
Benar saja apa yang diceritakan oleh asistennya Dewi, bahwa saat ini Hana memiliki kebiasaan baru yaitu mengekori siapa pun yang menarik perhatiannya dan selalu berisik dengan pertanyaan-pertanyaan atau pun celotehannya.
Seperti tadi saat selesai subuh, Hana mengikuti Imah ke ruang laundry dan bercerita di sana selama hampir satu jam. Setelahnya mengikuti Dewi di dapur saat sang asisten tengah sibuk membuatkan sarapan sesuai pesanannya. Dan sekarang saat Kinan baru saja tiba lagi-lagi Hana mengekori mertuanya dan menceritakan semua hal.
"Aku sampe sekarang belum muntah lho Mah, aneh ya?" Oceh Hana dengan senyum cantiknya saat Kinan tengah sibuk membuat stok makanan untuknya.
"Oh ya? Bagus dong, si dedek mulai anteng ya?" Sahut Kinan menghentikan sejenak kegiatannya memotong buah-buahan untuk mengelus lembut perut rata Hana.
"Iya, padahal aku udah siapin mental kalo-kalo aku mual lagi kayak hari-hari biasanya!" Ucap Hana yang ikut mengupas kulit buah mangga yang akan dijadikannya rujak.
Ia memang meminta Kinan untuk membuatkan rujak dengan bumbu kacang mede bukan kacang tanah seperti biasa yang dia nikmati selama ini.
"Ohh, mungkin Dedek seneng ya semalem bobonya ditemenin Papa, jadi paginya anteng deh!" Seloroh Kinan membuat Abi bangga, sedangkan Hana mengangkat sudut sebelah bibirnya sambil berdecih.
"Bukan Papa Mah, tapi Ayah. Soalnya Hana minta dipanggilnya Bunda, jadi biar matching aku dipanggilnya Ayah!" Sahut Abi yang saat ini malah ikut-ikutan mengekori Kinan bersama dengan istrinya.
"Idih apaan sih, ikutan nimbrung aja!" Salak Hana kesal, namun malah membuat Abi dan Kinan tergelak.
"Ehh, kok Mamah ngerasa ada yang beda ya sama apartemen kalian. Apa ya?" Tanya Kinan sambil terus menelisik seluruh area dapur dan ruang makan yang menjadi satu.
"Oh ya, meja makannya kemana? Pantes kok kayaknya keliatan kosong!" Lanjut Kinan saat sadar jika memang set meja makannya sudah tak berada di tempatnya.
"Semalem Hulk ngamuk!" Sindir Hana yang melirik tajam ke arah sang pelaku, suaminya sendiri.
Kinan yang faham sindiran Hana juga langsung menatap tajam ke arah puteranya. Keterlaluan, itulah yang saat ini ada di otak perempuan yang sudah berumur namun masih terlihat sangat cantik dan anggun.
Sedang sang pelaku hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali untuk menyembunyikan rasa malu atau mungkin rasa bersalahnya.
"Okeh rujaknya udah jadi nih, tapi boleh dimakan kalo perutnya udah di isi makanan ya. Jangan pas perut kosong langsung makan rujak. Mamah buatnya gak terlalu pedes ya!" Kinan memang selalu menyempatkan diri untuk menuruti permintaan menantunya itu.
"Makasih ya Mah!" Ucap Hana bergelayut manja pada sang mertua.
"Sama-sama Sayang!" Sahut Kinan mengecup pipi mulus menantunya itu dengan penuh kasih. Pemandangan tersebut membuat hati seorang Abimanyu begitu membuncah.
"Mah, Hana kangen sama Ibu. Ibu kapan boleh pulang?" Wajah ceria Hana seketika berubah sendu saat teringat sang Ibu.
__ADS_1
"Mungkin dalam waktu 2 atau 3 hari lagi Ibu kamu udah boleh pulang. Ibu kamu juga udah kangen banget sama kamu, sering nanyain kamu, nanyain dedek. Beliau seneng banget tau kamu hamil!" Meski Hana sudah tau, hatinya tetap merasa senang ketika sang Ibu mertua menceritakan kebahagiaan Ibunya atas kehamilannya.
"Nanti kalo Ibu udah dibawa pulang, Hana mau nginep di mansion. Boleh kan Ka?" Teriak Hana pada suaminya yang masih anteng duduk di kursi bar.
"Boleh dong, apa sih yang enggak buat Buat Bunda Cantik!" Goda Abi membuat Hana menaikan bola matanya malas.
"Kamu manis banget sih Bi dari tadi Mamah perhatiin?" Tanya Kinan penuh curiga.
"Biasa Mah, gitu tuh kalo orang udah kebongkar dosanya. Manis-manisin deh kelakuan, nyebelin!" Gerutu Hana, Abi hanya tersenyum kecut mendengar omelan sang istri.
"Ya udah, jangan berantem yaa kasihan dedeknya ikut pusing nanti sama kelakuan ayah bundanya. Kamu juga Bi, Kalo Mamah sampe tau kamu ngancurin barang lagi, Hana langsung Mamah suruh tinggal di mansion!" Ancam Kinan pada sang putera.
"Iya Mah, enggak-enggak lagi deh. Abi khilaf!" Sahut Abi mendekati istrinya kemudian merangkulnya. Meski sempat berkelit dari rangkulan sang suami, tetapi mau tak mau Hana pasrah karena semakin ia menolak semakin erat rengkuhan suaminya.
Sepeninggalan sang Mamah mertua, Hana memutuskan untuk beristirahat di kamar untuk sekedar meluruskan kakinya.
"Ngapain Kaka ngikutin aku?" Ketus Hana saat tau Abi mengikutinya dari belakang.
"Ayah juga mau istirahat Bunda, bayangin aja aku semaleman tidur sebentar banget lho. Bisa tidur jam 3 an jam setengah 5 kamu udah bangunin, abis subuhan gak bisa tidur lagi. Ngantuk aku tuh sayang!" Keluh Abi dengan wajah memelas.
"Kalo nengok gak boleh, nyapa dedek aja deh!" Seloroh Abi.
"Idihh, apa bedanya coba?" Sungut Hana.
"Bedalah, kalo nengok tuh kudu lama. Ngobrol dulu, main-main dulu. Nah kalo nyapa, cuma say hai aja bentaran!" Sahut Abi menahan tawanya.
"Sama aja kali, masuk-masuk juga! Pokoknya kata Dokter aku belum boleh di unboxing dulu, tunggu Dedek kuat dulu di dalem!" Ucap Hana telak.
Bukan tidak boleh, hanya intesitasnya harus dikurangi dan gaya berhubungan yang harus lebih berhati-hati dan sangat lembut, itulah nasehat Dokter Riana pada Hana saat berkonsultasi tentang kehamilannya.
Namun rasa kesal yang masih ada di hati Hana membuatnya memiliki ide untuk sedikit mengerjai suaminya, hitung-hitung balas dendam dengan cara yang cantik.
"Kamu serius Han, sampe kapan?" Decak Abi frustasi.
"Sampe usia kandunganku 4 bulan!" Jawab Hana asal.
__ADS_1
"Apa?" Pekik Abi tak percaya, sedang Hana tertawa puas di dalam hati dengan kegelisahan yang menerjang suaminya saat ini.
Sesampainya di ranjang mereka saling tidur berhadapan, menatap satu sama lain dengan fikiran masing-masing.
"Itu kamu serius aku harus nunggu sampe 4 bulan?" Tanya Abi sekali lagi memastikan.
"Iya..!" Jawab Hana menahan tawanya karena melihat wajah kecewa sang suami.
"Harus sabar demi Dedek. Emh.. Kamu masih marah sama aku?" Tanya Abi, tangannya kini membelai lembut pipi istrinya.
"Aku udah denger obrolan Kaka sama Raya, aku rasa aku gak terlalu marah lagi. Cuma aku kesel sama Ka Abi yang tempramen, bisa gak mulai sekarang Kaka berlajar bersabar, belajar ngontrol emosi Kaka. Kita bakal punya anak lho Ka!" Pinta Hana dengan tatapan lembut, tatapan yang dirindukan Abi. Abi pun mengangguk seraya meminta maaf sekali lagi.
"Sini, aku mau peluk kamu. Dari kemarin kangen banget, tapi gak berani peluk!" Abi menarik tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya.
"Aku juga kangen sama Kaka!" Lirih Hana dalam hati, ia tak mau untuk sementara ini menunjukan perasaannya pada suaminya.
"Aku boleh tanya sesuatu gak?" Tanya Abi membelai lembut kepala Hana.
"Mau tanya apa?".
"Kenapa kamu gak bilang kalo Raya gak cuma ngirimin foto ciuman itu, tapi juga foto-foto lainnya?" Ada sedikit rasa kesal di nada bicara Abi, bukan pada istrinya tetapi pada kejahatan Raya pada istrinya.
"Kan foto lainnya aku udah tau, maksud aku tiap kali kita video call an pasti Kaka ceritan ke aku semua kegiatan Kaka di sana, gak lama setelah Kaka cerita Raya pasti ngirimin foto ke aku sesuai kegiatan yang baru aja Kaka ceritain, jadi aku fikir gak ada yang Kaka tutup-tutupin. Sampe kemarin dia ngirimin aku foto itu, hati aku sakit. Gak cuma mikirin teganya kamu sampe ngelakuin itu, tapi juga karena kamu gak ceritain kejadian itu. Mungkin kalo kamu langsung ceritain kejadian kamu sama dia, aku pasti langsung minta kamu pulang saat itu juga!" Jawab Hana panjang lebar membuat hati Abi berdenyut sedih telah menorehkan kekecewaan dan luka di hati istrinya yang begitu memberi kepercayaan pada dirinya.
"Maaf aku terlalu bodoh!" Ucap Abi penuh sesal.
"Emang Kaka bodoh, bodoh banget!" Sahut Hana mendongakan kepalanya untuk melihat wajah penuh sesal sang suami.
Abi langsung menghujami kecupan ke seluruh wajah istrinya yang teramat sangat ia rindukan, sosok mungil dengan mental yang luar biasa kuat dalam menghadapinya selama ini, sosok kecil dengan jutaan maaf yang tak pernah habis diberikan ketika ia melakukan kesalahan. Sosok cantik yang begitu ia syukuri telah memilikinya.
" Jangan pernah nyerah buat terus berada di sisi aku ya Hana, aku sayang sama kamu. Sayang banget Han, sayang sama Dedek juga!" Ucap Abi tulus.
"Idihhh, enak aja. Kalo Kaka bikin kesalahan yang lebih fatal dari ini mah aku juga bakal nyerah kali, emang aku apaan suruh kuat terus ngadepin kesalahan kamu!" Cibir Hana membuat Abi tergelak.
"Tapi aku sayang sama Kaka, sayang banget!" Lanjut Hana kemudian mencium bibir suaminya yang disambut oleh Abi lebih dalam lagi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=