrika pakaian dan membungkusnya.Setelah itu,kuselesaikan pekerjaan bunda yang tadi sempat berhenti.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam.Aku ambil wudhu dan berganti pakaian.Setelah itu aku langsung beristirahat,tidur di dekat ruang tamu.Sebab aku tidak ingin menganggu bunda.Kubaringkan tubuhku pada sisi kanan.Lalu kubaca surat Al-Ikhlash,Al-Falaq dan An Naas masing-masing sekali Setelah itu,kutiup kedua telapak tanganku dan mengusapnya ke wajah dan bagian bagian tubuh yang dapat kujangkau.Kemudian aku membaca ayat kursi agar Allah ta'ala menjagaku dari syetan sampai pagi dan terakhir membaca do'a sebelum tidur,"Bismika allahumma amuutu wa ahya.Artinya: Dengan namamu,Ya Allah aku mati dan aku hidup."


Aku pun terlelap tidur.


Pukul 02.30 dini hari aku bangun untuk melaksanakan sholat tahajud.Sebelum mengambil air wudhu aku bergegas ke kamar untuk melihat kondisi bunda.Setelah kulihat di dalam kamar bunda sedang sholat.Alhamdulillah,batinku lega.


Setelah selesai melaksanakan sholat tahajud.Aku meredam pakaian kotor agar memudahkanku mencucinya.Sambil menunggu pakaian yang kurendam.Aku membuat adonan kue dan menyiapkan peralatan memasak.Selang beberapa lama bunda ke dapur.Parasnya masih layu.Namun senyumnya mengembang,"Ran,"bunda menyapaku sambil membelai lembut kepalaku."Bunda sudah membaik?",tanyaku pada bunda."Alhamdulillah Ran".Aku dan bunda saling menatap dan mengumbar senyum.Aku dan bunda kembali bekerja dengan menyelesaikan pekerjaan masing-masing.


Setelah semua pekerjaan selesai aku langsung mandi dan melaksanakan sholat subuh.Lalu,mengemas kue-kue dalam keranjang berbentuk box yang kuletakkan pada bagian belakang sepedaku dan kuikat.Tidak lupa beberapa bungkus pakaian yang sudah kuseterika,kuletakkan dalam kantong plastik besar yang kutaruh pada sisi kiri dan kanan sepedaku.Beberapa lama kemudian,aku pun berangkat ke sekolah sambil mengantarkan titipan kue dan pakaian laundry.


Setibanya di gerbang sekolah.Aku menyapa Pak Supa,"Assalamu'alaikum Pak Supa."Ia menjawabku dengan senyum,"Wa'alaikumussalam nak Rani.Alhamdulillah sepedanya sudah diperbaiki ya nak,"ucapnya dengan ekspresi bahagia.


"Alhamdulillah iya pak.Oh ya Pak Supa,ini ada sedikit kue dan nasi bungkus yang Rani bawakan buat Pak Supa sarapan,dimakan ya pak.Rani yang buat loh pak,"sambil meringgis tersenyum dan menyodorkan sekotak kue dan nasi.Pak Supa yang sedikit kaget lalu menerimanya,"Maa'syaAllah nak Rani,Alhamdulillah pagi-pagi sudah dapat rezeki.Terima kasih ya nak.Barokallahu fiiki nak Rani."Aku tersenyum,"Aamiin.wa fiika baarakallah.Rani langsung masuk ya pak."Pak Supa sumringah menjawabku,"Iya nak."

__ADS_1


Kuparkirkan sepedaku.Tetapi sebelum aku berbalik badan.


DOOR..!


"Selamat pagi Rani,"Wirda menepuk bahuku.Aku pun terkejut,"Astaghfirullah,Wirda kamu ngagetin aja."Wirda tersenyum lalu menggandengku.Aku dan Wirda berjalan menuju koridor.Sebelum kearah lift,aku dan Wirda melewati kelas Kak Reno.Ughh,sedikit kutarik napas pendek.Ingatanku kembali teringat akan ucapan kakek Sukiman.Sungguh aku tidak menyangka anak angkuh itu cucunya.Dan beliau memintaku menikah dengan cucunya yang angkuh itu.Akh,membayangkannya saja sudah membuatku tidak selera.


Aku berdiri di depan lift bersama Wirda dan beberapa anak lainnya.Tiba-tiba,tasku ada yang menariknya ke belakang,"Akhhhh....aduhhh,"teriakku kaget membuat semua orang melihatku.Wirda yang spontan kaget pun berteriak,"Ran."Aku hampir terjatuh beruntung Wirda sigap memegangiku.


Siapa yang menarikku seperti ini,batinku.


"Makasih ya Wir,"ucapku.Wirda melirik ke arahku dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah belakangku.Alisku terangkat keatas,menanyakan kepada Wirda,"Apa Wir?."


"Ii..itu kak...Kak Reno,"bisiknya padaku.


Aku pun menoleh,kulihat Kak Reno menatapku tajam,"Kamu itu parasit ya.Kamu punya tujuan apa mendekati keluargaku terutama kakekku."


Aku memalingkan pandanganku darinya.Dan berusaha tidak menggubrisnya.Ketika aku ingin berjalan menjauhinya,ia menarik tasku lagi dengan kuat.


"Ehh...akhhhhh...akhh..auww."Tubuhku terasa melayang,aku akan jatuh sepertinya.Namun,seketika Kak Roy sudah ada di belakangku menahan tas punggungku dari belakang agar aku tidak terjatuh."Alhamdulillah,huff hampir saja,"ucapku pelan sambil memegang detak jantungku di dada.Kak Roy yang sedikit panik menatapku ,"Kamu nggak apa-apa kan Ran?,"tanyanya memastikan kondisiku.Aku menggangguk.Sementara Kak Reno marah-marah kepada Kak Roy,"Roy kamu ini apa-apa'an sih.Kamu kok malah belain dan nolongin dia mulu.Kamu itu temanku nggak sih?atau jangan-jangan kamu suka ya sama nih anak."Kak Roy terdiam sebentar,mukanya berubah seketika,"bukan gitu Ren,ntar kalo ada apa-apa sama Rani.Kamu yang akan dimarahin sama kakekmu.Dengan muka mengenalkannya Kak Reno berbicara ketus pada Kak Roy,"Udah deh nggak usah banyak alasan kamu Roy.Ini semua urusanku.Jadi kamu nggak usah ikut campur.Kalau kamu masih mau temenan sama aku.PAHAM KAMU!",gertak Kak Reno.


Kak Roy hanya diam.Lalu Kak Reno mengalihkan pandangannya padaku sambil berjalan mendekatiku dan menunjukkan jari telunjuknya padaku,"Dan kamu anak belagu,jangan sok polos.Aku tau banget tipu muslihat orang-orang miskin kayak kamu itu untuk morotin uang orang kaya aja.Jadi nggak usah nyoba buat deketin sahabatku Roy lagi dan juga keluargaku.Kamu itu harus sadar diri.Dan inget urusan kita belum selesai.Awas kalau aku masih lihat kamu deketin keluargaku lagi.Aku pastikan akan membuat kehidupanmu menderita.INGET KATA-KATA KU!".


Aku hanya diam mendengar semua penghinaan dari Kak Reno.Bagiku tidak penting meladeni orang seperti dia.Akhirnya,Kak Reno pergi.ia kembali menuju kelasnya.Sementara Kak Roy memandangiku,"Ran,kamu nggak apa-apa kan.Jangan dimasukkan ke hati ucapan Reno ya.Dia sebenarnya anak yang baik."


Anak baik,akh tidak mungkin,ucapku dalam hati.Wirda menarik lenganku,"Yuk Ran kita ke kelas.Ucapan Kak Reno jangan dimasukkan ke hati.Pokoknya nggak usah digubris.Dia itu nggak tau sifat kamu yang sebenarnya.You are a rough kind hearted girl".

__ADS_1


Aku pun tersenyum mendengar ucapannya.Wirda dan diriku berjalan menuju lift kembali.Sementara Kak Roy,masih terdiam memandangiku dari kejauhan.Sekilas mata kami beradu.Lalu ia hanya tersenyum kecil.Kubalas senyumannya dan menghindari tatapannya.Kulangakahkan kakiku masuk kedalam lift.Pintu lift perlahan menutup.Tubuhnya semakin samar,menjauh kemudian menghilang dari tatapanku.


__ADS_2