Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Surat lagi.


__ADS_3

Ku buka perlahan amplop berwarna merah muda dari Kak Reno. Dimana Wirda yang berada di samping ku pun, terus menatap diriku serius, untuk segera membaca surat dari Kak Reno dan mengetahui isinya.


Rasa engan dan malas menghampiri diriku, lalu ku berikan amplop berisi surat dari Kak Reno kepada Wirda, yang sudah ku masukkan ke dalam amplop lagi


Wirda terkejut, "Lho Ran, kok di berikan padaku?."


"Kamu saja yang membacanya Wirda, lagi pula nanti isinya juga tidak penting, " jawabku sambil menyodorkan amplop kepada Wirda.


Wirda mengkerutkan dahinya, lalu segera ku berikan saja surat dari Kak Reno ke dalam jemari tangannya.


Wirda pun tidak bisa menolaknya, saat ia sudah melihat wajahku yang terkesan ogah-ogahan.


"Hmmm, baiklah Ran. Aku baca ya, " ucapnya.


Aku pun mengangguk pelan.


Wirda membuka amplop berisi surat itu dengan perlahan, sambil menatap diriku.


Wirda pun membaca surat dari Kak Reno dengan penuh penghayatan dan penjiwaan yang sengaja ia buat-buat.


Rani...


Banyak alasan dan juga banyak hal yang membuat seseorang tidak dapat bersatu dengan orang yang dicintainya.


Entah itu, karena perbedaan nasib. Tidak ada restu dari orang tua. Atau pun karena sesuatu yang tidak dapat dijelaskan, oleh akal pikiran dan logika manusia.


Dan jika sudah begitu, kita hanya memang memiliki cinta. Tetapi cinta itu tak dapat memiliki seseorang yang sangat kita cintai.


Hingga bibir pun berkata," Aku tidak bisa memiliki dirimu seutuhnya.


Tetapi, aku tidak ingin pernah mengucapkan kalimat itu.


Karena hatiku akan hancur berkeping-keping dan melebur dalam penderitaan yang tak pernah berujung.


Rani...


Tentang cinta ini..


Tentang perasaan ku padamu...


Jangan tanya apa rencana ku pada mu.


Karena sesungguhnya, hati kecilmu lebih mengetahui niatku yang nyata dalam fatamorgana sikapku.


Terlalu naif, jika aku mengatakan jika cinta ini begitu dalam. Bagaikan dalamnya lautan.

__ADS_1


Engkau pasti akan menertawakan diriku, sebagai seorang pembual yang sedang di mabuk kepayang.


Namun, meskipun cinta ini begitu dalam.


Yang ku gambarkan seperti sebutir cinta yang begitu indah dan ingin kupersembahkan padamu,sebagai persembahan dari jiwa, yang tidak hanya terucap dalam lisanku saja.


Tetapi,aku sungguh-sungguh ingin menghabiskan masa hidupku bersamamu,Ran...


Dalam ikatan yang sakral dan indah di hadapan keridhoan Allah Ta'ala.


Angan yang indah, saat ikatan kita telah menjadi halal.


Dimana diriku pun mulai membuat anganku dalam harapan lantunan do'aku kepada Sang Maha Pencipta.


Aku membayangkan,


kita berjalan menyusuri pantai-pantai kebahagiaan, hutan lebat rimbun nan menghijau, gunung, ataupun taman-taman bunga yang bermekaran indah, yang menebarkan bau harumnya ke indra penciuman. Kemudian, sembari ku gandeng jemari tanganmu dengan penuh kehangatan.


InsyaAllah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menghijabah permintaan diriku.


Aku ingin engkau tahu Ran,


Betapa inginnya diriku memberikan sebentuk kebahagiaan ke dalam hatimu.Dimana aku benar-benar ingin melihat senyuman bahagia itu, mengembang dari bibir indahmu.


Akh, Ran..


Aku petik segala resah dan gelisah di dalam diriku, akan sikap keraguanmu padaku. Dengan satu tujuan ku yaitu membuang jauh-jauh pikiran kegelisahan, keesahan dan kesedihan dalam dirimu. Sehingga hanya kebahagiaan yang akan ,selalu kulihat setiap kali menatap wajah indah mu.


Tetapi setiap kali lagi aku ingin mengucapkannya padamu,bahwa hatiku bahagia, karena Allah telah menghadirkan dirimu dalam kehidupan ku.


Maafkan aku Ran,jika harus terus menuangkan perasaan ku dalam sepucuk surat padamu.Sebab,rasanya diriku seakan tak sanggup ,untuk terus mencintaimu hanya dari kejauhan.


Karena yang kutahu...


Rasa ini begitu nyata, dimana hanya namamu yang selalu menempati ruang di dalam relung hatiku. Dan menjadikannya dalam bentuk rasa rindu, yang juga begitu nyata dan terasa ngilu. Semuanya membelai sekaligus merobek hatiku.


Namun, aku menginsyafi akan kelemahan ku pada kehendak Sang Pencipta.


Yang membuat ku harus sabar menunggu, hingga Allah mejamah hatimu untuk menerima cintaku.


Aku tidak memaksamu Ran...


Tetapi ku mohon jangan cegah diriku untuk terus mencintai dirimu..


Karena hanya dengan mencintai dirimu lah, aku dapat bertahan selama ini, setelah cinta ku kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

__ADS_1


Aku tidak akan pernah letih menunggumu, untuk membuka hatimu padaku..


Meskipun itu harus kulakukan, hingga di sisa hidup ku...


Aku tak akan pernah lelah..


Dan biarkan ini menjadi penantian bagi diriku. Yang mana rasa ini masih tentang dirimu, yang selalu ku ikhtiar kan dan tak pernah ku lupakan dalam lantunan segala pintaku pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dimana dirimu selalu ku saja ku perbincangkan dalam istikharah,di atas sajadah ku denganNya.


Suatu saat nanti, bila segala penantian, do'a dan pinta telah menuju padaku. Maka aku yakin akan dirimu, dan ketetapan Nya akan cintaku.


Sampai jumpa disana Ran,


Di ujung penantian yang InsyaAllah penuh dengan kebahagiaan nantinya, bersama mu.


Dimana pintaku hanya satu yaitu, ingin Sakinah, Mawwadah dan Warohmah bersamamu, hingga ke Jannah nya.


Aamiin ya Rabb.


Yang selalu mencintai Rani.


Reno.


Wirda memegang surat dari Kak Reno, lalu memandangi diriku yang terdiam memandang ke laut, dan hanyut dalam pikiranku. Perlahan Wirda memasukkan kembali sepucuk surat yang telah ia baca, ke dalam amplop dan meletakkannya di dalam pangkuanku.


Tidak ada perkataan yang terlontar dari lisan Wirda, dimana ia hanya mengusap punggungku pelan dan mengenggam jemari tanganku, sembari mengangguk dan tersenyum kecil. kemudian, ia berlalu pergi dari hadapanku dan masuk ke dalam.


Sementara itu, aku masih terdiam dan melihat ke arah amplop pemberian Kak Reno.


Ada gemuruh aneh yang menjalar di dalam sanubari ku, dan terus menimbulkan rasa sensasi aneh yang terus mengalir pelan dan perlahan disetiap sel darahku.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, baik tentang diriku ataupun tentang Kak Reno.


Semuanya masih menjadi misteri dalam rencana Nya yang belum dapat ku mengerti.


Huft,


Ku hembuskan napas perlahan, untuk membuat diriku merasa jauh dari kegelisahan.


Aku masih duduk terdiam di balkon dan menikmati panorama alam yang sedikit dapat menghibur pikiran dan hatiku.


Meskipun, surat yang Kak Reno berikan padaku. Secara tidak langsung, sedikit banyaknya mulai mempengaruhi pikiranku dan terus mengisi benakku akan bayang dirinya.


Diriku berusaha menolaknya, tapi dayaku serasa tidak mampu untuk menghindari akan sesuatu yang terus menarik diriku untuk menyimpan memorinya di dalam benakku.


Angin terus membelai diriku, yang penuh akan kegelisahan yang tak pernah kupahami.

__ADS_1


Ya Allah, tuntunlah aku pada kebenaran Mu. Untuk meraih keridhoan Mu, gumamku sembari memejamkan kedua mataku.


__ADS_2