Jodoh Pilihan Tuhan

Jodoh Pilihan Tuhan
Mengenang.


__ADS_3

Tak ada yang memperkirakan jika diriku dapat berumur panjang,setelah tulang tengkoraknya retak, dua tulang belakangnya hancur, dan mengalami patah tulang di bagian pinggul, iga, dan di kedua kaki.Sesuatu keajaiban dari Tuhan, dimana tim dokter menyatukan tubuhku yang hancur kembali.


Kecelakaan ini membuatku lumpuh dari pinggang hingga ke kaki, namun aku berusaha untuk pulih meskipun belum sepenuhnya dan menjalani kehidupan ku dengan bantuan kursi roda,dengan dukungan dan motivasi yang kuat dari seluruh keluarga Imandar.


Aku tak ingat sama sekali kecelakaan yang menimpaku maupun upaya penyelamatan yang dilakukan saat diriku ditemukan.


Semua hanya gelap dan berbayang samar dalam memori otak ku.


Di kursi roda, aku terduduk diam memandangi langit biru bersih tanpa awan yang menutupinya. Kali ini Wirda yang menemaniku bersama Bik Inah yang kini tinggal di kediaman keluarga Imandar, membantu untuk menjaga dan merawat diriku. Sambil duduk di kursi, Bik Inah dan Wirda terus mengajakku berbicara. Meskipun belum sepenuhnya dapat ku respon perkataan mereka. Tetapi diriku memahami dan mengerti apa yang mereka berdua katakan.


Wirda menarik jemari tangan ku pelan, lalu meletakkannya di perutnya.


"Apakah kamu dapat merasakan nya Ran?, " tanya Wirda memandangi diriku.


Aku menatapnya lekat dan merasakan gerakan mahluk kecil yang berada di dalam perut Wirda, dan berusaha berkomunikasi dengan diriku melalui tendangannya yang dapat ku rasakan jelas gerakkannya. Hal ini membuat diriku tersenyum menatap Wirda sembari menganggukkan kepalaku pelan.


"Itu keponakan mu Rani, dia sedang menyapa dirimu. Memberitahu mu bahwa sebentar lagi ia akan terlahir ke dunia ini dan bertemu dengan dirimu, " ujar Wirda tersenyum bahagia.


Aku menatap Wirda seraya berpikir dalam benakku, "Bagaimana tiba-tiba Wirda bisa hamil, menikah dan tinggal bersama dengan diriku di rumah ini?. "


Pertanyaan yang aku sendiri bingung dan tak mampu untuk kututurkan kepada Wirda, karena keterbatasan diriku.


Bik Inah menatap ku dan Wirda penuh haru,dimana sesekali dapat kulihat ia mengusap kedua matanya yang penuh dengan air mata yang tergenang.


Kemudian dalam ketidaksengajaan Bik Inah pun berkata, "Seandainya Nak Fariz masih ada, pasti Nak Rani akan sama-sama sedang mengandung seperti Nak Wirda pula. "


"Husshh, bibi tidak boleh bicara seperti itu!," ucap Wirda dengan ekspresi wajah tidak suka.


"Astaghfirullah, maaf Nak Wirda, " sahut Bik Inah dengan segera seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Tetapi DEG.....


Jantung ku tiba-tiba berdegup kencang, saat Bik Inah menyebut kata "Nak Fariz".


Nama yang terasa tidak asing dan begitu dekat padaku. Pikiran ku tidak dapat beralih dari nama itu, yang terus bergelayut hinggap di dalam benakku.


Wirda lalu menatap diriku dan melihat ekspresi wajahku yang berubah, " Ada apa Ran?apakah kamu baik-baik saja?. "


Aku mengangguk pelan sembari memandang dirinya.


"Mungkin Nak Rani capek Nak Wirda, apakah sebaiknya kita ajak Nak Rani untuk masuk ke dalam saja Nak Wirda? Bibi kira kita sudah cukup lama berjemur disini, " ucap Bik Inah.


Wirda setuju atas saran dari Bik Inah dan meminta Bik Inah untuk mendorong kursi roda ku masuk ke dalam rumah.


Di atas kurrsi roda aku tetap terdiam, hanyut dalam perasaan dan pikiranku tentang nama Fariz yang mengusik hatiku untuk terus menerus menggali semua hal tentang dirinya.


Bik Inah membawa diriku ke kamar untuk beristirahat, tetapi setibanya di kamar. Kulihat sudah ada Ummah yang duduk di sofa bed sambil membawa map dan kotak besar. Kemudian Ummah meminta Bik Inah untuk mendorong kursi roda ku mendekati Ummah.

__ADS_1


"Terima kasih Bik Inah. Oh ya Bik tolong sekalian bibi siapkan obatnya Rani ya Bik, " pinta Ummah dengan sopan dan lembut.


"Baik Bu Putri, " sahut Bik Inah lalu bergegas.


Sementara itu,Ummah segera meletakkan barang yang ada di pangkuannya di atas meja dekat sofa bed. Lalu beliau tersenyum dan mendekat padaku.


"Apakah kamu baik-baik saja sayang?, " tanya Ummah sambil mengusap kepalaku.


Aku pun mengangguk pelan dan tersenyum padanya.


Tidak lama Bik Inah pun masuk membawa nampan berisi obat dan segelas air putih, bersamaan dengan Wirda di disisinya.


"Ini Bu Putri, obatnya Nak Rani, " ucap Bik Inah memberikan nampan tersebut.


Ummah menerima nya dan mengucapkan terima kasih. Lalu Ummah memberikan obat tersebut kepadaku, dan membantu ku untuk meminumnya.


Bik Inah segera mengembalikan nampan tersebut ke dapur. Sementara itu, Wirda ikut duduk di samping Ummah.


Kemudian Ummah mengambil map yang ia letakkan di atas meja, lalu meletakkannya di atas pangkuan ku, yang ternyata itu adalah album foto. Wirda memegang tangan Ummah pelan, "Apakah tidak apa-apa Rani melihat album itu Ummah?, " tanya Wirda cemas.


Ummah lalu menoleh ke arah Wirda, "Tidak apa-apa Wir, ini juga atas saran dokter untuk membantu mengembalikan ingatan Rani secara bertahap dan pelan. Sebab sekarang kondisi Rani sudah memungkinkan untuk kita bantu membangkitkan memori ingatan nya. "


Wirda terdiam tanpa berkata, dan hanya memandang diriku dan Ummah secara bergantian.


Ummah mengenggam jemariku erat, lalu menciumnya. Ku tatap matanya yang mendadak berkaca-kaca dengan linangan air mata, yang seakan -akan akan siap tumpah mengguyur wajahnya yang sendu.


Dengan suaranya yang bergetar penuh harus, Ummah berusaha berkata kepadaku, "Ummah berharap, semoga dengan melihat album foto ini. Akan dapat membuka memori dan kenangan indah yang telah terjadi pada hidupmu, sayang. "


Aku pun menatap haru pada Ummah, sementara Wirda mengusap punggung Ummah lembut untuk menguatkan nya.


Ummah kembali menatap wajahku dalam, dengan memegang wajahku kali ini, "Melihat sebuah foto bisa mengembalikan memori atas suatu peristiwa yang pernah terjadi, maka memori menyenangkan tersebut seakan tetap hidup dalam pikiran.


Juga dapat memutar kembali memori kenangan yang pernah kamu alami, sayang. Khususnya dengan Fariz,Ummah berharap demikian, " ucap Ummah dengan penuh pengharapan.


DEG...


Nama itu kembali membuat hatiku terus bergetar, sesuatu yang membuat jantungku berdetak tiada henti ketika mendengar namanya.


Kupandangi wajah Ummah yang kini telah basah dengan air mata. Wirda tidak berhenti menguatkan Ummah, meskipun usahanya sia-sia. Tetapi Wirda tetap berusaha untuk membalut kesedihan Ummah saat mengingat semua kenangan pahit yang telah terjadi.


"Ummah tidak apa-apa Wirda. Air mata ini hanya kerinduan pada almarhum Fariz, " ucap Ummah menyeka air matanya.


Dan lagi jantungku berdetak kencang saat nama itu kembali ku dengar.


Ummah kembali mengenggam jemariku, "


Dengan melihat album foto ini, kamu akan mengenang apa yang pernah terjadi di masa lalumu sayang, dan bisa dijadikan pegangan serta keyakinan untuk lebih bersyukur bahwa dirimu sudah berhasil bertahan sampai sekarang.Ummah ingin melihatmu dapat berjalan lagi dan sembuh total, sehingga dirimu dapat menjalani kehidupan mu lagi. "

__ADS_1


Ummah tampak memejamkan kedua matanya, lalu mengucapkan basmalah sebelum membuka album foto yang berada di pangkuan ku.


Dan di saat Ummah benar-benar sudah kuat dan yakin, secara perlahan demi perlahan. Ummah menceritakan tiap lembar foto yang ia buka kepada diriku, dengan suaranya yang terkadang terhenti atau terbata.


Ummah terus menekan perasaannya, demi kesembuhan ku dan melupakan akan rasa sakit juga rindu atas kepergian putra sulungnya untuk selamanya.


Aku tenggelam dalam pikiran yang mendalam,saat Ummah menceritakan setiap kejadian dalam album foto itu.


Dan diriku terus memikirkan laki-laki yang bernama Fariz, apalagi saat Ummah menunjukkan foto pernikahan ku bersamanya. Sungguh membuat diriku terkejut, dan tidak mampu melepaskan tatapan mataku dari memandang fotonya.


Dengan perlahan-lahan jemari tangan ku tanpa sadar terus mengusap lembut foto Mas Fariz. Dan entah kenapa aku merasa senang dan bahagia melihat fotonya. Mataku seakan mengirimkan impuls pada otakku untuk berusaha mengenali dan menemukan memori apa saja bersama pemilik wajah tersebut.


Ummah dan Wirda saling berpandangan satu sama lain melihat tindakanku. Dimana sesekali mereka berdua saling melempar senyum, setelah melihat respon ku.


"Dia bernama Fariz, sayang. Putra sulung Ummah, sekaligus suamimu nak, " ucap Ummah haru.


Aku memandangi wajah Ummah, lalu terus mengusap potret diri Mas Fariz.


Tiba-tiba,


Tes.. Tes... Tes..


Air mataku mengalir tanpa ku sadari dan bibir ku perlahan menyebutkan namanya, "Mas Fariz!, " ucapku lirih.


Ummah dan Wirda pun tidak dapat mengendalikan air mata mereka yang hendak mengalir, setelah melihat reaksi diriku yang menyentuh hati mereka berdua.


Sementara diriku terus larut memandangi foto Mas Fariz.


"Aku mengenalnya dan laki-laki dalam potret ini adalah suamiku," batinku.


Kilatan bayangan aneh seakan-akan bermain di kepala ku.


Terkadang kulihat senyuman wajah laki-laki yang ada di dalam foto ini menghiasi memori otakku. Apalagi saat Ummah memutarkan video akad nikah ku bersama Mas Fariz. Ingatan akan memori itu semakin jelas dan nyata, meskipun kepalaku terasa sakit dan pusing. Tetapi rasa keinginan ku untuk mengingat semuanya mengalahkan rasa sakit itu.


Semakin aku melihat dan memikirkan nya, hatiku terasa nyaman dan rileks.


Diriku seakan telah menemukan belahan jiwaku yang hilang, yang sangat diriku cintai,dan aku pun seakan mengetahui jika ia pun mencintaiku juga. Perasaan yang membuat diriku bahagia seolah-olah belahan jiwaku tengah memikirkanku dan terhubung denganku pula.


Sesuatu hal yang sederhana, dengan hanya melihat sebuah foto. Namun, sungguh membuat hatiku bahagia dan merasakan cintanya.


Setelah Ummah menunjukkan album foto tersebut padaku. Hampir sepanjang hari aku terus memikirkannya, tetapi pikiran-pikiran ini memang menghibur suasana hatiku dan membuat perasaan ku bahagia.


Bahkan sampai malam hari datang, aku pun terus memikirkannya tanpa henti.


Aku merasakan jika diriku dan dirinya telah terjalin hubungan jiwa.


Dimana menegaskan kembali fakta bahwa diriku begitu terhubung dengannya melalui energi, dan dapat menjadi poin untuk memunculkan waktu dan dimensi lain,bertemu dengan dirinya di alam bawah sadarku.

__ADS_1


Aku terbangun dan terjaga dari tidurku.


Pelan dan samar, memori ingatanku kembali berputar mengenang setiap kebersamaan yang kulalui dengan Mas Fariz.


__ADS_2