
Mereka telah selesai dengan acara sarapan, bahkan Abi sempat menghabiskan dua cangkir kopi hitam untuk mendompleng semangatnya dan menghilangkan rasa kantuknya.
"Balik ke ruangan Niel!" Perintah Abi yang langsung beranjak dari duduknya meninggalkan Daniel yang masih kerepotan merapikan laptop dan beberapa dokumen yang berantakan di atas meja.
"Boss laknat lo emang!" Gertak Daniel dengan suara nyaring namun tak diperdulikan oleh Abi yang lebih memilih melanjutkan langkah kakinya.
Sesampainya di ruangan Abi langsung mendudukan dirinya di atas sofa panjang, ia pun mencoba peruntungannya untuk menghubungi Hana via video call, namun hingga panggilan ke lima tak sama sekali diangkat istrinya.
Ia pun langsung menghubungi no Angga, berniat menyakan apakah Hana sudah mulai pengambilan gambar?
"Kenapa Bi?" Tanya Angga langsung.
"Si Hana udah mulai syutingnya?" Abi pun sama tak butuh basa-basi dan langsung pada intinya.
"Belum, lagi siap-siap. Kenapa?".
"Gak apa-apa, pantes gue coba hubungi dia gak bisa!" Sahut Abi.
"Tuh anaknya lagi siap-siap take" Angga menyorotkan kameranya ke arah Hana.
Meski tak bisa mendengar apa yang Hana dan Nugie bicarakan, namun Abi bisa melihat dengan pasti jika obrolan keduanya begitu seru karena beberapa kali Hana terlihat begitu tertawa lepas.
Bahkan ia sempat melihat Nugie menjitak pelan dahi Hana, membuat si pemilik dahi mengerucutkan bibirnya sebal saat itu juga namun tak selang berapa lama kembali tertawa.
"Si Hana temen deket ya sama si Nugie, bisa akrab gitu? Lihat deh ketawanya lepas gitu!" Entah sejak kapan Daniel masuk ke ruangannya, bahkan ia tidak sadar jika sahabatnya itu telah duduk di sebelahnya ikut menatap layar ponselnya.
"Bajing*an lo ngapain ikut nimbrung di sini? Sana lo, bawahan gak ada attitude nya lo!" Geram Abi mendorong tubuh yang hampir sama kekar dengan tubuhnya.
"Beneran deh gue perhatiin Hana tuh lebih klik sama yang seumuran. Perhatiin deh!" Enggan menimpali kegeram an sahabatnya, Daniel justru semakin menggoda Abi agar semakin mengepul otak sahabatnya tersebut.
"Emang resek lo, gue pastiin bonus akhir tahun lo gak gue tiadakan kalo lo tetep di sini!" Ancam Abi kesal.
"Yaelah Bi ngancemnya gitu terus lo mah! Iya gue keluar, susah aki-aki. Makanya jangan nikah sama cewek yang umurnya jauh lebih muda dari umur lo. Ya gini nih minderan!" Ledek Daniel lagi sebelum beranjak keluar dari ruangan Abi.
"Bi..!" Sapa Angga yang merasa diabaikan membuat Abi tersadar jika mereka masih dalam sambungan video call.
"Eh, iya Ngga. Sorry .. Kalo gitu udah dulu yaa, bentar lagi gue meeting. Gue titip Hana ya Ngga..!" Sahut Abi tergagap.
__ADS_1
"Siap, jangan khawatir itu mah. Gue cut ya!".
Abi kembali memanggil Daniel ke ruangannya setelah sambungan video call nya berakhir.
"Mereka kapan dateng?" Tanya Abi saat Daniel baru saja mendudukan diri di sebelahnya.
"Jam sebelasan mungkin lebih..!" Jawab Daniel.
Mendengar jawaban Daniel Abi langsung melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul sepuluh pagi, artinya masih ada waktu satu jam lagi sebelum pertemuan.
"Tadi malem gue kepikiran sesuatu, perasaan gue makin gak enak..!" Ucap Abi mengawali sesi curhatnya pada sang sahabat.
"Kenapa?" Daniel pun langsung memusatkan perhatian pada Abi yang saat ini tengah menyandarkan kepalanya di kepala sofa dengan mata terpejam.
"Selesai gue video call an sama Hana, gue kayak ngerasa sepi banget gitu. Perasaan gue seakan bilang kalo kesepian yang gue rasain semalem itu bakal panjang gue rasain, bakal lama. Firasat gue kayak gue bakal jauh dari Hana, gue ngerasa kayak Hana tuh bakal gak ada di sekitaran gue. Sesak tiap fikiran itu dateng, gue takut ada apa-apa sama bini gue".
"Mungkin karena ini pertama kalinya aja kali Bi lo jauh dari Hana, jadi timbul perasaan-perasaan aneh lo itu. Udah sih jangan terlalu mikirin yang gak baik-baik, takutnya malah kejadian. Berdoa aja terus..!" Sahut Daniel menasehati, namun entah mengapa perasaannya tak juga lega mendengar nasehat sahabatnya itu.
***
Sepanjang perjalanan, ia memanfaatkannya untuk tidur.
Perjalanan yang ditempuh hampir memakan waktu tiga jam karena terjadi kemacetan cukup panjang di tol.
Wajahnya begitu bahagia membayangkan wajah terkejut istrinya saat ia tiba-tiba datang.
Namun bayangan itu sekita buyar, justru kini dirinya lah yang terkejut. Bagaimana tidak, Abi secara langsung menyaksikan istrinya tengah berpelukan dengan Nugie padahal sedang tidak take, namun ia juga menyaksikan suasana cukup riuh karena suatu hal yang ia tidak tahu.
Dengan rahang yang mengeras dan mata merah dipenuhi amarahi Abi menghampiri Hana dan Nugie.
"MENJAUH DARI ISTRI GUE!!!" Teriak Abi mendorong tubuh Nugie dengan tangan kirinya hingga tersungkur ke belakang, sedang tangan kanannya mencekal pergelangan tangan Hana sambil berteriak, "Sini kamu!".
" Kak Abi apa-apaan sih?" Tanya Hana kesal dengan tingkah suaminya.
"Aku apa-apaan? Justru kamu yang apa-apaan, peluk-pelukan dengan cowok lain?" Abi benar-benar bingung sekaligus kesal dengan pertanyaan istrinya.
"Bukan gitu Kak ceritanya. Aku tuh tadi cuma..!" Penjelasan Hana harus terpotong di udara akibat di selak sang suami.
__ADS_1
"Cuma apa hah? Cuma curi kesempatan di belakang suami kamu buat mesra-mesraan sama cowok seumuran kamu. Udah nyaman kamu sama dia, hah?".
"Ya ampun Kak Abi, apa yang Kakak lihat tadi tuh enggak kayak apa yang ada di fikiran Kakak!" Ucap Hana, ia yang hendak menghampiri Nugie untuk menolongnya berdiri langsung ditarik pergelangan tangan mungilnya oleh Abi.
"Mau ngapain kamu hah?" Gertak Abi.
"Abang jangan kasar gitu dong. Dengerin dulu penjelasan istrinya jangan asal tuduh!" Nugie yang mulai geram dengan tingkah laku Abi pun mulai buka suara.
"Dia istri gue, mau apa lo hah?" Geram Abi tanpa mau melepas cekalan tangannya dari pergelangan kecil istrinya.
"Ini Han, laki-laki kasar ini yang lo bangga-banggain selama ini sebagai suami lo! Lo tuh perempuan baik Han, gak pantes diperlakukan kasar kayak gitu sama dia bahkan sama siapa pun. Dan lo tau lo bisa dapet cowok yang jauh lebih baik daripada suami lo yang kasar itu!" Sindir Nugie dengan tampang tengilnya.
"Jadi maksud lo gue enggak pantes gitu jadi suami Hana hah? Tau apa lo tentang gue?" Abi merangsek ke arah Nugie untuk melayangkan pukulan ke wajah partner kerja istrinya itu.
Namun dengan sekuat tenaga Hana mencoba menahan pergerakan suaminya.
"Udah Kak udah, jangan berantem. Hana malu, hiks..!".
Abi langsung menghentikan pergerakannya saat mendengar isakan istrinya.
"Ayo pulang!" Ajak Abi membalik tubuhnya dan menggiring tubuh Hana.
"Hana, kalo dia kasar sama lo dan lo mulai gak tahan sama sikap dan sifatnya. Lo bisa dateng ke gue kapan pun lo mau, gue pastiin gue terima lo apa adanya!" Celetuk Nugie membuat mata Hana seakan copot, Hana yakin saat ini suaminya pasti semakin dikukung emosi mendengar ucapan Nugie.
"Emang brengsek lo ya!" Geram Abi yang kali ini berhasil menghampiri dan melayangkan tinjunya ke wajah tampan Nugie.
Nugie yang memang kalah postur dengan Abi hanya mampu melindungi wajah dan kepalanya dari amukan membabi buta yang dilayangkan oleh Abi.
Melihat pertarungan tak imbang dan juga teriakan minta tolong dari Hana orang-orang yang tak berani melerai keributan antara Abi dan Nugie kini maju untuk melerai perkelahian mereka.
"Udah Kak, ayo pulang. Kita pulang..!" Hana menarik pergelangan tangan suaminya yang berhasil ditarik mundur dan ditahan oleh beberapa kru agar tak lagi merangsek ke arah Nugie dan memukulinya lagi.
"Ada apa ini?" Tanya Angga yang baru saja tiba di lokasi kejadian, setelah beberapa saat lalu diminta Hama untuk ke penginapannya mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar.
Tanpa memperdulikan pertanyaan Angga, Hana dan Abi tetap berjalan menjauhi kerumunan yang sedang mengerumuni Nugie untuk memberi pertolongan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1