
Saat melihat kebingungan di wajah istrinya ketika mendapatkan pertanyaan tersebut, Abi terlihat begitu sedih. Ia tau betul Hana tak tau bagaimana perasaan suaminya dengan pernikahan mereka karena selama ini Abi seakan-akan mendoktrin fikiran istrinya bahwa pernikahan mereka hanyalah sementara sampai suatu saat nanti berakhir ketika Raya kembali.
Beruntungan Hana tak harus menjawabnya langsung dikarenakan terjeda iklan. Abi pun mengambil kesempatan itu untuk segera menelpon istrinya, mengungkapkan perasaannya saat ini pada sang istri. Ia tak ingin membuat Hana terus resah dengan pernikahan mereka.
Abi sadar hatinya sudah tertambat pada istrinya, Hana sudah memporak porandakan perasaannya, meruntuhkan keyakinannya. Istrinya berhasil menduduki singgasana hatinya, menggeser si pemilik sebelumnya. Hana menang..
Ada rasa lega serta gugup luar biasa saat ia menyatakan rasa sayangnya pada Hana, entahlah rasanya begitu memuaskan ketika mendengar tangis haru sang istri dan juga melihat rona wajah istrinya kemudian di layar kaca saat memberikan jawaban yang sama persis dengan apa yang dia ucapkan tadi.
***
"Ka..!" Sapa Hana saat tiba di kamar mereka, Abi pun langsung beranjak dari ranjang untuk memeluk istrinya, menyalurkan rasa rindunya.
"Durhaka banget, suami pulang malah masih keluyuran!" Abi mencubit hidung bangir istrinya.
"Ihh aku kerja, bukan keluyuran!" Kesal Hana kemudian melepaskan pelukan suaminya.
"Makasih yaa tadi udah bantuin aku" ucap Hana kemudian mencium sekilas bibir suaminya.
"Bantuin?" Abi sedikit bingung dengan apa yang dimaksud Hana.
"Iya, coba tadi Kaka gak telepon aku. Gak bantuin aku ngerangkai kata-kata kayak gitu buat ngejawab pertanyaan host-nya, pasti aku tadi kelimpungan!" Jawab Hana membuat Abi sedikit kesal.
"Jadi lo fikir gue tadi ngerangkai kata cuma sekedar pengen nolongin lo keluar dari situasi itu hah?" Geram Abi, ia tak menyangka ungkapan perasaannya hanya sekedar dianggap sebuah bantuan. Dan tanpa rasa bersalah sedikit pun, Hana menganggukan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Lo itu yaa? Lo gak tau gimana gugupnya gue ngungkapin perasaan gue ke lo tadi hah? Dan apa ini yang gue denger, lo anggep gue cuma sekedar bantuin lo doang! Woahhhhh Hana, luar biasa lo nganjlokin hati gue!" Marah Abi, sedang Hana terlihat tersenyum puas sudah mengerjai suaminya.
"Jadi apa yang Kaka ucapin di telepon tadi tulus dari hati Kaka? Bukan cuma mau nolongin aku aja?" Goda Hana.
"Ya iyalah gue tulus, tapi apa lo bilang tadi bikin gue kesel tau gak?" Abi masih belum mengerti jika sang istri sedang menggodanya.
"Hehehhe.. Aku tau kok Kaka serius, aku cuma pengen denger langsung aja biar aku yakin kalo Kaka bener-bener udah sayang sama aku. Makasih ya Ka udah mau sayang sama Hana, udah mau nerima Hana, udah mau nerima pernikahan kita. Aku sayang sama Ka Abi, cinta sama Kaka, suka sama Kaka!" Ucap Hana haru, ia pun langsung menabrakan tubuhnya ke dalam tubuh suaminya, memeluk erat laki-laki yang namanya selalu ada dalam doa-doanya.
Abi menerima pelukan istrinya, ia mendekap erat tubuh mungil perempuan yang berhasil meruntuhkan pertahanannya. Berkali-kali ia mengecup pucuk kepala sang istri.
"Resek banget tau gak lo, udah bikin mood gue anjlok aja! Untung sayang, kalo enggak udah gue pecat lo jadi bini!" Keluh Abi, namun kemudian ia menciumi wajah istrinya. "Kangen..!" Ucapnya lagi.
"Aku juga kangen sama Kaka, kangen banget!" Sahut Hana kemudian mengecup bibir suaminya.
"Sekarang udah berani cium-cium gue ya, udah gak malu-malu lagi. Tapi gue suka!" Ucap Abi, kemudian menggendong Hana selayaknya menggendong seekor koala. Tak hanya menggendong, Abi juga mencium bibir Hana, menyesap lembut bibir istrinya yang telah menjadi candunya itu.
"Aku belum selesai, maaf!" Ucap Hana mengingatkan dengan nafas yang tersengal.
"Aku lupa, sorry!" Sahut Abi menjatuhkan kepalanya ke sisi kepala istrinya.
"Aku mandi dulu ya, ganti baju terus kita makan. Kaka juga belum makan kan?" Tanya Hana mengelus rambut suaminya. Abi hanya menggelengkan kepalanya.
Ia kemudian beranjak dari atas tubuh istrinya untuk memberikan kesempatan istrinya membersihkan diri.
__ADS_1
***
Pagi hari seperti biasa Hana selalu bangun sebelum matahari muncul, ia mengecek ponselnya. Satu pesan dari nomor asing masuk ke ponsel Hana membuatnya tertarik untuk langsung membuka dan membacanya.
"Jangan seneng dulu lo, jangan merasa menang. Lo tuh cuma pelarian dia sementara karena dia lagi kecewa sama gue. Dan bisa gue pastikan Abi akan kembali ke pelukan gue lagi, karena lo tau dia terlalu cinta sama gue dan gak mungkin dengan mudahnya dia berpaling ke lo! Gue kasih lo kesempatan bersenang-senang sama Abi sebelum saatnya nanti gue rebut lagi dia dari lo". Ancam Raya
"Terima kasih untuk kesempatan yang kamu kasih, akan aku gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk membuatnya melupakan bahwa kamu pernah ada dihidupnya!!!!". Hana tau itu nomor Raya dan ia bertekad untuk tidak takut dengan gertakan mantan kekasih suaminya itu, ia akan melawannya dan mempertahankan suaminya. Meskipun jujur hatinya sendiri tidak terlalu yakin dan ia juga takut, namun ia akan tetap memperjuangkan pernikahannya, cintanya.
Beberapa notifikasi balasan dari Raya dia terima, ia membaca ancaman-ancaman serta hujat-hujatan. Hana tak memperdulikannya, ia memilih meletakan kembali ponselnya di atas nakas.
Hana kembali merebahkan tubuhnya, menatap wajah lelap suaminya yang saat ini sedang tidur terlentang, Hana pun memberanikan diri membelai wajah kokoh sang suami. Menyentuh mata, hidung dan bibir suaminya.
"Aku enggak akan ngebiarin orang lain menghancurkan pernikahan kita, aku sayang sama Kaka, cinta sama Kaka. Buat aku perasaan Ka Abi ke aku adalah kekuatan aku buat ngelawan siapa pun itu, aku harap apa yang dia bilang enggak bener, aku bukan pelarian Kaka aja kan?" Terselip rasa tak percaya diri dari ucapan Hana yang lirih.
Setelah puas memandangi wajah suaminya, ia beranjak untuk membersihkan diri ke kamar mandi.
Mengetahui sang istri sudah asyik dengan kegiatannya di kamar mandi, Abi langsung membuka matanya. Ya, ia yang sulit bangun merasa terganggu saat merasakan kegelisahan istrinya di sebelahnya saat memainkan ponselnya.
Abi langsung mengambil ponsel Hana, ia membuka password ponsel istrinya yang memang ia sudah ketahui. Ia membaca pesan-pesan dari nomor yang baru, tapi tak asing untuknya. Dia tau itu nomor Raya.
Seulas senyum terbit di bibir Abi ketika ia membaca ancaman balasan istrinya untuk Raya, ia percaya Hana bukan perempuan lemah meskipun Abi sering melihatnya menangis, tapi ia tetap yakin Hana seorang yang kuat.
Pesan Raya yang berisikan ancaman dan hujatan u tul istrinya membuat Abi mendengus kesal, ia tak habis fikir jika Raya akan berbuat serendah ini.
__ADS_1
"Mau lo apa sih Ray, masih untung lo gak gue hajar gara-gara perselingkuhan lo itu malah masih berani ngusik gue sama Hana!" Keluha Abi, ia pun meletakan kembali ponsel Hana ke tempat semula dan mrlanjutkan tidurnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=