Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Menjadi satu.


__ADS_3

Sesampainya di tempat tujuan yang menjadi tujuan kami. Semua orang pun turun dengan penuh raut kebahagiaan. 


Beberapa asisten rumah tangga keluarga Imandar membawa semua koper barang-barang turun dari bus. Kemudian, mengantarnya masuk menuju ke kamar penginapan masing-masing. 


Tempat penginapan yang Kak Rafa pilih sangat teduh dan sejuk. Setiap kamar penginapan terpisah dari satu yang lainnya. Kamar penginapan di sini seperti rumah perorangan, yang di lengkapi dengan segala aktivitas di dalamnya. Meskipun dari luar terlihat sangat sederhana dan minimalis. 


Aroma kesejukkan dan keteduhan begitu terasa. Saat pertama kali menginjak kan kaki di sini. 


Kak Rafa benar-benar memilih tempat yang tepat. Untuk membuat kami semua healing, dari segala aktivitas dan peristiwa yang sudah terjadi. 


Setelah menuju ke kamar masing-masing untuk mandi dan berganti pakaian. 


Kemudian, kami semua melaksanakan salat secara berjamaah. 


Lalu, kegiatan di lakukan dengan mengadakan pesta barbeque di tengah halaman atau hamparan pohon pinus. Yang tepat berada di tengah atau berhadapan langsung dengan kamar penginapan kami semua. 


Semua orang berkumpul dan menikmati sajian makanan juga minuman hangat yang tersedia. Setelah menempuh perjalanan yang jauh dan panjang. Kini saatnya, mengisi perut yang sudah keroncongan karena lapar. 


Kak Reno mengambilkan makanan dan minuman untuk  kami berdua santap. 


Aku melihat ke arah nya saat ia datang hanya dengan membawa satu piring berisi makanan dan satu gelas susu hangat.


Kemudian, meletakkannya di hadapan ku dengan pelan dan senyuman nya yang khas. 


'Mengapa Kak Reno hanya membawa masing-masing satu buah?. Apakah Kak Reno tidak makan?, "tanya ku padanya. 


Kak Reno tersenyum dan mengusap kepala ku yang tertutup hijab. 


" Aku akan makan sepiring berdua dan segelas berdua dengan mu Ran. Dimana dengan masing-masing tangan kanan. Kita akan saling menyuapi satu sama lain, "ujarnya.


Aku terdiam mendengarkan perkataan Kak Reno tanpa bergeming sedikit pun. 


Setelah membaca do'a makan. Kak Reno pun menyuapi ku makan secara langsung dari jemari tangan nya. 


Dan aku pun tidak dapat menolak nya. Setelah itu, Kak Reno pun meminta diri ku untuk menyuapi nya makan pula. 


Kami saling menatap satu sama lain. Menikmati setiap jumputan makanan yang masuk ke dalam mulut. Dengan suasana penuh keromantisan. Di bawah teduhnya aroma khas pohon pinus yang segar. 


Dan langit indah dengan taburan bintang-bintang yang bersinar. Aku dan Kak Reno menikmati setiap kedekatan ini. 


Tetapi tidak lama kemudian, Wirda datang mengagetkan ku dan Kak Reno. 


" Duarrr… cieeee.. yang makan dengan suap-suapan. Romantis nya, jadi iri aku, "celetuk Wirda sambil memegang pundak ku. 


Aku pun tersipu malu mendengarkan perkataan Wirda. Sementara itu, Kak Reno hanya tersenyum kecil dan terlihat biasa. 


" Minta pada Kak Rafa untuk menyuapi mu juga, Wirda,"kata Kak Reno menggoda Wirda. 


Wirda tersenyum dan membalas candaan yang di lontarkan oleh Kak Reno. 


"Jika aku dan Kak Rafa saling menyuapi satu sama lain. Maka kalian akan tersaingi dong keromantisan nya. Hehehehe, " sahut Wirda. 


Aku pun segera menanyakan akan kedatangan Wirda. 


"Oh ya, Wirda ada apa?, " tanya ku. 


Wirda menatap diri ku sebentar dan tersenyum. 


"Hmm, aku ingin mengobrol dengan mu sebentar Ran. Selagi Fariz sedang duduk diam bersama Kak Rafa, Ummah, Abi dan Enjid. Tetapi, sepertinya kedatangan ku menganggu kalian berdua ya?, " ucap Wirda sambil meringgis. 


Aku pun tersenyum kecil pada Wirda. 


"Tidak Wirda, kedatangan mu tidak mengganggu kok. Lagi pula aku dan Kak Reno hampir sudah selesai makan, " ucap ku. 


"Benarkah itu?, " tanya Wirda memandang ke arah ku dan Kak Reno secara bergantian. 


Dan Kak Reno pun menjawab pertanyaan dari Wirda. 


"Iya Wirda, silahkan kamu berbicara dengan Rani. Tetapi ingat jaga dia jangan sampai istri yang sangat ku cintai kenapa -napa ya. Hehehehe, dan jangan terlalu lama. Sebab pandangan mata ku tidak tahan. Jika tidak melihat kehadiran Rani di dekat ku, " tutur Kak Reno dengan tersenyum penuh candaannya. 


"Akh, siap Kak Reno. Aku akan menjaga istri mu yang sangat cantik ini dengan baik. Kak Reno tenang saja, " sahut Wirda. 


Kemudian, Wirda mengajak ku untuk duduk berdua tidak jauh dari api unggun. Setelah sebelumnya aku sudah mencuci tangan ku. 

__ADS_1


Saat aku duduk di dekat Wirda. 


Aku sedikit melirik ke arah Kak Reno yang sedang mengobrol bersama Ummah, Abi, Enjid dan Kak Rafa. Namun, beberaoa kali ia pun juga melihat ke arah ku. 


Hingga dari kejauhan kami saling menatap dan melemparkan senyum. 


Tanpa ku sadari pandangan mata ku, juga tidak mampu lepas dari menatap dirinya. 


Rupanya Wirda melihat sikap ku dan Kak Reno. Hingga ia pun berdeham untuk menggoda ku. 


"Ehem, ciee yang lagi kasmaran. Bawaannya mau saling memandang selalu, " ucap Wirda sambil mencolek pipi ku. 


Aku tersenyum pada Wirda sambil tersipu malu. 


"Apa sih Wirda, " sahut ku. 


"Jangan malu seperti itu Ran. Aku dapat melihat secara jelas. Bagaimana diri mu dan Kak Reno sedang di mabuk api cinta, " ucap Wirda lagi yang kini mencolek pinggang ku. 


Aku mengkerutkan kening ku. 


"Hmm, bagaimana bisa kamu mengatakan seperti itu Wirda. "


"Semua orang yang melihat keintiman kalian berdua. Pasti dapat langsung menerka jika kamu dan Kak Reno sedang bersemi perasaan nya. Bukankah begitu Ran?, "tanya Wirda pada ku. 


Dan aku hanya tersipu malu mendengarkan ucapan nya. 


" Oh ya Wirda, tadi kamu mengatakan jika ada sesuatu hal yang ingin kamu bicarakan pada ku. Hal apa itu?. "


"Aku hanya ingin menanyakan kepada diri mu Ran. Apakah engkau sudah mencintai Kak Reno?. Apakah kalian berdua sudah menerima perasaan masing-masing?, " tanya Wirda ingin tahu. 


Tetapi Aku hanya terdiam dan tersenyum memandang Wirda. 


Dimana Wirda semakin penasaran dengan sikap ku. Kemudian, ia pun menggerakkan tangan ku dan merenggek seperti  seorang anak kecil. 


"Ayo Ran katakan. Jangan membuat diri ku penasaran, " pinta Wirda dengan wajahnya yang penuh harap. 


Aku pun tidak dapat menolak nya, karena aku sangat tahu bagaimana sifat Wirda. 


Dimana ia akan terus memburu diri ku. Hingga aku menjawab pertanyaan darinya. 


"Iya Wirda. Aku memang telah menyadari perasaan ku yang sebenarnya pada Kak Reno. Dimana Kak Reno pun sudah mengetahui jika aku mencintai dirinya, "jawab ku. 


Perkataan ku sontak membuat Wirda menjerit kegirangan. Dimana tatapan semua orang tertuju pada diri ku dan Wirda. Sehingga membuat ku dan Wirda sedikit menundukkan kepala, sambil tersenyum meringgis. 


Aku lalu menepuk pundak Wirda pelan. 


" Lihat karena teriakan mu, semua orang langsung melihat ke arah kita. "


"Aku tidak peduli Ran. Karena aku bahagia mendengar pengakuan akan perasaan mu. Oh ya Ran, aku ingin menanyakan satu hal pribadi lagi pada mu. Apakah boleh?, " tanya Wirda memandang serius pada ku. 


"Boleh tanya kan saja. Lagi pula, jika aku melarang nya. Kamu juga akan tetap memaksa untuk bertanya pada juga. "


"Hehehe, " Wirda tersenyum meringgis. 


Wirda lalu memegang jemari tangan ku. 


"Ran, apakah kamu dan Kak Reno sudah melakukan hubungan selayaknya suami istri?, " tanya Wirda dengan menatap ku serius. 


Mendengar pertanyaan dari Wirda yang mengagetkan. 


Aku pun langsung terbatuk-batuk. 


Wirda segera bisa berlari mengambil sebotol air mineral, yang tidak jauh dari kami duduk. Kemudian, Wirda memberikan sebotol air mineral itu pada ku. Dan aku pun langsung menerima pemberian Wirda dan meminumnya. 


Wirda kemudian mengusap punggung ku pelan, dan masih menunggu jawaban dari ku. 


Aku pun menghela napas pendek, lalu memandang ke arah Wirda. 


"Aku dan Kak Reno belum melakukan hal seperti itu Wirda. Bahkan saat diri ku masih menjadi istri almarhum Mas Fariz. Aku dan dirinya belum melakukan hal itu, " kata ku pelan. 


Wirda terkejut. 


"Ternyata saudati ku ini masih virgin. Hehehe, " goda Wirda pada ku. 

__ADS_1


"Hush, apa yang kamu katakan Wirda, " kata ku sambil menepuk pundak Wirda. 


Wirda tersenyum lagi pada ku. 


"Rupanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memang tetap menjaga diri mu jiwa dan raga. Dimana seperti nya hanya memang Kak Reno yang berhak sepenuhnya atas diri mu, Ran. Kalian berdua memang di takdir kan untuk bersama, " kata Wirda. 


Aku terdiam mendengarkan perkataan Wirda. 


Dimana tiba-tiba ekspresi wajah Wirda terlihat sangat serius, lalu ia memegang jemari tangan ku. 


"Ran, hubungan suami istri itu akan menjadi lebih kuat. Ketika jiwa dan raga mereka melebur menjadi satu. Saat kedua belah pihak sama-sama menyerahkan diri mereka masing-masing. Dan mengalir kan perasaan juga hasrat dirinya. Aku ingin melihat mu bahagia Ran. Dimana secepatnya engkau dan Kak Reno segera dapat memiliki momongan. Yang akan membuat kehidupan kalian. Semakin berwarna dan indah. "


Aku terdiam mendengarkan perkataan Wirda. 


Bress… Bress… Brees. 


Tiba-tiba hujan turun secara deras dan lebat. Pada hal langit tampak cerah. 


"Ayo Ran, segera berteduh dan masuk ke kamar, " ajak Wirda yang sudah terlebih dahulu berlari menuju Kak Rafa. 


Semua orang berlarian menyingkirkan barang, dan segera berteduh masuk ke dalam kamar penginapan. 


Aku pun melakukan hal yang sama. 


Namun, tiba-tiba pandangan mata ku tertuju pada Kak Reno. 


Ia tengah berdiri dengan mata terpejam menikmati guyuran hujan yang deras. 


Aku melihat ke sekitar ku yang sudah tidak ada lagi siapa pun. 


Dengan segera aku pun menghampiri Kak Reno, dan menarik tangannya untuk segera menepi dari guyuran hujan. 


"Ayo Kak Reno, segera kita masuk. Hujan nya sangat lebat. Nanti diri mu bisa jatuh sakit. Karena kehujanan, " ucap ku padanya, sambil menarik tangan Kak Reno untuk segera mengikuti langkah kaki ku. 


Namun, Kak Reno tidak beranjak dari tempat ia berdiri. Justru ia malah menarik tangan ku dan mendekap diri ku. 


Mata kami saling beradu. 


Serrr. 


Aliran darah ku mengalir seperti dalam sengatan listrik. 


Dingin dalam guyuran hujan yang sudah membasahi diri ku dan Kak Reno.


Ia semakin menarik tubuh ku,masuk semakin ke dalam dekapan nya. 


Kak Reno memegang wajah ku dengan kedua tangan nya. Lalu mendekatkan wajahnya pada wajah ku. 


Mata kami saling memandang.


Dingin dan berdebar.


Di bawah guyuran hujan,Kak Reno mengecup bibir ku dengan mesra. 


Aku mengigil kedinginan,tetapi api cinta nya terasa membakar kehangatan pada tubuh ku. Aku menikmati setiap kecupan mesranya.Hingga tanpa ku sadari,kedua tangan ku sudah  melingkar pada lehernya.


Hujan ini seperti ini lantunan musik romantis yang membakar gairah kami berdua. Tidak lama setelah itu, Kak Reno mengangkat tubuh ku dan menggendongnya menghadap wajahnya.


Dimana pandangan kami terus menatap tanpa henti,hingga tiba di dalam kamar penginapan.Raga kami seakan tidak ingin menjauh satu sama lain. 


Perlahan demi perlahan,penghalang dari yang membalut raga ini terlepas satu per satu. 


Tidak ada lagi jarak yang memisahkan ku dan Kak Reno.Hujan semakin lebat dan menyergap dengan udara dinginnya.


Aku dan Kak Reno semakin dekat.


Dimana raga kami telah menyatu, dalam guyurun peluh yang menjadi satu. 


Raga dan jiwa kami terasa terbakar dalam lucutan gelora hasrat cinta.


" Aku mencintai mu Ran.Sangat mencintai mu,"ucap Kak Reno dengan napasnya yang terengah-engah menatap  pada ku. 


Aku membelai kepalanya dan mengunci bibirnya dengan kecupan lembut berulang. 

__ADS_1


Hujan terus turun dengan lebatnya. 


Mengalunkan musik keromantisan yang mengikat raga kami, yang kini telah melebur menjadi satu. 


__ADS_2