
Lima belas menit Abi berjuang mengetuk-ngetuk kamar mereka yang dikunci Hana, ia begitu khawatir membayangkan sesuatu yang buruk terjadi di dalam sana.
"Sayang, ayo dibuka dong! Aku mau tidur, aku ngantuk!" Pinta Abi sambil terus mengetuk pintu kamar mereka.
Merasa tak ada tanggapan dari dalam dan rasa jengah yang Abi rasakan, ia pun memutuskan untuk membuka pintu dengan kunci cadangan.
Saat pintu kamar, pemandang pertama yang Abi lihat adalah sang istri yang duduk di atas lantai dengan menyandarkan punggung di badan ranjang sambil memeluk lututnya dan menangis sesegukan.
Abi tak berminat bertanya apapun pada Hana, ia hanya ikut duduk di sebelah sang istri yang sama sekali enggan menatapnya.
"Aku malu sama kamu, Mamah, Papah dan Kakek. Aku, aku.. Aku marah sama Ibu" Ucap Hana di sela isakannya.
"Kenapa?" Tanya Abi, kali ini ia membaranikan diri merangkul bahu istrinya.
Hana sempat memandang wajah suaminya yang saat ini juga tengah memandanginya.
"Maafin aku sama Ibu..!" Lirih Hana tertunduk malu.
"Untuk?" Tanya Abi tak mengerti.
"Aku sama Ibu udah manfaatin kebaikan keluarga Kaka!" Hana semakin tertunduk.
"Kaka harus menampung perempuan macam aku, perempuan bermasalah macam aku!" Ucapnya lagi kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan tangisnya yang semakin menjadi.
"Dan juga Ibu yang bisa-bisanya membawaku ke sini untuk memanfaatkan keluarga Kaka, aku malu!" Hana semakin terisak pilu.
"Apa bedanya sama keluarga aku?" Sahut Abi membuat Hana menoleh ke arahnya.
"Memaksa kehendak mereka buat meminang kamu, membawa kamu ke orang bejat macam aku. Mereka juga gak pernah tau kan bagaimana kamu berjuang selama ini hidup sama aku yang brengsek ini, tanpa mereka berfikir bagaimana perasaan kamu!" Ucapnya lagi menerawangkan pandangannya ke langit-langit kamar mereka.
"Aku juga manfaatin kamu kok sebelum aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, menikahi kamu tanpa didasari perasaan cinta dan bahkan menganggap pernikahan kita gak benar-benar ada. Semua cuma untuk meluluhkah hati keluargaku aja sampe saat Raya nanti kembali aku akan menceraikan kamu dan menikahi Raya!" Lanjut Abi lagi.
__ADS_1
"Jahat!" Umpat Hana mendelikan matanya pada sang suami, Abi hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul kemudian mengucapkan kata maaf.
"Dan buat Ibu..!" Kali ini Abi menarik tubuh istrinya dan memangkunya. Ia pun menangkupkan telapak tangan lebarnya pada kedua sisi wajah mungil istrinya.
"Coba deh kalo kamu yang di posisi Ibu, pasti kamu juga akan ngelakuin hal yang sama kayak yang Ibu lakuin. Kamu gak akan tenang terpaksa ninggalin seseorang yang kamu sayang sendirian apalagi dengan kondisi orang tersebut gak bisa ditinggal sendirian, ya kan? Jangan marah lagi sama Ibu ya, semua yang Ibu lakuin karena Ibu sayang sama kamu!" Lanjut Abi kemudian membawa Hana ke dalam dekapannya.
Mereka tak sadar jika pembicaraan mereka juga di dengar oleh Kinan dan Irma, dari balik pintu yang tak tertutup rapat.
"Terima kasih sudah menerima pinangan kami, Abi banyak berubah sekarang. Jangan pernah berfikir lagi kita memanfaatkan dan dimanfaatkan, ini sudah takdir!" Ucap Kinan mengusap bahu besannya yang disambut dengan belaian ke tangan Kinan oleh tangan Irma.
***
"Aku titip Hana ya Mah, Bu. Ada yang mesti aku urus sama Daniel, nanti aku mau mampir ke kantor Papa juga. Kemungkinan aku pulang terlambat, tapi kalo ada apa-apa sama Hana langsung telfon aja!" Pamit Abi saat menyelesaikan sarapannya.
"Kenapa Hana gak ikut sarapan? Apa dia masih marah sama Ibu" Tanya Irma khawatir.
"Enggak kok Bu, Hana udah gak marah sama Ibu. Semalam dia gak bisa tidur, ngajak ngobrol aku. Dia juga sibuk mau ngerombak apartemen, jadi semaleman dia milih-milih banyak barang buat di apartemen. Ibu jangan khawatir!" Abi menjongkokkan dirinya agar dapat mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ibu mertuanya.
"Kamu yang sabar ya menghadapi Hana, Ibu titip Hana!" Sahut Irma lirih.
"Aku berangkat yaa..!" Abi mencium tangan Ibu mertua dan mamahnya.
***
Hari menjelang siang, setelah membersihkan diri Hana memberanikan diri untuk turun ke bawah menemui anggota keluarganya.
Selama menuruni anak tangga, tangannya terus saja memilin-milin kaos yang ia kenakan untuk mengurangi rasa gugupnya.
Hingga saat ia tiba di dapur, ia hanya berani memperhatikan Irma dan Kinan yang saat ini tengah sibuk membuat kue sepertinya.
"Sayang, sini! Mau bantu Mamah sama Ibu buat kue kesukaan kamu enggak?" Ajak Kinan saat melihat Hana berdiri diam memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Mamah sama Ibu buat kue apa?" Tanya Hana menghampiri kedua wanita kesayangannya.
"Kastengel, kamu suka kan?" Kinan tahu saat ini kecanggungan tengah melanda Hana, hingga ia memutuskan untuk pelan-pelan menghilangkan kecanggungan itu dengan membuat kue kesukaan menantunya.
"Mau bantu cetak kuenya sama taburin kejunya?" Tawar Irma yang diangguki oleh Hana.
"Kini mereka pun asyik dengan kegiatan mereka, Hana terlihat begitu semangat membantu kedua Ibunya. Melihat semangat menantunya, Kinan berinisiatif memotret Hana dan mengirim ke ponsel Abi.
"Abi yang saat ini tengah mengurus beberapa pembatalan kontrak kerja, tersenyum saat menerima foto kiriman Kinan.
Suasana tegang di ruangan saat dirinya, pengacara juga Daniel dengan para pihak yang mengontraknya saat beradu argumen sedikit tersisihkan ketika memandangi foto istrinya yang tengah membuat kue dengan tersenyum.
Paling tidak ini membuktikan jika Hana sudah mulai tak canggung lagi dengan para anggota keluarga.
***
Aroma harum kue kastengel sudah merebak ke seluruh penjuru dapur, Hana begitu senang melihat kue-kue tersebut tersusun rapi di toples-toples cantik.
Hingga perhatian mereka teralihkan ke layar televisi yang berada di dapur dimana sedang menyiarkan pemberitaan tentang Abi.
Berita tak mengenakan tentang beberapa pihak yang tengah menuntut Abi, juga tuntutan kekerasan yang dilakukan Abi oleh salah satu sutradara ternama negeri ini, membuat mereka bersama-sama menghela nafasnya berat.
Seburuk ini kah yang sedang dihadapi suaminya, fikir Hana.
Ia benar-benar tak menyangka jika sang suami tengah menghadapi masalah pelik, sifat dan sikap tenang suaminya membuat Hana tak pernah berfikir jika saat ini Abi tengah menghadapi masalah begitu serius.
"Gak apa-apa Sayang, suami kamu pasti bisa mengatasi masalah-masalahnya! Ini bukan sekali dua kali dia menghadapi kasus seperti ini, kamu tau kan tempramen suami kamu gimana? Asal hajar aja kalo ada masalah, jadi ini bukan kasus pertama dia!" Melihat raut khawatir menantunya, Kinan mencoba menenangkan sang menantu.
"Tapi ini banyak lho Mah yang nuntut Ka Abi, Hana takut banget!" Ucap Hana penuh kekhawatiran.
"Tenang aja, Kakek sama Papa pasti turun tangan bantu suami kamu. Kamu jangan khawatir ya!" Sahut Kinan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=