
Hana masih tengah asyik mengeksplore ponsel calon suaminya, hanya sekedar melihat-lihat foto di galeri. Ia masih tau batasan hingga tak mau membuka yang menurutnya pribadi. Seperti aplikas sosmed atau pun chattingan milik Abi.
Tiba-tiba terpampang nama Soraya melakukan panggilan video call ke ponsel Abi.
"Waduh, mak lampir video call. Angkat, enggak, angkat, enggak? Angkat, oke angkat!" Ucap Hana pada diri sendiri.
Hana pun berdehem ketika panggilan video callnya tersambung, Raya yang mendapati wajah Hana terlihat sangat terkejut.
"Kok lo yang ngangkat?" Tanya Raya geram.
"Emang kenapa?" Sahut Hana cuek.
"Abi nya mana?" Tanya Raya lagi dengan nada semakin tak ramah.
"Lagi take", jawab Hana tetap cuek.
"Kok hapenya bisa sama lo sih?" Makin kesal saja Raya.
"Lah kenapa gak bisa, kan aku tunangannya!" Sahut Hana sambil memamerkan cincin pertunangannya.
"Jangan bangga lo ya! Lo tau kan alesan kenapa Abi mau nikahin lo, jadi enggak usah sok!" Gertak Raya.
"Tau kok, tau banget malahan. Tapi aku nya gak apa-apa juga sih, aku gak peduli alesan Ka Abi apa nikahin aku tapi yang jelas nih ya Mbak alesan aku mau nerima lamaran Ka Abi adalah aku akan buat Ka Abi sepenuhnya milik aku!" Sahut Hana percaya diri.
"Hahahahaha.. Mimpi aja lo terus! Sampai kapan pun dan sekeras apapun usaha lo Abi gak akan pernah berpaling dari gw. Jadi lebih baik lo ikutin ritme permainan kita aja, gak usah berharap lebih!" Ejek Soraya sambil tertawa.
"Let see..! Aku bersumpah akan aku buat Mbak Raya jadi masa lalu dia, dan cuma aku yang akan jadi masa depan dia!" Tantang Hana membuat Raya makin terbahak-bahak.
"Terserah lah ya, I don't care! Bilang sama Abi, KEKASIH HATINYA nelpon suruh dia telpon balik nanti!" Perintah Raya.
"I don' care, enggak akan pernah aku sampein. Kamu fikir aku bodoh mau nurutin ocehan kamu!" Sahut Hana ketus kemudian mematikan sambungan video call mereka.
Raya terlihat begitu marah menerima perlakuan dari pesaingnya itu. Sumpah serapah dan kata-kata kotor ia lontarkan untuk Hana yang telah berani menantangnya.
"Kenapa sih? Kesel gitu?" Tanya Nico yang dari tadi memperhatikan tingkah Raya.
"Abege labil si*lan itu berani-beraninya nantangin gw!" Jawab Raya masih dengan kekesalannya.
"Siapa?" Tanya Nico bingung.
"Hana, tunangannya Abi!" Jawab Raya seakan enggan mengucapkan nama dan status Hana.
__ADS_1
"Udah sini jangan marah-marah terus sih! Kan gak ada Abi udah ada gw! Toh gw sama hebatnya di ranjang, malah mungkin lebih hebat dari Abi" goda Nico menepuk-nepuk pahanya agar Raya datang dan duduk di atasnya.
Sesuai prediksinya Raya pun menghampiri Nico kemudian duduk di atas pangkuannya. Raya melingkarkan tangannya di leher Nico, mengecup bibir Nico berkali-kali.
"Gak enggak ikhlas aja kalo sampai tuh abege barbar berhasil naklukin Abi!" Ucap Raya setelah puas mengecup bibir Nico berulang kali.
Nico yang setia mendengarkan keluh kesah Raya, tanpa Raya sadari tangan Nico sudah berhasil melucuti kemeja maroon yang ia kenakan.
"Apa sih Nic?" Protes Raya.
"Gw pengen Ray, ngelihat lo ngomongin Abi gair*h gw kepancing. Gw enggak suka lo ngomongin laki-laki lain selama ada gw!" Sahut Nico dengan mata yang sudah di penuhi nafsu.
Nico pun membopong tubuh Raya, mereka berciuman dengan penuh nafsu. Sesampainya di ranjang, Nico baru melepaskan ciuman mereka.
Nico mengabsen setiap inchi tubuh Raya, desahan yang Raya keluarkan makin membuat Nico bersemangat untuk terus menyerang Raya.
Pergulatan panas mereka mengalahkan dinginya cuaca Paris saat itu, Raya benar-benar menikmati percintaan terlarang mereka tanpa sedikit pun merasa bersalah kepada Abi.
"Gimana? Jauh lebih hebat gw kan dibanding cowok lo itu?" Ejek Nico saat baru saja selesai memuaskan hasrat mereka.
"Sama aja, bedanya lo lebih kasar dibanding Abi!" Sahut Raya masih terengah-engah.
"Bukannya itu yang perempuan cari, kasar tapi tetep bisa ngebuat lo terus menerus mendesah tanpa henti!" Ledek Nico yang berhasil membuat Raya memerah pipinya, ia pun mencubit perut Nico dari balik selimutnya.
Abi terlihat kesal saat mendatangi rumah Hana. Hana yang terlebih dulu pulang dari lokasi sengaja tidak memberikan ponsel Abi kembali, ia malah membawanya pulang.
Beberapa saat setelah mengetuk pintu rumah Hana, pintu itu pun akhirnya dibuka oleh si pemilik rumah.
"Hana ada Bu?" Tanya Abi sopan, karena ternyata yang membukakannya adalah Irma.
"Mas Abi, mari masuk nanti Ibu panggilkan Hana!" Jawab Irma kemudian masuk ke kamar Hana untuk memintanya menemui Abi.
"Hana, ada Mas Abi. Temuin sana!" Teriak Irma dari luar pintu kamar Hana.
"Iya Bu, bentar!" Sahut Hana dari dalam.
Irma kemudian menghampiri Abi, "tumben ke sini Mas Abi, ada apa?" Tanya Kinan basa-basi.
"Cuma mau ambil hape saya aja Bu, tadi kebawa sama Hana" jawab Abi.
"Mau minum apa?" Tawar Irma.
__ADS_1
"Apa aja Bu, yang seger-seger".
"Ya udah Ibu buatin sirup dulu ya, bentar lagi Hana juga keluar" ucap Irma kemudian beranjak ke dapur.
Tak lama kemudian Hana datang dengan senyum lebar kemenangan.
"Rese lo ah!" Gerutu Abi ketika Hana sudah duduk di sebelahnya.
"Jangan ngambek dong, kalo gak begini aku gak bakal pernah ngerasain diapelin pacar dong" sahut Hana kemudian memberikan ponsel milik Abi.
"Ya elahhh cuma minta diapelin doang, kenapa gak bilang sih? Pake nyita hape gw segala!" Ucap Abi tersenyum.
"Abis Ka Abi gak peka!" Sahut Hana.
"Tapi emang boleh sama Ibu kita jalan keluar? Ini udah jam sembilan malem lho, gak baek anak kecil masih keluyuran di luar!" Ledek Abi.
"Anak kecil, anak kecil. Sembarangan!" Sungut Hana tak suka.
"Iya sih emang lo gak kecil" ucap Abi melihat ke arah dada Hana. Hana yang mengikuti arah mata Abi langsung cepat-cepat menyilangkan tangannya di dada.
"Ihhh Ka Abi, mesum ihh!" Kesal Hana membuat Abi terbahak-bahak.
Irma keluar membawa sirup pesanan Abi, ia begitu senang melihat anak dan calon mantunya itu sudah dekat.
"Di minum dulu Mas sirupnya!" Pinta Irma setelah meletakan sirup di meja. Abi pun segera menyambar sirup itu dan meneguknya.
"Haus banget kayaknya Ka?" Tanya Hana memperhatikan cara minum Abi.
"Bu, saya mau minta izin ajak Hana keluar boleh?".
"Mau kemana?" Ucap Irma balik bertanya.
"Mau cari makan Bu, kebetulan saya belum makan. Saya mau minta Hana nemenin saya makan, gak lama kok Bu!" Sahut Abi beralasan.
"Ohh, ya udah tapi jangan lama-lama ya. Gak baik anak perawan malem-malem masih keluyuran di luar!" Ucap Irma menasehati.
"Ibu gak perlu khawatir, saya bakal pulangin Hana utuh tanpa kurang satu apapun, tanpa tergores sedikit pun dan tetep dalam keadaan perawan!" Goda Abi membuat Hana membelalakan matanya, sedangkan Irma tertawa lepas.
"Ya udah sana cepet pergi biar cepet pulangnya. Hati-hati kalian ya!".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
...Selangkah demi selangkah ya Hana, semangat naklukin hati superstar kamu🤗🤗...
Dukung terus karya pertama ku ini ya, biar aku terus semangat lenjutin cerita Abi dan Hana sampai akhir. Terus tinggalin jejak di tiap chapternya, terima kasih 😘😘