
Mereka kini berkumpul di ruangan Irma. Irma tetap duduk di ranjangnya, Hafidz di kursi rodanya, Kinan dan Rendra duduk di sofa, sedangkan di belakangnya Abi berdiri. Angga dan Hana pun berdiri di dekat ranjang Irma. Mereka saling tatap satu sama lain.
Rendra pun berdehem untuk memulai pembicaraan, "ehemm.. Jadi Bu Irma kedatangan kami sekeluarga ke sini adalah untuk melamar Hana menjadi menantu keluarga kami. Kami ingin meminang Hana untuk Abi, jadi bagaimana Bu?".
Sejenak ruangan menjadi hening, Irma memandang Hana kemudian Abi yang keduanya kini tertunduk. Semenjak vonis Dokter Rama, Irma memang sudah memikirkan untuk menerima lamaran keluarga Abi jika mereka datang melamar. Irma berharap Hana tidak sendirian jika kelak ia harus menghadap Yang Kuasa.
"Pak, Bu serta Tuan Raffan. Hana masih sangat muda, mungkin ia akan sulit untuk dibimbing, akan lebih merepotkan dibandingkan perempuan-perempuan yang sudah matang. Usianya baru akan menginjak delapan belas tahun, usia-usia fase keras kepala. Jika Mas Abi bisa bersabar menghadapinya, tidak menyerah untuk membimbingnya saya tidak ada alasan untuk menolak niat baik keluar Raffan dan tentunya saya juga akan menanyakan pada Hana apakah ia mau menerima Mas Abi atau tidak?" ucap Irma kemudian menengok ke arah Hana.
Hana pun balik menatap sang Ibu, ia mencari kesungguhan dari mata sang Ibu. Apa benar Irma menerima lamaran Keluarga Raffan? Kemudian pandangannya beralih pada Kinan, Rendra, Hafidz dan Abi.
"Jadi gimana Sayang?" tanya Kinan meminta kepastian dari Hana.
"Iya Tante Hana mau.." jawab Hana lirih malu-malu, seisi ruangan pun dengan serempak dan tanpa aba-aba mengucapkan syukur atas jawaban yang diberikan oleh Hana.
"Kalo begitu Kakek akan persiapkan pernikahan kalian secepat dan semewah mungkin. Menantu pertama Keluarga Raffan harus disambut dengan pesta besar-besaran. Terima kasih sayang, mendekatlah Kakek ingin memelukmu!" ucap Hafidz bahagia dan bersemangat. Hana pun mendekat, kemudian memeluk Hafidz dengan tulus.
Hafidz mengecup dahi dan pipi Hana berulang kali, matanya terlihat berkaca-kaca saat menciumi Hana, "terima kasih, Nak. Terima kasih sudah mau mengabulkan keinginan Kakek, Kakek berjanji akan menjaga kamu, melindungi kamu jika Abi macam-macam atau membuat kamu sedih". Pemandangan itu membuat haru biru seisi ruangan.
"Berarti Kakek sekarang mau kan dioperasi?" tanya Hana.
"Mau Kakek mau dioperasi, Kakek mau sehat mau lihat cicit-cicit Kakek kelak" jawab Hafidz bersemangat membuat Hana dan Abi salah tingkah.
Semua yang ada di ruangan pun dibuat tertawa melihat Hana dan Abi yang salah tingkah.
**
Abi dan Hana kini berada di sebuah restauran untuk makan siang, setelah lamaran tadi Abi langsung meminta izin untuk mengajak Hana keluar.
Saat menunggu makanan yang mereka pesan datang, Abi dan Hana duduk berhadapan, Abi terus menerus menatap Hana membuat Hana sedikit kesal.
__ADS_1
"Kalo ada yang mau ditanyain, ngomong aja jangan ngelihatin terus begitu" ucap Hana kesal.
"Kok lo tiba-tiba mau nerima lamaran gw?" tanya Abi menatap Hana lekat.
"Kan Ka Abi bilang semua demi Kakek" jawab Hana santai.
"Yakin itu doang alesannya?" selidik Abi lagi, Hana pun kini memandang dalam sosok yang selama ini telah mengisi hatinya.
"Anggap aja ini bentuk ucapan terima kasih karena Ka Abi udah nolongin Hana kemarin" jawab Hana lagi tetap santai.
"Berarti lo siap dengan semua konsekuensinya?" tanya Abi mengingatkan.
"Maksud Ka Abi?" ucap Hana balik bertanya dengan tatapan bingung.
"Ya lo tau kan, gw sama Raya gak bisa dipisahin. Lo pun tau alesan kenapa gw mau nikah sama lo, apa lo siap dengan semuanya?".
"Ka Abi tau, mimpi aku adalah menikah sekali seumur hidup seperti pernikahan Ibu dan Almarhum Ayah yang dipisahkan oleh maut. Hana enggak akan pernah ikutin kemauan Kaka, pernikahan bukanlah permainan. Hana akan buat Ka Abi jatuh cinta sama Hana dan melupakan Mbak Raya" tegas Hana dengan tatapan tajamnya.
"Jangan takabur Ka, lihat aja nanti aku buat cinta Ka Abi justru lebih besar dari cinta aku ke Ka Abi" ucap Hana kesal, membuat Abi kini tertawa lebih keras.
"Oke, oke terserah apa kata lo aja deh yaa" sahut Abi setelah menguasai dirinya dari tertawa.
"Lihat aja nanti!" gertak Hana. Makanan pun sudah tersaji di atas meja.
"Iya, iya, oke. Udah dimakan gih, berjuang itu butuh tenaga ekstra jadi lo kudu makan yang banyak" sindir Abi dengan muka merah menahan tawa, ia kemudian memotong daging steak pesanannya dan memakannya.
"Kalo makan jangan lupa Bismillah, kelolotan baru tau rasa lho" sindir Hana melihat Abi makan tanpa berdoa. Abi hanya tersenyum mendengar sindiran Hana.
"Han, kok lo yakin sih gw bakal jatuh cinta sama lo?" tanya Abi penasaran kemudian meminum jusnya sembari menunggu jawaban Hana.
__ADS_1
"Ka Abi lupa pas Ka Abi ngobatin Hana di apartemen Ka Abi, suara deguban jantung Ka Abi kenceng banget itu artinya Ka Abi ada rasa sama Hana diakuin atau enggak, ya kan?" jawab Hana membuat Abi tersedak dan menyemburkan jus yang diminumnya.
Hana pun buru-buru bangkit dari duduknya menghampiri Abi kemudian menggosok-gosok punggung Abi seraya memberikan air putih.
"Tuh kan apa Hana bilang kalo makan tuh berdoa dulu, kesedak kan? Makan kalo gak berdoa itu nanti berkahnya yang makan setan, biasain berdoa makanya!" omel Hana masih terus mengusap-usap punggung Abi.
"Lo setannya.." semprot Abi dengan mata berair karena terbatuk.
"Loh kok jadi Hana sih?" geram Hana tidak terima.
"Ya lagian lo pake jawab begitu!" sahut Abi tak kalah kesal.
"Lah?? Ka Abi kan nanya, aku jawab apa adanya. Dimana letak salahnya sih?" tanya Hana bertolak pinggang memelotot ke arah Abi.
"Udah, udah kenapa jadi debat sih kita? Habisin makanannya terus kita balik!" ucap Abi.
"Idihh yang ngajak debat kan Ka Abi, aneh!" sahut Hana kesal, kemudian kembali ke tempat duduknya dan mulai meelanjutkan makanannya.
"Baca Bismillah dulu, ntar kesedak lagi!" sindir Hana ketika Abi akan menyuapkan makanannya lagi.
"Bawel.." sahut Abi.
"Terserah.." ucap Hana tak kalah sadis.
Namun Abi tetap mengikuti saran Hana untuk membaca doa sebelum melanjutkan makannya lagi, hal ini membuat Hana tersenyum puas paling tidak sedikit demi sedikit perkataan Hana digubris oleh Abi.
Mereka pun melanjutkan makannya tanpa keributan apapun, karena mereka makan dalam diam tanpa ada seorang pun dari mereka yang berbicara.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
...**Belum nikah aja mereka udah seheboh ini saat berdebat, bisa dibayangin kan kehebohan yang bakal mereka ciptakan di saat mereka mebina rumah tangga....
Jangan lupa like, komen and votenya yaa di setiap chapternya biar aku semakin semangat nulis. Makasih yang udah setia ngikutin novelku.. love youu ,😘😘**