My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Bayar Upah


__ADS_3

Abi dan Hana memilih langsung kembali ke apartemennya setelah mengantarkan adik-adiknya ke bandara.


"Ka fotoin aku dong!" Pinta Hana pada Abi.


Dari sampai di apartemen memang Hana disibukkan menyusun-nyusun boneka-boneka dan beberapa aksesoris pemberian fansnya yang lumayan banyak hingga memenuhi ruang tengah apartemen mereka.


Hana memilih duduk di tengah-tengah untuk pengambilan foto, ia memasang gaya dan senyum yang sangat menggemaskan.


"Udah Ka, coba sini aku lihat?" Tanya Hana menghampiri suaminya setelah mengklik fotonya.


"Cantik banget yaa aku!" Narsis Hana ketika melihat hasil jepretan suaminya.


"Cihh, gue kali ahh yang ngambil gambarnya bagus!" Jengah Abi meski sebenarnya ia tak pungkiri jika memang Hana terlihat sangat cantik di foto bahkan saat dihadapannya sekarang ini.


"Iya deh iyaa..!" Hana lebih memilih menghindari perdebatan.


"Lihat tuh Han, sebanyak ini lho hadiah-hadiah dari fans lo. Pusing gue sampean, mau lo kemana in coba ini semua?" Keluh Abi melihat betapa berantakannya ruangan tengah dengan hadiah-hadiah fans istrinya.


"Tenang aja Ka, serahin sama Hana. Nanti pasti beres kok! Kalo dapet hadiah dari penggemar tuh harus diterima Ka, itu bentuk kita menghargai penggemar kita. Toh mereka ngasih juga pasti karena mereka sayang sama kita. Ya kan?" Hana seperti tak habis akal membuat alasan agar suaminya tidak kesal.


"Ya tapi kalo begini terus lama-lama unit apartemen ini jadi tempat penumpukan barang-barang dari fans lah!" Lagi Abi masih terlihat kesal dengan keputusan Hana yang tak pernah menolak pemberian penggemarnya.


"Janji deh Hana bakal beresin secepatnya! Kaka print in foto tadi dong, aku mau pajang di figura!" Pinta Hana pada Abi, kemudian menyerahkan ponselnya lagi.


"Apa lagi sih Han? Gak ngerti deh gue sama apa yang ada dalam otak lo!" Keluh Abi, namun tetap menuruti permintaan sang istri. Mereka pun menuju ruang kerja yang berada di sebelah kamar tamu, untuk memprint foto yang diminta istrinya.


"Aku baru masuk ke ruang kerja Kaka, emang Kaka butuh ruangan ini buat apa?" Tanya Hana penasaran karena ia melihat di ruangan itu begitu lengkap perlengkapan perkantoran.


Yang Hana tau, bidang suaminya tidak memerlukan semua fasilitas yang berada di ruang kerja yang saat ini mereka sedang berada.

__ADS_1


"Kan gak selamanya gue kerja di dunia entertain, kelak gue pasti nerusin kerjaan kantor Papa. Pasti butuh lah ruang kerja kayak gini!" Abi langsung memproses foto yang diminta istrinya, setelah sang istri memberitahu ukuran foto yang dimau.


"Nih jadi!" Ucap Abi kemudian menyerahkan lembar hasil foto yang sudah ia cetak, Hana lantas segera mengabil bingkai yang beberapa hari lalu ia beli saat berjalan-jalan bersama Juna.


"Ayo Ka bantu aku pasang foto ini di dinding!" Ajak Hana, menarik paksa tangan suaminya.


"Emhh.. kira-kira bagus ditaro mana ya Ka?" Tanya Hana sambil memandangi dinding apartemennya, mencari sudut yang cocok untuk memajang bingkai fotonya.


"Di sana pas kayaknya!" Tunjuk Abi arah dinding atas meja hias yang juga sudah terpasang beberapa foto dirinya dan istrinya.


"Cocok! Ya udah nih Ka pasangin tolong ya!" Perintah Hana sambil menyerahkan bingkai yang ukurannya tak terlalu besar, tapi juga tak terlalu kecil.


"Bentar gue cari bor buat pasang pakunya dulu. Inget ya Han, ada upahnya lho, gak gratis!" Ucap Abi sebelum pergi mengambil bor yang dimaksud, ia meletakan bingkai itu di atas sofa.


"Kaka mau apa?" Tanya Hana sedikit berteriak karena suaminya sudah agak jauh dari posisinya berdiri, namun tak ditanggapi sama sekali.


"Beres!" Ucap mereka berdua serempak.


"Makasih yaa Ka udah mah bantuin aku!" Hana mengelap keringat yang membasahi kening suaminya.


"Bayar upah!" Abi meletakan alat bornya di atas meja hias di belakang dia, ia langsung menarik pinggang Hana dan menahannya.


Abi menempelkan keningnya dengan kening Hana sehingga pandangan mereka bertemu.


"Kaka mau aku bayar gimana?" Tanya Hana gugup tanpa bisa melepaskan diri, karena kedua tangan Abi menahan pinggangnya kencang.


Tanpa menjawab apapun, Abi langsung mengecupi bibir Hana, menciuminya lembut. Tangan sebelah kirinya pun mulai naik untuk menahan tengkuk Hana dan memperdalam ciuman mereka. Abi memutar tubuh Hana, menghimpitkan tubuh istrinya dengan meja hias dan mengunci tubuhnya. Tangan kanan yang sedari tadi menahan pinggang istrinya pun kini memegang sisi meja hias tersebut, sedang tangan kirinya tetap untuk menahan tengkuk istrinya agar semakin memperdalam ciuman mereka.


Seperti biasa, Hana selalu terbuai dengan ciuman suaminya, ia bahkan berjinjit untuk bisa menyeimbangi tinggi suaminya dan mengalungkan kedua tangannya di leher Abi. Hingga..

__ADS_1


Praaanggg ..


Suara pecahan terdengar kencang memaksakan keduanya menghentikan kegiatan mereka dan melihat ke arah suara benda jatuh tadi.


"Mbak Dewi!!" Teriak keduanya berbarengan.


"Maaf Den Abi, Non Hana, sa.. saya mau an, antar jus pe.. pesen.. pesenan Den Abi ta..di. Ta, tapi jusnya tump, tumpah. Bi, biar saya buat.. kan yang ba.. ru lagi" sahut Dewi gugup. Saat Abi di dapur untuk mengambil bor paku, ia meminta Dewi untuk membuatkan jus mangga dan mengantarnya ke ruang tengah.


Abi yang melihat kegugupan Dewi pun memintanya kembali ke dapur untuk membuatkan jus yang baru, sedang Hana jangan ditanya dia benar-benar merasa malu sudah kepergok berciuman dan hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Kaka sih gak lihat tempat, main cium aja. Aku kan malu jadinya Ka!" Protes Hana sambil memukul-mukul dada suaminya kesal, Abi hanya tersenyum lucu.


"Lo juga menikmatinya kok!" Ledek Abi memeluk pinggang ramping Hana.


"Hana lupa kalo sekarang ada Mbak Dewi sama Bi Imah!" Keluh Hana karena memang itu kenyataannya.


"Ya udah lanjut di kamar yuk!" Ajak Abi mengerlingkan matanya genit.


"Gak ah, aku mau mandi. Aku ada jadwal live ig!" Sahut Hana kemudian melepaskan diri dari pelukan suaminya dan beranjak ke kamar untuk membersihkan diri.


Sedang Abi mengambil alat bornya untuk dikembalikan ke tempatnya.


Di dapur Abi bertemu dengan Dewi yang sedang membuatkan jus mangganya lagi.


"Mbak, nanti jusnya anter ke kamar aja ya! Oh ya hati-hati sama pecahan kacanya pas bersihin gelas yang jatoh tadi!" Ucap Abi, kemudian beranjak menyusul istrinya ke kamar.


Dewi masih terlihat kikuk dan malu setelah memergoki adegan panas majikannya tadi pun hanya menganggukan kepalanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2