Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Semakin dekat.


__ADS_3

Saat aku dan keluarga Imandar sedang menikmati sarapan pagi. Kami semua di kejutkan dengan kedatangan Kak Roy bersama putrinya yang bernama Rani,ditemani Tante Desi dan Om Surya.


Dengan raut wajah canggung dan merasa sungkan, sebab pagi-pagi sudah berkunjung. Tante Desi dan Om Surya meminta maaf, dan menjelaskan alasan mereka semua kemari. Yaitu tidak lain dan tidak bukan karena, Rani terus merenggek dan menangis ingin bertemu dengan diriku.


Begitu Rani melihat diriku, ia langsung berlari memelukku erat seraya meminta gendong dan terus memanggiku dengan kata Mama secara berulang.


"Mama, Rani sangat rindu mama!, " katanya polos dengan langsung memeluk leherku erat.


Aku pun mengusap kepalanya lembut dan pelan, lalu memegang wajah imutnya dengan kedua tanganku. Dimana matanya yang berbinar menatap ku begitu lekat, terenyuh hatiku seketika menatap gadis kecil polos di hadapan ku yang begitu merindukan sosok seorang ibu di dalam kehidupannya.


Air mataku pun berkaca-kaca melihat parasnya dan tatapannya yang begitu dalam, hingga membius diriku untuk mengusap kepalanya serta mendaratkan kecupan sayang di pipinya.


"Mama sayang dan rindu Rani kan?, " tanyanya sambil memegangi pipiku dengan tangan mungilnya.


Aku mengangguk dan menitikan air mata haru, "Iya sayang, mama sayang dan rindu Rani. "


Aku pun langsung memeluk tubuh mungilnya, dan mendekap nya dalam pelukan ku.


Ia pun berteriak-teriak kegirangan, "Hore! Mama sayang dan rindu Rani!. "


Semua orang menatap kedekatan diriku dan putri Kak Roy, dengan perasaan yang tersentuh.


"Rani sudah makan pagi?, " tanyaku lembut padanya.


Dia pun menggelengkan kepalanya, "Belum mah, Rani mau makan di suapin mama yah."


Aku tersenyum dan mengangguk, lalu menggendong dirinya menuju ruang makan.


Ummah, Abi dan Enjid mempersilahkan Kak Roy, Ummah dan Om Surya untuk sarapan pagi bersama. Namun, mereka bertiga menolak dengan alasan jika mereka sudah makan pagi di rumah.


Ummah pun tidak memaksa, lalu mengajak Kak Roy, Tante Desi dan Om Surya menuju ruang tamu yang private. Kemudian, Abi dan Enjid menyusul.


"Maafkan atas kedatangan kami yang menganggu Bu Putri dan keluarga. Kami sungguh tidak kuasa untuk menolak keinginan Rani yang terus menangis untuk bertemu dengan Rani, " ucap Tante Desi sedikit malu dan merasa tidak enak.


Ummah lalu mengusap lembut punggung Tante Desi, "Tidak apa-apa Bu Desi. Saya dan keluarga malah senang, jika cucu Bu Desi mau berkunjung kemari. Karena semenjak kehadirannya, banyak perubahan yang terjadi pada Rani."


Ummah terdiam sesaat dengan wajahnya yang tampak terlihat serius.


"Sudah lama sekali, kami sekeluarga tidak pernah lagi melihat senyum di wajahnya Rani. Setelah kepergian putra kami Fariz. Rani begitu sangat terpukul, dan belum dapat melupakan semua kenangan nya bersama Fariz, yang sangat ia cintai. Tetapi, semenjak kehadiran putri Roy dalam kehidupan Rani. Putri kami terlihat lebih bersemangat dan banyak tersenyum, " imbuh Ummah dengan matanya yang berkaca-kaca.


Tante Desi lalu mengenggam jemari tangan Ummah erat, "Iya Bu Putri. Saya paham apa yang Bu Putri rasakan, sebab dulu saya juga pernah merasakan kehilangan Roy. Tetapi Tuhan, mengembalikannya lagi kepada saya, dan itu semua atas pertolongan almarhum Nak Fariz. Almarhum adalah anak yang sangat baik dan berhati mulia, wajar dan sangat pantas sekali. Jika Rani sulit untuk melupakannya. "


Ummah menatap wajah Tante Desi, lalu menyeka air mata nya yang hendak jatuh.


"Astaghfirullah, maaf Bu Desi. Saya malah terbawa suasana."


"Tidak apa-apa Bu Putri, saya mengerti, " sahut Tante Desi.


Kak Roy yang duduk di dekat Tante Desi diam dan terus mendengarkan percakapan antara Ummah dan mamanya.


Wajahnya juga terlihat serius dan larut dalam pikirannya yang dalam.


"Andai saja, Rani juga dapat mencintai diriku sedalam ia mencintai almarhum Ustad Fariz. Maka aku akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Tetapi, kali ini aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatimu Rani. Aku berjanji akan membawa kebahagiaan dan tawa dalam kehidupan mu, dimana dirikulah yang akan menjadi alasan terbesar bahagia mu, " gumam Kak Roy di dalam hatinya.


Abi lalu menepuk pundak Kak Roy perlahan, "Lho Roy kok melamun!. "


Kak Roy terkejut menatap wajah Abi.


"Akh, tidak Om. Roy hanya sedang berpikir saja, " elak Kak Roy.


Abi mengkerut kan dahinya, lalu duduk di hadapan Kak Roy di dekat Enjid.


"Apa yang sedang Roy pikirkan?. "


Kak Roy terlihat bingung, dimana di dalam benaknya ia terus mengingat diriku. Hingga lisannya tanpa ia sadari, menyebut namaku.


"Rani, Om. "


Semua orang langsung memandang ke arah Kak Roy.


Kak Roy melihat satu persatu wajah semua orang yang memandangi dirinya, dengan rasa tidak keenakan. Kak Roy pun berupaya untuk berdalih, "Maksud saya, Rani putri saya Om. "

__ADS_1


"Oh... Om kira Rani, putri Om, " ucap Abi sambil tersenyum menggoda Kak Roy.


Kak Roy tersipu malu dengan wajahnya yang memerah, lalu tersenyum meringgis.


Ummah dan Tante Desi saling berpandangan satu sama lain, kemudian tersenyum bersama.


Kak Roy yang merasa tidak nyaman dan malu, lalu izin permisi untuk melihat keadaan putrinya.


Sementara Om Surya, tengah asyik berbincang-bincang dengan Abi dan Enjid.


Begitu pula dengan Ummah dan Tante Desi.


Kak Roy melangkah perlahan menuju ruan makan untuk mencari keberadaan putrinya, tetapi tidak ia temukan. Hingga Bik Inah menghampiri Kak Roy.


"Nak Roy pasti sedang mencari Nak Rani dan putri Nak Roy ya?, " ucap Bik Inah.


Kak Roy mengangguk dan melihat ke sekitar, untuk menemukan keberadaan ku dan putrinya.


"Iya Bik Inah, apakah bibi tahu keberadaan mereka?, " tanya Kak Roy.


Bik Inah tersenyum, lalu menarik tangan Kak Roy yang membuat Kak Roy terkejut.


"Ayo, Nak Roy ikut Bibi, " ajak Bik Inah.


Kak Roy pun menurut saja, mengikuti langkah kaki Bik Inah yang menarik tangan nya.


"Nak Rani, mengajak putri Nak Roy ke taman belakang. Itu tempat favorit Nak Rani bersama almarhum Nak Fariz. "


Kak Roy terdiam mendengarkan apa yang Bik Inah katakan.


"Mereka berdua adalah pasangan yang serasi dan saling melengkapi, tetapi takdir berkata lain pada cinta mereka. Jika saja Nak Fariz masih ada tentu Nak Rani akan sangat bahagia. Selama Bibi mengenal Nak Rani, dia terlihat begitu sangat bahagia menjalani kehidupannya. Saat Nak Fariz bersamanya, " ucap Bik Inah penuh haru.


Tiba-tiba langkah kaki Bik Inah terhenti, dengan segera Bik Inah menyeka air matanya. Kak Roy hanya dapat memandang wajah Bik Inah dan terdiam.


"Maafkan Bik Inah, ya Nak Roy. Sebab Bibi terbawa keadaan, " ucap Bik Inah yang masih terlihat sedih.


Kak Roy memegang pundak Bik Inah, "Tidak apa -apa Bik.Itu karena Bik Inah pasti meyayangi Rani kan?. "


Kak Roy tersenyum, dan Bik Inah mengangguk menjawab pertanyaan Kak Roy.


"Nah itu dia Nak Rani, Nak Roy, " ucap Bik Inah sambil menunjukkan jarinya ke arahku yang sedang menyuapi Rani.


"Ayo nak Roy, kita kesana!, " ajak Bik Inah.


Namun, Kak Roy menolak.


"Tidak Bik, saya menunggu disini saja. Saya ingin melihat mereka berdua dari kejauhan, agar tidak menganggu kebersamaan mereka, " ucap Kak Roy sambil terus memandang ke arahku dan putrinya.


Bik Inah tersenyum, "Baiklah jika begitu yang Nak Roy inginkan, kalau begitu Bibi tinggal dulu untuk menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk kedua orang tua Nak Roy, dan juga Ibu dan bapak ya Nak Roy. "


"Iya Bik, silahkan, " sahut Kak Roy.


Bik Inah lalu meninggalkan Kak Roy seorang diri, dengan terus mengamati dan memandangi diriku dari kejauhan.


Senyuman nya merekah bahagia, melihat begitu dekatnya diriku dan putrinya.


"Kak Roy!, "panggil Wirda sambil menepuk pundak Kak Roy pelan. " Hayo! sedang mengawasi Rani yah, "ucap Wirda sambil tersenyum.


" Astaghfirullah Wirda, kamu membuat Kak Roy terkejut saja. "


Ughhhh....


Kak Roy tampak menghela napasnya, sembari memegangi dadanya.


"Apa yang sedang Kak Roy lakukan disini, dengan mengamati Rani dari kejauhan?, " tanya Wirda memandang wajah Kak Roy yang terlihat tegang.


"Itu kamu sudah tahu apa yang Kak Roy lakukan disini, kenapa masih bertanya. Hmmm.. Wirda, kamu masih sama saja seperti yang dulu, meskipun sudah memiliki anak, " ucap Kak Roy tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.


"Hehehehe.., " Wirda meringgis.


"Lama kita tidak bertemu ya Kak Roy. Ayo kita menghampiri Rani , kak!, " ajak Wirda sambil menggendong putranya.

__ADS_1


Kak Roy menolak, "Tidak Wirda. "


"Lha kenapa, kak?. "


"Kakak tidak ingin menganggu kebersamaan Rani dan putri kakak. Biarkan saja mereka menghabiskan waktu berdua. "


"Baiklah, kalau begitu. Ayo kita mengobrol di taman samping kak. Bagaimana?, " tanya Wirda.


Kak Roy pun setuju.


Wirda dan Kak Roy, lalu berjalan menuju taman samping rumah yang ternyata ada Pak Budi yang sedang duduk meminum kopi, setelah membersihkan taman.


Wirda dan Kak Roy pun menyapa Pak Budi, lalu duduk bersamaan pada kursi di melingkar di dekat Pak Budi.


Mereka bertiga berbincang banyak hal, dan mengenang momen masa lalu mereka. Hingga Wirda yang spontan langsung bertanya kepada Kak Roy tentang perasaannya kepadaku. Dan sontak saja, Kak Roy menjadi terdiam seketika.


"Mengapa Kak Roy diam? Apakah itu berarti Kak Roy masih memiliki perasaan yang sama kepada Rani?, " tanya Wirda ingin tahu.


Kak Roy tersenyum kecil memandang wajah Wirda dan Pak Budi, yang memandang serius wajah Kak Roy.


"Tanpa kakak katakan, kamu pasti lebih tahu Wirda. Bagaimana perasaan ku padanya. Begitu pula Pak Budi. "


Pak Budi tersenyum, begitu pula Wirda.


"Selama beberapa tahun ini, aku menepi dan menjauh dari kenangan ku bersama Rani. Tidak pernah sedikitpun aku dapat melupakan dirinya, bahkan meskipun itu hanya sedetik saja. Perasaan ku tetap sama untuk Rani dan tidak akan pernah berubah sampai kapan pun, " imbuh Kak Roy.


"Aku tahu itu kak. Tetapi bagaimana hati Kak Roy dapat menerima Rani menjadi istri almarhum Kak Fariz?, " tanya Wirda sambil menimang putranya.


"Kata orang, tahap tertinggi dalam mencintai adalah ketika bisa merelakan seseorang asal dirinya bahagia. Begitu pula yang aku lakukan selama ini terhadap perasaan ku kepada Rani. Dimana cinta itu terkadang tak harus memiliki. Saat mencintai Rani, aku sering kali lebih mementingkan perasaannya dibandingkan memikirkan diriku sendiri. Salah satunya dengan cara membiarkan dirinya tersenyum bersama dengan orang lain ,meskipun hal tersebut membuatku sangat menderita. Tetapi aku mengikhlaskan nya, karena hatiku yakin almarhum Ustad Fariz adalah sosok yang tepat dan terbaik untuk kebahagiaan Rani.


Yah, Wirda. Karena mencintai memang membutuhkan pengorbanan, " tutur Kak Roy lirih dengan perasaannya yang dalam.


Wirda dan Pak Budi tersentuh mendengarkannya.


Pak Budi menepuk pundak Kak Roy pelan, "


Jika Nak Roy benar-benar dapat mencintai Nak Rani secara utuh.Dan Nak Roy memang sudah menganggap Nak Rani adalah sosok yang tepat bagi Nak Roy, maka mencintai Nak Rani bukan lagi menjadi sebuah pilihan. Tetapi keharusan yang harus dengan sepenuh hati dilakukan.Semoga kalian berdua berjodoh, dan Allah mendekatkan kalian berdua untuk menjadi pasangan yang halal, "ujar Pak Budi.


" Aamiin ya rabbal'alamiin, "sahut Wirda dan Kak Roy bersamaan.


Kak Roy tersenyum merekah, ia seperti merasakan, jika kali ini kesempatan untuk semakin dekat kepada diriku. Begitu terbuka lebar.


Sementara itu, aku masih bersama Rani dan mengajaknya bermain mengelilingi kediaman rumah keluarga Imandar.


Bersamanya aku merasa hidup dan menemukan kebahagiaan ku lagi.


Dalam langkah kecilnya, ia menuntun langkahku untuk merasakan kebahagiaan yang ada di dalam hatinya.


Aku benar-benar menjadi diriku yang dulu. Rani yang sederhana dan apa adanya dalam menjalani kehidupan.


Sesekali ia melemparkan senyumnya yang manis padaku, dimana seketika hatiku terasa meleleh melihatnya.


Dengan perlahan ku usap kepalanya, dan mengelus pipinya yang merona di terpa cahaya mentari pagi.


Dia memelukku lagi, dan mengatakan ucapan kasih sayangnya padaku.


Aku pun juga membalas pelukan nya,berjalandan mengenggam jemari tangannya yang mungil. Kemudian mengajaknya berjalan memutari taman bunga Ummah yang indah dan harum semerbak, menebarkan aroma wanginya.


" Mas Fariz, lihatlah! Allah telah mengirimkan diriku kebahagiaan yang menjadi alasan ku untuk menjalani kehidupan ku saat ini. Namanya Rani sama seperti diriku, dan tingkahnya menyerupiaku pula. Meskipun ia tidak terlahir dari rahimku, tetapi aku sungguh-sungguh menyayanginya, "gumamku dalam hati sembari terus berjalan mengenggam jemari tangan Rani.


Aku dan Rani kecil begitu bahagia dalam kebersamaan kami.


Indah dan penuh dengan gelak tawa, membingkai momen kedekatan ku dengannya. Dimana tidak ada jarak atau penghalang, karena ikatanku dan dirinya terjalin karena rasa kasih sayang yang tidak kupahami kehadirannya.


Wuzzzz...


Sang Bayu bertiup perlahan, menggoyangkan bunga-bunga yang bermekaran dan pepohonan.


Mereka seakan ikut menari dan turut berbahagia, melihat kedekatan ku dan putri Kak Roy.


Begitu pula, semua orang yang menatap ku dan Rani. Dari kejauhan di dalam rumah, dengan senyuman kebahagiaan pula.

__ADS_1


" Aku ingin terus melihat Rani ku dan putri ku, tersenyum bahagia seperti itu, "ucap Kak Roy yang telah berada kembali di ruang tamu bersama yang lainnya.


" Aamiin,"sahut Wirda yang berada di samping Kak Roy sambil tersenyum.


__ADS_2