
Aku duduk santai di temani Bik Inah, sambil menikmati indahnya langit yang bertaburan bintang, sambil menyesap coklat hangat kesukaanku dari cangkir.Suasana di sekitar sangat tenang dan hening, dimana hanya terdengar suara gemercik dari pancuran air, dan riakkan gemuruh air laut yang tergulung ombak.Pohon-pohon kelapa yang menjulang dan tumbuh-tumbuhan yang rimbun, menambah ke sejukkan udara malam ini.
"Nak Rani, memikirkan apa?," tanya Bik Inah padaku.
Aku memandang ke arahnya, "Tidak ada Bik. Hanya Rani terus teringat akan putri Kak Roy. Semoga ia baik-baik saja, karena semenjak Rani tidak dapat bertemu dengannya dan tidak mengetahui keadaannya. Perasaan Rani menjadi tidak tenang."
Bik Inah terdiam mendengar perkataan ku.
"Nak Rani, ada sesuatu hal yang ingin Bibi tanyakan pada Nak Rani. Itu pun jika Nak Rani berkenan dan membolehkannya. "
Aku tersenyum kecil pada Bik Inah, "Katakan saja Bik Inah. Rani tidak keberatan mendengar pertanyaan Bibi, " jawabku tanpa ragu.
Bik Inah tersenyum lalu raut wajahnya tampak serius memandang diriku, "Seandainya putri Nak Roy sakit keras dan penyakitnya itu mengancam nyawanya. Apakah Nak Rani akan bersedia menikah dengan Nak Roy, untuk memenuhi permintaan putri Nak Roy?. "
Aku tersentak dan terkejut mendengarkan pertanyaan dari Bik Inah.
"Astaghfirullah, Bik Inah mengapa bertanya seperti itu Bik?, " tanyaku.
"Tidak apa-apa Nak Rani. Ini kan hanya sebatas pertanyaan saja. Bibi hanya ingin tahu, apa yang akan Nak Rani putuskan jika berada dalam kondisi seperti itu. Maaf ya Nak Rani bukan Bibi bermaksud lancang, " ucap Bik Inah serius.
Aku terdiam dan terlihat berpikir.
"Entahlah Bik, itu posisi yang sulit. Tetapi menjalani pernikahan karena desakan dan paksaan kondisi, itu tidak akan baik dalam keberlangsungan suatu hubungan. Apalagi pernikahan. "
Bik Inah memegang bahuku pelan, lalu tersenyum kecil.
"Oo.. Berarti Nak Rani menolak untuk menikah dengan Nak Roy ya. "
Aku menatap Bik Inah lagi, "Mengapa Bik Inah dapat menyimpulkan seperti itu, padahal Rani tidak berkata demikian. "
"Yah, secara tidak langsung. Bibi menangkap dari jawaban Nak Rani seperti itu, "jawab Bik Inah sambil tersenyum.
Aku terdiam lagi dan menatap ombak yang bergulung pelan sedikit jauh dari tempat duduk ku saat ini.
"Entahlah Bik. Aku hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah saja, " kataku lirih.
Tetapi tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang tidak asing di indra pendengaranku, dan lisannya merespon perkataan ku.
"Jika hatimu dapat menentukan keputusan yang tepat bagi kehidupan mu, lalu mengapa kamu hanya pasrah saja Rani! Seolah-olah perkataan mu itu, sebuah refleksi penyerahan ikhtiar mu. Padahal kamu sendiri tahu, jika hatimu sudah memiliki pilihan yang terbaik bagi hidupmu."
Aku pun langsung menoleh menghadap ke belakang, mencari sumber suara yang berkata demikian kepada diriku dalam redup cahaya malam. Dan betapa terkejutnya aku, ketika melihat orang yang berkata seperti itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Kak Reno. Maka dengan wajah yang sangat terkejut dan syok, aku pun langsung menanyakan kepada dirinya tentang keberadaannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini Kak Reno? Apakah kamu sengaja membuntuti kemana pun aku pergi?,"tanyaku dengan sedikit nada yang keras padanya.
Kak Reno pun tersenyum sambil berjalan pelan, lalu duduk di kursi yang tidak jauh dari tempatku berada dengan Bik Inah duduk. Ia pun lalu tersenyum kecil kepadaku, dimana pandangannya ia arahkan menghadap ke arah pantai.
"Dunia ini memang luas Rani, tetapi nyatanya terlalu sempit untuk selalu mempertemukan kita kembali, bahkan dalam keadaan yang tidak terduga sekali pun.Bagaimana aku bisa menghindari mu, jika Sang Pencipta ingin selalu mempertemukan kita. "
"Sudahlah Kak Reno, jangan berkelit. Apa yang kamu lakukan disini?, " tanyaku mendesaknya.
Dan dengan santainya ia menjawab pertanyaan ku.
"Aku sedang duduk disini. "
__ADS_1
Huft.. Kesal rasanya hatiku mendengarnya.
"Iya aku tahu itu. Maksudku apa yang kamu lakukan di hotel tempatku dan keluarga Mas Fariz menginap disini?."
Kak Reno tersenyum dan mengelengkan kepalanya, dan hal itu membuatku menjadi kesal.
" Mengapa kamu tertawa seperti itu Kak Reno? Apakah ada yang lucu? kamu memang benar-benar aneh!, "ucapku kesal.
Hehehe....
Kak Reno tertawa.
" Justru yang aneh itu dirimu Ran."
"Lho kok bisa? Aku yang aneh!. "
"Iya kamu itu aneh. Sudah tahu ini hotel, tempat orang menginap. Siapa pun orangnya, termasuk kamu dan diriku. Lalu, mengapa kamu masih menanyakan apa yang ku lakukan disini. Atau jangan... jangan.. Kamu ingin semakin tahu akan diriku yang sekarang ya!, " ucap Kak Reno dengan percaya diri dan semakin membuatku kesal.
"Astaghfirullah, begitu percaya diri sekali dirimu. Sudahlah, percuma bicara dengan orang seperti dirimu."
Aku bangun dari duduk ku, lalu mengajak Bik Inah untuk segera pergi menjauh dari Kak Reno.
Melihat aku pun berjalan menjauh darinya. Kak Reno pun langsung bangun dari duduknya, dan berjalan di samping Bik Inah beriringan dengan langkah kaki ku.
"Kenapa kamu masih mengikuti ku juga!, " ucapku kesal.
"Aku tidak mengikuti mu Rani. Aku sedang berjalan, " jawab Kak Reno santai.
"Iya aku tahu, kamu sedang berjalan bukan terbang. Ya sudah, silahkan kamu berjalan lebih dulu dan jangan mengikuti ku juga Bik Inah. Karena , jujur aku tidak suka melihatmu berada di dekatku, juga di hadapan ku, " kataku ketus.
"Kenapa Rani? Apakah kehadiran diriku membuatmu teringat akan masa lalu kita?, " tanya Kak Reno.
Aku menghela napas pendek lalu menjawab pertanyaannya, "Masa lalumu bersamamu sudah ku buang jauh dari dalam memori kehidupan ku, dan tidak ingin pernah ku ingat sedikit pun. "
"Termasuk cintaku padamu Rani? Apakah juga engkau buang begitu saja?, " tanya Kak Reno lagi.
Aku semakin kesal padanya, dengan semua ucapannya yang membuatku tidak suka dan tidak nyaman.
"Cukup Kak Reno!hentikan.Jangan pernah mengatakan cinta pada diriku. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencintaimu.Sebab di hatiku hanya ada satu cinta saja,dan itu milik almarhum mas Fariz. Tidak seorang pun dapat mengambil dan menggantikan posisinya di hatiku. Semoga kamu mengerti dan tidak membuntuti ku lagi, karena aku tidak suka akan kehadiran mu," gertakku padanya.
Kak Reno hanya tersenyum melihatku.
"Semakin dirimu menolak kehadiran diriku dalam kehidupan mu Rani. Maka semakin menunjukkan bahwa diriku, juga memiliki tempat khusus di dalam hatimu, " ucap Kak Reno sambil berjalan dan berlalu pergi dari hadapan ku.
Aku terdiam dan tidak bisa berkata-kata, sambil mengelengkan kepalaku akan sikap dan tutur katanya itu. Sementara itu, Bik Inah hanya tersenyum saja melihatku.
Dengan segera aku pun mengajak Bik Inah untuk menuju kamar tempat ku menginap.
"Astaghfirullah, begitu percaya diri sekali ia berkata seperti itu padaku, " gumamku pelan.
Aku dan Bik Inah berdiri di depan lift, untuk menuju kamar tempat ku menginap di lantai atas.
Pintu lift terbuka, aku dan Bik Inah pun langsung masuk.
__ADS_1
Dan lagi..
Entah dari mana datangnya dirinya. Padahal tadi ku lihat di sekitar ku, keberadaan nya hampir tiada dari pandangan ku.
Namun, kini tiba-tiba ia sudah berada lagi di hadapanku dan berada di satu lift yang sama. Aku segera ingin mengajak Bik Inah keluar dari lift, tetapi tangannya sudah terlebih dulu menekan tombol lift, hingga pintu lift tertutup rapat.
Huft..
Aku menahan rasa kesal karena harus berada di dekatnya lagi.
Dalam rasa kesal yang melanda hatiku, ky dengar ia menyapa Bik Inah dan melontarkan kata-kata kiasan untuk menyindir diriku, tetapi aku hanya diam dan tidak ingin terpancing perkataannya, yang memang kurasa ingin memantik amarah dan rasa kesal ku untuk merespon dirinya.
"Dunia ini terlalu kecil, hingga dirimu selalu mengikuti ,kemana pun diriku pergi. Apakah ini tandanya kita berjodoh?, " ucap Kak Reno.
Aku diam tidak memperdulikannya.
"Ya Allah, apa yang terjadi padanya. Hingga sikapnya sungguh aneh dan sangat menyebalkan seperti itu, " gumamku pelan.
Dan entah dari mana indra pendengarnya dapat mendengarkan perkataan ku. Hingga ia pun terus berkata dan membuat ku semakin merasa kesal dengannya.
"Ya Allah, jika ada yang bertanya apa yang terjadi dengan diriku. Maka beritahulah dia, bahwa dirinya lah yang membuat ku menjadi seperti ini. Seandainya dirinya tidak cuek dan mengabaikan diriku. Mungkin aku tidak akan menjadi orang yang menyebalkan baginya, " sahut Kak Reno.
Huft...
Aku kembali menarik napas dalam dan panjang, untuk membuat perasaan ku menjadi lebih tenang menghadapi sikapnya yang aneh dan sangat... sangat menyebalkan.
Bik Inah tersenyum dan menepuk pundak Kak Reno, "Sudahlah Nak Reno, jangan menggoda Nak Rani terus. Kasihan Nak Rani!, " pinta Bik Inah.
"Aku tidak menggodanya Bik. Aku hanya diam saja kan, dan menjawab apa yang ia tanyakan," sahut Kak Reno dengan tersenyum.
Bik Inah pun hanya menggeleng kan kepala nya.
Sementara itu, aku merasa seperti terkukung dalam kerangkeng berada satu lift dengannya.
"Ugh.. Mengapa jarak lift yang dekat ini .Tiba-tiba begitu terasa sangat lama seperti ini, " batinku di dalam hati.
Tidak lama kemudian, pintu lift pun terbuka. Aku tersenyum senang dan langsung buru-buru keluar, hingga tidak menyadari jika di hadapan ku. Ada pegawai hotel yang membawa alat-alat kebersihan berisi ember, pel dan lain-lain.
Gedubrak....
Aku menabraknya...
Air dalam ember tumpah, kakiku menginjak air yang tumpah..
Tubuhku sempoyongan tidak imbang, tanganku berusaha meraih sesuatu. Supaya diriku tidak terjatuh.
Hatiku berdebar kencang dalam degup jantung yang terus menjalar di ragaku.
Dengan cepat dan sigap Kak Reno menahan tubuhku, agar tidak terjatuh.
Pandangan kami bertemu dalam sensasi rasa aneh yang kembali ku rasakan, saat berada di dekatnya.
Untuk beberapa saat mata kami bertumpu dalam tatapan yang membius diri masing-masing. Dengan cepat aku pun melepaskan diriku darinya, dan mengalihkan pandangan ku dari tatapan nya.Aku segera menjauh darinya. Sementara itu, sorot matanya memandang kepergian diriku dengan lekat, sembari tersenyum.
__ADS_1
"Rani, kamu akan semakin dekat padaku, " ucapnya lirih.