
"Masuk.!" Ucap Abi mempersilahkan Hana ketika tiba di apartemennya. Sisa-sisa air mata masih terlihat di wajahnya. Butuh banyak bujuk rayu ketika Abi akan membawanya ke apartemen, Hana benar-benar enggan untuk meninggalkan mansion dan keluarganya di sana. Dia sudah terlalu nyaman tinggal di mansion, di tengah-tengah keluarga terlebih Ibunya.
Hana menghela nafas berat saat melangkahkan kakinya masuk ke unit apartemen Abi. Ini kali kedua Hana menginjakan kakinya, dan kali ini untuk selamanya.
Dengan langkah yang dipaksakan Hana pun menaiki tangga untuk menuju ke kamar utama. Dari awal Hana sudah menjelaskan bahwa ia tak akan mau untuk pisah kamar dengan Abi dan Abi pun sudah menyetujuinya.
Hanya ada satu kamar di lantai atas dan Hana pun menyakini itu kamar Abi, ia pun membuka kamar tersebut, memperhatikan tiap sudut-sudut kamar yang akan ditempatinya.
Dekorasi elegan dengan perabotan mewah, ranjang yang besar, tv layar datar yang sangat besar membuat Hana berdecak kagum.
"Semoga hidup gue di sini, seindah apartemen ini" batinnya berdoa. Ia pun menarik kopernya untuk masuk ke kamar. Di letakkannya koper itu di sudut ruangan kemudian ia langsung merebahkan dirinya di ranjang besar dan nyaman itu.
"Suka kan sama kamar gue? Ini gue dekor ulang lho!" Ucap Abi saat masuk ke dalam kamar, Hana pun kemudian bangun dari posisinya untuk duduk. Abi pun menghampiri Hana untuk duduk di atas ranjang.
"Iya bagus, Hana suka!" Sahutnya kemudian beranjak hendak merapikan barang-barangnya.
"Mau kemana?" Abi mencekal tangan istrinya.
"Mau rapiin barang-barang aku dulu Ka!" Jawab Hana.
"Udah ntar aja, duduk sini dulu kita ngobrol!" Pinta Abi kemudian menarik tangan Hana, Hana pun menurut.
"Kaka mau ngobrolin apa?" Tanya Hana, ia duduk menghadap suaminya.
"Lo yakin mau tidur sekamar sama gue?" Tanya Abi, Hana pun mengangguk.
"Lo gak takut?" Tanyanya lagi.
"Takut apa?" Kali ini Hana yang bertanya karena bingung dengan pertanyaan sang suami.
"Hana, gue itu laki-laki normal. Dan lo tau kan gak mungkin gue selamanya bisa nahan kalo lo tetep sekamar bahkan seranjang sama gue" Abi berusaha menjelaskan.
"Nahan apa?" Kali ini Hana benar-benar menguji suaminya.
"Nahan buat nuntut hak gue atas lo!" Jawab Abi kesal.
"Emang Kaka nafsu ngeliat aku? Bukannya aku ini cuma anak kecil yang gak sama sekali bikin Kaka bergairah, beda kalo sama selingkuhan Kaka itu. Baru denger suaranya aja udah bikin Kaka kangen keringetan sama dia. Yaiikkkkk.. Obrolan kalian menjijikan tau enggak!" Sindir Hana.
__ADS_1
Hana mendengar semua ucapan-ucapan vulgar suaminya dengan Raya pada waktu itu membuat Hana merasa kesal sekaligus jijik dengan mereka.
"Kalo emang aku sebegitu gak menggairahkannya buat Ka Abi, berarti gak ada alesan apapun dong buat aku takut tidur seranjang sama Kaka. Kok malah Ka Abi yang keliatan khawatir? Aneh?" Lanjutnya.
"Ternyata lo nguping semua obrolan gue sama Raya?" Tanya Abi ketus.
"Enggak, aku gak sengaja denger pas mau manggil Kaka buat makan malem. Paling enggak aku lega lah, ternyata Kaka gak nafsu sama aku, jadi gak ada yang perlu aku takutin lagi. Jadi Ka Abi juga gak perlu khawatir ya kan? Udah ah aku mau rapi-rapi barang aku dulu!" Hana pun beranjak meninggalkan Abi yang tak mampu mengucapkan balasan apapun.
"Polos apa Oon sih lo Han, tetep ajalah gue cowok dan lo cewek. Kalo pun gue gak nafsu-nafsu banget sama lo, tapi namanya khilaf kan gak ada yang tau, apalagi gue udah ngeliat bentukan semi telanjang lo waktu itu. Gue kan jadi pengen nyicip Han!" Geram Abi setelah beberapa saat terdiam.
"Lah.. Lagian Kaka aneh khilaf kok diniatin? Itu bukan khilaf Ka namanya, emang dasar mupeng!" Balas Hana tak kalah kesal. Abi hanya tertawa mendengar umpatan istrinya untuknya.
Hana tak menghiraukan Abi yang masih terus tertawa, ia melanjutkan merapikan barang-barang yang baru sebagian dia bawa.
Beberapa saat kemudian Hana telah selesai merapikan semua barang-barangnya. Meskipun AC di kamar cukup dingin, namun Hana tetap bermandikan peluh. Karena Hana tak hanya merapikan barangnya saja tetapi juga barang suaminya yang jauh lebih banyak dari miliknya.
Dilihatnya Abi tenang dalam tidurnya, entah sejak kapan suaminya tertidur ia tak menyadarinya.
"Sekalian masak makan siang ahh, baru deh mandi!" gumamnya kemudian ia pun turun ke bawah menuju ke dapur.
Sesampainya di dapur Hana membuka kulkas, berharap ada bahan masakan yang bisa dia olah tetapi ternyata isi kulkasnya hanya minuman ringan, soda, beberapa camilan yang sebagian sudah terbuka kemasannya.
***
"Dari mana aja lo? Gue bangun kok lo gak ada?" Tanya Abi saat menghampiri Hana di dapur, Abi sudah berganti pakaian dan terlihat lebih segar dan tampan pastinya.
"Kaka udah bangun? Aku tadi ke supermarket buat belanja bahan makanan, aku lihat kulkas kosong tadi. Makanya aku pergi belanja, maaf aku gak izin tadi aku lihat Ka Abi pules banget tidurnya. Gak tega aku banguninnya!" Jawab Hana tetap asyik merapikan belanjaannya.
"Emang lo tau supermarketnya dimana?" Tanya Abi, dia sudah duduk di bangku mini cafe apartemennya yang menghadap langsung ke arah dapur tempat Hana berdiri saat ini.
"Tadi aku tanya sama Bapak Satpam di bawah, terus ditunjukkin sama dia. Kaka mau aku masakin apa?" Tawar Hana.
"Cihh, emang lo bisa masak?" Bukannya menjawab Abi malah merendahkan.
"Asalkan jangan masakan western aja, aku gak bisa. Kalo masakan rumahan sih, jangan ditanya aku jagonya!" Pamer Hana.
"Emang tadi lo beli apa aja?" Tanya Abi.
__ADS_1
"Semua aku beli, daging, ayam, ikan, udang, kerang, sayur-sayuran, buah-buahan, bumbu-bumbu, beras juga!" Jawan Hana mendiktekan belanjaannya satu per satu.
"Pake uang lo sendiri?" Tanya Abi lagi.
"Iya..!" Jawab Hana singkat.
"Kenapa gak minta sama gue? Gue kan suami lo udah wajib ngasih uang belanja buat lo, kenapa malah pake uang lo pribadi sih?" Kesal Abi.
"Ehhhh, ciyeeee suami.. Lagi pengen berperan jadi suami yang bertanggung jawab ya Ka?" Kali ini sang istri yang menggoda dengan menatap genit suaminya.
"Yaa, emang bener gue suami lo kan? Pastilah gue bakal menuhin kewajiban gue sebagai suami, dan lo juga udah harus mempersiapkan diri buat ngasih hak gue sebagai suami lo!" Sindir Abi membuat Hana tercekat nafasnya.
"Kaka serius minta ituan sama aku?" Hana mencoba mencari kesungguhan dengan menatap lekat mata sang suami.
"Ituan apaan sih? Yang bener dong kalo ngomong, yang jelas gitu!" Goda Abi.
"Kaka tau lah maksud aku apa, Ka Abi kan udah profesional dibanding aku. Jangan sok-sokan polos deh, geli aku tuh!" Sahut Hana jijik.
"Profesional?? Apalagi sih tuh ah??" Abi makin senang menggoda istrinya.
"Ahhhh udah deh, kesel aku! Sekarang Ka Abi ngomong mau aku masakin apa nih?" Hana mengalihkan percakapan mereka.
"Bikin capcay sama udang balado aja deh. Lo kudu belajar masakan western juga, lo tau kan gue punya darah bule dari Mamah. Kadang suka kangen masakan western!" Abi yang memang ada keturunan Amerika dari sang Mamah yang berayahkan warga Amerika dan beribu Jogja.
"Iya nanti aku belajar deh. Ya udah Kaka tunggu dimana dulu gitu, biar aku masakin!" Titah Hana, namun Abi tak perduli, ia tetap duduk manis di tempatnya dan terus memperhatikan Hana yang mulai sibuk mengolah makanan pesanannya.
"Hana..!" Panggil Abi yang hanya disahuti deheman saja dari sang istri yang sibuk memotong-motong berbagai sayuran yang akan dia buat capcay.
"Lo tetep kerja di dunia entertain Han? Kan udah ada gue yang mampu idupin lo!" Tanya Abi.
"Aku mau nyelesaiin film kita ini Ka, sejauh ini aku belum nerima-nerima job lagi. Palingan cuma job-job aku jadi bintang tamu aja dan manggung offline aja. Setelah film ini selesai mah terserah Ka Abi maunya aku gimana? Kalo Ka Abi bolehin Hana tetep kerja yaa Hana seneng, tapi kalo Ka Abi gak ngebolehin yaa Hana kudu nurut!" Jawab Hana tanpa mengalihka kegiatannya.
"Kok gitu?" Tanya Abi heran, karena menurutnya Hana ini tipe perempuan pasrah. Awalnya dia fikir Hana akan bersikeras tetap bekerja di dunia entertain, tapi nyatanya semua keputusan dikembalikan padanya, suaminya.
"Ya kan Hana harus nurut apa kata suami, karena kata Ibu, ridho suami itu penting dan wajib ditaati selagi masih di jalan yang baik!" Jawab Hana jujur.
Luar biasa, jawaban sederhana yang diberikan istrinya mampu menggetarkan hati Abi yang sedang dilatih untuk menolak kehadiran istrinya demi untuk perempuan yang ia percaya sudah terpatri di hatinya, Raya. Abi pun hanya terkagum dalam diam meskipun senyum terukir di bibirnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
...Bantu aku tetap semangat nulis yaaa, tinggalkan jejak kalian .. Terima kasih 😘😘...