
Abi menatap wajah pucat Hana dengan tatapan sendu, merasa begitu kasihan dengan sang istri yang saat ini tengah terbaring lemah di hadapannya dengan kedua tangan yang sudah diperban.
Ya, saat tubuh Hana roboh Abi langsung membawanya ke rumah sakit terlebih melihat luka-luka yang berdarah bekas gigitan yang dilakukan istrinya sendiri menambah dirinya semakin khawatir.
Terlebih saat Dokter menjelaskan alasan mengapa sang istri melukainya sendiri, membuat Abi semakin gusar dan khawatir. Separah itu kah kondisi kejiwaan Hana, istrinya?
Self -injury / tindakan menyakiti diri sendiri itulah yang dokter jelaskan pada Abi, Hana melampiaskan ketakutannya, traumanya dengan menyakiti dirinya sendiri terlebih saat ia memberitahukan sang dokter jika Hana mengindap PTSD (gangguan stres pascatrauma). Dokter tersebut langsung meminta kepadanya agar sesegera mungkin membawa sang istri menemui ahli kejiwaan untuk melakukan konseling agar dapat segera menangani masalah kejiwaan sang istri.
Terlebih dokter tersebut mengatakan jika tindakan Hana untuk menyakiti dirinya sendiri bisa berakibat fatal, semisal mengarah pada tindakan bunuh diri meskipun pelaku self-injury tak berniat melakukan bunuh diri namun tindakannya menciderai dirinya sendiri dengan melakukakan tindakan yang lebih parah dari apa yang Hana lakukan sekarang yang bisa berakibat kematian.
"Untuk sementara jangan pernah meninggalkan istri Anda seorang diri, jauhkan benda-benda tajam dan berbahaya di sekitar istri Anda. Teruslah nasehati istri Anda tanpa harus menghakimi dan temui psikiater agar sesegera mungkin dapat menangani kondisi kejiwaan istri Anda!" .
Ucapan dokter tersebut terus menerus terniang di telinga Abi, membuat Abi mendesah berat karena ia yakin sekali akan sulit untuk membujuk istrinya menemui psikiater.
"Angga, bisa kosongin jadwal Hana dua minggu ke depan? Lo re-schedule kegiatan dia gitu atau kalo enggak bisa lo batalin aja kontrak yang gak mau di jadwal ulang!" Abi langsung menelfon Angga untuk meminta waktu istirahat istrinya.
"Kenapa Bi emang?" Tanya Angga bingung dengan permintaan tiba-tiba suami dari temannya tersebut.
"Hana sakit Ngga, tadi balik dari Bandung kita sempat mengalami kecelakaan ..!" Penjelasan Abi terpotong saat mendengar pekikan Angga.
"KECELAKAAN? KONDISI HANA GIMANA? LO DI RUMAH SAKIT MANA SEKARANG?", Abi pun langsung memberitahukan nama rumah sakit serta nomor kamar rawat istrinya.
__ADS_1
"Okey, gue ke sana sekarang!" Angga memang pulang ke Jakarta terlebih dulu setelah syuting tidak dilanjutkan akibat insiden antara Abi dan Nugie kemarin.
Benar saja selang waktu kurang lebih satu jam, Angga datang dengan masih mengenakan piyama tidurnya. Terlihat gurat kekhawatiran dari wajah kokoh pria manis tersebut.
"Hana gimana?" Cecar Angga langsung saat berhadapan dengan Abi, Abi tak menjawab ia hanya menunjuk ke arah istrinya yang terbaring di atas brankar.
"Dia gigitin tangannya sendiri lagi?" Tanya Angga mendekati brankar Hana kemudian membelai sekilas kepala sahabat cantiknya itu.
"Lo tau? Dia sering berbuat begini?" Ucap Abi balik bertanya.
"Gue berteman sama Hana udah dari kecil, gue tau dia dari sebelum sampe sesudah kecelakaan pas dia umur delapan tahun. Tapi sayang pas awal Hana SMP, gue dan keluarga gue harus pindah ke kampung halaman. Dan gue tau banget perjuangan dia dari semenjak kecelakaan sampe awal SMP, setiap ketakutan dia pasti nyakitin dirinya sendiri. Pas dia masuk SMA gue memutuskan balik ke Jakarta buat kerja, dan gue emang sengaja cari kosan di sekitaran rumah Hana. Gue perhatiin Hana banyak berubah, gak pernah histeris lagi, gak pernah nyakitin dirinya lagi dan ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun Hana baik-baik aja!" Jelas Angga panjang lebar.
"Dokter nyaranin supaya Hana ke psikiater, dan gue bingung ngebujuknya gimana. Dia bakalan marah kalo gue ngebahas masalah psikiater lagi" sahut Abi mendesah frustasi.
***
Pagi hari, Hana masih terduduk di atas ranjangnya. Pandangannya masih kosong, tidak sama sekali menatap suaminya bahkan ia juga tak berusara sedikit pun.
Sungguh, Abi merasakan sesak di dadanya melihat kondisi istrinya yang sangat berbeda seperti biasanya yang selalu cerewet, manja, menggemaskan dengan binar bahagia di tatapan mata teduhnya.
"Sarapan ya sayang, aku suapin?" Tawar Abi lembut, Hana sempat melihat ke arah suaminya itu.
__ADS_1
"Ibu..?" Tanya Hana.
"Iya, Ibu, Mamah, Papah, Kakek bentar lagi ke sini. Tapi dokter bilang kamu harus makan dulu baru diizinin ketemu mereka!" Bohong Abi demi merayu sang istri agar mau memakan sarapannya.
Meski terdengar aneh, beruntung Hana tetap menuruti ucapan Abi. Dengan telaten Abi pun menyuapi istrinya dan setelah beberapa saat senyum Abi pun mengembang melihat Hana menghabiskan sarapannya meskipun dalam waktu yang cukup lama.
"Lapar, huh?" Goda Abi mengacak rambut istrinya lembut kemudian menyimpan nampan kosong di atas nakas.
"Ibu..?" Tanya Hana lagi.
"Iya sayang sabar, Ibu sama yang lain lagi menuju ke sini!" Jawab Abi sambil meraih tangan Hana dan mengusap lembut perban di tangan istrinya.
"Merasa canggung, Hana langsung menarik tangannya membuat Abi langsung menatap Hana.
"Kenapa? Sakit?" Tanya Abi khawatir.
"Enggak, maaf!" Jawab Hana lirih dengan wajah tertunduk malu.
"Aku udah tau semuanya, kamu enggak usah malu. Dokter udah bilang ke aku ada saatnya setiap kamu ketakutan pasti ngelukain diri sendiri? Kenapa harus begitu Hana, ada aku yang bisa meluk kamu. Kamu bisa melepaskan ketakutan kamu sama aku, suami kamu bukan dengan menyakiti diri sendiri karena rasanya aku jauh lebih sakit ngelihat kamu begini!" Ucap Abi dengan suara tercekat.
"Maafin aku..!" Ucap Hana lagi menitikan air mata.
__ADS_1
"Gak apa-apa sayang, kita lalui sama-sama ya. Kita jalani pengobatan kamu, aku janji akan selalu ada buat kamu. Kamu pasti bisa sembuh, kita berjuang sama-sama!" Abi menarik tubuh Hana yang mulai terisak ke dalam dekapannya, menyalurkan sedikit kekuatan dirinya agar Hana bisa lebih tegar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=