My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Perjalanan Cinta


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


Abi semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil istrinya, ia juga beberapa kali mengecup puncak kepala Hana seakan ingin melepas rindu yang teramat sangat, rindu berdekatan dengan istrinya, sedekat saat ini.


"Maaf udah ngebuat kamu khawatir, Sayang!" Ucap Abi berkali-kali sambil terus memberi kecupan di puncak kepala istrinya.


Namun Abi merasakan pergerakan Hana yang tiba-tiba meremas erat kemejanya membuatnya menunduk untuk menatap wajah istrinya yang masih tenggelam di dada bidangnya.


"Kakak gak bakal cambukin aku kan kalo banyak orang kayak sekarang?" Tanya Hana mulai gelisah.


"Apa?" Abi yang bingung arah pembicaraan istrinya justru balik bertanya.


"Aku takut!" Jawab Hana lirih.


Deggg


Kini Abi tersadar jika Hana kembali dilanda kepanikan, ia pun mulai melonggarkan rengkuhannya dengan berat hati.


"Aku, Kakak emh.. Lebih baik ehh, aku ke kamar dulu. Kakak juga mendingan istirahat dulu. Aku, aku lega Kakak udah sampai dengan selamat!" Ucap Hana tergagap tanpa berani menatap suaminya.


Ia yang sudah lepas dari rengkuhan suaminya, langsung berbalik sambil meremas gaun rumahan yang ia kenakan. Ia pun bergegas berjalan menuju kamar Ibunya dengan tangis yang tak bisa ia sembunyikan lagi.


Sedang Abi, menghela nafasnya begitu berat. Ia fikir hal indah yang baru saja terjadi menjadi awal semuanya membaik, tetapi ternyata semua masih sama. Namun tak dipungkiri pelukan tiba-tiba sang istri sungguh begitu sarat penuh makna. Bagaimana ia bisa kembali merasakan dekapan hangat istrinya meski hanya sesaat.


Di dalam kamar Irma, Hana meluapkan kekesalannya pada dirinya sendiri. Menyesali bayangan malam mengerikan itu kembali hadir saat ia memeluk tubuh suami yang sangat ia rindukan. Sungguh ia tak menginginkan itu semua terjadi, ia hanya ingin melupakan semua hal mengerikan yang pernah terjadi dan kembali membuka lembaran baru dengan suaminya.


"Ibu boleh masuk, Nak?" Izin Irma mengetuk kamarnya.


"Iya Bu..!" Sahut Hana mengusap air matanya.

__ADS_1


"Kenapa harus begini lagi sih Bu? Kenapa bayang-bayang itu gak mau hilang? Hana cuma mau sama Kak Abi kayak dulu!" Isak Hana setelah Irma dengan kursi rodanya didekat Hana.


"Sabar Sayang, sabar. Tadi Hana udah hebat kok, buktinya Hana sampe meluk Kak Abi tanpa pipis, ya kan?" Irma mencoba menyemangati.


"Tapi Hana masih mau meluk Kak Abi Bu, Hana kangen!".


"Iya Sayang, pelan-pelan ya Sayang!" Irma membelai lembut tangan Hana.


Abi langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, merasakan hangat tubuh istrinya yang masih tertinggal di tubuhnya.


"Hana masih takut sama elo Bi?" Tanya Daniel sungguh ingin tahu.


"Seperti yang elo lihat, tapi tadi itu keajaiban tau enggak setelah hampir satu tahun dia meluk gue lagi. Enggak nyangka ide konyol Juna ternyata berhasil juga!" Jawab Abi yang terus memejamkan mata sambil meraba tubuhnya.


"Berarti lo harus bener-bener ngucapin makasih ke Juna!" Seloroh Daniel yang diangguki oleh Abi.


"Elo bener, gue bakal ngasih hadiah ke dia kayaknya!" Sahut Abi.


"Setelah gue pikir-pikir nih ya tadi, gue rasa elo harus sering bikin Hana khawatir deh. Gue lihat tadi mukanya lega banget ngeliat lo pulang, pasti dia khawatirin elo banget!" Usul Daniel.


"Artinya, lo enggak jadi tinggal di apartemen gue?" Tanya Daniel memastikan.


"No, gue rasa gue bakal di sini aja. Tapi ya nunggu persetujuan Hana dulu, masalah enggak kalo gue di sini!".


"Sedih amat perjalanan cinta lu Bi!" Ledek Daniel dengan gelak tawa yang teramat menyebalkan.


"Udah ahh, jangan bahas gue mulu. Laporan data beberapa tempat yang mau dibangun hotel, pub, resort Kakek gue mana? Ada kendala gak? Udah sampe tahap mana pembicaraan antara kita dan para kontraktor? Gimana dengan pemilihan tempat, menjanjikan enggak? Kapan gue bisa ninjau tempat-tempat itu?" Serentet pertanyaan tentang pekerjaan pun langsung dilontarkan Abi membuat Daniel mende sah berat.


"Yaelah Bi, nafas dulu napa? Baru juga sampe udah kerjaan aja yang lu bahas, gak pening apa lu?" Keluh Daniel.


"Lah yang abis perjalanan jauh kan gue, kok lo yang ngeluh. Males lu?" Cibir Abi menatap malas sahabatnya yang seakan-akan tergolek lemah di atas sofa seberang tempat tidurnya.


"Justru gue mikirin keadaan elo, enggak jetlag apa lo?" Daniel beralasan.

__ADS_1


"Gue udah istirahat lama di hotel, lupa lo?" Geram Abi lebih ke meledek sahabatnya yang semakin memasang wajah malasnya.


"Udah lo siapin proposal pemilik tanah yang bakal kita bangun hotel, pub, resort dan lain-lain. Gue mau ngelihat dan mastiin tempat yang kita pilih bener-bener menjanjikan. Jangan ada yang kelewat, gue mau ganti baju dulu. Anak-anak yang di Bali lo hubungi juga, dua jam lagi kita adain virtual meeting!" Perintah Abi seperti biasanya, selalu totalitas dalam pekerjaannya.


"Oke, oke laksana__!" Sahut Daniel terpotong ketika Abi kembali memberi perintah.


"Dan gue minta proposal anggaran buat acara baru kita, ada beberapa email pengajuan acara buat stasiun tv kita yang masuk ke email gue semalem. Seketaris gue bilang, acaranya cukup menarik dan bakal banyak menyedot antusias penonton, gue juga udah lihat sedikit konsep masing-masing acara baru itu. Selasa kita meeting sama pegawai penanggung jawab sebelum meeting sama para pemilik ide acara tersebut. Pastikan semua hadir!" Daniel benar-benar dibuat berdecak kagum dengan ke profesionalitasan Abi dalam pekerja.


"Lo gak puyeng megang dua perusahaan dengan background yang berbeda Bi? Gue aja yang cuma ngerjain perintah elo, puyeng Bi?" Tanya Daniel tanpa bisa menutupi ketakjubannya.


"Itulah kenapa Tuhan menakdirkan gue sebagai atasan lo dan elo sebagai bawahan gue!" ledek Abi terbahak-bahak yang membuat Daniel langsung melempar bantal sofa ke sahabatnya itu.


"Bangsat lo!!" Umpatan Daniel semakin membuat Abi tergelak.


"Makan malem di sini aja baru balik!" Tawar Abi pada Daniel yang terlihat lemas setelah baru saja selesai dengan pekerjaan mereka juga virtual meeting yang ternyata cukup memakan waktu lama.


"Nasib punya boss gila kerja, parah ini sih! Gue kira lo balik dari Amrik paling enggak beberapa hari bisa lebih santai dulu!" Keluh Daniel menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang Abi.


"Yang ikhlas kalo kerja, inget jadwalin penerbangan gue ke Bali dua minggu lagi!" Sahut Abi mengingatkan.


"Iya, iya. Jangan bahas kerjaan lagi, ruwet otak gue!" Ucap Daniel bangkit dari ranjang Abi.


"Ayo makan!" Ajaknya kemudian.


"Gue makan di kamar, nanti ada yang nganterin. Lo makan aja di bawah sama yang lainnya!" Abi tersenyum miris menanggapi ajakan sahabatnya itu.


"Lho kok gitu?" Tanya Daniel tak mengerti.


"Hana masih suka panik kalo deketan sama gue, kasihan. Anggota keluarga yang lain juga lebih kangen ke Hana, biar mereka makan malem sama-sama buat ngobatin kangen mereka!" Jawab Abi membuat Daniel merasa iba.


"Lo mau gue temenin makan di kamar?" Tawar Daniel.


"Enggak perlu, elo di bawah aja. Gue rasa Hana juga udah gregetan mau introgasi elo, mau nanya-nanya tentang gue selama gak ada dia. Yakin deh!" Tolak Abi.

__ADS_1


"Kalo gitu gue turun ya!" Pamit Daniel menepuk-nepuk bahu Abi untuk menyemangati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2