
Sepanjang perjalanan kembalinya mereka ke Ibu kota Hana habiskan dengan tertidur, mengistirahatan tubuhnya yang benar-benar kelelahan.
Bagaimana tidak, seusai shalat subuh kembali Abi memintanya ikut berpetualang. Setelahnya berkeliling untuk mencari oleh-oleh atau pun sekedar berjalan-jalan ke tempat pariwisata seputaran Bandung yang masih mereka jangkau dari tempat mereka menginap.
Seusai shalat Isya kembali Abi mengajaknya ke nirwana lagi tanpa bisa ia tolak. Energi Abi benar-benar tak ada habisnya untuk urusan satu ini. Bahkan semakin jadi usai berpuasa selama seminggu.
Abi sengaja kembali ke Jakarta saat malam hari, karena dirasa perjalanan yang tidak akan terlalu macet bisa membawanya kembali ke Ibukota dengan waktu lebih cepat.
"Capek ya Cantik?" Tanya Abi menggoda istrinya yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Rese tau gak sih..!" Sungut Hana yang mengingat bagaimana suaminya tak sama sekali membiarkannya beristirahat setelah tau bahwa dirinya siap melayani sang suami.
"Maaf Sayang, abis aku tuh kangen banget sama kamu..!" Ucap Abi melirik Hana yang kini tengah menatapnya sebal.
"Ngeselin tau enggak sih kamu, dibilang jangan sering-sering nge-garap aku malah gak didengerin! Pokoknya kita harus bikin jadwal supaya bisa terkontrol dan gak jelas begini!" Gerutu Hana membuat Abi tergelak dengan istilah-istilah yang diucapkan istrinya.
"Siap-siap, apapun yang istri cantikku mau aku ikuti!" Sahut Abi membuat Hana berdecih sebal.
"Cih, gombal..!".
"Ehh kita udah sampe mana ini?" Tanya Hana menatap ke luar jendela mobilnya.
"Kita udah sampe di Ibu kota tercinta, Sayang. Sekarang tinggal on the way ke apartement aja!" Jawab Abi.
"Hah? Serius? Berarti tidurku lama dong tadi?" Tanya Hana lagi.
"Dari awal masuk tol juga kamu langsung pules, bayangin aja aku nyetir sendirian, gak ada temen ngobrol. Bosen gak tuh?" Jawab Abi dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
"Dih salah kamu sendiri lah yang udah bikin aku kecapekan!" Cibir Hana membuat Abi tergelak.
Namun tiba-tiba ketenangan Abi dan Hana berkendara harus berubah menjadi sebuah bencana, ketika sebuah mobil menabrak mobil mereka dari belakang dan mendorong mobilnya terus ke depan tanpa kendali.
BRAAAKKKHHHHHH ...
"Akhhhhhhhhhh..!" Hana langsung berteriak sambil menutup matanya, serta kedua telapak tangannya yang menutupi telinganya.
"Damned, ****!" Umpat Abi sambil terus mengendalikan laju mobilnya agar tidak membentur sisi jalan.
Beruntung Abi memiliki skill berkendara yang sangat bail, didukung juga dia tidak melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga ia bisa mengendalikan mobilnya yang terus terdorong oleh mobil yang menabrak mereka.
__ADS_1
Cittttttttttttttt....
Cittttttttttttttt....
Suara decitan mobil Abi yang berusaha berhenti sebelum menabrak sisi jalan begitu nyaring terdengar, beruntung Abi berhasil menghentikan mobilnya sebelum menabrak sisi jalan karena bisa dipastikan jika mobil mereka sampai menabrak sisi jalan sudah pasti keduanya akan mengalami kecelakaan parah.
Sedangkan mobil yang menabrak dari belakang saat itu langsung berputar, berpindah ke depan mobil Abi membuat mobil mereka kini saling berhadapan.
"Brengsek!!" Umpat Abi, ia pun langsung keluar dengan wajah penuh kemarahan.
Dengan brutal dan umpatan-umpatan kasar Abi menggendor-gendor pintu pengemudi mobil yang tadi hampir membuat nyawa mereka melayang.
"Keluar lo bangs*t!" Gertak Abi saat pintu telah terbuka, ia langsung menarik kerah dan mendorong tubuh orang tersebut hingga terhimpit oleh mobil si pengemudi yang kemungkinan seumuran dengannya.
"Sorry Bang, sorry gue hilang kendali. Gak bisa ngendaliin mobil gue!" Ucap si pengemudi dengan suara gemetar.
"Lo teler bangsat, beraninya lo bawa mobil keadaan mabok gini. Mau bunuh orang lo hah?" Gertak Abi makin kesal setelah mencium bau alkohol yang teramat kuat dari mulut orang tersebut.
Abi semakin kesal saat orang tersebut hanya berkata sorry terus menerus hingga pukulan bertubi-tubi ia layangkan ke orang tersebut. Hingga mobil patroli polisi berhenti, Abi sama sekali tak menghentikan kebrutalannya menghajar orang itu.
Hingga dua orang polisi mencekal tangannya, berusaha menenangkan Abi.
"Sabar Pak, sabar. Jangan main hakim sendiri, biar kami selesaikan!" Ucap seorang polisi yang berusaha menenangkan Abi. Sebenarnya mobil polisi tersebut memang tengah mengikuti mobil yang menabrak Abi karena mobil tersebut terus berjalan zig zag sebelum menabrak mobil yang dikendarai Abi.
"****..!!".
Benar saja saat ia membuka pintu mobilnya, Abi melihat Hana menenggelamkan kepalanya di lutut dan kedua tangannya menutup telinganya, bahkan Abi mendengar dengan jelas racauan istrinya dengan suara gemetar.
Ia pun lantas membuka seat belt sang istri dan menarik tubuh istrinya keluar dari mobil. Namun karena ketakutan luar biasa Hana tak mampu berdiri, Abi kemudian mendudukan istrinya di kursi dengan kedua kaki di luar mobil, sedangkan dirinya bersimpuh di depan Hana dan kembali mendekap tubuh kecil itu yang tengah bergetar hebat.
"Aku takut, ayo pulang..!" Pinta Hana lirih disela isakannya.
"Iya kita pulang sayang, kamu tenang dulu ya!" Sahut Abi, ia kemudian memberikan air mineral yang berada di sisi pintu untuk diminumkan kepada Hana.
Hana menerima air yang disodorkan oleh suaminya, keringat dingin dan tubuh Hana semakin bergetar hebat setiap melihat mobil yang menabraknya.
"Takut..!" Lirih Hana lagi setelah Abi menarik botol air mineral yang telah ia minum tadi.
"Apa perlu kami antar ke rumah sakit Pak, sepertinya istri Bapak syok berat?" Tawar salah seorang polisi yang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Hana enggak mau ke rumah sakit, Hana mau pulang aja. Takut..!" Tolak Hana masih dengan suara yang lirih.
"Istri saya pernah mengalami kecelakaan Pak, ia masih trauma. Bisa tolong antar kami pulang saja Pak, tapi saya minta supaya jangan dinyalakan sirine nya, takut jika istri saya semakin ketakutan. Apartemen kami tidak jauh dari sini Pak!" Pinta Abi.
"Baik Pak..!".
***
Sesampainya di apartemen, Hana langsung direbahkan di atas ranjang kamar mereka.
Wajah Hana terlihat sangat pucat, keringat dingin yang tak berhenti sama sekali semenjak kejadian, tubuh yang masih bergetar hebat dan yang lebih menyakitkan adalah tatapan Hana yang seperti orang kebingungan dan gerak tubuh yang gelisah membuat hati Abi begitu nyeri melihat kondisi istrinya tersebut.
"Ganti ya bajunya!" Tawar Abi, namun Hana menggeleng.
"Mau ke toilet..!" Sahut Hana menatap sekilas manik mata hazel suaminya namun tertunduk lagi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Abi langsung membopong tubuh istrinya ke dalam toilet.
"Bisa sendiri atau mau aku bantu?" Tanya Abi.
"Bisa sendiri, Kak Abi tunggu di luar aja. Malu!" ucap Hana masih enggan menatap wajah suaminya, Abi pun langsung keluar dan menunggu di depan pintu toilet.
Hana yang memang ketakutan di dalam toilet terus menangis tanpa suara, sesekali ia memanggil Ibunya. Memori menyakitkan yang selama ini ia mati-matian simpan, kini menari-nari di kepala Hana.
Ia yang terduduk di atas lantai toilet dengan tubuh bergetar, mulai menggigiti tangannya untuk menghilangkan rasa takut yang menyerangnya.
"Hana enggak apa-apa. Ibu Hana takut, Ibu..!" Racau Hana terus menerus tanpa menghentikan gigitan di tangannya, bahkan hingga beberapa gigitan mengeluarkan darah.
"Takut Ibu, takut..!" Isak Hana semakin brutal menggigiti tangannya seakan ia sama sekali tak merasakan sakit.
"Hana, Sayang kamu enggak apa-apa? Kamu baik-baik aja kan? Udah selesai belum, aku boleh masuk ya?" Teriak Abi dari balik pintu toilet, membuat Hana terkejut.
Hana lantas berdiri dan mencuci tangannya di wastafel, namun sayang darah di beberapa luka gigitannya terus menerus keluar.
Hingga pintu toilet yang dibuka membuat Hana membalikan tubuhnya, melihat suaminya yang kini tengah memperhatikannya dengan tatapan khawatir.
"Tangan kamu kenapa berdarah-darah gitu? Kamu kenapa?" Tanya Abi khawatir sambil terus melangkah ke dalam mendekati istrinya.
Hana tak menjawab sama sekali pertanyaan suaminya itu.
__ADS_1
"Takut..!" Ucap Hana sebelum tubuhnya roboh, beruntung Abi dengan gesit menangkap tubuh istrinya sebelum menghantam kerasnya lantai toilet.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=