My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Ganti Suasana


__ADS_3

Pagi ini hari terakhir Hana pergi ke sekolah, karena hari Senin dia sudah mengajukan izin untuk pergi ke Bali menyelesaikan syuting akhir filmnya bersama Abi.


Hana masih mengenakan pakaian rumahannya setelah mandi, ia berniat untuk membuatkan sarapan kesukaan suaminya terlebih dahulu sebelum bersiap untuk ke sekolah.


Di dapur sudah ada Bi Imah dan Mbak Dewi yang mulai sibuk seperti biasa.


"Pagi Non Hana, Non Hana butuh sesuatu?" Sapa Bi Imah penuh sopan.


"Enggak Bi, Hana ke sini mau buatin sarapan buat Ka Abi. Bibi belum bikin apa-apa kan untuk sarapan?" Sahut Hana tak kalah sopan.


"Belum Non Hana, baru mau buat. Mau Bi Imah bantu siapin apa aja Non?" Tanya Bi Imah.


"Gak usah Bi, aku sendiri aja. Cuma buat nasi goreng sosis kok, gak repot. Aku mulai buat ya Bi" Izin Hana kemudian mulai mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan.


Hana pun mulai asyik dengan kegiatannya diselingi obrolan dan candaan dengan kedua asisten rumah tangganya.


"Den Abi beruntung lho Non punya istri secantik, sebaik, serajin Non Hana. Non Hana gak pernah ragu masuk dapur buat masakin suaminya, padahal jarang banget ada perempuan yang mau tau urusan dapur kalo udah punya asisten rumah tangga!" Ucap Bi Imah.


"Aku itu emang hobi masak Bi, Alhamdulillahnya Ka Abi juga cocok sama masakan aku. Ibu bilang kalo udah jadi istri sebisa mungkin urusan suami itu istri yang pegang, apalagi urusan perut. Dari lidah turun ke hati!" Sahut Hana penuh senyum.


"Betul itu Non!" Ucap Bi Imah.


"Bi, Hana boleh tanya gak?" Hana yang penasaran tentang hubungan suami dengan mantan kekasihnya pun memberanikan diri untuk mengorek informasi dari Imah.


"Tanya apa Non?".


"Emmh.. Bi Imah kan udah lama ya ngurus Ka Abi, bahkan setelah Ka Abi dewasa pun Bibi masih tetep ngurus Ka Abi di apartemen ini. Emh.. Bibi kenal sama Mbak Raya kan? Aku pengen tau Mbak Raya tuh kayak gimana orangnya sih Bi?" Tanya Hana ragu-ragu.


Imah yang mendapatkan pertanyaan itu pun tak kalah ragu-ragunya, takut-takut jika ia salah berucap rumah tangga majikannya akan bermasalah.


"Bibi gak usah khawatir, aku udah tau kok hubungan suami aku sama mantan pacarnya. Cuma aku mau tanya aja tentang Mbak Raya, buat jaga-jaga andai kata nanti Mbak Raya dateng mau ngerusak rumah tangga aku. Aku lihat kayaknya Mbak Raya belum bisa nerima pernikahan aku sama Ka Abi!" Hana yang melihat keraguan di wajah tua asistennya pun berusaha untuk menetralkan suasana.


"Bibi gak begitu kenal sih Non sama Non Raya, cuma beberapa kali ketemu aja. Bibi kan ke sini cuma pagi sampai sore aja Non, cuma memang beberapa kali Bi Imah lihat Non Raya suka nginep di sini, bahkan berhari-hari. Kalo udah begitu Den Abi pasti ngelarang Bi Imah dateng ke apartemen. Kalo pun Bibi ketemu sama Non Raya, dia itu tipe Nyonya Besar Non, gak pernah menyapa Bibi. Beda sama Den Abi, dia ke Bibi selalu sopan, gak pernah memposisikan dirinya sebagai majikan Bibi. Makanya pas Den Abi gak sampe nikah sama Non Raya dan malah nikah sama Non Hana, Bibi tuh seneng banget. Apalagi Non Hana sopan, baik, ramah dan cantik pula. Cocok lah sama Den Abi!" Jawab Bi Imah panjang lebar.


"Ahh Bibi bisa aja deh, Hana kan jadi malu!" Ucap Hana tersipu, sebenarnya ia hanya menutupi rasa kecewanya setelah tau ternyata apartemen yang dia tempati saat ini adalah tempat suaminya dan mantan kekasih suaminya sering menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


"Bener Non, semenjak ada Non Hana banyak perubahan sama Den Abi. Bibi lihat Den Abi sekarang lebih ceria, gak kaku kayak pas sama Non Raya!" Lagi ucapan Imah membuat Hana tersipu.


"Emang dulu Ka Abi kaku Bi?" Hana pun penasaran dengan sang suami.


"Den Abi itu dari kecil sifatnya memang paling dingin Non dibanding sama dua saudaranya, cuma sama orang-orang tertentu aja dia hangat. Den Abi juga tipe pemarah dari kecil, dulu aja Nyonya Kinan sering kuwalahan ngadepin tempramen Den Abi kalo udah begitu biasanya Bibi yang suruh maju karena kan emang Bibi yang ngurus Den Abi dari usia tiga tahun jadi dia sedikit banyak nurut lah sama Bibi!" Jawab Bi Imah.


"Dan itu sampe sekarang ya Bi?" Tanya Hana yang memang beberapa kali sudah dikasari oleh Abi.


"Non Hana udah pernah dikasari sama Den Abi?" Tanya Bi Imah ragu-ragu.


"Enggak sih, cuma dibentak aja. Dasar akunya cengeng aja, baru dibentak suka langsung nangis!" Jawab Hana, ia mencoba menutupi kejadian yang pernah ia alami. Baginya cukup ia yang tau sifat dan sikap buruk suaminya terhadap dirinya.


"Udah siap, biasa ya Bi Hana minta tolong di tata di meja makan. Aku mau ke atas dulu, bangunin Ka Abi terus siap-siap ke sekolah!" Pinta Hana kemudian meninggalkan dapur menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar Hana melihat Abi masih lelap dalam tidurnya. Sedikit kesal karena pasti sang suami melewatkan kewajibannya lagi.


Memang butuh kesabaran ekstra untuk membimbing suaminya, ia tak mau memaksa takut-takut malah suaminya jengah dengan sikapnya.


Sebelum membangunkan suaminya, Hana memilih untuk mengganti pakaian rumahannya dengan seragam batik sekolahnya yang sudah ia siapkan sebelum turun ke bawah tadi.


Seperti biasa Hana menguncir kuda rambut panjangnya, memoles sedikit bedak bayi di wajahnya dan mengusap liptin berwarna merah muda di bibir mungilnya.


"Udah mau berangkat?" Tanya Abi ketika nyawanya sudah terkumpul semua.


"Iya, Kaka mau anterin aku apa enggak?" Hana yang tau jika pasti Abi lelah tak mau memaksakan dirinya untuk di antar.


"Aku jemput aja ya nanti, kepala aku masih pusing, badan pegel semua ini. Gak apa-apa kan?".


"Aku?" Hana menyipitkan matanya mendengar Abi mulai merubah bahasanya.


"Katanya kamu paling enggak suka kalo aku pake Lo-Gue, jadi gue.. emh.. Maksudnya aku mau belajar ngerubahnya" jawab Abi sedikit kikuk.


"Seneng deh ih. Ya udah aku berangkat pake taksi onlen aja, tapi bener ya nanti Kaka jemput Hana. Tadi Hana juga udah masakin nasi goreng sosis, mau sarapan bareng apa nanti aja?" Tawar Hana.


"Bareng aja yukk!" Ajak Abi, namun sebelum beranjak Abi justru menarik tubuh Hana hingga jatuh ke atas tubuhnya, dan menciumi bibir istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Cantik, aku suka!" Ucap Abi saat melepas ciuman mereka, selesai berucap Abi kemudian kembali menciumi bibir istrinya. Bahkan tangannya kini tengah asyik bermain di dada sang istri.


"Udah ahh, Kaka bikin berantakan aku ini!" Sewot Hana karena memang akibat ulah suaminya kini seragam batiknya sudah tersingkap dan lecek.


"Aku cuci muka dulu ya, tunggu!" Abi yang melihat wajah kesal istrinya malah tertawa gemas, ia pun kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar.


Di meja makan seperti biasa, Hana dengan telaten menyiapkan sarapan suaminya. Bahkan ia juga menyiapkan kopi untuk suaminya sendiri. Bi Imah sangat hafal, jika Hana ada ia pasti tak punya kesempatan untuk melayani Abi karena memang Hana mau semua yang dibutuhkan suaminya dia lah yang menyiapkannya.


"Ini kopinya, masih panas!" Ucap Hana saat menyajikan kopi ke suaminya yang tengah asyik menikmati nasi goreng favoritnya.


Hana kemudian duduk di sebelah suaminya seperti biasanya, ia yang juga menyiapkan coklat hangat favoritnya mulai meminumnya sedikit demi sedikit.


"Kenapa suka banget sama coklat?" Abi begitu ingin tau alasan Hana menyukai minuman coklat.


"Enak, manis!" Jawab Hana jujur.


"Pantesan, tiap nyium kamu rasanya manis!" Goda Abi membuat Hana mencapitkan cubitan ke perut suaminya.


"Malu sama Bi Imah!" Kesal Hana, karena memang Imah sedang berdiri tak jauh dari meja makan mereka.


"Gak apa-apa ya Bi, sama istri sendiri ini ya kan!?" Abi malah tak malu-malu mengumbar kemesraannya, membuat Hana semakin tersipu.


"Ka.. Kaka udah lama tinggal di apartemen ini?" Tanya Hana, kemudian menyendokan nasi goreng ke mulutnya.


"Udah, kenapa?".


"Aku kok tiba-tiba pengen tinggal di rumah ya Ka, bukan di apartemen kayak gini" Hana yang sejak tau bahwa apartemen ini pernah ditinggali Raya serasa sesak membayangkan mereka berdua menghabiskan waktu berduaan.


"Kenapa, kamu gak suka sama apartemen aku?" Tanya Abi bingung, karena ia tau Hana bukan tipe perempuan yang rewel.


"Pengen ganti suasana aja sih, tinggal di apartemen gini aku kurang nyaman. Kalo di perumahan kan kita banyak bersosialisasi, jadi Hana gak kesepian setiap Kaka pergi!" Hana mencoba memberi alasan yang masuk akal meskipun sejujurnya ia memang tak suka berada di apartemennya.


"Iya nanti aku fikirin, aku mah udah nyaman tinggal di sini. Nanti coba aku cari-cari perumahan yang cocok kalo emang kamu maunya kita tinggal di perumahan!" Jawab Abi.


"Bener Ka? Makasih yaa..!" Ucap Hana, ia benar-benar tak menyangka akan dengan mudahnya Abi menuruti kemauannya.

__ADS_1


"Oke aku selesai, aku berangkat ya Ka. Taksi aku udah nunggu di lobby, jangan lupa jemput nanti. Jangan telat!" Hana kemudian mencium punggung tangan suaminya dan memberikan beberapa kecupan ke wajah suaminya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2