My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Rawat Inap


__ADS_3

Selang beberapa saat Dokter keluar dari ruangan pemerikasaan. Hana dan Tante Kinan buru-buru beridiri menghampirinya. Hana yang sudah tidak sabar langsung mencerca pertanyaan tentang kondisi Ibunya pada Dokter tersebut.


"Gimana Dok Ibu saya? Sakit apa Dok? Apa Ibu mengidap penyakit yang berbahaya?", rentetan pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Hana benar-benar ingin mengetahui kondisi sang Ibu.


"Ibu Anda masih belum sadar, sejauh ini belum bisa dipastikan Ibu Anda sakit apa, tetapi Kami sudah mengambil sample darah untuk Kami periksa. Sementara ini Kami hanya bisa mengatakan Ibu Anda kelelahan. Dan saya harap Ibu Anda bisa dirawat inap dulu beberapa hari kedepan untuk di observasi. Untuk itu silahkan Anda ke bagian administrasi untuk mengurus pembayaran agar Ibu Anda lekas dipindahkan ke ruang rawat inap", jawab Dokter menjelaskan.


Hana yang mendengar kata rawat inap sedikit bingung, untuk berapa hari Ibu Irma harus menginap di rumah sakit, berapa kira-kira biaya yang akan dikeluarkan nantinya. Karena dia sadar saat ini mereka ada di salah satu rumah sakit besar di Jakarta.


Melihat raut wajah Hana yang kebingungan Tante Kinan berinisiatif untuk menanggapi ucapan dokter yang masih berdiri di hadapan mereka.


"Baik Dok, kami akan mengurus administrasinya". ucap Tante Kinan.


"Baiklah kalo begitu saya permisi", sahut sang Dokter kemudian meninggalkan mereka.


Tante Kinan kemudian mengajak Hana untuk melihat sebentar kondisi Ibu Irma. Sesampainya di ruangan Hana melihat Ibunya masih belum sadarkan diri, jarum infus dan selang oksigen terpasang di tubuh Ibu Irma, wajahnya masih pucat.


Hana duduk di kursi sebelah brankar tempat Ibunya terbaring, dia kemudian menggenggam tangan sang Ibu, menciuminya dan mengelus-elus punggung tangannya. Wajah Hana begitu sedih melihat kondisi sang Ibu saat ini, sang Ibu yang biasanya sangat berisik, penuh semangat kini terbaring lemah di rumah sakit.


"Bangun Bu, sehat lagi ya Bu. Hana gak mau Ibu kenapa-kenapa, Hana takut Bu, Hana udah gak punya siapa-siapa lagi selain Ibu, Hana mau Ibu sehat terus, nemenin Hana terus. Ayo Bu sadar kita pulang", ucap Hana lirih dengan air mata yang mulai membasahi pipinya lagi.


Tante Kinan yang melihat itu berinisiatif untuk mengurus administrasi Ibu Irma seorang diri agar Ibu Irma lekas mendapatkan kamar untuk dirawat beberapa hari ke depan.


Setelah menyelesaikan urusan administrasi rawat inap Ibu Irma, Tante Kinan bergegas kembali ke ruang dimana Hana dan Ibu Irma berada. Ponselnya berdering, dilihatnya nama sang suami menghubunginya.


"Assalamualaikum Pa..", sapa Tante Kinan.


"Wa'alaikum salam Mah. Mamah dimana sih? Beberapa kali Papa coba telepon gak Mamah angkat, Papa kirimi pesan jangankan dibalas dibuka aja enggak. Suka banget sih bikin Papa khawatir", tanya sang suami khawatir.


"Maaf Pa ponsel Mamah tadi dalam mode silent, Mamah lagi ngurus temen Mamah di rumah sakit, tadi niatnya pas Papa suruh Mamah ke kantor Mamah mau langsung ke kantor tapi ternyata orang tua temen Mamah pingsan, jadi Mamah bantu bawa ke rumah sakit dulu", jawab Tante Kinan menjelaskan.

__ADS_1


"Astaghfirullah, terus gimana sekarang keadaannya? Kamu di rumah sakit mana?", tanya Om Rendra lagi.


"Di rumah sakit Centra Medica Pa, keadaannya masih belum sadar pas Mamah tinggal ngurus administrasi tadi, enggak tau kalo sekarang. Oh ya Pa, Mamah minta izin ya Pa buat bantu temen Mamah ini membiayai perawatan selama di rumah sakit".


Om Rendra tersenyum karena salah satu hal yang membuatnya jatuh cinta pada istrinya adalah sifat pedulinya kepada sesama. Dia pun mengiyakan permintaan sang istri, kemudian mengucapkan salam dan mengakhiri hubungan teleponnya.


Sesampainya di ruangan UGD Tante Kinan melihat Ibu Irma sedang akan dipindahkan ke kamar inap. Dia pun mendekati Hana yang sedang memperhatikan Ibunya yang akan dipindahkan ke kamar inap.


"Udah mau dipindah ya?", tanya Tante Kinan setelah berdiri di sebelah Hana.


"Iya Tante, padahal Hana belum ngurus administrasi Ibu tapi kok.........", Hana terdiam kemudian menatap ke arah Tante Kinan untuk memastikan apa yang ada dipikiran Hana saat ini.


"Tante ya yang ngurus administrasi Ibu?", lanjutnya. Tante Kinan hanya tersenyum membenarkan ucapan Hana.


Brankar Ibu Irma mulai di dorong oleh beberapa perawat menuju ke kamar inap yang beberapa hari kedepan akan ditinggali sang Ibu dan Hana.


Mereka pun menaiki lift menuju ke lantai 3. Hana sadar di lantai ini adalah kelas-kelas kamar VIP/ VVIP, bukan kelas 3 sesuai kemampuan Hana dan Ibunya.


Setelah sampai di depan sebuah pintu, seorang petugas membuka lebar pintu kamar tersebut. Sampai di dalam para petugas dengan cekatan dan hati-hati memindahkan tubuh Ibu Irma dari brankar ke tempat tidur yang tersedia di dalam.


Hana yang melihat kondisi kamar yang akan dia dan Ibunya tinggali beberapa hari kedepan terkagum-kagum.


Setelah selesai tugasnya seorang perawat menghampiri Hana, menjelaskan beberapa hal kepada Hana dan memberitahukan nama seorang Dokter yang akan menangani Ibu Irma.


Dirasa Hana mengerti dengan ucapannya, perawat tersebut permisi minta izin untuk undur diri.


"Tante..", panggil Hana mendekati Tante Kinan.


"Iya sayang..", sahut Tante Kinan tersenyum sambil menepuk-nepuk sofa di sebelah Tante Kinan yang saat ini sedang duduk. Hana mangangguk mengerti kemudian duduk di sebelah Tante Kinan.

__ADS_1


"Tante maaf sebelumnya.. Emh.... Tante kenapa pilih kamar ini Tan? Hana gak mampu bayarnya. Kita pindahin aja ya Tan Ibu ke kelas 3", ucap Hana lirih sambil meundukkan kepalanya. Rasanya dia begitu malu saat ini.


Tante Kinan kemudian mengelus rambut panjang Hana yang terkucir. Begitu sederhana namun sangat cantik pikir Tante Kinan.


"Gapapa Sayang. Kamu enggak usah mikirin masalah biaya perawatan Ibu kamu, cukup fokus sama Ibu kamu aja ya. Untuk biaya selama Ibu kamu dirawat di sini biar Tante yang urus", sahut Tante Kinan berusaha memberikan ketenangan pada Hana.


"Jangan begitu Tante, Tante terlalu baik buat Hana yang bukan siapa-siapa Tante. Kalo Hana sama Ibu terus menerus menerima kebaikan dari Tante gimana kami membalasnya? Dengan apa kami membalasnya?", ucap Hana kini menitikan air matanya lagi.


Sekian lama Tante Kinan berhubungan dengan Hana, baru kali ini Tante Kinan melihat sosok lain dari diri Hana yang biasanya lucu, menggemaskan dan ceria. Yaa.. saat ini Tante Kinan melihat sosok Hana yang lemah, rapuh yang bahkan saat ini Hana tidak berani menatapnya saat berbicara padanya dan hanya menundukkan kepalanya.


Begitu hebatnya gadis muda itu menutupi hatinya yang lemah dengan keceriaannya selama ini. Tante Kinan makin menyayangi Hana, dia memeluk Hana untuk menyakinkan bahwa apa yang dia lakukan memang tulus dari hati.


"Apa perlu menjadi siapa-siapa untuk saling membantu, untuk saling bersikap baik. Kalo memang ada aturan seperti itu untuk saling membantu dan berbuat baik bagaimana dengan orang yang tidak memiliki siapapun? Apa mereka tidak boleh dibantu? Apa mereka tidak boleh menerima kebaikan orang asing? Bagaimana mereka akan menjalani hidup jika seperti itu? Hana sayang, Tante tidak minta balasan apapun dari apa yang pernah Tante berikan atau lakukan untuk kamu. Tante tulus sayang sama kamu, Tante nyaman dengan kamu. Tante merasa bersyukur Allah mempertemukan Tante dengan kamu. Jangan tanyakan Tante kenapa seperti ini pada kamu, Tante sendiri tidak tau. Yang Tante tau hati Tante begitu nyaman dengan kamu sayang, kamu anak yang baik".


Ucapan Tante Kinan begitu sampai ke hati Hana, Hana semakin erat memeluk Tante Kinan, tangisnya pecah dipelukan Tante Kinan. Masih ada orang baik di dunia ini, masih ada orang tulus peduli dengannya dan Ibunya yang selama ini hanya menjalani hidup berdua saja, pikir Hana. Hana seakan memiliki keluarga baru, Hana merasa tidak sendirian lagi sekarang. Setelah Hanum dan Mas Angga kini ada Tante Kinan. Hana begitu bersyukur dikelilingi orang-orang baik.


Setelah melepaskan pelukannya, Tante Kinan tersenyum sambil mengusap air mata Hana.


"Tetap lah jadi anak yang ceria sayang, jadi anak yang baik, jadi anak yang kuat", ucap Tante Hana penuh kehangatan yang ditanggapi anggukkan dan senyuman oleh Hana.


Melihat Hana yang sudah mulai tersenyum, hati Tante Kinan sedikit lega, dia berniat sedikit menggoda Hana.


"Emmmhhh... tapi bener juga ya kamu bilang kalo kamu bukan siapa-siapa Tante, gimana kalo sekarang kamu Tante jadikan menantu Tante aja, biar kamu bisa jadi siapa-siapa Tante gitu?", goda Tante Kinan yang membuat pipi Hana memerah.


"Anak Tante ganteng gak? Kalo ganteng, boleh lah", sahut Hana balik menggoda Tante Kinan.


"Loh...???", ucap Tante Kinan singkat, mereka berdua pun tertawa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca karya ku, semoga kalian suka. Dukung aku terus dengan like, comment dan vote nya. Maaf jika masih banyak kekurangan yaaa 🙏🙏😘😘


__ADS_2