
Malam hari Raya sudah berada di dalam apartemen Abi, ia duduk di ruang tengah menunggu kekasihnya pulang. Raya kini sudah lebih tenang, kekacauan yang ada pada dirinya sekarang tidak terlihat sama sekali.
Pukul sebelas malam akhirnya Abi tiba di apartemennya bersama Daniel, mendapati Raya yang sedang berdiri menyambut kepulangan Abi, Daniel pun memutuskan untuk pamit pulang.
"Kok tumben ke sini enggak kasih kabar ke aku?", tanya Abi setelah Daniel pergi dari apartemennya. Raya tidak menjawab pertanyaan Abi, ia justru berlari memeluk Abi dan menghujani Abi dengan ciuman di seluruh wajahnya.
"Oohh.. wait, wait. Santai sayang, kok tiba-tiba begini?", tanya Abi sambil menangkup wajah Raya guna untuk menghentikan Raya menciumi wajahnya.
"Aku kangen sama kamu, kangen banget", jawab Raya, kemudian mulai mencium bibir Abi.
"Oke, oke. Kangen-kangenannya tunda sebentar ya, aku mandi dulu. Rasanya badan aku lengket banget, gak nyaman akunya", ucap Abi lagi-lagi menghentikan kegiatan Raya.
Abi pun mencoba melepaskan pelukan Raya untuk menuju kamarnya, namun Raya memegang erat kaus yang dikenakan Abi membuat Abi menghentikan langkahnya.
"Sebentar aja ya sayang, kamu tunggu aku di sini dulu. aku janji gak bakal lama mandinya!", ucap Abi sekali lagi.
"Enggak, aku kangen sama kamu Bi!", sahut Raya kemudian menangkup wajah Abi, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Abi, mengecup lembut berulang kali. Hingga saat Raya mulai menyesap lembut bibir Abi dan mereka pun saling ******* satu sama lain, dan ketika Raya berusaha melepaskan kaos yang dikenakan Abi, Abi teringat tentang janjinya untuk tidak saling bersentuhan dulu sampai bisa menikahi Raya.
"Stop Raya, inget komitmen kita!", gertak Abi sambil menahan tangan Raya.
"Persetan dengan komitmen itu!! Aku butuh kamu Bi, tolong jangan tolak aku, aku bener-bener kangen sama kamu, kangen keintiman kita, aku rindu kehangatan kamu. Sekali ini aja Bi tolong jangan tolak aku", sahut Raya memelas membuat hati seorang Abi luluh dengan tatapan kekasihnya itu.
Abi yang luluh kini mengambil alih permainan, ia gantian menciumi bibir Raya dengan rakusnya, turun ke leher Raya dan memberikan beberapa kecupan kecil di sana hingga menimbukkan tanda kepemilikan. Raya mendesah menikmati sentuhan-sentuhan Abi di seluruh tubuhnya.
Abi seorang laki-laki yang sudah pernah merasakan kenikmatan bercinta kini nafsu itu kembali marajai otaknya, dia dengan mudah melupakan komitmen yang dia buat sendiri.
Satu per satu tangannya membuka kancing kemeja berwarna merah muda milik Raya tanpa melepaskan ciuman mereka, begitu pula Raya yang sudah berhasil membuka kaos yang Abi kenakan.
__ADS_1
Yaa tubuh indah yang sudah lama Abi tak lihat, kini menantang di depan matanya. Abi yang terengah-engah dengan ciuman panas yang mereka lakukan, memandang penuh gairah tubuh di hadapannya. Abi kemudian menggendong Raya naik ke lantai dua untuk menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Abi merebahkan tubuh kekasihnya di atas tempat tidur, mengungkungnya di bawah Abi.
"Aku gak punya alat pengaman, apa kamu udah minum pil pencegah kehamilan kamu. Aku gak mau kita sama-sama nyesel nantinya".
Raya yang mendengar pertanyaan Abi menganggukan kepalanya, meskipun ia sebenarnya tidak meminum pil itu, karena untuk apa dia meminumnya toh dia sudah hamil, tapi ia harus berbohong agar Abi terus melanjutkan aksinya.
Abi pun tersenyum, kemudian kembali mencumbu Raya di bawah kungkungannya. Suara desahan Raya membuat Abi semakin menggila, Abi semakin tidak mampu menolak untuk merengkuk kenikmatan yang selama ini jujur sangat ia rindukan.
Entah bagaimana kini keduanya sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka. Raya yang masih di bawah tubuh Abi melihat wajah Abi dengan seksama.
Abi kemudian meminta izin pada Raya untuk memulai penyatuan tubuh mereka, Raya pun mengangguk mengiyakan.
"Tolong pelan-pelan", ucap Raya lirih.
Abi memberi kesempatan Raya untuk beradaptasi dengan penyatuan mereka, saat dirasa cukup Abi mulai membuat gerakan-gerakan pelan sesuai permintaan Raya. Keduanya kini menikmati permainan mereka, desahan dan erangan saling bersahutan diantara mereka, mereka pun terkadang memanggil nama satu sama lain dengan suara yang cukup erotis membuat permainan mereka semakin panas.
Hingga setelah beberapa lama percintaan itu terjadi, kini Abi mulai merasakan sesuatu sudah akan memaksa untuk dilepaskan. Abi pun mempercepat gerakannya, "Ahhhhh.. Rayyyyyyy..", pelepasan itu sudah terjadi bersamaan dengan erangan keduanya yang saling memaggil nama mereka satu sama lain, "Aahhh .. Abi..".
Abi kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Raya, berusaha mengatur ritme nafasnya yang masih terengah-engah, begitu pula dengan Raya.
Setelah masing-masing mulai bisa menguasai diri mereka, Abi mulai menjatuhkan tubuhnya ke sebelah tubuh Raya, kemudian menyelimuti tubuh keduanya.
Mereka saling memandang satu sama lain, senyum puas terukir dari bibir keduanya.
"Ada apa?", tanya Abi tiba-tiba masih menatap dalam Raya. Raya yang terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Abi menatap tajam ke arah Abi.
__ADS_1
"Ada apa? Emmhhm. enggak ada apa-apa kok. Aku beneran kangen sama kamu, emang menurut kamu ada apa?".
"Aku kira kamu selingkuh di belakang aku, terus nyesel and dateng ke aku seakan mau menutupi kesalahan kamu", tebak Abi.
"Ngaco. Emang serendah itu yaa aku di mata kamu? Jahat banget sih", sahut Raya dengan mata berkaca-kaca.
Abi yang hanya bermaksud menggoda kekasihnya, kini justru gelagapan melihat Raya yang tersinggung dengan candaannya.
"Becanda sayang, kok nangis sih? Kamu gak biasanya cengeng gini? Biasanya kamu bakal bales omongan aku", ucap Abi mulai gugup.
"Becanda kamu gak lucu tau gak sih!", gertak Raya kesal.
"Iya maaf deh maaf. Tapi sayang beneran deh, dada kamu kok lebih gede yaa, lebih menantang. Apa karena lama kita gak 'main' jadi aku ngerasa ada yang beda sama kamu", ucap Abi dengan tatapan ganitnya.
"I..Iyaa kali, bisa jadi. Udah ah aku mau tidur. Capek banget!", sahut Raya kemudian membelakangi Abi yang masih menatapnya.
"Kamu gak bersihin badan kamu dulu?", tanya Abi mengelus-elus punggung Raya yang terbuka.
"Enggak ah dingin, aku capek banget. Mau langsung tidur!", jawab Raya tanpa menoleh ke arah Abi.
Abi kemudian membenarkan selimut Raya, memakai boxernya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa-sisa pertempuran tadi.
Selesai membersihkan diri, Abi melihat Raya sudah terlelap dalam tidurnya. Abi memutuskan untuk sejenak menikmati udara malam dari balkon kamarnya, ia menyalakan satu batang rokok, menghisapnya dalam-dalam sambil terus memandang ke langit malam yang mendung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa like, comment sama vote nya. biar aku terus semangat nulisnya. Gak bosen juga aku buat minta maaf kalau masih banyak kekurangannya, maklum masih belajar menulis. Semoga syukaaaas yaaaa.. 🙏🙏😘😘
__ADS_1