
"Bener kan tebakan aku, pasti kamu udah bangun atau jangan-jangan kamu gak tidur lagi?" Ucap Abi saat panggilan video callnya diangkat oleh sosok cantik barbalut mukenah coklat favorit istrinya itu.
"Udah tidur kok tadi jam 9 an malem abis ngulang sedikit pelajaran buat ujian besok. Jam berapa sekarang di sana Ka? Kaka gak tidur?" Tanya Hana.
"Jam 10 malem, aku baru pulang dari tempat Raya!" Jawab Abi.
"Terus gimana? Kaka udah ngomong?" Tanya Hana bersemangat sambil membuka tudung mukenahnya dan melipatnya.
"Udah..!" Jawab Abi singkat.
"Terus? Ceritain dong Ka, aku penasaran!" Pinta Hana bersemangat.
"Masih jam 3 subuh kan Han di sana, kamu gak lanjut tidur? Bukannya besok pagi kamu harus ujian, nanti ngantuk lagi, lemes!" Abi mencoba mengingatkan istrinya.
"Ihh aku tuh kalo udah kebangun kayak sekarang jarang bisa tidur lagi Ka, nunggu subuhan. Pusing kalo tidur sebentar-sebantar malahan. Ayo dong Ka ceritain ke aku, aku mau denger sekalian nunggu adzan subuh!" Rengek Hana.
Melihat rengekan istrinya, Abi pun memilih menceritakan semua pembicaraan antara dirinya dan Raya tanpa terlewat satu hal pun termasuk saat Raya mengungkapkan keinginannya untuk memulai kembali hubungannya dengan Abi.
"Tuh kan tebakan aku sama Hanum bener, modus doang dia!" Kesal Hana membuat Abi terkekeh melihat wajah istrinya yang sangat memggemaskan.
"Hobi amat ngomongin orang kalian!" Sindir Abi.
"Idihh ogah yaa aku ngomongin dia, aku sama Hanum tuh cuma curiga kalo acara percobaan bundir-bundiran dia tuh cuma akal-akalan dia aja buat narik simpati Kaka lagi!" Sahut Hana makin kesal, namun makin terlihat menggemaskan di mata Abi.
"Tenang sayang aku gak bakal tergoda sama dia lagi, hati aku tuh udah sepenuhnya milik kamu!" Goda Abi.
"Idihh lebay, kesambet apa kamu Ka di sana?" Sahut Hana dengan memasang mimik wajah geli membuat Abi terkekeh.
"Beneran deh, cuma kamu yang bertahta di hatiku!" Ucap Abi membuat Hana semakin memandangnya aneh.
"Idihh geli amat dengernya, lebay gitu sih? Enggak banget!" Gerutu Hana membuat Abi semakin tergelak.
"Jadi kapan Kaka balik ke Indonesia?" Tanya Hana dengan mata berbinar.
"Besok, pagi-pagi banget!" Jawab Abi.
"Yess, akhirnya..!" Teriak Hana bersemangat.
"Jangan lupa penyambutannya!" Hana mengerti sekali maksud dari ucapan suaminya itu.
"I'll do my best Sir!" Goda Hana dengan membuka dua kancing piyamanya hingga memperlihatkan sebagian dadanya yang kencang dan seputih susu membuat Abi terbelalak dan sulit untuk menelan salivanya.
"Kamu nakal ya, lihat aja sampe sana nanti gak bakal aku lepasin kamu biarpun kamu mohon ampun sama aku!" Ancam Abi membuat Hana terbahak-bahak.
__ADS_1
"Siapa takut, aku tunggu!" Tantang Hana kemudian memasang kedua kancingnya lagi sambil mengulum senyum menggoda.
***
Hari esoknya, jam sudah menunjukan pukul 7 malam, biasa Abi akan menghubungi Hana, namun tak Hana tak kunjung juga mendapatkan telfon dari suaminya. Bahkan ia juga sadar jika seharian ini Hana tak mendapatkan telfon atau pun pesan dari suaminya.
Merasa sangat khawatir, Hana mencoba untuk menghubungi suaminya terlebih dahulu, namun ternyata nomor yang ia hubungi sedang non aktif.
"Apa Ka Abi udah on the way ya, tapi kok gak ngabarin aku sih?" Gerutu Hana.
Ia mencoba sekali lagi menghubungi suaminya, tetapi hasilnya sama saja masih non aktif.
"Mungkin dalam perjalanan kali ya, mending sholat deh terus belajar!" Ucap Hana pada diri sendiri.
Jam 12 malam, akhirnya Abi telah sampai di apartemennya setelah menempuh perjalanan udara hampir 17 jam. Tubuhnya merasakan lelah yang teramat sangat, namun ia begitu bersemangat untuk menemui istri kecil yang begitu ia rindukan.
Abi yakin saat ini Hana tengah lelap dalam tidurnya dan benar saja sesampainya di kamar Abi melihat sang istri yang tengah damai dalam tidurnya, beberapa buku pelajaran bahkan berantakan di atas ranjang mereka.
"Sayang..!" Sapa Abi, meski sadar tak akan di respon oleh istrinya yang tengah asyik berpetualang di dalam dunia mimpinya.
Setelah mengecup sekilas dahi istrinya, Abi memutuskan untuk membersihkan diri dan menyusul istrinya tidur dengan memeluk tubuh mungil perempuan yang begitu ia rindukan.
Seperti malam-malam sebelumnya, Hana pasti terbangun pada jam setengah tiga malam. Ia sedikit terkejut merasakan sesuatu melingkar dan terasa berat di atas perutnya.
Hana menyapu rahang kokoh suaminya, menyentuhnya dengan sangat lembut agar tak mengganggu tidur sang suami yang bisa ia pastikan pasti sangat kelelahan saat ini.
"Jam berapa?" Tanya Abi tiba-tiba membuat Hana terkejut dan menarik tangan yang tengah asyik membelai wajah suaminya.
"Masih jam setengah tiga, Kaka tidur aja lagi. Subuh masih lama!" Jawab Hana.
"Udah cukup tidur aku, di pesawat aku juga tidur kok!" Ucap Abi yang kini sudah membuka matanya sempurna.
"Kaka kenapa gak ngabarin aku pas mau berangkat?" Tanya Hana lalu mendudukan dirinya.
"Kan udah pas terakhir kita video call an!" Jawab Abi yang kini meletakan kepalanya di paha sang istri.
"Iya tau, maksud aku tuh pas mau take off gitu!" Sahut Hana sebal.
"Aku takutnya kamu lagi ujian, makanya aku fikir gak perlu lah ngabarin kamu!" Ucap Abi menatap intens wajah cantik istrinya.
"Kaka laper gak, mau makan atau mau ngopi mungkin? Biar aku buatin!" Tawar Hana.
"Aku lagi gak pengen ngopi!" Jawab Abi dengan tatapan penuh makna.
__ADS_1
"Terus mau apa?" Tanya Hana sekali lagi yang belum mengerti ucapan suaminya.
"Aku mau nyusu..!" Bisik Abi lirih dengan suara serak saat bangun dari posisinya kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Hana dan memberikan gigitan kecil di daun telinga Hana yang sudah memerah.
Abi langsung memberikan kecupan-kecupan di wajah istrinya, sedang Hana yang juga merindukan sentuhan suaminya hanya pasrah menerima semua yang dilakukan oleh suaminya.
Abi mencium bibir Hana yang memang teramat sangat ia rindukan, bibir yang telah menjadi candunya. Ciuman-ciuman lembut berubah menjadi sesapan-sesapan yang menuntut, hingga lum*tan bibir mereka yang saling membelit lidah menjadikan ciuman mereka semakin panas.
Abi melepaskan pagutan bibir mereka, menatap sayu wajah istrinya yang juga sama-sama dipenuhi gairah.
"Besok kamu ujian, apa gak apa-apa kalo kita ngelakuinnya?" Abi sedikit ragu untuk melanjutkan keinginannya mengingat jika sang istri sedang melaksanakan ujian akhir sekolahnya.
"Pelan-pelan yaa, jangan kasar!" Pinta Hana yang langsung dianggap persetujuan oleh Abi, ia pun lansung menarik tubuh istrinya untuk duduk di atas pangkuannya. Menciumi sela leher Hana dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Abi kemudian membuka satu per satu kancing piyama Hana tanpa melepaskan ciuman mereka, sedang Abi saat ini sudah bertelanjang dada.
Setelah sama-sama tanpa sehelai pakaian pun, Abi langsung merebahkan tubuh istrinya, mengungkungnya di bawah tubuh kekarnya.
"Can I do it now Honey?" Izin Abi dengan suara berat dan tatapan mata yang sayu.
"Yes, Please..!" Sahut Hana juga dengan suara lirih.
Mendapat izin dari istrinya, Abi segera melakukan penyatuan tubuh mereka, membawa tubuh mereka ke nirwana dengan penuh cinta dan juga kerinduan.
"Your body taste good baby, I always miss it!" Ucap Abi disela hentakannya di inti tubuh istrinya. Sedang Hana yang mendengar racuan suaminya hanya tersenyum malu sambil terus berusaha menahan desahannya.
"Don't hold your voice dear, I love your voice. Just make it out loudly!" Perintah Abi kemudian memberi kecupan-kecupan pada wajah Hana di sela-sela hentakannya.
Hingga saat mereka bersama-sama mencapai puncaknya, suara erangan mereka terdengar bersamaan.
Tubuh Hana membusung dengan mata yang terpejam, menikmati apa yang baru saja mereka capai. Sedang Abi langsung mendekap tubuh mungil istrinya sambil memberikan kecupan yang dalam di kening istrinya.
Setelah beberapa saat, Hana membuka matanya. Nafasnya masih tersengal-sengal, ia begitu malu saat ia sadar suaminya masih menatapnya dengan intens.
"Aku mau mandi Ka, bentar lagi subuh!" Izin Hana mendorong pelan tubuh Abi yang masih mengungkungnya.
"Mandi bareng ya!" Ajak Abi yang langsung menerima penolakan dari istrinya.
"Enggak deh Ka, sendiri-sendiri aja. Gak mungkin kelar cepet kalo kita mandi barengan!" Sungut Hana yang membuat Abi tertawa. Hana tau betul bukan hanya ritual mandi saja yang akan mereka lakukan jika berada di dalam kamar mandi bersamaan.
Setelah lepas dari kungkungan suaminya, Hana langsung menarik selimut tipis untuk dililitkan ke tubuhnya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk menunaikan mandi wajib sebelum melaksanakan shalat subuh.
Sambil menunggu istrinya, seperti biasa Abi mengenakan jubah mandi yang semalam ia letakan di atas meja setelah membersihkan diri, ia pun menuju balkon untuk menghisap rokoknya dan menikmati udara subuh pertama di Jakarta setelah kurang lebih dua minggu dia berada di Paris.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=