
Aku dan Pak Budi sampai di kediaman keluarga Suprapto.
Sore hari kian beranjak pergi di gantikan peralihan senja kelabu mendekati malam.
Langit pun terlihat semakin gelap dengan guyuran hujan yang belum reda.
Udara terasa semakin dingin bersamaan dengan hembusan angin yang mengugurkan dedauan kering dan rapuh.
Aku keluar dari mobil sambil membawa tas yang berisi pakaian dan beberapa perlengkapanku lainnya.
Dengan langkah perlahan ditemani Pak Budi aku masuk kedalam rumah.
Cekrekkkk.....
Aku membuka pintu perlahan seraya membaca do'a memasuki rumah,
"Allahumma innii as-aluka khoirol mauliji wa khoirol makhroji bismillaahi wa lajnaa wa bismillaahi khorojnaa wa'alallohi robbina tawakkalnaa (Ya Allah,sesungguhnya aku mohon kepada-Mu baiknya tempat masuk dan baiknya tempat keluar dengan menyebut nama Allah kami masuk,dan dengan menyebut nama Allah kami keluar dan kepada Allah Tuhan kami,kami bertawakkal,"ucapku sambil melangkahkan kaki kananku pelan.
Dan baru saja aku masuk rumah beberapa langkah.
Tarrrr.....pyarrr....
"Astaghfirullah,Ya Allah,"ucapku terkejut sambil memegang dadaku yang berdetak kencang.
Benda yang terlempar dengan cepat ke arahku jatuh dan Alhamdulillah aku tidak terkena dan terluka.
"Nak Rani baik-baik saja?,"tanya Pak Budi cemas.
"Iya Pak,"jawabku.
Siapa yang melakukan ini?ucapku dalam hati sambil melihat ke arah sekitar.
Tak...tak...tak...
Suara langkah kaki mendekat ke arahku da Pak Budi.
"Hmmmm....sayang sekali lemparannya meleset.Mungkin ini keberuntunganku,tetapi tidak untuk lain kali,"ucap Mbak Riska sinis.
"Yah,hitung-hitung ini sambutan selamat datang dengan suasana baru.Untuk menyambut menantu keluarga ini pulang kerumahnya.Tetapi,bukan menantu impian melainkan menantu yang tidak dianggap.Hahahaha....,"sahut Bu Sri.
Aku hanya diam dan melihat ke arah mereka seraya membaca istighfar di dalam hati.
"Nak Rani istirahat saja di atas.Tas nya biar bapak bawakan,"ucap Pak Budi.
"Kamu bilang apa Pak Budi.Rani di sini bukan seorang putri yah,biarkan dia membawa tasnya sendiri."
Bu Sri berjalan mendekatiku sambil melanjutkan kata-katanya.
"Oh...ya satu hal lagi.Mulai sekarang kamarmu bukan di atas tetapi di belakang di dekat gudang.Alias kamar pembantu,mengerti!,"bentak Bu Sri.
Dan sekali lagi aku hanya diam.
"Kamu tinggal di sini juga tidak gratis ya.Jadi kamu disini juga harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sama selayaknya pembantu,kamu paham kan!,"kata Mbak Riska kasar.
"Betul sekali Ris.Hahhaha....menantuku pembantuku juga,"ledek Bu Sri.
"Kamu paham nggak sih,kok diam saja,"ucap Mbak Riska dengan mendorongku.
"Auwww...,"teriakku kecil karena terjatuh.
Namun,dengan cepat Bik Siti berlari menolongku bersama Pak Budi.
Sementara Bu Sri dan Mbak Riska berlalu membiarkanku.
"Nak Rani tidak apa-apa?,"tanya Bik Siti dan Pak Budi bersamaan.
Aku mengangguk perlahan.
"Ya Allah sabar ya nak Rani,"ucap Bik Siti dengan nada kasihan melihatku.
"Ya sudah Bik.Bik Siti bantu nak Rani masuk ke kamarnya dan saya bawakan tasnya.Kasihan nak Rani baru sembuh dari sakit,"kata Pak Budi.
"Iya Pak Budi.Untuk sementara nak Rani biar tidur sekamar dengan saya saja supaya saya bisa jagain nak Rani,"sahut Bik Siti.
"Tidak usah Bik.Rani nggak apa-apa,nanti malah Bu Sri memarahi Bik Siti karena membiarkan Rani sekamar dengan Bik Siti,"kataku sambil memegang tanganku yang nyeri.
__ADS_1
"Nggak apa-apa nak.Kamar nak Rani belum dibersihkan,kan nak Rani baru sembuh dari sakit.Nantj jika sudah dibersihkan baru nak Rani pindah ya,"pinta Bik Siti.
"Baiklah Bik.Terima kasih ya Bik,"ucapku lembut.
"Sama-sama nak,"balas Bik Siti sambil mengusap pundakku pelan.
Kami bertiga pun melangkah menuju kamar Bik Siti.
Sesampainya di kamar Bik Siti dan selesai melaksanakan salat Maghrib.
Aku merebahkan diriku di atas kasur yang terletak di atas lantai.
Nghhhhhhhhhhhhh.....
Aku menggeliat.
Alhamdulillah bisa beristirahat sebentar,batinku.
Aku memandangi sekitar kamar dan kulihat Bik Siti belum selesai melaksanakan salat.
Tok...tok...tok...tok ...
Suara pintu kamar Bik Siti di ketuk secara keras.
Dengan cepat aku bangkit dari rebahanku supaya Bik Siti tetap khusyuk menunaikan salatnya.
"Iya sebentar,"ucapku sambil membuka kunci pintu.
Namun,belum sempat pintu ku buka sepenuhnya dengan cepat pintu kamar Bik Siti di banting keras.
"Astaghfirullah,"ucapku sambil menutup kedua telingaku.
"Kenapa pesan dan telepon dariku tidak kamu balas dan angkat?HAH!,"bentak Kak Reno.
"Ada apa ini?,"tanya Bik Siti terkejut dengan masih memakai mukena.
"Nggak apa-apa Bik,"ucapku menenangkannya.
Lalu tiba-tiba Kak Reno menarik tanganku dengan kasar.
"Nak Rani...,"ucap Bik Siti sedikit berteriak cemas padaku.
"Nggak apa-apa Bik.Bik Siti di sana saja,"pekikku pada Bik Siti.
Bik Siti hanya memandang khawatir padaku tanpa dapat berbuat apa pun.
Sementara Kak Reno terus menarik tanganku hingga tubuhku terasa terseret.
"Buatkan aku roti bakar dan susu hangat!,"perintah Kak Reno sambil melemparkan tubuhku di lantai dapur dengan keras.
"Astaghfirullah ya Allah,ughhhh.....,"ucapku sambil meringgis kesakitan menahan kepalaku yang terbentur lantai.
Kak Reno menarik kursi dan duduk dengan mengangkat satu kaki kanannya di atas kaki kirinya.
Ia menatapku dengan sangat marah dan kesal.
"HEI CEPAT BERDIRI! AKU LAPAR!,"bentaknya keras padaku.
Dengan bertumpu pada kedua tanganku perlahan aku bangkit dan membuatkan apa yang diminta Kak Reno.
Sementara itu kulihat sekilas Kak Reno sedang asyik memainkan telepon genggam miliknya.
Beberapa menit kemudian,aku telah selesai menyiapkan roti dan susu di atas meja lalu niatku ingin segera pergi darinya.
"HEI,kamu mau kemana?tetap berdiri di situ!,"bentaknya lagi.
Aku pun diam dan menghentikan langkah kakiku.
Kak Reno mulai mencicipi Roti dengan ekspresi datar sambil tetap memainkan telepon genggamnya.
Lalu ia menyeruput susu hangat.
"Wuekkkkkk......akhhhhhh...akhhhh....panas!,"teriaknya.
__ADS_1
Kembali matanya memandang marah kepadaku.
"Kamu itu buat susu saja tidak bisa apa.Kamu senang jika lidahku melepuh HAH!,"bentaknya lagi.
Namun,aku tetap diam.
Dan ia mencengkram pipiku dengan kasar dan kuat.
"Kamu itu apa bisu, hanya diam saja di ajak berbicara.Atau kamu itu tuli tidak mendengar apa yang kukatakan," ucap Kak Reno marah.
Dengan menahan rasa sakit aku berusaha tetap diam.
"Kalau orang sedang bicara kamu tatap matanya!,"ucapnya sedikit berteriak dengan memaksa kepala dan mataku untuk menatapnya.
Namun,aku berusaha tidak untuk melihatnya dan sedikit melawan hingga Kak Reno terlihat sangat kesal sekali.
"Oh....jadi kamu mau melawan yah,baiklah kalau begitu maumu,"ucapnya marah.
BYURRRrrrr......
"Astaghfirullah...Ya Allah.....auwwww,"pekikku.
Kak Reno menyiram susu panas ke kepala dan wajahku.
"RASAKAN ITU! HAHAHA,"teriaknya senang.
"Astaghfirullah nak Rani,"teriak Bik Siti mendekatiku.
"Bik Siti diam jangan membantunya.Jika Bik Siti berani membantunya akan Reno suruh mama memecat Bik Siti,"hardik Kak Reno pada Bik Siti.
Mendengar perkataan Kak Reno perlahan Bik Siti mundur dengan mata berkaca-kaca.
Sementara aku mengusap susu yang tumpah di wajahku dengan tangan.
Namun,tidak cukup sampai di situ.
Kak Reno kembali menarik tanganku seraya menyeretku.
Lalu ia menghempaskan tubuhku menjauh darinya.
"Malam ini kamu tidur di luar dan bukankah aku baik secara tidak langsung tumpahan susu yang kusiram telah dibersihkan oleh air hujan.Pastikan kamu tidak kedinginan ya,Hahahahaha.....,"ucap Kak Reno sangat senang.
Pintu tertutup.
Aku masih tersungkur di lantai tanah dan batu di halaman rumah.
Byurrrr.....
Hujan yang turun dengan deras mengguyur tubuhku.
Duarrrr......Duarrrr....Duarrrr......
Petir kembali menyambar dengan suara kerasnya.
Hatiku rasanya perih teriris.
Air mataku tumpah namun,tersapu oleh aliran hujan yang deras.
Ya Allah,kuatkanlah aku melalui ini semua.
Sembari menopang tubuhku untuk berdiri.
Ughhhhh...eghhhhhhh....
Aku mengigil kedinginan.
"Nak Rani...,"teriak Bik Siti mendekatiku sambil menangis dan memayungiku.
"Bik,Bibi masuk saja.Nanti bibi bisa terkena masalah karena menolong Rani,"ucapku sambil mengigil.
"Sudah Nak Rani tidak usah memikirkan itu.Ayo sekarang kita masuk lewat pintu belakang,"ucap Bik Siti sambil merangkul tubuhku.
"Tapi Bik,"bantahku.
"Sudah ayo masuk nak.Turuti Bik Siti,"sahutnya.
__ADS_1
Aku pun tidak dapat membantah ucapan Bik Siti.
Dengan perlahan dan pelan Bik Siti membawaku masuk lewat pintu belakang dengan bantuan Pak Budi yang telah menanti kami.