My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Keguguran


__ADS_3

Selama sepuluh menit Abi menunggu istrinya dengan gelisah berharap saat keluar dari toilet mendapati wajah istrinya yang lebih baik.


Namun angan tinggal lah angan karena saat istrinya keluar justru dengan langkah yang semakin tertatih dan wajah semakin pucat juga tangan yang semakin kencang memegang perutnya seakan seperti menahan janinnya agar tak jatuh.


"Perut aku sakit banget Ka, ukhh.. aku gak kuat.. Astaghfirullah Al-Adzimm.. akh..!" Adu Hana memegang kuat sandaran sofa yang menghadap ke arah ponselnya.


"Sayang kamu berdarah!" Abi semakin panik saat melihat aliran darah mengalir begitu deras melewati kaki istrinya, karena saat ini Hana tengah mengenakan dress rumahan selutut.


Hana menatap ke arah kakinya sebelum pada akhirnya tubuhnya merosot di atas lantai.


Abi masih bisa mendengar rintihan kesakitan Hana, juga kalimat istighfar dengan suara tercekat yang semakin melemah dan menghilang.


Ia pun buru-buru mengakses CCTV yang berada di kamarnya dengan ponselnya satu lagi karena kamera ponsel Hana tak menangkap gambar tubuh Hana saat ini.


Mendapati tubuh Hana yang meringkuk tak bergerak lagi dari CCTV membuat kepala Abi seakan ingin meledak saat itu juga, karena ia yakin saat ini istrinya sudah tak sadarkan diri, dengan darah yang menurutnya cukup banyak di sekitaran tubuh istrinya.


Ia lekas memutus sambungan video call istrinya dan langsung menghubungi nomor asisten rumah tangganya.


"Bi, tolong ke kamar sekarang juga. Hana pingsan!" Perintah Abi dengan suara panik.


"Astaghfirullah, baik Den!" Pekik Imah tak kalah khawatir.


Imah dan Dewi yang saat itu sedang merapikan belanjaan langsung berlari menuju ke kamar majikannya, bersamaan dengan bell pintu yang berbunyi ketika mereka telah sampai di tengah tangga.


"Wi, kamu buka pintunya, biar Bibi yang lihat Non Hana, setelah itu coba kamu hubungin pihak keamanan apartemen takut-takut kalo Non Hana perlu dibawa ke rumah sakit biar bisa bantu bopong!" Perintah Imah yang langsung dikerjakan oleh Dewi.


Abi masih memandangi ponselnya dan sedikit lega saat Imah telah masuk ke dalam kamar, dan bersimpuh di sebelah tubuh Hana, ia bisa melihat kepanikan di wajah Imah.


Tak berapa lama disusul oleh kedatangan Dewi dan Angga, tanpa fikir panjang Angga langsung membopong tubuh Hana.


***

__ADS_1


"Gue balik!" Ucap Abi sesaat setelah mematikan akses CCTV di ponselnya.


"Kenapa Bi? Gue lihat dari jauh dari tadi wajah lo tegang banget?" Tanya Daniel yang memang saat itu tengah berbicara pada sutradara sekaligus produser acara yang Abi bintangi.


"Hana pingsan! Gue rasa dia pendarahan, gue harus balik ke Jakarta sekarang juga!" Jawab Abi panik.


"Kunci mobil mana?" Tanya Abi menjulurkan tangannya pada Daniel, Daniel pun langsung memberikan kunci mobilnya.


"Lho, lo mau kemana Bi?" Tanya sutradara itu ketus.


"Gue harus balik Bang, istri gue sakit!" Jawab Abi sambil menerima kunci yang disodorkan oleh Daniel.


"Gak bisa gitu dong, masa lo mangkir lagi sih hah?" Sutradara tersebut benar-benar marah karena untuk kesekian kalinya Abi lagi-lagi tak melanjutkan syuting sesuai kontrak.


"Sorry Bang, tapi ini urgent bini gue sakit!" Jawab Abi sekali lagi.


"Suruh aja keluarga lo ngurus bini lo sih, kan bisa. Mau berapa kali lo gak profesional begini hah kerjanya!" Gertak sutradara itu lagi.


"Tapi lo gak bisa gini terus dong Bi, mangkir-mangkir terus. Profesional dong lo kalo kerja, di sana udah banyak keluarga lo kan yang ngurus bini lo. Jangan seenaknya kayak gini!" Sutradara itu tak sadar jika ucapannya akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


"Eh Bang*at lo fikir kalo ada apa-apa sama bini gue, lo mau tanggung jawab!" Abi langsung meringsek ke arah sutradara tersebut dan langsung menghadiahi bogem mentah. Ia sangat kesal saat nyawa istrinya dianggap remeh oleh orang lain.


Daniel yang tau tabiat Abi langsung menarik tubuh Abi yang akan kembali melayangkan pukulan pada orang tersebut.


"Udah Bi, stop. Mending lo jalan sekarang, kasihan Hana. Di sini biar gue yang urus!" Ucap Daniel. Abi pun menurutinya, ia langsung beranjak dari tempat itu untuk secepatnya kembali ke Jakarta.


***


Jarak Bandung-Jakarta ia tempuh hanya dengan 2 jam perjalanan, tentunya dengan kecepatan tinggi dan didukung oleh jalanan yang hari ini lenggang.


"Bi, Hana keguguran..!" Di perjalan tadi ia sudah menerima pesan dari sang Mamah yang mengabarkan musibah yang dialami istrinya.

__ADS_1


Sesampainya di ruang tunggu VIP ia melihat semua orang sudah berkumpul dengan raut wajah sedih.


Tentunya, kenyataan yang teramat menyakitkan harus mereka terima dengan lapang dada meskipun sangat berat dan menyedihkan.


"Hana gimana Mah?" Tanya Abi mendudukan dirinya dekat dengan Kinan yang tengah menyusut air matanya.


"Udah di kuret tadi, masih belum sadar. Pendarahan hebat, sekarang lagi ditemani Ibu mertua kamu!" Jawab Kinan sesegukkan.


"Kalo begitu aku ke dalem dulu ya Mah!" Izin Abi kemudian memeluk tubuh Kinan sekilas sebelum beranjak ke dalam kamar rawat istrinya.


"Bu..!" Sapa Abi pada mertuanya yang tengah menggenggam lembut tangan Hana yang masih belum sadarkan diri.


"Nak Abi, udah datang?" Irma langsung mendekati tampat Abi berdiri.


"Iya Bu..!" Jawab Abi yang langsung menunduk untuk memeluk mertuanya yang duduk di atas kursi roda.


"Kamu yang sabar ya, Insya Allah Allah akan segerakan lagi kalian memiliki momongan. Semoga kelak istrimu lebih siap menghadapi kehamilannya dan kehamilannya pun lebih sehat dan kuat!" Doa Irma sambil terus mengelus punggung lebar menantunya yang tengah memeluknya kuat.


"Terima kasih untuk doanya, maaf saya terlambat datang jadi gak bisa menemani Hana dari awal musibah!" Ucap Abi penuh sesal saat ia melepaskan diri dari pelukan mertuanya.


"Tak apa Nak, yang penting saat Hana sadar nanti kamu ada di sampingnya. Sekarang kamu temani istri kamu ya, Ibu mau keluar dulu, mau menemani Mamah kamu!" Irma memang terlihat lebih tegar dibanding Kinan.


Abi hanya mengangguk, kemudian mengantarkan Irma keluar ruang perawatan istrinya. Setelah itu kembali masuk ke dalam.


Abi mendekati istrinya yang masih tergolek tak berdaya di atas tempat tidur dengan wajah pucat. Ia betul-betul mengutuki dirinya yang tak pernah ada saat istrinya dalam kesulitan, selalu datang terlambat.


"Maaf Sayang, pasti kamu takut banget tadi sendirian menghadapi musibah!" Lirih Abi penuh sesal, ia pun kemudian menghujani Hana dengan kecupan-kecupam lembut di wajah istrinya.


Sejenak Abi berfikir untuk mulai bekerja di kantor Ayahnya, melepas gemerlapnya dunia entertainment. Ia benar-benar ingin selalu ada untuk istrinya, tidak ingin mengalami kejadian seperti ini lagi. Berada jauh dari sisi istrinya disaat sang istri sangat membutuhkannya.


"Kamu mau aku kerja di kantor Papa kan? Akan cepat aku realisasikan inginmu Sayang. Nanti biar aku ngobrol sama Kakek, Papa sama Daniel supaya membantuku untuk cepat bisa bekerja di kantor. Enggak akan lagi aku ninggalin kamu! Cepat sembuh ya!" Lirih Abi lagi di dekat telinga istrinya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2