My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Aborsi


__ADS_3

"Lo yakin aman, gw gak bakal kenapa-kenapa kan?", tanya Raya gugup saat sedang menunggu seorang dokter yang akan melakukan prosedur aborsi janinnya.


"Aman, tenang aja. Gw udah beberapa kali gunain jasa dia", jawab Nico berusaha menenangkan.


"Maksud lo?", tanya Raya lagi heran.


"Yaa, dulu gw beberapa kali diminta temen buat ngenalin seseorang yang bisa membantu keluar dari masalah yang kayak lo gini. Lo tau kan pergaulan sekarang, apalagi di dunia kita", jawab Nico menjelaskan, Raya pun mengangguk.


"Kenapa di klinik sih Nic, apa yakin bakal aman? Apa prosedurnya sama kayak rumah sakit. Kayaknya kalo di rumah sakit gw lebih ngerasa save deh", gerutu Raya lagi khawatir.


"Di rumah sakit itu gak bisa ngelakuin aborsi tanpa alasan kuat, dan gak semua dokter mau ngelakuinnya. Jujur ini praktek ilegal, tapi dokter yang nangani cukup mumpuni kok, asalkan kita bisa saling jaga rahasia. Yang dateng ke sini juga gak sembarangan orang. Udah lo tenang aja, jangan gugup. Ikutin aja arahan dia nanti. Emmhh.... Ray lo yakin mau gugurin anak lo? Maksud gw kan Abi siap tanggung jawab, apa salahnya kalo lo ngasih kesempatan ke anak lo buat ngelihat dunia".


"Kok jadi lo yang ragu sih Nic?", tanya Raya bingung sekaligus kesal.


"Bukan begitu Ray, maksud gw kasus lo tuh beda. Kebanyakan cewek-cewek yang ngelakuin aborsi ya karena cowoknya gak mau tanggung jawab atau ada pertentangan dari orang tua. Sedangkan lo, cowok lo siap bertanggung jawab, orang tua dia malah minta lo sama Abi cepet-cepet nikah", jawab Nico.


"Lo tau kok alesannya kenapa gw gak mau anak ini", ucap Raya membuat Nico dan Lina yang duduk di sebelahnya menggeleng-gelengkan kepala mereka.


Tak lama seorang perawat memanggil nama Raya, kemudian memeriksa tensi darahnya dan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh perawat itu untuk dicatat. Raya kemudian diminta untuk menunggu lagi.


Raya terlihat begitu gugup, hingga Dokter memanggilnya ke ruangan Raya terlihat semakin gugup.


"Apa Anda sudah berpuasa?", tanya Dokter bernama Helmy yang usianya cukup senior itu.

__ADS_1


"Sudah Dok, dari subuh tadi", jawab Raya. Nico sudah menjelaskan kepada Raya untuk melakukan puasa sebelum menjalani prosedur aborsi.


"Baiklah, jadi usia kandungan kamu itu sekitar delapan minggu atau dua bulan. Di usia ini akan lebih aman dan cepat jika kita menggugurkannya dengan proses yang disebut dilatasi dan kuretase...", Dokter Helmy pun menjelaskan semua tentang apa itu dilatasi dan kuretase, tahapan-tahapannya, efek sampingnya, serta apa saja yang harus dilakukan pasca melakukan dilatasi dan kuretasi tersebut.


Raya mengangguk mendengarkan semua penjelasan Dokter Helmy, ia kemudian diminta untuk mengganti pakaiannya, dan bersiap melakukan prosedur pengangkatan janinnya. Raya meminta Dokter Helmy untuk memberikannya bius total, ia tidak mau sama sekali melihat prosedur yang dilakukan sang dokter, ia tidak mau merekam tiap memori pengguguran janinnya. Ia hanya ingin mengeluarkannya, dan terbangun tanpa mengingat atau pun melihat janinnya. Raya sudah meminta kepada Dokter Helmy untuk menguburkannya langsung janinnya.


kurang lebih dua puluh menit proses pengangkatan janin Raya selesai, Raya yang belum sadar dari pengaruh obat biusnya sudah dipindahkan di ruang rawat untuk dimonitor perkembangannya beberapa jam kedepan, apakah ada komplikasi pasca prosedur atau semua berjalan lancar.


Setelah beberapa saat Raya pun bangun, ia hanya sedikit lemas dan pusing. Ia pun merasakan perutnya agak kram. Namun Dokter Helmy menyakinkan bahwa itu semua normal, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Setelah beristirahat beberapa jam, Raya diizinkan untuk pulang, dan melakukan rawat jalan. Dokter pun meresepkan beberapa obat untuk membantu proses pemulihan Raya, ia juga memberi beberapa catatan untuk Raya jika terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.


***


Raya, Nico dan Lina akhirnya diperbolehkan pulang. Mereka memutuskan untuk menginap beberapa hari di hotel sampai dengan kondisi Raya pulih 100% dan dapat beraktifitas seperti sedia kala.


"Ray, lo gak apa-apa kan gw tinggal dulu sebentar? Ada orang yang mau gw temuin, dan kita udah janji coffe shop hotel ini", izin Lina yang terlihat terburu-buru.


"Iya gak apa-apa. Lama juga gak apa-apa kok, kan ada gw!", sahut Nico.


"Ya udah kalo gitu tititp ya Nic, kalo ada apa-apa cepet hubungi gw ya. Tadi gw udah pesen makanan, nanti dianterin ke kamar. Lo pastiin Raya makan dan minum obatnya ya, gw usahain gak lama kok. Tolong ya Nic", ucap Lina kemudian pergi meninggalkan mereka.


Kini di kamar hotel president suit itu hanya tinggal Raya dan Nico. Nico pun duduk di sebelah Raya yang sedang menyandarkan kepala nya di headboard ranjang.


"Lina care banget ya sama lo..", ucap Nico basa basi.

__ADS_1


"Iya, makanya gw sayang banget sama dia. Buat gw Lina tuh gak cuma manajer aja tapi juga udah gw anggep kakak gw sendiri", sahut Raya mulai menegakkan kepalanya untuk menatap ke arah Nico.


"Masih sakit?", tanya Nico mengelus perut Raya.


"Udah enggak, cuma lemes aja masih", jawab Raya tersenyum.


"Gimana reaksi Abi kalo tau lo nekat gugurin anaknya?", tanya Nico lagi dengan guratan kekhawatiran yang jelas di wajahnya.


"Bisa mati gw kalo sampai Abi tau. Nic, janji ya sama gw jangan pernah bocorin ini semua ke Abi!", pinta Raya memelas sambil melipat tangannya untuk memohom.


"Lo sayang banget ya sama Abi?", tanya Nico dengan wajah sedikit kecewa.


"Tanpa gw jawab pun lo pasti tau jawabannya Nic. Gw udah bilang, apa yang lo minta waktu itu sama gw gak akan mudah, rasanya pasti sakit....", jawab Raya, Nico yang memotong jawabannya pun berucap, "apa lo gak mau nyoba sama gw Ray, kasih gw kesempatan buat ngerebut hati lo dari Abi, gw akan tetep berjuang biarpun gw tau ini bakalan sakit dan gw gak tau kapan semua rasa sakit gw akan tergantikan rasa bahagia gw saat lo bener-bener nerima gw".


"Nico.. Tapi gw gak bisa janji, gw gak mau ngasih lo harapan palsu, tapi gw tetep akan coba asal lo tau konsekuensinya", ucap Raya.


Nico yang mendengar Raya mau mencoba menjalin hubungan dengannya pun tersenyum senang. Ia kemudian mendekati wajah Raya, mengecupnya lembut dahi, pipi, hidung dan bibir Raya. Raya begitu terbuai dengan prilaku lembut Nico, ia menerima semua yang dilakukan Nico.


"Apa boleh gw cium bibir lo Ray?", izin Nico, Raya hanya mengangguk mengiyakan. Nico pun kemudian mengecup lembut bibirnya berulang kali, merasa tidak cukup dengan mengecupnya saja. Nico kemudian menyesap lembut bibir Raya, Raya yang juga menikmatinya pun mulai mengikuti permainan bibir dan lidah Nico, hingga beberapa saat dirasa oksigen mulai menipis mereka melepaskan pangutan bibir mereka. Nico dan Raya sama-sama tersenyum.


Entah mengapa saat ini Raya tak sama sekali teringat Abi, ia begitu menikmati petualangan cintanya yang baru bersama Nico.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2