My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Serangan Jantung


__ADS_3

Di kamar Hafidz, Hafidz sudah duduk di kursi kebesarannya. Di sana juga ada Abi, Rendra dan Kinan. Mereka sudah tau apa yang akan diutarakan oleh Hafidz.


"Jadi apa keputusan kamu Bi?", tanya Hafidz menatap penuh harap kepada cucunya.


"Sebelumnya aku mau kasih tau kalo sebenernya Raya dalam waktu dekat akan berangkat ke Perancis, dia udah menandatangi kontrak pemotretan dengan salah satu majalah ternama di sana", jawab Abi membuat semua yang berkumpul terkejut, karena setau mereka Raya juga salah satu pemain di film terbaru Abi.


"Lho, bukannya dia pemeran utama di film terbaru kamu Bi, lawan main kamu?", tanya Kinan mewakili kebingungan yang lainnya.


"Dia mutusin henkang Mah, dan perannya sekarang diganti sama Hana", jawab Abi serius membuat seisi ruangan tersenyum puas.


"Bagus dong kalo begitu, berarti kamu gak perlu deh tuh deket-deket dia lagi. Gak akan ada deh alasan CLBK lagi nantinya", ucap Kinan senang.


"CLBK apa Mah?", tanya Rendra bingung dengan istilah yang digunakan istrinya.


"Cinta Lama Bersemi Kembali, Pah", jawab Kinan yang hanya disahuti O oleh Rendra.


"Lantas bagaimana keputusan kamu? Apa kamu bersedia kami nikahkan dengan Hana?", tanya Hafidz lagi serius.


"Kalo boleh Abi tau, emang Hana udah tau dan mau dinikahkan sama Abi, Kek?", ucap Abi balik bertanya meminta kepastian.


"Dia sudah Kakek minta untuk menikahi kamu dan jujur dia memang menolak kamu dengan alasan bahwa dia gak bisa menerima kamu karena enggak mau dianggap kalo dia mengambil kesempatan dalam kesempitan kamu. Tapi Kakek akan tetap coba melamarnya secara langsung kepada Ibunya, Kakek yakin dia gak akan nolak lagi", jawab Hafidz panjanh lebar.


"Cukup tau diri juga dia..", ucap Abi dalam hati.


"Jadi bagaimana keputusan kamu?", tanya Rendra bergantian.

__ADS_1


"Sebenernya kemarin aku ke apartemen Raya buat memastikan kalo dia benar pergi atau enggak. Sesampainya di sana aku lihat memang Raya sudah mulai berkemas, aku sempet berbicara beberapa saat sama dia. Dia bilang dia akan pergi kurang lebih setahun lamanya, dia meminta Abi buat nunggu dia dan nanti kalo dia udah pulang ke Indonesia dia bersedia aku nikahi. Jadi apa boleh aku nunggu dia sebentar lagi".


"Brakkk", gebrakan meja yang lumayan keras mengagetkan semuanya. Hafidz terlihat sangat marah setelah mendengar apa yang baru saja Abi katakan. Ia benar-benar tak habis fikir bahwa Abi masih saja mau dibodohi.


"Keterlaluan kamu Bi, masih saja kamu mengharapkan perempuan itu hah? Apa kurang jelas perkataan dia ke kamu malam itu hah? Dia dengan mudah memutuskan kamu untuk mengejar kariernya, tanpa memikirkan perasaan kamu dia dengan mudahnya melepaskan kamu. Apa yang kamu harapkan dari perempuan itu Abimanyu?" gertak Hafidz dengan suara yang sangat keras.


Setelah sekian lama Hafidz tak pernah lagi berteriak, ini kali pertamanya ia menunjukan kemarahannya dengan berteriak.


"Tapi Kek, kami saling mencintai. Apa salahnya Abi memberinya waktu untuk dia menggapai cita-cita dia Kek. Lagian toh Kakek tau sendiri Hana cukup tau diri untuk enggak menerima lamaran Kakek dan lagian kalo pun kita nyoba ngelamar dia lagi belum tentu dia bakal setuju Kek", sahut Abi tak kalah lantang.


"Abimanyu jaga bicara kamu, jangan kurang ajar kamu!" gertak Rendra marah melihat sekali lagi puteranya berperilaku tidak sopan pada Kakeknya.


"Tapi Pa, apa salahnya Abi nunggu Raya sebentar lagi. Raya sayang Pa sama Abi, begitu juga Abi jadi tolong berikan kami kesempatan lagi, Abi mohon", sahut Abi.


Abi dan Rendra buru-buru menghampiri Hafidz untuk membopongnya ke ranjang, sedang Kinan meskipun dalam keadaan panik langsung menelepon dokter keluarga mereka yang masih ada hubungan keluarga dengan mereka.


"Rasya kamu dimana Nak? Bisa ke rumah Tante sekarang, Kakek pingsan", ucap Kinan panik ketika sambungan teleponnya diangkat oleh Rasya, Dokter keluarga Raffan.


"Saya lagi di jalan mau pulang Tante, yaudah saya langsung ke mansion ya Tan. Tunggu sebentar lagi saya tiba. Posisi saya gak jauh kok. Obat Kakek masih ada kan Tan? Kalo masih kasih ke di bawah lidah Kakek!", sahut Rasya Dokter jantung yang berusia 37 tahun itu kemudian melajukan mobilnya dengan menambahkan kecepatan agar segera sampai si mansion keluarga Abi.


Kinan yang diperintahkan oleh Rasya untuk memberikan obat yang biasa Hafidz konsumsi saat terkena serangan jantung, langsung mencarinya dan memberikannya ke Hafidz dengan meletakannya di bawah lidah Hafidz.


Beberapa saat kemudian Rasya tiba di mansion tersebut dan langsung menuju ke kamar Hafidz. Saat masuk semua yang ada di ruangan itu terlihat khawatir dengan kondisi Hafidz yang belum juga sadar dari pingsannya.


Rasya langsung memeriksa Hafidz, ia memutuskan untuk membawa Hafidz ke rumah sakit karena memang kondisinya cukup mengkhawatirkan. Rasya langsung menghubungi rumah sakit untuk segera mendatangkan ambulance dengan fasilitas yang lengkap untuk pasien jantung.

__ADS_1


Tak berapa lama ambulance pun sudah tiba, para petugas langsung membawa brankar ke dalam kamar Hafidz untuk segera memindahkannya ke ambulance dan membawanya sesegera mungkin ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Rasya sudah meminta kamar ICU untuk Hafidz. Hafidz pun langsung dibawa ke dalam kamar ICU, dipasangkan beberapa peralatan medis di tubuhnya dan infus. Rasya menyuntikan obat-obatan melalui infusan. Beberapa saat kemudian terlihat kondisi Hafidz mulai membaik meskipun belum sadar.


"Kok bisa ngedrop begini Kakek Tan?", tanya Rasya ketika keluar dari ruangan ICU.


"Kami sempat buat suasana rumah bersitegang, tiba-tiba Kakek pingsan. Bagaimana keadaan Beliau Sya?", ucap Kinan.


"Kakek Hafidz belum sadar Tan, tapi kondisinya sudah mulai membaik. Saya minta supaya kali ini Kakek lebih dijaga emosinya karena kalo tidak akibatnya bisa fatal, tolong!" pinta Rasya memohon. Semua pun mengangguk mengiyakan perkataan Rasya.


Rasya kemudian mengajak Rendra dan Kinan ke ruangannya. Sedangkan Abi diperbolehkan masuk ke dalam untuk menemani Kakeknya.


Melihat Kakeknya tergolek lemah akibat ulahnya membuat Abi diliputi penyesalan, andai saja dia tidak lagi membantah permintaan Kakeknya mungkin ia tak akan melihat kondisi Kakeknya yang seperti sekarang ini.


"Maafin Abi Kek, udah ngebuat Kakek sakit. Abi emang gak tau diri, cucu durhaka. Sadar Kek Abi mohon, Abi janji Abi akan menuruti semua permintaan Kakek, Abi janji gak akan ngebuat Kakek kecewa lagi. Maafin Abi Kek.." ucap Abi lirih penuh penyesalan.


Dia terus menggenggam tangan Hafidz, mengelus lembut tangannya. Wajahnya tertunduk lesu di lengan Hafidz membuat siapapun yang melihatnya akan merasa kasihan dan iba.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ini karya pertamaku, maaf kalau belum sempurna dan mungkin banyak typo, aku sedang belajar menjadi penulis . Semoga kalian suka dengan novel pertamaku ini.


Jangan lupa vote, komen dan like nya yaaa biar aku tambah semangat nulisnya .


Terima kasih 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2